ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pola hidup Jemaat GMIT Oemathonis Tepas bisa dikatakan masih tradisional, sebab sikap dan cara berpikir serta bertindak mereka yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun. Salah satu contohnya adalah Ritus Ta’kolo yang masih dipraktikan hingga saat ini. Tradisi ini merujuk pada ritual penyucian diri melalui pemercikan darah kepada setiap orang yang melakukan kejahatan misalnya perzinahan atau perkelahian yang menumpahkan darah manusia atau bahkan pada pembunuhan. Orang yang melakukan ritual ta’kolo akan dianggap bebas dari kesalahan yang telah dilakukan. Hal ini menjadi sebuah kegelisahan bagi penulis sebab para pelaku ritus tersebut adalah orang-orang Kristen yang tentu sudah mendapat pengajaran tentang makna pengorbanan Kristus bagi manusia. Dalam mengkaji masalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penulis menemukan alasan dari para pelaku ritus ta’kolo yang tetap mempertahankan tradisi ini yakni mereka ingin mempertahankan tradisi yang diwarisi dari nenek moyang.
Oleh karena itu, penulis ingin memberikan pemahaman dogmatis mengenai peranan Kristus sebagai “sang korban” satu-satunya yang sudah menjadi penyelamat, penebus dan pendamai bagi manusia. Jika darah korban yang dipercik dalam ritual tersebut dipercikan sebagai tanda penyucian setelah itu adanya makan dan minum bersama sebagai tanda kekeluargaan dan kebersamaan menyambut kembali orang yang telah berdosa sebelumnya, maka sesungguhnya dalam kekristenan sendiri Kristus sudah bertindak sebagai korban satu-satunya dan darah-Nya sudah menebus seluruh umat manusia sehingga tidak perlu ada lagi korban yang harus berikan. Oleh karena itu, ritus ta’kolo semestinya tidak perlu dilakukan sebab Kristus sudah menebus semuannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penderitaan dan luka batin dirasakan oleh semua manusia. Pendeta sebagai pelayan juga tidak luput dari luka. Pendeta harus tampil sebagai sosok yang kuat dalam keadaan terluka. Henri Nouwen menawarkan suatu pemikiran tentang penyembuh yang terluka. Penderitaan dan luka tidak boleh dipandang sebagai kelemahan. Henri Nouwen merupakan seorang imam Katolik Belanda yang mempunyai pengaruh dalam bidang spiritualitas Kristen dengan banyak karya selama hidupnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui secara detail pemikiran Henri Nouwen tentang Penyembuh yang Terluka. Konsep ini kemudian diimplikasikan bagi pelayanan Pendeta di GMIT Pniel Sikumana. Dalam penelitian ini Penulis menggunakan metode kepustakaan dengan mengumpulkan, membaca, menganalisis dokumen, buku dan karya yang berkaitan dengan konsep penyembuh yang terluka. Penulis juga melakukan penelitian lapangan guna melihat relevansinya dengan konsep penyembuh yang terluka. Penulis menemukan beberapa hal yang dapat menjadi sumbangsi bagi kehidupan pelayanan seorang pendeta berdasar dari Lukas 22:47-53. Bahwa seorang pelayan perlu meneladani Yesus. Pertama, Yesus adalah penyembuh sejati yang merujuk pada pribadi Yesus yang dapat memberikan kedamaian di tengah kekacauan. Kedua, Penderitaan Yesus sebagai sumber penyembuhan yakni bicara soal penderitaan Yesus untuk menebus umat manusia. Ketiga, Kehadiran Yesus yang menyembuhkan melalui kehadirannya dapat memberikan kedamaian. Keempat, Kerentanan Yesus sebagai teladan bahwa Yesus tidak pernah menyembunyikan kelemahan dan sisi manusiawinya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Menegur adalah sebuah ucapan mengajak, bercakap-cakap, memperingatkan atau menasihati seseorang. Teguran akan dilakukan apabila ada saudara yang berbuat dosa. Jemaat Warabu Harilolong selalu melakukan dosa/kesalahan yang menyimpang dari hukum Allah, seperti; suanggi, berzinah, mencuri, membunuh, berselingkuh dan dosa lainnya. Berdasarkan hal-hal ini, maka mereka diberi teguran namun karena teguran yang diberikan tidak tepat, maka berpengaruh pada ketidaksetiaan jemaat dalam beribadah bahkan relasi persaudaraan yang dibangun tidak harmonis. Oleh karena itu, tulisam ini bertujuan untuk melihat konteks yang melatarbelakangi teks Injil Matius 18:15-20 dan menemukan makna teologis serta implikasi bagi Jemaat Warabu Harilolong. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode historis kritis. Berdasarkan teks Matius 18:15-20, Yesus dengan penuh kasih memberi pengajaran bagi murid-murid dan semua bangsa, agar mereka dapat menegur saudara yang berdosa berdasarkan tahapan-tahapan yang termuat dalam teks, yakni menegur secara pribadi, mendatangkan saksi, depan jemaat dan memandang secara berbeda. Selain itu, mendoakan dan menggunakan otoritas yang Kristus berikan dengan baik, dalam mengambil keputusan. Implikasi bagi jemaat Warabu Harilolong ialah; gereja hadir menjadi sosok yang menegur saudara yang berdosa dengan penuh kasih, mendoakan saudara yang berdosa dalam kasih dan memakai otoritas yang diberikan Kristus dengan baik untuk bersepakat dalam mengambil keputusan terhadap saudara yang berbuat dosa, khususnya di Jemaat Warabu Harilolong, namun tidak boleh di luar dari kehendak Kristus. Agar mereka bisa kembali bersatu dan memberi diri untuk beribadah sembari meninggalkan setiap dosa mereka, sebab Allah adalah sosok yang Maha Kasih, Maha Pengampun dan Maha Hadir dalam segala dinamika kehidupan manusia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Realita keberadaan ODGJ merupakan masalah sosial yang terjadi di mana-mana, namun belum sepenuhnya tersentuh dan jarang untuk dibicarakan. Gereja perlu memaknai kehadirannya dan menunjukkan pelayanan yang tepat dengan belajar dari tokoh Yesus yang mengusir roh jahat dari orang Gerasa dalam Injil Lukas 8:26-39. Pembahasan ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna pelayanan Yesus kepada orang yang kerasukan setan dan menyusun kerygmanya. Eksplorasi ini didasari pada realita masalah sosial yang sedang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode tafsir naratif. Hasilnya adalah, Injil Lukas memperlihatkan belas kasihan dan kepedulian menjadi motivasi dasar pelayanan Yesus yang inklusif, yakni berjumpa dan berdialog dengan orang bukan Yahudi yang mengalami sakit jiwa akibat belenggu setan. Model Pelayanan Yesus juga dilakukan berdasarkan kuasa Anak Allah Yang Maha Tinggi dan bermuara pada pemulihan kembali manusia sebagai gambar Allah. Pesannya ialah gereja harus menunjukkan pelayanan inklusif yang didasari oleh belas kasihan dan kepedulian yang memperlihatkan kuasa dan kasih-Nya yang mampu memulihkan kembali manusia sebagai gambar Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Membalas dendam terhadap satu dengan yang lain adalah hal yang lumrah bagi kehidupan
Jemaat Kristen masa kini. Dalam menjalani kehidupan ini, banyak permasalahan sering
terjadi antara satu dengan yang lain. Permasalahan-permasalahan tersebut sering
menyinggung perasaan, merendahkan harga diri, merasa dihina, dan bahkan mengundang
amarah. Menyikapi akan hal-hal ini, orang Kristen terkhususnya Jemaat GMIT lebih
cenderung berusaha untuk melakukan hal yang sama (membalas) atau bahkan lebih kepada
siapa yang menyakitinya. Keinginan untuk membalas perbuatan yang dilakukan oleh pihak
lain kepada pihak yang direndahkan harga dirinya akan semakin besar dan seakan-akan
keinginan itu harus segera dilakukan. Jika tidak dilakukan ada rasa ketidakpuasan dan tidak
ada rasa ketenangan dalam diri. Biasanya tindakan balas dendam ini tidak memandang kelas
sosial, ras atau agama, semua orang bisa melakukan balas dendam tergantung seberapa hal
buruk yang dialami atau dirasakan dari orang lain.
Melihat kehidupan Jemaat GMIT saat ini, berkaitan dengan sikap balas dendam yang
seringkali dilakukan, penulis ingin memberikan pemahaman teologi yang baik tentang sikap
yang harus dilakukan orang Kristen ketika menghadapi permasalahan tersebut. Bertolak dari
apa yang disampaikan oleh Yesus berkaitan dengan hukum pembalasan, jemaat GMIT masa
kini dituntut untuk mampu melakukan apa yang menjadi kehendak Yesus dan menghidupinya
dalam kehidupan setiap hari. Mereka tidak boleh hidup sebagai orang yang mendendam dan
saling membalas apapun yang dilakukan. Mereka harus ingat bahwa Yesus telah mengajarkan
kasih yang sesungguhnya yang harus diteladani. Kasih yang Yesus ajarkan merupakan jalan
yang tepat agar mereka dapat menghilangkan keinginan balas dendam atas perlakuan buruk
yang diterima.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Setiap manusia dibesarkan dalam budaya tertentu, yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi suatu kekhasan ketika terjadi pertemuan dengan budaya lain. Salah satu unsur budaya yang penting yaitu penggunaan bahasa. Jemaat Ndolusue Fulakmoan adalah komunitas persekutuan yang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Dengka sebagai media komunikasi, termasuk dalam menyebut nama Yesus Kristus sebagai Lamatuak.
Penelitian mengenai penyebutan Yesus Kristus sebagai Lamatuak oleh Jemaat Ndolusue Fulakmoan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui makna dari penyebutan tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa penyebutan Lamatuak dahulu dipakai oleh masyarakat penganut kepercayaan tradisional dinitiu di Nusak Dengka, untuk menyebut dewa teluk aman lai londa sebagai penguasa tertinggi di alam semesta. Dewa teluk aman lai londa berdiam di alam gaib atas (langit), yang kekuasaan dan kekuatannya terletak pada pohon-pohon dan batu-batu besar. Masyarakat penganut kepercayaan tradsional dinitiu percaya bahwa pohon-pohon besar yang menjulang tinggi menunjukkan kebesarannya dan batu-batu besar menunjukkan kekuasaanya.
Penyebutan Yesus Kristus sebagai Lamatuak memiliki makna bahwa Lamatuak Yesus adalah Tuhan atas alam semesta, tetapi kekuasaan dan kebesaran-Nya tidak terbatas pohon-pohon dan batu-batu besar. Ia adalah Allah yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pohon-pohon besar hanyalah ciptaan dan Ia melebihi segala ciptaan tersebut. Ia juga adalah Allah yang oleh karena kasih-Nya, menyelamatkan umat-Nya dari dosa dengan rela menderita dan mati, tetapi Ia bangkit dalam kemuliaan-Nya, untuk membuktikan bahwa Lamatuak Yesus bukan allah yang mistis, melainkan Allah yang hidup yang diimani oleh Jemaat Ndolusue Fulakmoan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Berdasarkan kesaksian Alkitab dan pertolongan Roh Kudus, Gereja mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Pegakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan ini selalu diikrarkan oleh jemaat pada setiap kebaktian Minggu. Yesus Kristus adalah Tuhan, artinya Ia mempunyai kuasa baik itu di surga maupun di bumi. Untuk itu ketika seseorang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, maka dalam kehidupan sehari-hari hendaknya ia taat dengan sungguh kepada-Nya. Hendaknya ia mengakui kuasa-Nya serta mempercayakan diri kepada-Nya. Namun, dalam realita kehidupan berjemaat, jemaat selalu dihadapkan dengan berbagai penderitaan, salah satunya adalah human trafficking atau perdagangan manusia. Mereka yang menjadi korban human trafficking adalah mereka yang lemah dan rentan untuk dieksploitasi. Orang-orang ini disiksa, ditindas dan bahkan kehilangan nyawa. Dalam realita seperti ini, apakah Yesus Kristus masih bisa diakui sebagai Tuhan? Jika Yesus Kristus adalah Tuhan dan benar bahwa Dia memiliki kuasa di surga maupun di bumi, mengapa orang-orang yang lemah dieksploitasi dan diperdagangkan? Dan apakah manusia masih dapat mempercayakan dirinya serta taat kepada Yesus Kristus yang diakui sebagai Tuhan tersebut? Karena itu melalui tulisan ini, yaitu dengan judul Yesus Kristus adalah Tuhan dan sub judul Suatu Tinjauan Dogmatis Megenai Makna Yesus Kristus adalah Tuhan dalam Pengakuan Iman Rasuli dan Implikasinya Bagi Persoalan Human Trafficking di GMIT. Penulis melihat hubungan antara makna Yesus Kristus adalah Tuhan dengan persoalan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan berjemaat. Penulisan ini didasarkan atas kajian pustaka tentang makna Yesus Krisus adalah Tuhan dalam Pengakuan Iman Rasuli. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pengakuan akan ke-Tuhan-an Yesus Kristus berkaitan erat dengan siapa Dia sesunguhnya serta apa yang dikerjakan-Nya untuk seluruh manusia dan segenap ciptaan. Bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, melalui dan di dalam Yesus Kristus Allah menyatakan solidaritas-Nya guna menyelamatkan manusia dari lumpur dosa. Dengan demikian kuasa Allah dipakai untuk menolong mereka yang membutuhkan, bukan untuk menerangkan superioritas Allah sendiri. Menyikapi persoalan human trafficking yang terjadi di tengah kehidupan berjemaat, maka tulisan ini mengarahkan suatu sikap yang didasarkan atas nilai yang terkandung di dalam pengakuan akan ke-Tuhan-an Yesus, yakni solidaritas. Dalam hal ini iman jemaat kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan menjadi dasar bagi jemaat dalam solidaritasnya terhadap sesama yang menderita. Dengan demikian kuasa pembeabasan dari Allah melalui Yesus Kristus dapat dirasakan dalam setiap kehidupan manusia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Kemajemukan merupakan salah kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia.Tetapi dalam kenyataannya, kemajemukan ini juga menjadi sebuah ancaman. Salah satu pemicu munculnya masalah ialah keberagaman agama dan ajarannya masing-masing. Hal ini terlihat dari pemahaman yang masih salah tentang keselamatan yang berasal dari satu agama di tengah-tengah kemajemukan. Masing-masing agama datang dengan keyakinan ajaran tentang keselamatan sehingga dari pemahaman inilah lahir sikap eksklusif yang menjadi jurang pemisah antara umat beragama.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang kristen masa kini yang membatasi keselamatan Allah yang universal. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas Teologi Injil Yohanes tentang Gereja yang Inklusif yang sesuai dengan konsep berteologi di dalam GMIT. Kajian Ilmiah ini bertujuan untuk membangun pemahaman dari orang kristen masa kini tentang Teologi Injil Yohanes yang bukan saja bersifat eksklusif namun juga bersifat Inklusif, yang dapat direfleksikan dan manfaatnya bagi Toleransi antar umat beragama di NTT dan merumuskan konsep keselamatan yang juga diterima oleh umat beragama lain.
Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah adalah metode penelitian pustaka yaitu dengan memanfaatkan buku-buku sumber sebagai alat dalam memperoleh informasi. Sedangkan untuk metode penulisan memakai metode deskriptif-analitis-reflektif. Metode deskripsi digunakan untuk memberikan gambaran dan penjelasan tentang latar belakang Injil Yohanes. Metode analisis digunakan untuk menganalisis Teologi Injil Yohanes tentang Inklusivisme. Metode refleksi akan digunakan sebagai upaya berteologi dan implikasinya bagi pelayanan di GMIT.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, penulis menemukan bahwa Teologi Injil Yohanes pada dasarnya menunjukkan bagaimana sisi Yesus yang Eksklusif dan Inklusif terhadap semua ciptaan. Hal ini sesungguhnya sama dengan konsep GMIT dalam berteologi yaitu bahwa GMIT terbuka lebih fleksibel dan lebih terbuka dalam menerima keberadaan umat beragama lain tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari setiap agama. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif ini tentu menjadi relevan dan bisa dijadikan bahan untuk memperbaiki pemahaman orang kristen masa kini, yang sedang menjalankan misi Allah dalam persekutuan hidup berdampingan dengan agama lain. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif menjadi konsep teologi yang menarik bagi pengembangan wacana dan wawasan orang kristen masa kini dalam menghadapi kemajemukan dalam era globalisasi ini.
Kata Kunci : Inklusif, Karya Kasih dan Keselamatan Allah Bagi Dunia, Aku Yesus Bagi Dunia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Gereja sebagai tempat di mana orang-orang yang percaya kepada Kristus bersekutu, memerlukan orang-orang yang nantinya berjabat gerejawi (Penatua, Diaken, dan Pengajar) untuk membantu dalam pelayanan. Majelis Jemaat itu terdiri dari Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar. Kesemuanya ini bekerja sama dalam Kristus untuk melayani jemaat-Nya. Menyadari akan tugas dan tanggung jawab yang akan dilakukan, ada doa bersama yang dilakukan dalam bentuk malam meditasi. Penulis menemukan fakta saat melakukan wawancara bersama calon-calon Penatua, Diaken, dan Pengajar bahwa adanya pemahaman yang kurang dari calon Penatua, Diaken, dan Pengajar GMIT Imanuel Beumopu mengenai malam meditasi yang dilakukan, sehingga bagi sebagian Penatua, Diaken, dan Pengajar malam meditasi itu tidak membawa dampak. Dalam teks Injil Lukas 22:39-46, di Bukit Zaitun, Yesus menunjukkan cara berdoa dan makna doa yang dalam. Yesus berdoa dalam keheningan dan dalam doa tersebut Yesus meminta kekuatan kepada Bapa-Nya untuk penderitaan salib yang akan dialami-Nya. Tugas terakhir Yesus untuk mati di kayu salib, Ia percayakan pada kehendak Bapa dan dalam doa penyerahan-Nya itu membawa kekuatan kepada-Nya. Yesus mau untuk para murid juga terus berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan, tetapi mereka malah tertidur dan tidak melakukan seperti yang Yesus perintahkan. Teks Injil Lukas 22:39-46 memberi makna yang baik bagi malam meditasi. Malam meditasi secara Kristiani dilakukan dengan fokus hanya kepada Kristus. Dalam malam meditasi seseorang diminta untuk melihat dalam keheningan batin apa yang Kristus kehendaki. Sebagai Penatua, Diaken, dan Pengajar doa dalam bentuk malam meditasi menolong agar identitas sebagai kawan sekerja Allah tetap nampak, dan doa dalam bentuk malam meditasi bisa membuat Penatua, Diaken, dan Pengajar melihat secara dalam apa yang menjadi kehendak Kristus dalam diri mereka sebagai pelaku-pelaku pelayanan. Metode penafsiran naratif menolong untuk menghubungkan antara teks dan konteks. Metode penafsiran naratif dengan unsur-unsur naratif yang digunakan untuk menafsir teks, memperlihatkan makna lebih dalam dari setiap kejadian, sikap, dan suasana dalam teks yang menolong dalam memberi makna untuk pelayanan doa bersama dalam bentuk malam meditasi. Dengan teks Lukas 22:39-46 dan metode penafsiran naratif, penulis berusaha untuk menghasilkan makna yang baik bagi pelayanan doa bersama dalam tulisan yang berjudul TUNAIKAN TUGASMU Suatu Tinjauan Naratif Terhadap Lukas 22:39-46 dan Implikasinya bagi Pelaksanaan Doa Bersama (Malam Meditasi) Sebelum Penahbisan Penatua, Diaken, dan Pengajar di Jemaat GMIT Imanuel Beumopu”.