ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi konsep relasi dialogis Ich und Du Martin Buber terhadap konteks kekerasan dalam kehidupan jemaat GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Imanuel Olalain. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan konflik relasional masih terjadi dalam kehidupan jemaat, yang menunjukkan adanya krisis dalam kualitas relasi antarmanusia. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan wawancara dan refleksi teologis, penelitian ini menemukan bahwa banyak relasi suami-istri dalam jemaat masih dibangun dalam pola dominatif, hierarkis, dan minim dialog, sehingga lebih menyerupai pola relasi Ich-Es (Aku-Itu) daripada Ich-Du (Aku-Engkau). Selain faktor personal, kekerasan juga dipengaruhi oleh faktor kultural, struktural, dan pemahaman teologis yang belum sepenuhnya menekankan kesetaraan martabat manusia. Iman Kristen yang diakui jemaat sering kali belum terintegrasi dalam praktik relasi sehari-hari, sehingga relasi dengan Tuhan tidak selalu tercermin dalam relasi dengan pasangan. Dalam terang pemikiran Martin Buber, relasi yang sehat hanya mungkin terwujud melalui perjumpaan dialogis yang mengakui keutuhan dan martabat pribadi sebagai subjek, bukan objek. Penelitian ini juga menegaskan bahwa kekerasan merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei). Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk membangun spiritualitas relasional yang transformatif, memperbarui pola komunikasi, serta menghadirkan struktur persekutuan yang partisipatif dan adil. Konsep Ich-Du menjadi kerangka teologis yang relevan untuk pemulihan relasi, pencegahan kekerasan, dan pembentukan kehidupan jemaat yang lebih dialogis, manusiawi, dan mencerminkan kasih Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas kehendak bebas sebagai tanggung jawab etis berdasarkan tinjauan etis biblis Kejadian 1:26-28 serta relevansinya bagi pemuda/i di Jemaat GMIT Emaus Liliba. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan pemuda yang berada di tengah perubahan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi yang berlangsung secara cepat dan kompleks. Kondisi tersebut kerap membentuk cara pandang terhadap kebebasan secara individualistik, pragmatis, dan terlepas dari dimensi tanggung jawab etis serta relasi iman. Situasi ini menuntut suatu kajian teologis yang mampu menempatkan pemahaman tentang kehendak bebas dalam kerangka iman Kristen yang berakar pada identitas manusia sebagai gambar dan rupa Allah (imago Dei). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konteks historis dan motivasi teologis Kejadian 1:26-28, mengidentifikasi nilai-nilai etis yang terkandung di dalam teks tersebut, serta merumuskan relevansinya bagi kehidupan pemuda/i di Jemaat GMIT Emaus Liliba. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, melalui studi kepustakaan terhadap teks Alkitab dan literatur teologis yang relevan, serta refleksi kontekstual terhadap dinamika kehidupan pemuda dalam lingkungan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kejadian 1:26-28 lahir dalam konteks krisis identitas umat Israel dan berfungsi sebagai pernyataan teologis yang menegaskan kembali martabat manusia sebagai imago Dei. Kehendak bebas dipahami sebagai anugerah Allah yang melekat pada identitas manusia, namun tidak bersifat otonom mutlak, melainkan selalu terikat pada tanggung jawab etis dalam relasi dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Nilai-nilai etis yang terkandung dalam teks ini meliputi kekudusan hidup, tanggung jawab moral, pengelolaan kuasa secara etis, serta partisipasi manusia dalam mandat budaya Allah. Relevansi etis Kejadian 1:26-28 bagi pemuda/i GMIT Emaus Liliba terletak pada panggilan untuk menghidupi kebebasan secara bertanggung jawab di tengah tantangan kehidupan modern. Pemuda dipanggil untuk memahami kebebasan bukan sekadar sebagai hak pribadi, melainkan sebagai sarana menghadirkan kemuliaan Allah melalui kehidupan yang berintegritas, relasi yang membangun, serta keterlibatan aktif dalam pelayanan gereja dan tanggung jawab sosial sebagai wujud iman Kristen yang hidup dan nyata.