PERUBAHAN FUMGSI BUKIT LIMAN: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, Klasis Semau
Skripsi ini berjudul “Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan fungsi Bukit Liman dalam perspektif ekoteologi, dengan fokus pada perspektif Sallie McFague tentang alam sebagai tubuh Allah. Bukit Liman, yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan spiritual yang mendalam bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, mengalami perubahan fungsi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini berdampak pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan spiritual jemaat, mengingat hubungan erat mereka dengan alam sebagai bagian dari persekutuan dengan Tuhan dan ciptaan-Nya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan studi kasus yang fokus pada perubahan penggunaan lahan di sekitar Bukit Liman dan dampaknya terhadap jemaat serta lingkungan sekitar. Penelitian ini juga mengkaji relevansi pemikiran Sallie McFague dalam konteks perubahan fungsi Bukit Liman, terutama konsepnya mengenai alam sebagai tubuh Allah yang menyiratkan perlunya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, penelitian ini menggali bagaimana pandangan ekoteologi ini dapat menjadi dasar bagi tindakan teologis jemaat dalam menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian dari panggilan iman mereka untuk menjadi penjaga ciptaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Bukit Liman membawa tantangan bagi jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, namun juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pemikiran ekoteologi dalam kehidupan spiritual dan sosial mereka. Jemaat dihadapkan pada pilihan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memahami perubahan fungsi Bukit Liman sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan visi gereja yang berbasis pada tanggung jawab ekologis dan spiritual. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih dalam tentang ekoteologi dalam konteks gereja lokal dan masyarakat adat, serta menekankan pentingnya pengelolaan alam yang berkelanjutan berdasarkan perspektif teologis yang menekankan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari ciptaan Allah yang harus dijaga.