ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Puasa dalam Alkitab pada umumnya berarti tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu dan biasanya dilakukan bersama dengan doa dan merupakan simbol kerendahan hati manusia. Salah satu pengajaran mengenai puasa ada dalam Injil Matius 6:16-18. Bagian ini merupaka salah satu pengajaran Yesus dalam khotbah-Nya di Bukit. Pada saat itu puasa yang dilakukan adalah dengan menonjolkan atau mempertontonkan kepada orang-orang, dengan maksud untuk mendapat pujian semata dari orang-orang dan bukan dilakukan dengan kerendahan hati yang tertuju kepada Tuhan. Dengan hal ini Yesus mengajarkan untuk jikalau berpuasa, maka seseorang tersebut harus dilakukan secara pribadi dengan Tuhan saja yang mengetahuinya, dan dilakukan dengan kerendahan hati, bersandar penuh pada kuasa Tuhan serta adanya pengelolaan diri secara utuh di hadapan Tuhan.
Bertolak dari hal ini, penulis tetarik untuk mengkaji lebih dalam tentang berpuasa di jemaat GMIT Silo Naikoten 1; bagaimana pengajaran Yesus mengenai puasa dan bagimana berpuasa yang benar yang harus dilakukan jemaat Silo Naikoten 1. Metode penulisan deskriptif-analisis-reflektif¬, di dukung dengan metode penelitian kualitatif digunakan untuk melihat realita yang ada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di jemaat GMIT Silo Naikoten 1, beberapa jemaat sudah melakukan puasa secara pribadi dalam kehidupan mereka, serta juga jemaat berpuasa dengan mengikuti himbauan Majelis Sinode GMIT pada 21-30 Mei 2020, hal ini dikarenakan kondisi dunia yang mengalami pandemi Covid-19. Puasa yang dilakukan yaitu tidak makan dan minum pada ketentuan waktu mulai pukul 7 pagi sampai pukul 18.00 sore. Dalam berpuasa, ada jam-jam doa sesuai dengan doa pergumulan. Jemaat memahami puasa yang dilakukan hanya sekedar tidak makan dan minum, berpuasa untuk ikut-ikutan, untuk menghalangkan aktivitas harian atau pun hanya sekedar rutinitas, serta tidak ada dalam doa untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Puasa tidak hanya mengenai tidak makan dan minum saja melainkan di dalam puasa terdapat motivasi yakni sebagaimana seseorang datang dengan kerendahan hati kepada Tuhan, menaruh pergumulan kehidupannya dengan bergantung penuh pada kuasa Tuhan. Dan ketika seorang berpuasa harus dilakukan pengelolaan diri secara utuh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tulisan berjudul “Pertanian Berpindah” oleh Sefnat Noel membahas praktik pertanian berpindah yang hingga kini masih dijalankan oleh Jemaat GMIT Imanuel Manubelon. Kajian ini bertolak dari realitas kehidupan jemaat yang menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidup terutama pada sektor pertanian. Pertanian berpindah tidak semata-mata dipahami sebagai kegiatan ekonomi, melainkan juga sebagai praktik sosial, kultural, dan religius yang telah mengakar dalam kehidupan jemaat secara turun-temurun. Oleh sebab itu, praktik ini tidak dapat dilepaskan dari konteks historis, geografis, dan sosial masyarakat setempat. Fokus kajian diarahkan pada dinamika pertanian berpindah yang mengandung ketegangan antara manfaat dan dampaknya. Di satu pihak, praktik ini berkontribusi positif terhadap keberlangsungan ekonomi jemaat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Dalam kondisi terbatasnya lapangan kerja dan akses ekonomi, pertanian berpindah dipandang sebagai pilihan yang paling memungkinkan untuk menopang kehidupan sehari-hari. Selain itu, praktik ini juga memperkuat ikatan sosial karena pelaksanaannya kerap melibatkan kerja kolektif yang mempererat relasi antaranggota jemaat. Namun, di pihak lain, pertanian berpindah membawa konsekuensi ekologis yang cukup serius. Aktivitas penebangan hutan dan pembakaran lahan menyebabkan berkurangnya tutupan vegetasi, menurunnya kemampuan tanah menyerap air, serta menyusutnya sumber mata air. Dampak tersebut meningkatkan potensi banjir, mempercepat degradasi tanah, dan mengancam keberlangsungan berbagai jenis flora dan fauna, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi jemaat sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan praktik pertanian berpindah. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan observasi langsung, penelitian ini menemukan bahwa praktik tersebut dipertahankan karena faktor ekonomi, pemahaman iman tentang mandat pengelolaan alam, kebebasan dalam mengolah tanah, serta pandangan bahwa tanah harus dimanfaatkan demi kelangsungan hidup. Berdasarkan temuan tersebut, penulis menegaskan pentingnya pengelolaan alam yang bertanggung jawab dan relasi yang harmonis antara manusia dan alam sebagai wujud ketaatan kepada Allah, sekaligus sebagai kontribusi bagi refleksi ekoteologi kontekstual.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah mengenai kehidupan para petani di GMIT Kasih Karunia Oesao, ditinjau dari teologi kontekstual dan relevansinya bagi peran Gereja di GMIT Kasih Karunia Oesao. Dalam realitas yang ditemukan bahwa kehidupan para petani juga menjadi tempat perjumpaan dengan Allah di sawah, melalui kerja, penderitaan, dan keberhasilan para petani. Maka penulis menemukan bahwa Gereja masih memiliki keterbatasan untuk menghadirkan pelayanan yang kontekstual bagi para petani. Gereja diharapkan untuk melihat kehidupan para petani yang merupakan tempat Allah hadir dan berkarya di dalamnya untuk membangun suatu program yang menjawab kebutuhan para petani. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis, dan reflektif. Dalam menganalisis kehidupan petani, penulis menggunakan teori C.S Song yang menekankan kehadiran Allah dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sawah tidak hanya sebagai sumber kehidupan para petani, tetapi sawah merupakan pusat kehidupan. Maka itu, teologi para petani dibangun dari penderitaan, kerja keras, dan ketergantungan pada alam. Untuk itu, penulis memberikan sumbangsih bagi pelayanan Gereja untuk dapat menghadirkan pelayanan yang kontekstual bagi para petani berdasarkan teologi para petani dengan menjadi Gereja yang kontekstual, berdampak pada masyarakat sosial, dan menjalankan pelayanan yang holistik bagi masyarakat pedesaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk memandang konflik bukan semata-mata sebagai realitas yang bersifat negatif dan merugikan, melainkan sebagai ruang penyingkapan diri dan peluang transformasi dalam kehidupan manusia. Dengan tujuan tersebut, tulisan ini mengkaji Kejadian 37:1-11 melalui pendekatan tafsir naratif untuk memahami bagaimana konflik dalam keluarga Yakub, khususnya antara Yusuf dan saudara-saudaranya, berfungsi sebagai ruang awal pembentukan diri yang berlangsung melalui dinamika relasi yang tidak ideal. Konflik dipahami sebagai hasil dari pilihan dan tindakan manusia yang bebas, namun di dalamnya tetap terbuka kemungkinan terjadinya perubahan dan pendewasaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Pendekatan tafsir naratif dipakai untuk membaca teks sebagai sebuah kisah yang utuh dengan memperhatikan alur, tokoh, dan konflik, sehingga kerygma dipahami melalui dinamika cerita dan perkembangan relasi antartokoh. Dalam tafsir naratif ini, konflik tidak dilihat sebagai tujuan akhir narasi, melainkan sebagai medium yang membuka ruang refleksi diri, kesadaran akan keterbatasan manusia, serta peluang bagi terjadinya transformasi. Pemahaman tersebut kemudian dibaca secara sejalan dengan realitas konflik yang dialami oleh Jemaat GMIT Sarfat Daeloni, Klasis Rote Tengah. Konflik jemaat tidak dipahami sebagai kegagalan kehidupan bergereja, tetapi sebagai realitas yang mengandung potensi pembentukan diri apabila dihadapi secara reflektif dan bertanggung jawab. Dalam kerangka ini, kehadiran Allah dipahami bukan sebagai penghapus konflik atau penentu langsung tindakan manusia, melainkan sebagai kehadiran yang menyertai proses kehidupan manusia, bahkan ketika konflik terjadi sebagai hasil dari kebebasan manusia itu sendiri. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan tujuan untuk memperkuat pemahaman teologis bahwa konflik dapat menjadi ruang pendewasaan iman, pemulihan relasi, dan pertumbuhan kehidupan bersama dalam komunitas jemaat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Pencarian makna hidup di tengah krisis eksistensial yang banyak dialami oleh kaum muda, khususnya dalam periode Quarter Life Crisis, yang ditandai dengan rasa cemas, kehilangan arah, dan ketidakpuasan terhadap pencapaian hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman teologis dari Pengkhotbah 2:18–26 dalam menjawab krisis makna yang dialami generasi muda serta membangun landasan iman bahwa makna hidup sejati hanya ditemukan di dalam Allah. Mencari Makna Hidup di dalam Allah bertujuan untuk mengungkap bagaimana kitab Pengkhotbah, khususnya bagian Pengkhotbah 2:18–26, memandang upaya manusia dalam menemukan makna hidup. Kitab Pengkhotbah merupakan bagian dari sastra hikmat dalam Alkitab Ibrani, dan diyakini ditulis pada masa pasca-pembuangan, ketika umat Israel sedang mengalami tekanan sosial, politik, dan spiritual. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan tafsir kritik historis, dengan menelaah latar belakang sejarah, budaya, serta konteks penulisan kitab Pengkhotbah. Analisis dilakukan secara ayat demi ayat untuk menggali makna teks secara mendalam dan menemukan pesan teologis yang relevan bagi masalah Quarter Life Crisis yang dialami. Hasilnya, makna hidup bukan ditemukan dalam pencapaian pribadi atau kepemilikan materi, tetapi dalam pemberian Allah yang membawa damai dan sukacita. Penelitian ini juga menghubungkan isi kitab Pengkhotbah dengan fenomena Quarter Life Crisis yang dialami oleh banyak pemuda masa kini. Dalam tekanan hidup modern—baik dalam pendidikan, pekerjaan, relasi, maupun masa depan—banyak anak muda bergumul dengan arah dan tujuan hidup mereka. Teks ini memberikan jawaban iman bahwa pengakuan akan keterbatasan manusia dan kebergantungan penuh kepada Allah justru membawa pemulihan dan kedamaian. Maka, hidup yang bermakna bukanlah hasil dari keberhasilan material semata, melainkan relasi yang dalam dan utuh dengan Allah. Dengan demikian, Kitab Pengkhotbah menawarkan perspektif spiritual yang menenangkan bahwa sekalipun segala sesuatu di bawah matahari tampak sia-sia, makna sejati dapat ditemukan dalam hubungan yang intim dengan Allah dan dalam penerimaan akan keterbatasan hidup manusia.
Kata kunci: Pengkhotbah 2:18–26, makna hidup, kritik historis, Allah, Quarter Life Crisis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kehadiran Allah merupakan realitas transendental yang menjadi pusat pergumulan iman manusia, termasuk anak-anak yatim piatu. Dalam konteks Jemaat GMIT Nazaret Taum, terdapat kesenjangan pemahaman anak-anak yatim piatu mengenai kehadiran Allah. Sebagian merasakan kehadiran Allah melalui doa dan perenungan, sementara sebagian lainnya meragukan keberadaan-Nya akibat pengalaman kehilangan orang tua dan penderitaan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konteks kehidupan Jemaat GMIT Nazaret Taum, mengidentifikasi pandangan anak-anak yatim piatu tentang kehadiran Allah, serta melakukan refleksi teologis terhadap pandangan tersebut. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan sampel berjumlah 15 orang, terdiri dari 1 orang pendeta, 3 orang majelis jemaat, 2 orang anggota jemaat, dan 9 orang anak-anak yatim piatu. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Analisis data dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan metode penulisan deskriptif, analisis, dan refleksi. Kemudian penulis juga ingin mengetahui pandangan anak yatim piatu dengan pendekatan Ebenhaizer Nuban Timo, yaitu Allah yang transenden dan Allah yang imanen, dan implikasinya bagi kehidupan anak yatim piatu di Jemaat GMIT Nazaret Taum. Hasil penelitian menunjukkan sosok Allah yang di butuhkan anak yatim piatu di GMIT Nazaret Taum adalah Allah yang memberikan perlindungan, pengganti orang tua, yang dekat dan mendengar, yang menyayangi, yang tidak meninggalkan, Allah yang tidak mengabaikan dan tidak mengasingkan. Anak yatim piatu mengidentifikasi Allah sebagai sumber kasih sayang yang hilang dari orang tua mereka, sehingga mereka membutuhkan Allah yang memberikan perhatian dan kehangatan seperti halnya seorang ibu dan bapak yang memberikan belaian lembut, pelukan dan rasa aman. Berdasarkan refleksi teologis tersebut, saran bagi Gereja adalah dengan kehadiran Gereja ditengah jemaat harus mampu mewujudkan kehadiran Allah sebagai Ayah dan Ibu, melakukan pelayanan pastoral, dan berkolaborasi dengan pemerintah untuk membantu anak yatim piatu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan fungsi Bukit Liman dalam perspektif ekoteologi, dengan fokus pada perspektif Sallie McFague tentang alam sebagai tubuh Allah. Bukit Liman, yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan spiritual yang mendalam bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, mengalami perubahan fungsi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini berdampak pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan spiritual jemaat, mengingat hubungan erat mereka dengan alam sebagai bagian dari persekutuan dengan Tuhan dan ciptaan-Nya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan studi kasus yang fokus pada perubahan penggunaan lahan di sekitar Bukit Liman dan dampaknya terhadap jemaat serta lingkungan sekitar. Penelitian ini juga mengkaji relevansi pemikiran Sallie McFague dalam konteks perubahan fungsi Bukit Liman, terutama konsepnya mengenai alam sebagai tubuh Allah yang menyiratkan perlunya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, penelitian ini menggali bagaimana pandangan ekoteologi ini dapat menjadi dasar bagi tindakan teologis jemaat dalam menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian dari panggilan iman mereka untuk menjadi penjaga ciptaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Bukit Liman membawa tantangan bagi jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, namun juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pemikiran ekoteologi dalam kehidupan spiritual dan sosial mereka. Jemaat dihadapkan pada pilihan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memahami perubahan fungsi Bukit Liman sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan visi gereja yang berbasis pada tanggung jawab ekologis dan spiritual. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih dalam tentang ekoteologi dalam konteks gereja lokal dan masyarakat adat, serta menekankan pentingnya pengelolaan alam yang berkelanjutan berdasarkan perspektif teologis yang menekankan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari ciptaan Allah yang harus dijaga.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Kematian adalah peristiwa natural, setiap manusia pasti akan mati. Kematian adalah kehidupan dalam cara yang baru, bentuk baru, dari kehidupan itu Yesus namakan tidur. Ini adalah suatu masa antara di mana manusia itu istirahat sambil menantikan kebangkitan. Orang beriman mati sebelum kedatangan kembali Kristus dihubungkan dengan Kristus oleh karen itu disebut mati dalam Kristus. Anggota jemaat Etam Lipa, Klasis Alor Tengah Utara memahami kematian karena kecelakaan sebagai penyakit atau masalah adat yang belum terselesaikan sehingga harus melaksanakan ritus Patei Sela Kate untuk membatasi kematian karena kecelakaan. Kematian bagi orang percaya bukan suatu hal yang harus ditakutkan karena Kristus sendiri telah mati dan bangkit pada hari yang ketiga untuk mengalahkan kuasa dosa.
Penelitian mengenai pemahaman anggota Jemaat GMIT Etam Lipa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pandangan anggota Jemaat tentang ritus Patei Sela Kate. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa pemahaman anggota Jemaat Etam Lipa terhadap kematian merupakan suatu penyakit. Kematian dipahami secara sempit oleh anggota Jemaat Etam Lipa mengenai kematian karena kecelakan dipengaruhi juga oleh faktor warisan leluhur. Oleh karena itu gereja perlu memberikan pemahaman lagi tentang kematian dalam ajaran Iman Kristen sehingga anggota jemaat Etam Lipa tidak menganut pemahaman yang keliru tentang kematian, tetapi dapat diterima bahwa kematian bagi orang percaya merupakan kehidupan dalam cara yang baru yaitu tidur sambil menantikan kebangkitan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kasus kekerasan pada perempuan, anak, dan perdagangan orang di Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan persoalan sosial yang sudah ada pada tingkat darurat. Akibatnya banyak masyarakat dan jemaat yang sudah menjadi korban. Hal ini membuat banyak lembaga-lembaga masyarakat dan keagamaan terlibat dalam upaya pemberantasan. Rumah Harapan GMIT, yang merupakan shelter atau rumah aman bagi para korban, adalah salah satu lembaga gerejawi yang didirikan GMIT dalam menggumuli ketiga kasus di atas. Kehadiran shelter ini bertujuan untuk membebaskan mereka yang menjadi korban. Apa yang melatar-belakangi terbentuknya pelayanan sosial Rumah Harapan GMIT? Apa yang membedakan Rumah Harapan GMIT dan instansi lain dalam pelayanan sosial? Secara teologis, refleksi apa yang bisa dikembangkan terhadap keterlibatan sosial Rumah Harapan GMIT?
Dalam tulisan ini, penulis pertama-tama mendeskripsikan tentang latar belakang dan sejarah berdirinya Rumah Harapan GMIT. Setelah itu, penulis juga melihat Teori Teologi Sosial Gustavo Gutierrez yang berjuang bagi kesejahteraan kaum miskin dengan menghasilkan sebuah teologi pembebasan (Theology of Liberation) bagi kaum miskin di Amerika Latin. Teologi yang dikembangkan Gutierrez ini menjadi sebuah landasan teori bagi penulis untuk melihat konteks sebagai sumber berteologi, kemudian penulis menggunakan 4 aspek Teologi sosial dari J.B Banawiratma untuk menganalisa konteks dan menemukan tema yang dapat dikembangkan sebagai refleksi kritis terhadap pelayanan sosial yang dilakukan Rumah Harapan GMIT.
Tema yang dimaksud adalah pembebasan. Alkitab mencatat berbagai karya pembebasan, terutama yang dilakukan Allah dalam Perjanjian Lama, yaitu: Pembebasan Allah melalui tradisi Tahun Yobel dan Tahun Sabat, Pembebasan Allah pada masa Pembuangan di Babel, sementara dalam Perjanjian Baru pembebasan itu terjadi melalui karya pelayanan Yesus, para Rasul dan Jemaat Mula-mula. Kepedulian dan keberpihakan kepada kaum yang tertindas dan para korban menjadi pergumulan bersama yang dihadapi dalam konteks Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Amerika Latin dan konteks pelayanan GMIT.
Dalam konteks GMIT pada masa kini, idealnya karya pembebasan Allah hadir melalui Pelayanan Rumah Harapan GMIT. Karya pembebasan Allah bagi bangsa Israel dan umat Perjanjian Baru dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi tindakan pembebasan yang sedang dilakukan oleh GMIT melalui Rumah Harapan GMIT. Sebagaimana karya Allah tersebut sungguh-sungguh membebaskan, demikian juga GMIT dalam pelayanan sosialnya lewat Rumah Harapan harus menunjukan kehadiran dan penyertaan Allah bagi para korban karena ketidakadilan yang dihadapi. Upaya pembebasan seperti yang dilakukan Allah adalah standard dalam pelayanan sosial, sehingga kesaksian GMIT menjadi bukti nyata bahwa Allah selalu ada bagi orang-orang yang membutuhkan keadilan untuk menolong mereka tetap melanjutkan kehidupan.
Kata-kata Kunci : Peran Sosial, Teologi Pembebasan, Rumah Harapan GMIT, keadilan, Pembebasan Allah
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Gereja hadir di tengah dunia bukan dirinya sendiri, melainkan untuk mengemban sebuah tugas atau amant kerasulan. Dalam merumuskan pemahaman mengenai misi atau tugasnya sebagai gereja, GMIT menuangkan amanat kerasulan dalam Panca Pelayanan GMIT yakni koinonia, marturia, diakonia, liturgia, dan oikonomia. Jemaat GMIT Nazaret Oeekam juga melakukan tugas dan panggilannya sebagai gereja di dunia dengan melaksanakan panca pelayanan GMIT. Namun di dalam pelaksanaannya, teori tidak sejalan dengan praktek yang ada. Dalam menulis karya ilmiah ini penulis menggunakan metode deskripsi-analisis-refleksi, yaitu dengan mendeskripsikan jemaat yang menjadi lokus bagi penulis untuk meneliti, menganalisis masalah berdasarkan realita yang ada. Melalui sidang majelis jemaat yang dilaksanakan pada tahun 2020, laporan mengenai hasil pelaksanaan program pelayanan baik dalam bidang pelayanan koinonia, marturia, diakonia, liturgia dan oikonomia tidak terlaksana dengan baik. Beberapa program pelayanan di antaranya berjalan sesuai harapan dan beberapa di antaranya tidak terlaksana. Gereja disebut juga sebagai alat untuk melaksanakan visi Kerajaan Allah di dunia. Karena itu gereja harus mampu melayani dengan baik. Untuk melaksanakan visi Kerajaan Allah di dunia, maka gereja-gereja khususnya Jemaat GMIT Nazaret Oeekam sebagai gereja mewujudkannya dalam panca pelayanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Kemajemukan merupakan salah kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia.Tetapi dalam kenyataannya, kemajemukan ini juga menjadi sebuah ancaman. Salah satu pemicu munculnya masalah ialah keberagaman agama dan ajarannya masing-masing. Hal ini terlihat dari pemahaman yang masih salah tentang keselamatan yang berasal dari satu agama di tengah-tengah kemajemukan. Masing-masing agama datang dengan keyakinan ajaran tentang keselamatan sehingga dari pemahaman inilah lahir sikap eksklusif yang menjadi jurang pemisah antara umat beragama.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang kristen masa kini yang membatasi keselamatan Allah yang universal. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas Teologi Injil Yohanes tentang Gereja yang Inklusif yang sesuai dengan konsep berteologi di dalam GMIT. Kajian Ilmiah ini bertujuan untuk membangun pemahaman dari orang kristen masa kini tentang Teologi Injil Yohanes yang bukan saja bersifat eksklusif namun juga bersifat Inklusif, yang dapat direfleksikan dan manfaatnya bagi Toleransi antar umat beragama di NTT dan merumuskan konsep keselamatan yang juga diterima oleh umat beragama lain.
Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah adalah metode penelitian pustaka yaitu dengan memanfaatkan buku-buku sumber sebagai alat dalam memperoleh informasi. Sedangkan untuk metode penulisan memakai metode deskriptif-analitis-reflektif. Metode deskripsi digunakan untuk memberikan gambaran dan penjelasan tentang latar belakang Injil Yohanes. Metode analisis digunakan untuk menganalisis Teologi Injil Yohanes tentang Inklusivisme. Metode refleksi akan digunakan sebagai upaya berteologi dan implikasinya bagi pelayanan di GMIT.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, penulis menemukan bahwa Teologi Injil Yohanes pada dasarnya menunjukkan bagaimana sisi Yesus yang Eksklusif dan Inklusif terhadap semua ciptaan. Hal ini sesungguhnya sama dengan konsep GMIT dalam berteologi yaitu bahwa GMIT terbuka lebih fleksibel dan lebih terbuka dalam menerima keberadaan umat beragama lain tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari setiap agama. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif ini tentu menjadi relevan dan bisa dijadikan bahan untuk memperbaiki pemahaman orang kristen masa kini, yang sedang menjalankan misi Allah dalam persekutuan hidup berdampingan dengan agama lain. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif menjadi konsep teologi yang menarik bagi pengembangan wacana dan wawasan orang kristen masa kini dalam menghadapi kemajemukan dalam era globalisasi ini.
Kata Kunci : Inklusif, Karya Kasih dan Keselamatan Allah Bagi Dunia, Aku Yesus Bagi Dunia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kebutuhan hidup manusia semakin hari semakin bertambah. Hal ini membuat manusia harus bekerja keras agar kebutuhannya dapat terpenuhi. Salah satu kebutuhan mendasar yang sangat penting dan mempengaruhi kehidupan manusia adalah air. Air sangat menolong manusia dalam berbagai aktivitas setiap hari. Untuk itu air dapat dikatakan sebagai salah satu sumber kehidupan makhluk hidup. Ketersediaan air tidak memadai membuat kehidupan makhluk hidup menjadi tidak seimbang dan berpengaruh pada masalah sosial dan kesehatan. Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan yang membahas tentang peran gereja dalam membantu jemaat dari kesulitan air bersih yang berjudul “Air Sumber Kehidupan (Suatu Tinjauan Teologi Sosial Terhadap Peran Sosial Jemaat GMIT Ebenhaezer Apui Melalui Sistem Pengelolaan Air Bersih). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keterlibatan gereja dalam menyikapi masalah sosil berupa kurangnya ketersediaan air bersih di Jemaat GMIT Ebenhaezer Apui yang menimbulkan kesulitan jemaat dalam mengonsumsi air bersih. Peran sosial yang dilakukan oleh gereja merupakan sikap pelayaan diakonia transformatif yang berfokus menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat dan jemaat. Kerajaan Allah tidak hanya disampaikan melalui perkataan namun yang lebih utama melalui tindakan nyata. Oleh karena itu gereja haruslah bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan peran gereja melalui sistem pengelolaan air bersih bagi seluruh masyarakat Apui. Inilah yang dimaksudkan Yesus bagi gereja yang tidak hanya hadir untuk dirinya sendiri namun dapat berguna bagi seluruh umat Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah memiliki sejarah pembentukan yang sangat panjang yang dimulai dari pemanggilan Abraham. Dalam catatan Kitab Kejadian, Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Abraham dan keturunannya dan pewaris yang sah dari perjanjian itu adalah Ishak, anak Abraham dan Sarai. Selanjutnya, janji itu berlanjut kepada Yakub, anak bungsu Ishak dan Ribka, bukan Esau. Melukai perasaan Esau dan ia ingin membunuh adiknya itu. Meskipun Esau dan Yakub telah berdamai, namun konflik berlanjut pada keturunan mereka, yakni Edom dan Israel. Baik bangsa Israel maupun Edom menjalani relasi yang buruk dengan ingin menguasai satu dengan yang lain. Puncak konflik terjadi saat Edom terlibat dalam kehancuran kota kota Yerusalem. Dalam situasi krisis yang dialami penduduk Yehuda akibat kehancuran itu, Allah mengutus Obaja sebagai nabi Yehuda untuk menghibur mereka dan menyatakan keadilan-Nya. Kitab Obaja 1:12-15 berisi penyesalan Obaja yang mendalam atas perilaku kejam Edom yang menghina dan menindas Yehuda pada saat mereka diserang oleh Babel. Allah adalah Yang Mahakuasa, yang berkuasa dan memberikan ganjaran setimpal kepada umatNya juga dunia bangsa-bangsa. Konflik antara saudara tidak unik hanya pada Edom dan Yehuda, sebab hal yang serupa terjadi antara Jemaat GMIT Efrata Oelmasi dengan komunitas masyarakat dari Timor-Timur di Desa Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Pada tahun 2014 pecah satu konflik besar dan proses perdamaian sudah dilakukan, namun sampai sekarang bentrok sering berulang. Situasi yang terlihat damai, ternyata menyimpan “bom waktu” yang sedang menunggu waktu untuk meledak. Stigma pengungsi kepada masyarakat Timor-Timur, gap sosial-ekonomi, dan pembatasan akses terus menjadi bibit permusuhan. Konflik ini tentu dapat terus terjadi tidak segera dikelola dengan baik. Karena itu, Penulis ingin menafsir teks Obaja 1:12-15 dan menemukan kerygma bagi penyelesaian konflik tersebut. Penulis berharap dengan terkelolanya konflik dengan baik maka masyarakat Timor-Timur dapat diterima sebagai sesama saudara dan hidup dalam damai.