Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

17 hasil
Subjek: Sabu
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESCRIPTIVE STUDY ON IMPERATIVE SENTENCE IN SABU LANGUAGE

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

The title of this writing is “Descriptive Study On Imperative Sentence In Sabu Langauge”. This research was conducted to answer research problem; 1. What are the types of imperative sentence in sabu language? 2. What are the function of imperative sentence in Sabu language? The aim of this research was to find out the types of imperative and the function of imperative sentence in sabu language. The writer used qualitative method (interview and recording), base on the data and fact that serve in narrative explanation and did the interview. and the result of the interview show and answer those research problem about the types and function of imperative sentence in Sabu Language. The types of imperative sentence in sabu languae consists of two types those are positive and negative command. while the function of imperative sentence in Sabu Language consist of five function those are 1. Imperative sentence as Instruction. 2. Imperative sentence as Request 3. Imperative sentence as Suggestion, 4. Imperative sentence as Advise, 5. Imperative sentence as Prohibition.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI KUALITAS KARAGENAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) PADA LOKASI BERBEDA DI PERAIRAN SABU RAIJUA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kabupaten Sabu Raijua merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak dibagian selatan. Masyarakat Desa Lobohede, Desa Menia, Desa Kudjiratu dan Desa Ledeunu Kabupaten Sabu Raijua sebagai kawasan budidaya rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii. Rumput laut dapat dipanen bila usia pemeliharaan mencapai 30-45 hari. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan teknik penanganan pascapanen rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Sabu Raijua, mengetahui kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di Perairan Sabu Raijua. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2022 di Kabupaten Sabu Raijua, Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana, Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian karagenan rumput laut di Desa Lobohede, rendemen 67,23%, kadar air 8,27%, kadar abu 26,24%, viskositas 59,65cP dan Kekuatan gel 89,75 g/cm2. Desa Menia, rendemen 60,09%, kadar air 7,04%, kadar abu 29,75%, viskositas 31,75cP dan Kekuatan gel 80g/cm2. Desa Kudjiratu, rendemen 65,62%, kadar air 8,82% kadar abu 26,71%, viskositas 36,01cP dan Kekuatan gel 80,5 g/cm2. Desa Ledeunu, rendemen 58,32%, kadar air 8,16%, kadar abu 26,84%, viskositas 35,95cP dan Kekuatan gel 68 g/cm2. Petani rumput laut kering di Desa Lobohede, Desa Menia, Desa Kudjiratu dan Desa Ledeunu Kabupaten Sabu Raijua dengan parameter rendemen, kadar air, kadar abu, dan viskositas telah memenuhi syarat mutu yang ditetapkan FAO (1986), FCC (1981), dan EEC (1978), sedangkan parameter kekuatan gel belum memenuhi syarat mutu yang ditetapkan FAO (1986).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pupuk Organik Cair Sabut Kelapa (C. nucifera) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (C. Frutenscens L)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cabai rawit (C. frutescens L) adalah salah satu tanaman holtikultura dari jenis sayuran yang memiliki buah kecil dengan rasa yang pedas. Selain buahnya, bagian lain dari tanaman cabai rawit seperti batang, daun, dan akarnya juga dapat digunakan sebagai obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair sabut kelapa (C. nucifera) terhadap pertumbuhan tanaman Cabai rawit (C. frutescens L). Penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk organik cair sabut kelapa (C. nucifera) terhadap pertumbuhan tanaman Cabai rawit (C. frutescens L). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) perlakuan 1 = 0 mL POC sabut kelapa, perlakuan 2 = 100 mL POC sabut kelapa, perlakuan 3 = 200 mL POC sabut kelapa, perlakuan 4 = 300 mL POC sabut kelapa, perlakuan 5 = 400 mL POC sabut kelapa yang masing-masing diencerkan dalam 5.000 mL air dan kelas kontrol (tanpa perlakuan) = air tanpa POC. Data yang diperoleh dianalisis dengan Anova dan kemudian dilakukan uji lanjutan dengan uji jarak berganda Duncan atau Duncan’s New MultipleRange Test (DMRT) pada taraf 5%. Parameter dengan nilai rata-rata dan keseluruhan nilai perlakuan dari setiap pengulangan yang diamati diantaranya yaitu tinggi tanaman, jumlah helaian daun, jumlah buah. Berdasarkan hasil penelitian pemberian pupuk organik cair dari sabut kelapa terhadap parameter pengukuran, semua parameter pengukuran pada perlakuan memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun dan banyaknya buah. Pemberian pupuk pada 5 perlakuan dengan konsentrasi sebesar 400mL memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman jumlah helaian daun dan jumlah buah dibandingkan perlakuan lainnya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG TINDAK PIDANA PERJUDIAN SABUNG AYAM

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul penelitian ini ialah Deskripsi Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam permasalahan pokoknya diteliti penulis ialah Faktor apakah yang menyebabkan terjadinya Tindak Pidana Pidana Sabung Ayam, Bagaimana Modus Pelaku Terjadinya Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam dan Bagaimana Akibat Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam. Tujuan penelitian ini Untuk Mengetahui Faktor penyebabkan terjadinya Tindak Pidana Pidana Sabung Ayam, Untuk Mengetahui Modus Pelaku Terjadinya Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam dan Untuk Mengetahui Akibat Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam. Jenis penilitian hukum yang digunakan ialah jenis penelitian Normatif dan sifat penelitian yang digunakan penulis bersifat Deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan studi dokumen atau bahan pustaka. Hasil peneilitian yang dilakukan oleh penulis selanjutnya dirumusakan dan di tarik kesimpulan sebagai berikut. Hasil penelitian menujukan sebab, modus dan akibat hukum terjadinya tindak pidana perjudian sabung ayam: 1. Faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindak pidana sabung ayam a. Hobi para terdakwa. b. Terdakwa mendapatkan keuntungan. 2. Modus pelaku dalam melakukan tindak pidana sabung ayam a. Terdakwa menelpon temannya untuk melaksanakan sabung ayam. b. Terdakwa membuka arena perjudian sabung ayam ditempat umum yang bisa dikunjungi oleh masyarakat. c. Setiap peserta judi sabung ayam yang membawa kendaraan disimpan dirumah Terdakwa. d. Terdakwa menyediakan semua perlengkapan yang akan dibutuhkan pada saat sabung ayam. e. Sebelum judi sabung ayam dimulai Para pemilik ayam mencocok kedua ayam terlebih dahulu. f. Setiap peserta taruhan yang menang wajib menyerahkan uang kemenangan kepada wasit dan terdakwa. 3. Akibat hukum pelaku melakukan tindak pidana perjudian sabung ayam a. Terdakwa ditahan. b. Terdakwa dikenai pidana penjara dan denda serta dibebankan biaya perkara

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AN ANALYSIS OF METAPHOR IN THE GOSPEL OF MATHEW IN SABU LANGUAGE

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

This research is entitled "AN ANALYSIS OF METAPHOR IN THE GOSPEL OF MATHEW IN SABU LANGUAGE" Metaphors are two things of implicit comparison where two different objects are compared to the factual, the first is the original meaning and the second is the metaphorical depiction. The purpose of this study was to analyse the types of metaphors and dominant metaphors using Parera's (2004) theory. The researcher used descriptive method. Data collection is done by reading the contents of the Gospel of Matthew based on the verses in sequence, reading it repeatedly, identifying and putting it into a table. Data is also analysed by classifying data, analysing data, deciding research findings, and drawing conclusions. The results in this study contained forty data found in the Gospel of Matthew: eleven types of anthropomorphic metaphors, nine types of animal metaphors, nineteen types of abstract to concrete metaphors and one type of synesthesia metaphor. Therefore, in Matthew's gospel is dominated by abstract to concrete metaphors

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMUNITAS YANG MENYEMBUHKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MADE HARRO - MATI TIDAK WAJAR Tinjauan Teologis Terhadap Cara Keluarga Duka Membebaskan Diri Dari Kutuk Made Harro, Menurut Orang Sabu di Jemaat GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat-Raijua

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami konsep kutuk dalam perspektif masyarakat Sabu, khususnya dalam konteks peristiwa Made Harro, yakni kematian yang dianggap tidak wajar dan diyakini terjadi kepada orang yang telah melanggar aturan, perintah, dan larangan dari Deo Ama (Tuhan). Penelitian ini juga mengkaji mekanisme yang ditempuh oleh masyarakat Sabu untuk membebaskan diri dari kutukan tersebut serta refleksi teologis terhadap fenomena ini dalam komunitas Kristen GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat–Raijua. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan kajian fenomena yang lebih komprehensif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kutuk masih sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Sabu Mesara. Meskipun banyak jemaat Kristen mulai meninggalkan praktik ini, beberapa masih melakukannya sebagai bentuk perpaduan antara tradisi budaya dan kepercayaan agama Kristen. Kutukan dianggap sebagai penyebab utama peristiwa Made Harro dan berdampak pada relasi sosial serta harmoni dalam komunitas. Kutukan ini diyakini dapat ditularkan oleh orang yang sudah meninggal dan juga keluarganya kepada orang lain, sehingga memerlukan ritus adat tertentu, yang di dalamnya termasuk penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, dan ritual pembersihan yang dipimpin oleh tokoh adat seperti Rue dan Deo Rai yang bertujuan untuk memutus rantai kutukan tersebut. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bagaimana pemahaman kutukan dalam tradisi Made Harro dapat dilihat dari kaca mata ajaran Kristen. Penelitian ini menggunakan berbagai teori, termasuk pandangan Kristen tentang kematian dan kutuk, serta perspektif antropologis yang melihat kutukan dari sudut pandang berbagai budaya. Selain itu, teori “Kambing Hitam” dari Rene Girard digunakan untuk menganalisis bagaimana masyarakat Sabu menyalurkan ketegangan sosial ke satu objek tertentu, yang kemudian dijadikan sebagai korban dalam ritus adat untuk menciptakan rekonsiliasi dan solidaritas dalam masyarakat yang sedang mengalami krisis. Berdasarkan teori Girard, ritus tersebut dapat dipahami sebagai mekanisme kambing hitam. Namun, René Girard justru mengkritik mekanisme kambing hitam sebagai upaya manusia untuk mengatasi dampak negatif dari dosa dan mencari pembebasan melalui kekuatan sendiri dan tidak memberikan solusi yang sejati terhadap dosa dan konsekuensinya. Sebagai gantinya, Girard menekankan bahwa solusi sejati terletak pada karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Penelitian ini menyoroti peran gereja sebagai agen transformasi dan pendamaian di tengah masyarakat Sabu, membantu mereka menemukan makna kehidupan yang sejati dan kematian di dalam Kristus, serta menolong jemaat terlepas dari belenggu kepercayaan akan kutuk atau pengucilan sosial.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PANDANGAN GEREJA TERHADAP PEMBERIAN NAMA KESAYANGAN BAGI MASYARAKAT SABU DI DESA DEPE KECAMATAN SABU BARAT KABUPATEN SABU RAIJUA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PANDANGAN GEREJA TERHADAP PEMBERIAN NAMA KESAYANGAN BAGI MASYARAKAT SABU DI DESA DEPE KECAMATAN SABU BARAT KABUPATEN SABU RAIJUA ________________________________________ Kore Djara M(*) Pellu L(**) Manu L(***) Budaya masyarakat sabu hingga kini tetap terpelihara sebagai identitas dan kepribadian warisan nenek moyang yang memiliki kekhasan tersendiri, termasuk dalam hal pemberian nama. Nama dalam masyarakat sabu bukan hanya penanda identitas diri seseorang tetapi nama juga menunjukkan suatu peristiwa budaya bentuk penghormatan, tata krama, kesantunan, serta pewarisan dan historisitas. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu dengan menganalisis permasalahan yang di temukan. Penelitian kualitatif didasarkan pada data primer. Data primer yaitu data yang di peroleh melalui wawancara langsung dan dokumentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pandangan Gereja terhadap pemberian nama kesayangan bagi masyarakat Sabu di Desa Depe, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua yang berkaitan Pemberian nama kepada anak sehingga terciptanya nama kesayangan bagi masyarakat Sabu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengakuan gereja bahwa gereja menyetujui adanya pemberian nama kesayangan bagi masyarakat Sabu karena nama kesayangan itu merupakan sebuah penghormatan kepada seseorang baik untuk orang Sabu maupun bagi orang yang bukan orang Sabu atau pendatang. Orang Sabu bukan hanya memiliki satu atau dua nama saja tetapi orang Sabu memiliki tiga nama yaitu yang pertama nama dasar atau nama keramat, yang kedua nama kesayangan atau nama pewaje dan ketiga yaitu nama nasrani atau nama kristen atau nama yang sudah di baptis. Kata kunci: Budaya, Sabu, Ngara Hawu, Ngara Bani, Ngara Pewaje.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM DAN SILPA TERHADAP BELANJA MODAL PADA KABUPATEN SABU RAIJUA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pengalokasian sumber daya ke dalam anggaran belanja modal merupakan sebuah proses yang sarat dengan kepentingan-kepentingan politis. Anggaran ini sebenarnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan publik akan sarana dan prasarana umum yang disediakan oleh pemerintah daerah. Namun, adanya kepentingan politik dari lembaga legislatif yang terlibat dalam penyusunan proses anggaran menyebabkan alokasi belanja modal terdistorsi dan sering tidak efektif dalam memecahkan masalah di masyarakat (Keefer dan Khemani, 2003). Peningkatan alokasi belanja modal dalam bentuk aset tetap seperti infrastruktur, peralatan dan infrastruktur sangat penting untuk meningkatkan produktivitas perekonomian karena semakin tinggi belanja modal semakin tinggi pula produktivitas perekonomian. Pendapatan Asli Daerah, Merupakan sumber pendapatan daerah yang berasal dari kegiatan ekonomi daerah tersebut. Citra keuangan pemerintah daerah akan tercermin dari besarnya PAD yang di peroleh, dan bagaimana alokasi keuangan pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan pemda untuk mensejahtrakan masyarakatnya. Untuk meningkatkan penerimaan PAD, pemerintah daerah perlu memerlukan analisis potensi-potensi yang ada di daerah dan mengembangkan potensi tersebut sebagai pemasukan daerah. Pembangunan ekonomi ini ditandai dengan meningkatnya produktivitas dan meningkatnya pendapatan per kapita penduduk sehingga terjadi perbaikan kesejahteraan. Kenyataan yang terjadi dalam pemerintah daerah saat ini adalah dengan adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi ternyata tidak selalu diikuti dengan peningkatan belanja modal hal ini dapat dilihat dari kecilnya jumlah belanja modal yang dianggarkan dibandingkan dengan total anggaran belanja daerah yaitu 22,64 % seperti dapat dilihat pada lampiran Anggaran Belanja Daerah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AMMU AE NGA RUKOKO

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Rumah orang Sabu dibedakan menjadi dua jenis yakni rumah asli Sabu (Ammu Hawu) dan juga rumah asing (Ammu Jawa). Rumah asli Sabu berbentuk panggung dan mempunyai dua jenis yaitu Ammu Ae Nga Rukoko serta Ammu Taga ‘Batu. Rumah jenis pertama ini kedua ujung bubungannya menonjol ke luar yakni ke barat dan ke timur (hal ini dikarenakan rumah asli Sabu memanjang barat-timur) dengan bagian atap yang disebut rukoko (daun leher). Rumah jenis kedua yakni Taga ‘Batu dua batang baloknya melengkung dan salah satu ujungnya dihubungkan sehingga membentuk setengah lingkaran pada kedua sisi melebar rumah. Orang Sabu meyakini bahwa warga dalam sebuah rumah sama seperti halnya penumpang dalam sebuah perahu. Pandangan orang Sabu mengenai rumah ialah rumah bukanlah sebagai tempat tinggal saja tetapi juga rumah memiliki sebuah makna yang lebih dari itu. Rumah orang Sabu pada saat pembuatan sudah diberi posisi dengan makna tersendiri yang melambangkan sebuah kehidupan. Hingga kini, ammu ae nga rukoko merupakan salah satu budaya orang Sabu yang masih terpelihara hingga saat ini, meskipun sudah terjadi modernisasi. Modernisasi yang terjadi saat ini membuat sebagian masyarakat Sabu memilih untuk membangun rumah sesuai dengan gaya yang modern yang tidak sesuai lagi dengan rumah asli orang Sabu (ammu ae nga rukoko).             Jemaat GMIT Yeruel Seba Kota merupakan jemaat yang berada di tengah perkotaan Seba. Sebagai jemaat yang berada di tengah perkotaan, tentunya pengaruh modernisasi sangat bisa dirasakan oleh jemaat ini. Namun, masih ada juga sebagian jemaat yang lebih memilih untuk tetap menjaga dan melestarikan rumah ini dengan cara masih tetap tinggal di rumah ini. Hal inilah yang ingin dikaji oleh penulis yaitu apakah modernisasi memberikan pengaruh terhadap pemaknaan rumah bagi orang Kristen Sabu, dan juga mengapa ada sebagian masyarakat yang sangat menjaga sekali agar bangunan rumah ini tetap terjaga dengan dilestarikan. Apakah karena ada nilai-nilai dari rumah ini yang nyaris tidak terjaga karena adanya modernisasi sehingga sebagian orang tetap memilih untuk melestarikan rumah ini? Penulis berharap tulisan ini dapat membantu jemaat Kristen

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KONSENTRASI SARI SABUT BUAH LONTAR TERHADAP CITA RASA ES KRIM

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH KONSENTRASI SARI SABUT BUAH LONTAR TERHADAP CITA RASA ES KRIM Umbu Tamu Mahabar; A. I. Medeah; Zet Malelak Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Email : [email protected] ABSTRAK Tujuandaripenelitianiniadalah Untuk mengetahui berapakah konsentrasi optimum dalam penambahan sari sabut buah lontar yang dapat meningkatkan penerimaan sensorikkonsumen pada es krim dan untuk mengetahui profil kesukaan masyarakat terhadap es krim dengan konsentrasi sari sabut buah lontar dilihar dari warna, rasa, aroma dan tekstur. Adapunbahan-bahan yang akandigunakandalamkegiatanpenelitianini, yaitu:sari sabutbuah lontar (70 gr), SP (125 gr), santankelapa (300 gr), gulapasir (200 gr)dan susu (1500 gr). Adapunalat yang akandigunakandalampenelitianini, yaitu: Timbangan, blender, freezer, gelasukur, saringan, pisau, mixer, cup ice cream, baskomplastik, pancialuminium dan kompor.Penelitian yang dilakukan menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 30 orang panelis. Perlakuan yang dicobakan terdiri dari:P0 = Tanpa penambahan konsentrasi sari sabut buah lontar; P1 = Penambahan sari sabut buah lontar 7 %; P2 = Penambahan sari sabut buah lontar 14 %; P3 = Penambahan sari sabut buah lontar 21%; P4 = Penambahan sari sabut buah lontar 28 %. Adapunvariabel yang akandiamatidalampenelitianadalahCita rasa (warna, rasa, aroma, tekstur).Data yang diperolehdihitungmenggunakanAnalisis of variance (ANOVA). Nilai rata-rata karakteristikaspekwarna (P0 = 1.02; P1 = 1.833; P2 = 2.944; P3 = 3.944; P4 = 4.667), karakteristikaspek rasa (P0 = 2.00; P1 = 2.778; P2 = 3.444; P3 = 4.122; P4 = 4.756), karakteristikaspek aroma (P0 = 1.11; P1 = 2.089; P2 = 3.144; P3 = 3.9; P4 = 4.944) dan karakteristikaspektekstur (P0 = 1.74; P1 = 2.911; P2 = 3.244; P3 = 4; P4 = 4.933). Hasil AnalisisSidikRagam (ANOVA) menunjukkanbahwapembuatan es krim sari sabutbuahlontarmemberikanpengaruh yang nyata pada tarafsignifikan 1% (P>0.01) terhadappenerimaankarakteristikaspekwarna, rasa, aroma dan tekstur. Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu : Penambahan sari sabut buah lontar pada pembuatan es krim dengan perlakuan yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata pada taraf 1% (P>0.01) terhadap karakteristik organoleptik dilihat dari aspek rasa, aroma, warna dan tekstur yang dihasilkan, persentase sari sabut buah lontar yang paling baik digunakan pada es krim yaitu persentase 28% terhadap karakteristik organoleptik rasa, aroma, warna dan tekstur dan es krim dengan penambahan sari sabut buah lontar dapat diterima oleh panelis terhadap karakteristik organoleptik warna, rasa, aroma dan tekstur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI KARAKTERISTIK SABUN PADAT YANG DIBUAT DARI BUBUR RUMPUT LAUT Kappahycus alvarezii DAN NaOH DENGAN PERSENTASE YANG BERBEDA

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Rumput laut merupakan salah satu komoditi perikanan penting yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang baik pangan maupun non-pangan. Pemanfaatan rumput laut kemudian berkembang sebagai bahan baku industri makanan, kosmetik, farmasi, kedokteran, dan industri lainnya. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2021 di Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana Kupang untuk pembuatan sabun padat dari bubur rumput laut serta pengujian organoleptik (warna dan aroma), pH, kadar air serta stabilitas busa. Hasil penelitian Nilai rata-rata dari warna sabun padat terendah terdapat pada netral (5,20) sedangkan nilai tertinggi yaitu sangat suka (7,54), Nilai rata-rata dari aroma terendah terdapat netral (5,34) sedangkan nilai tertinggi yaitu pada kriteria sangat suka (7,90), Nilai rata-rata kadar air produk sabun padat yang dibuat dari presentase bubur rumput laut Kappahycus alvarezii dan NaOH dengan persentase yang berbeda memiliki rentangan nilai yang berkisar antara 13,85- 17,97%. perlakuan yang menghasilkan nilai pH tertinggi ialah 9,2 dan nilai pH terendah terdapat pada nilai pH 8,5. Nilai rata-rata dari stabilitas busa pada produk sabun padat yang dibuat dari persentase bubur rumput laut Kappaphycus alvarezii dan NaOH yang berbeda memiliki rentangan nilai antara 73,55% -89,12%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MARI BERSAAT TEDUH Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemahaman dan Pelaksanaan Saat Teduh serta Implikasinya bagi Jemaat GMIT Lahairoi Tuaksabu Lasiana

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam kehidupan umat Kristen, beribadah kepada Allah melalui Yesus Kristus merupakan salah satu bentuk ucapan syukur atas karya penyelamatan yang dilakukan bagi umat manusia dan dunia ini. Selain itu, beribadah juga dapat membantu umat Kristen agar dapat membangun hubungan yang erat dengan sang pencipta. Salah satu hal yang dapat membantu umat kristen membangun hubungan yang erat dengan sang pencipta ialah saat teduh dalam liturgi kebaktian. Namun dalam realitas yang terjadi, saat teduh masih sering diabaikan dalam liturgi kebaktian. Contohnya ialah pada pelaksanaan saat teduh di Jemaat GMIT Lahairoi Tuaksabu Lasiana. Melihat masalah yang terjadi diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam untuk mengetahui gambaran umum jemaat, pemahaman jemaat terhadap saat teduh, realita pelaksanaan saat teduh jemaat, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman dan pelaksanaan saat teduh tersebut. Dari point-point di atas, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode ini dipilih dengan tujuan agar dapat menolong dalam mencari pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita masalah, serta peristiwa yang dapat dipahami. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan narasumber kunci. Dalam penyajian hasil penelitian, penulis menggunakan metode penulisan deskripsi, analisis, dan reflektif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa Jemaat GMIT Lahairoi Tuaksabu Lasiana memiliki pemahaman mengenai saat teduh yang beragam. Pemahaman yang beragam itu kemudian mempengaruhi pelaksanaan saat teduh di jemaat tersebut. Bahkan ada jemaat yang mengakui dirinya sering melalaikan pelaksanaan saat teduh tersebut. Alkitab yang diyakini sebagai sentral dalam ibadah, juga diyakini menjadi dasar refleksi teologis dalam berbagai aspek. Salah satunya ialah untuk merefleksikan saat teduh di dalam pelaksanaan kebaktian jemaat. Selain melihat pendasaran Alkitab, pemahaman teologis tentang saat teduh juga dapat dilihat dari buku-buku dan narasumber ahli berkaitan saat teduh. Dengan demikian dapat membantu jemaat memahami pentingnya saat teduh untuk mengingat penyertaan Tuhan dalam kehidupan jemaat, serta menyadari kerapuhan dalam diri tiap jemaat yang membutuhkan Allah merengkuh kerapuhan tersebut.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI KARAKTERISTIK SABUN PADAT YANG DIPROSES DENGAN PERSENTASE BUBUR RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DAN SARI DAUN KELOR (Moringa oliefera, LAMK) YANG BERBEDA

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kappaphycus alvarezzi merupakan salah satu jenis rumput laut yang sering dimanfaatkan dalam industri non-pangan seperti industri farmasi dan kosmetika karena kandungan antioksidannya mampu berfungsi sebagai pelindung dari sinar ultraviolet yang dapat merusak kulit. Salah satu produk non-pangan yang sering dibuat dari rumput laut ialah produk sabun padat. Studi karakteristik sabun padat yang diproses dengan persentase bubur rumput laut Kappaphycus alvarezii dan sari daun kelor (Moringa oliefera, Lamk) yang berbeda dirancang menurut pola percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang dikenakan terdiri dari 2 Faktor yaitu: Faktor A (Persentase bubur rumput laut Kappaphycus alvarezzi) dan Faktor B (Persentase sari daun kelor). Faktor (A) persentase bubur rumput laut terdiri dari 2 taraf yaitu: A1 (10%) dan A2 (15%). Faktor (B) persentase sari daun kelor terdiri dari 3 taraf yaitu: B1 (10%), B2 (20%) dan B3 (30%) dengan dua kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pH sabun berkisar antara 8,95-9,85. Stabilitas busa sabun padat berkisar antara 55,78%- 77,86%. Kadar air pada sabun berkisar antara 13,40%- 15,83% dan tingkat penerimaan panelis pada warna sabun berkisar antara 6,44- 8.00 sedangkan nilai pada parameter aroma berkisar dari 6,70- 8,94 dengan kategori suka sampai kategori sangat suka. Sabun padat yang memenuhi SNI 3532-2016 dan Dragon (1969) ialah sabun padat dari kombinasi perlakuan bubur rumput laut 15% dan sari daun kelor 10%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK DENDENG IKAN MUJAIR DENGAN PENGGUNAAN JENIS GULA YANG BERBEDA

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dendeng ikan adalah produk pangan yang berbentuk lempengan terbuat dari daging segar dan atau daging beku, yang diiris atau digiling, ditambah bumbu dan dikeringkan dengan sinar matahari atau alat pengering, dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan. Dendeng yang disukai oleh konsumen adalah dengan tekstur yang tidak keras dan produsen dendeng harus memperhatikan kualitas dendeng dari segi tekstur dan warna. Karakteristik dendeng yang harus dipenuhi yaitu memiliki tekstur kenyal dan lembut, warna serta memiliki rasa yang dapat diterima oleh konsumen sehingga diperlukan bahan tambahan yang dapat memperbaiki sifat dari dendeng ikan. Salah satu bahan tambahan yang dapat memperbaiki karakteristik dendeng ikan adalah gula. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik organoleptik (Aroma, warna, tekstur, dan rasa) dan uji kimiawi (kadar air dan pH) dendeng ikan mujair yang diproses dengan penggunaan jenis gula yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli-Agustus di Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang untuk pembuatan produk dan pengujian organoleptik dan kimia (kadar air dan pH). Organoleptik dendeng ikan mujair dengan penggunaan jenis gula yang berbeda sangat berpengaruh nyata untuk setiap perlakuan baik pada karakteristik organoleptik (Aroma, warna, tekstur, dan rasa) seta kadar air dan pH. Rata-rata kadar air dan pH yang dihasilkan pada dendeng ikan mujair yang menggunakan jenis gula dan persentase gula yang berbeda yaitu gula sabu dan gula pasir memberikan pengaruh sangat nyata untuk setiap perlakuan yang berkisar antara 11,20-15,20% untuk nilai rata-rata kadar air, dan nilai pH berkisar antara 6,4-6,7. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa menggunakan gula yang berbeda yaitu gula sabu dan gula pasir dengan persentase masing-masing gula yaitu 25%, 30%, dan 35%, menghasilkan karakteristik aroma, warna, tekstur dan rasa yang berbeda dan karakteristik yang paling baik adalah pada perlakuan persentase gula sabu 35% .

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

A DESCRIPTIVE STUDY ON COMPOUND WORDS IN THE MATTHEW GOSPEL OF PA LI HAWU

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRACT A DESCRIPTIVE STUDY ON COMPOUND WORDS IN THE MATTHEW GOSPEL OF PA LI HAWU This thesis entitled ‘’ A descriptive study on compound words in the Matthew Gospel of pa li Hawu’’. It aims to find out the types and meaning of compound words that found in the Matthew Gospel of pa li Hawu. The data collected from 28 chapters of Matthew Gospel. The method used is descriptive qualitative. The result shows that types of compound word is divide into three, they are compound noun or commonly said as noun head word, compound verb or commonly said as verb head word, and compound adjective or commonly said as adjective head word. From the three types of compound words, they are has sub-types as follow: Noun plus noun compound for example Ama ‘father’+ appu ‘Grandfather’= Ancestor, Adjective plus Noun for example Dhara ‘deep’ + lua ‘edge’ = condition, Verb plus Noun for example wie ‘give’ + hu ‘point’ = spoilt, Noun plus Verb for example kolo ‘crown’ + loro ‘carry’ = descendent, Adjective plus Verb for example Potte ‘turning’ + appi ‘weave’ = Impostor, Verb plus Verb for example peloko ‘prepare’ + Nga’a ‘eat’ = marriage, Noun plus Adjective for example koro ‘pock’ + djawa ‘foreign’ = pigeon, Adjective plus Adjective for example Mekae ‘shy’ + Dhara ‘deep’ = shy, and last is Verb plus Adjective for example kebbhala ‘fall’ + ae ‘much’ = moorland. Each of the word in Sabu language above carry its own meaning. But when they are combined together, they formed a new one nominal category of word and new meaning. Keywords: Compound types, Compound meaning, Sabu language

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AN ANALYSIS ON SENTENCE PATTERNS IN SEBA DIALECT OF SABU LANGUAGE

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRACT This research is about “ An Analysis on Sentence Patterns in Seba Dialect of Sabu Language”. The research problems of the study were: What are the sentence pattern found in Seba dialect of Sabu language? The method used in this research is qualitative method. The data was taken by record the conversation of three speakers which is used Seba Dialect of Sabu language on 5th October 2020. After analyzing the data the writer found eight types of sentences patterns that used Seba dialect of sabu Language . There are sixty-sixt utterances consist of four utterances of Subject + Verb (S+V), thirteen utterances of Subject + Verb + Adverbial (S+V+Ad), fifteen utterances of Subject + Verb + Direct Object (S+V+DO), twenty utterances of Subject + Verb + Indirect Object + Direct Object (S+V+IO+DO), six utterances of Subject + Verb + Direct Object + TO/For Phrase (S+V+DO+TO/For Phrase), four utterances of Subject + Verb + Verb (S+V+V), one utterance of Subject + Verb + Verb + Verb (S+V+V), three utterances of Subject + Non Verbal ( S+N Verbal) that consist of one utterance of Subject + Adjective (S+A), one utterances of Subject + Noun Phrase (S+N Phrase), one utterance of Subject + Prepositional Phrase/Adverb (S+P Phrase/Adverb)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail