ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Desa Jenilu terletak di Kecamatan Kakuluk Mesakdan wilayah pesisirnya bisa dimanfaatkan untuk budidaya Alga Merah. Alga Merah yang dibudidaya masih dalam tahap ujicoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan Metode Lepas Dasar di Perairan Desa Jenilu.
Penelitia dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2022. Metode yang digunakan yaitu metode ujicoba langsung dilapangan dengan menggunakan metode lepas dasar (patok) dan analisis data yang digunakan yaitu pertumbuhan harian, pertumbuhan relatif serta pertumbuhan mutlak.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa Alga Merah Kappaphycus alvarezii memiliki pertambahan berat dari awal sampai berakhirnya penelitian dengan berat tertinggi pada minggu ke-7 dengan nilai (283,4 gram), Kisaran pertumbuhan harian Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan nilai (4,76 gram) dan terendahnya dengan nilai (2,19 gram), Pertumbuhan mutlak Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan nilai tertinggi yakni (223,4 gram/hari) dan terendahnya dengan nilai (15,3gram/hari), Pertumbuhan spesifik Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan nilai tertinggi (5,57 %) dan terendah dengan nilai (3,62 %). Hal ini disebabkan karena bibit yang diambil mampu beradaptasi dengan lingkungan perairan yang berbeda.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kabupaten Sabu Raijua merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak dibagian selatan. Masyarakat Desa Lobohede, Desa Menia, Desa Kudjiratu dan Desa Ledeunu Kabupaten Sabu Raijua sebagai kawasan budidaya rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii. Rumput laut dapat dipanen bila usia pemeliharaan mencapai 30-45 hari. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan teknik penanganan pascapanen rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Sabu Raijua, mengetahui kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di Perairan Sabu Raijua. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2022 di Kabupaten Sabu Raijua, Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana, Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian karagenan rumput laut di Desa Lobohede, rendemen 67,23%, kadar air 8,27%, kadar abu 26,24%, viskositas 59,65cP dan Kekuatan gel 89,75 g/cm2. Desa Menia, rendemen 60,09%, kadar air 7,04%, kadar abu 29,75%, viskositas 31,75cP dan Kekuatan gel 80g/cm2. Desa Kudjiratu, rendemen 65,62%, kadar air 8,82% kadar abu 26,71%, viskositas 36,01cP dan Kekuatan gel 80,5 g/cm2. Desa Ledeunu, rendemen 58,32%, kadar air 8,16%, kadar abu 26,84%, viskositas 35,95cP dan Kekuatan gel 68 g/cm2. Petani rumput laut kering di Desa Lobohede, Desa Menia, Desa Kudjiratu dan Desa Ledeunu Kabupaten Sabu Raijua dengan parameter rendemen, kadar air, kadar abu, dan viskositas telah memenuhi syarat mutu yang ditetapkan FAO (1986), FCC (1981), dan EEC (1978), sedangkan parameter kekuatan gel belum memenuhi syarat mutu yang ditetapkan FAO (1986).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
DENSIANA LURUK SERAN (17381978) Seleksi Varietas Unggul Rumput Laut Kappaphycus spp. yang Dibudidayakan dengan Metode Lepas Dasar di Perairan Tablolong. Wilson L. Tisera, S.Pi.,M.Si., Ph.D dan Rockie R. L. Supit., S.Pi., M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Kappaphcus merupakan salah satu rumput laut panghasil karaginan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas ekspor perikanan Indonesia di pasar dunia. Seleksi varietas merupakan salah satu metode yang diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan mengurangi penyakit. Desa Tablolong, di Kabupaten Kupang memiliki potensi budidaya Kappaphycus spp. yang besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui varietas rumput laut Kappaphycus spp. yang memberikan pertumbuhan yang lebih baik dan lebih tahan terhadap penyakit ice-ice yang dibudidayakan di Perairan Tablolong.
Penelitian ini telah dilaksanakan selama 7 minggu pada bulan Juni sampai Agustus 2021. Kappaphycus spp. yang diuji adalah Varietas Tambalang hasil kultur jaringan dari Rote, Varietas Sacol dari Sulamu, Varietas Sacol dari Semau dan Varietas Cottonii dari Pasir Panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, dengan metode budidaya adalah metode lepas dasar. Data pertumbuhan dan penyakit ice-ice di ambil setiap 7 hari sekali. Pengukuran parameter kualitas air berupa suhu, salinitas, kecepatan arus, Ph dan kecerahan. Data pertumbuhan yang dianalisis adalah Pertumbuhan Harian, Pertumbuhan Spesifik dan Pertumbuhan Mutlak. Sementara data penyakit adalah Insiden dan Intensitas penyakit.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertambahan berat Kappaphycus spp. tertinggi di Perairan Tablolong adalah Sacol Sulamu dengan nilai rata-rata tertinggi 844,50 gram pada minggu ke tujuh dan nilai terendah Cottonii Pasir Panjang yakni 295,60 gram pada minggu ke tujuh. Pertumbuhan harian dengan nilai rata-rata tertinggi Sacol Sulamu yaitu 13,00 gram/hari, sedangkan pertumbuhan terendah Cottonii Pasir Panjang yakni 2,85 gram/hari. Pertumbuhan spesifik dengan nilai rata-rata tertinggi pada Sacol Sulamu yakni 5,73 %/hari, sedangkan pertumbuhan spesifik terendah pada Cottonii Pasir Panjang dengan nilai 2,18%/hari. Pertumbuhan mutlak dengan nilai rata-rata tertinggi Sacol Sulamu 744,5 gram dan nilai terendah Cottonii Pasir Panjang yakni 195,6 gram. Untk Insiden penyakit ice-ice, Cotonii Pasir Panjang memiliki nilai paling tinggi dari awal penelitian sampai akhir dengan rata-rata 61,85 % sedangkan paling rendah Sacol Sulamu dengan nilai 34,02 %. Untuk Intensitas penyakit, Cottonii Pasir Panjang memiliki nilai paling tinggi dari awal penelitian sampai akhir dengan rata-rata 19,80 % sedangkan paling rendah Tambalang hasil Kultur jaringan Rote dengan rata-rata 3, 88 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Desa Tablolong terletak di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, pemilihan lokasi ini dikarenakan Desa Tablolong memiliki perairan yang cocok dalam melakukan budidaya rumput laut, serta lokasi tersebut juga merupakan lokasi budidaya rumput laut bagi masyarakat sekitar, mengacu pada penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap rumput laut yang diformulasikan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pertumbuhan alga merah Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidaya dengan metode yang berbeda dan habitat. Jumlah rata-rata pada akhir penelitian hari yang ke-49 adalah 716,5 gram pada habit lamun jenis Sacol Sulamu di habitat pasir jenis Eucheuma Cottonii Pasir Panjang pada habitat pasir tertinggi 573,0 gram pertumbuhan harian tertinggi pada habitat lamun 590,4 gram/hari terendahnya 105,2 gram/hari, sedangkan habitat pasir tertinggi 636,4 gram/hari terendahnya 109,2 gram/hari pertumbuhannya awal 4,15% per hari sampai minggu ke-7 dengan nilai 5,47% per hari. Kemudian jenis Eucheuma Cottonii Pasir Panjang pada habitat lamun pertumbuhan spesifik tertinggi 4,15% sampai 5,47% per hari sedangkan pada habitat pasir pertumbuhan awal 4,15%.
Pertumbuhan mutlak tertinggi pada habitat lamun dari jenis Sacol Sulamu metode long line tertinggi 657,5 gram, sedangkan pada habitat pasir pertumbuhan tertinggi pada metode long line 569,0 gram, kemudian jenis Eucheuma Cottonii Pasir Panjang pada habitat lamun metode long line 486,5 gram sedangkan pada habitat pasir pertumbuhannya 420,0 gram.
Tertinggi pada kedua habitat tersebut berasal dari rumput laut Sacol Sulamu pada habitat lamun dan habitat pasir sedangkan pertumbuhan yang terendah pada habitat pasir dan habitat lamun jenis Eucheuma Cottonii Pasir panjang, pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan pada habitat pasir dan habitat lamun, maka dapat disimpulkan bahwa varietas dari kedua jenis tersebut yang memberikan varietas yang baik di perairan Desa Tablolong adalah rumput laut Sacol Sulamu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Chandra Lie Kastelo Kase. 17381214. Penempelan (Grafting) Makro alga Kappaphycus alvarezii Varian Varietas Di perairan Letbaun Kecamatan Semau Kabupaten Kupang. (Pembimbing: Rockie R.L. Supit, S.Pi, M.Si dan Alfred G.O. Kase, S.Pi, M.Si, Ph.D). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Makro alga (seaweeds) atau yang biasa juga disebut ganggang merupakan tumbuhan berklorofil dimana seluruh bagian tanaman dapat menyerupai akar, batang, daun, atau buah semuanya disebut thallus. Tujuan dari penelitian ini adalah yaitu untuk uji coba penempelan (grafting) makro alga varian varietas Kappaphycus alvarezii menggunakan metode lepas dasar. Budidaya makro alga Kappaphycus alvarezii varian varietas warna merah dan cokelat digabungkan kedua thallus menjadi satu menggunakan teknik penempelan (grafting). Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu bulan Juni sampai Agustus 2021 di Perairan Letbaun Kecamatan Semau Kabupaten Kupang. Hasil penelitian yang diperoleh proses penempelan makro alga Kappaphycus alvarezii pada minggu pertama belum terjadi. Diminggu kedua makro alga Kappaphycus alvarezii belum menempel. Pada minggu ketiga mulai adanya penempelan dibagian ujung thallus dan keempat proses penempelan pada bagian batang thallus makro alga (merah dan cokelat) terus menempel menjadi setengah bagian. Minggu kelima proses penempelan terus menempel hampir sebagian batang thallus makro alga (merah dan cokelat). Pada minggu keenam proses penempelan varian varietas yaitu cokelat dan merah telah menyatu dengan baik. Pertumbuhan harian makro alga Kappaphycus alvarezii dengan berat awal rata-rata 4,2 g mengalami peningkatan dengan berat rata-rata yang diukur pada minggu pertama 3,9 g hingga minggu keenam mencapai 4,6 g. Sedangkan data kelulushidupan makro alga yang berhasil menempel berjumlah 24 bibit makro alga Kappaphycus alvarezii dari 40 bibit yang dibudidayakan diperoleh hasil kelulushidupan 60% dengan tingkat kelulushidupan yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HIDEGARDIS ASA (18380049). Analisis Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus spp Varietas Berbeda Yang Dibudidayakan Dengan Menggunakan Metode Dan Habitat Berbeda di Perairan Desa Bolok. WILSON L. TISERA, S.Pi, M.Si, Ph.D dan ADI N.T. LANGGA S.Pi., M.Sc sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana. Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan komoditas unggulan penghasil Karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri. Kandungan karaginan berfluktuasi menurut varietas, metode dan habitat budidaya Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidayakan dengan menggunakan metode dan habitat berbeda. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022, dengan pengambilan sampel dilakukan di Perairan Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat dan Ekstraksi pengujian kandungan karaginan dilakukan di Laboratorium Eksakta UKAW. Terdapat 4 (empat) varietas yaitu varietas tambalang coklat hasil kultur jaringan asal Rote, varietas sacol asal Sulamu, varietas sacol asal Semau, dan varietas tambalang hijau hasil kultur jaringan asal Semau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok Faktorial. Parameter yang diuji yaitu, kandungan karaginan varietas berbeda, metode berbeda, habitat berbeda dan pengukuran kualitas perairan. Analisis data menggunakan uji sidik ragam ANOVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk varietas, varietas Tambalang hijau hasil kultur jaringan asal Semau memberikan nilai tertinggi yaitu 56.71%, Untuk perbandingan metode, Kappaphycus spp yang dibudidaya dengan metode lepas dasar memberikan kandungan karaginan yang lebih tinggi (rata-rata 56,90%) dibandingkan metode longline. Untuk habitat yang berbeda, Kappaphycus spp yang dibudidaya pada habitat pasir memberikan kandungan karaginan yang lebih tinggi (rata-rata 55,15%) dibandingkan habitat lamun. Hasil ANOVA menunjukan bahwa interaksi antara varietas berbeda yang dibudidaya dengan metode dan habitat yang berbeda tidak berpengaruh nyata (p0,05) terhadap kandungan karaginan Kappaphycus spp.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
MEXI MAHENDRA NDUN (16382408) Analisis Pertumbuhan rumput laut (Kappaphycus Alvarezii) dengan Metode Budidaya Keranjang Jaring di Desa Hundihuk Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao. Donny M. Bessie, S.Pi.,M.Si,Wilson L. Tisera, S.Pi.,M.Si, Ph.D sebagai pembimbing Idan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan danIlmuKelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Rumput laut adalah sumberdaya hayati yang telah dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai mata pencarian, dan beberapa wilayah menjadikan mata pencarian utama.Kecamatan Rote Barat Laut merupakan salah satu Kecamatan yang berada, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada di Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao.Rumput laut Kappaphycus alvarezii sudah di budidayakan di Desa Hundihuk sejak tahun 2000.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) yang meliputipertumbuhan spesifik, pertumbuhan mutlak , uji T dengan metode keranjang jaring dan tanpa keranjang. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan metode eksperimen.
Hasil penelitian menunjukan pertambahan berat rumput laut Kappaphycus alvarezii pada akhir penelitian dengan nilai rata-rata tertinggi 263,00gram/hari pada metode dalam keranjang dan 201,08 gram pada metode tanpa keranjang, kisaran pertumbuhan spesifik tertinggi terdapat pada metode dalam keranjang berkisar dari 4,10 % hari - 5,48% hari sedangkan metode tanpa keranjang berkisar dari 4,07%/hari – 5,21 %/hari, Pertumbuhan mutlak tertinggi 163,00 gram pada metode dalam keranjang sedangkan metode tanpa keranjang dengan nilai 101,08 gram.Kemudian di lakukan uji anova dimana hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa berat pertumbahan rumput laut dengan menggunakan keranjang jaring memberikan pengaruh sangat nyata, (Thitung ( Ttabel ), 63,840(0,05 terhadap pertumbuhan mutlak rumput laut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
MARIA YULITA BERE (18380050). Analisi Ekologi Lokasi Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii di Perairan Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. WILSON L. TISERA, S.Pi, M.Si, Ph.D dan DONNY M. BESSIE, S.Pi, M.Si sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Desa Bolok merupakan salah satu desa dari 6 desa di Kecamatan Kupang Barat yang memiliki potensi sumberdaya hayati pesisir yang cukup besar, juga potensi budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi ekologi lokasi budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Desember 2021-Februari 2022, di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan melakukan observasi dan pengukuran langsung di lapangan. Pengambilan sampel makrobentos menggunakan metode belt transek. SUntuk memperoleh data lamun sebagai objek penelitian digunakan metode transek kuadran. Metode pengambilan sampel makroalga menggunakan metode garis transek (line transect) dengan teknik sampling kuadran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan jenis dan relatif makrobentos tertinggi adalah ditemukan pada jenis Protoreaster nodosus yang memiliki nilai kelimpahan (0,5453 ind/m², 47.81%), sedangkan kelimpahan jenis dan relatif terendah adalah jenis Ophiocoma erinaceus dengan jumlah nilai kelimpahan yaitu (0,002 ind/m2), Linckia laevigata, Mesocentorus franciscanus, Tripneustes centricosus, Toxopneustes pileolus dan Macrophiotrix belli dengan jumlah kelimpahan relatif yang sama yaitu (0.06%). Perhitungan indeks keanekaragaman, keseragaman, dominasi makrobentos tetinggi sebesar (0,635, 0,629, 0,310). Kepadatan jenis dan relatif makroalga tertinggi adalah jenis Ulva reticulata dengan nilai kepadatan yaitu (8.4 Ind/m2, 28.97%). Sedangkan kepadatan jenis dan relatif terendah adalah jenis Ulva lactuca dengan nilai kepadatan yaitu (1.33 Ind/m2, 4.60%). Nilai frekuensi jenis dan relatif tertinggi pada jenis Ulva reticulata dengan nilai sebesar (0,8 ind/m2, 25%). Sedangkan Nilai frekuensi jenis dan relatif terendah pada jenis Ulva lactuca dengan jumlah nilai yaitu (0,2 ind/m2, 7,29%). Indeks keanekaragaman, keseragaman, dominasi makroalga tertinggi sebesar (0,770, 0,911, 0,192). Nilai kerapatan jenis dan relatif tertinggi terdapat pada jenis Thalassia hemprichii dengan nilai keraptan (10,23 m2, 51,00%). Sedangkan nilai terendah kerapatan jenis dan relatif pada jenis Syringodium isoetikolium dengan jumlah nilai yaitu (0,17 m2 , 0,83%). Nilai frekuensi jenis dan relatif tertinggi terdapat pada jenis Thalassia hemprichii dengan nilai frekuensi (0,90m2, 53%). Sedangkan nilai terendah frekuensi jenis relatif pada jenis Syringodium isoetikolium dengan jumlah nilai yaitu (0,03m2, 2%). Nilai penutupan jenis dan relatif tertinggi terdapat pada jenis Thalassia hemprichii dengan nilai penutupan (0.75m2, 21,53%). Sedangkan nilai terendah penutupan jenis relatif pada jenis Cymodecea retundata dengan jumlah nilai yaitu (0,23m2, 6,70%). Kata kunci: Ekologi, Kappaphycus alvarezii, Makrobentos, Makroalga, Lamun, Perairan Bolok.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pertumbuhan Alga Merah (Kappaphycus alvarezii)dengan Menggunakan Metode KeranjangApungdi Peraiaran Pantai Batubao Desa Tesabela Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang. Alfred G.O. Kase, S. Pi, M. Si,Ph.Ddan Rockie R. L. Supit, SPi. M.Sisebagai Pembimbing I dan II. Program StudiManajemenSumberdayaPerairan, Fakultas PerikanandanIlmuKelautan, Universitas Kristen ArthaWacanaKupang.Sebagian besar penduduk Desa Tesabela membudidayakan rumput laut sebagai penghasilan pokok. Rumput laut yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat setempat ialah jenis Kappaphycus alvareziiMetodelong linemerupakan metode yang dipakai oleh pembudidaya rumput laut di Desa Tesabela Kecamatan Kupang Barat. Umumnya masyarakat memiliki periode waktu pemanenan yang berbeda dengan jumlah hasil panen yang berbedapula. metode yang digunakan sama, jumlah tali yang digunakan oleh masing-masing pembudidaya juga berbeda-beda tergantung kemampuan modal dan luas lahan yang dimiliki. Penelitian ini telah dilaksanakan di Perairan Batubao Desa Tesabela Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang pada bulan Septembersampai Oktober 2021.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan algamerah Kappaphycus alvarezii dengan metode keranjang apung di Perairan Batubao Desa Tesabela Kecamatan Kupang Barat..Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, observasi dan pengambilan data langsung di lokasi penelitian.Hasil penelitian menunjukan bahwa pertambahan berat alga merah Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan menggunakan keranjang apung selama 49 hari atau tujuh minggu meningkat mulai dari minggu I hingga minggu VI, dan minggu VII mengalami sedikit penurunan, pertumbuhan harian alga merah Kappaphycus alvarezii tertinggi pada minggu I, sementara pada minggu II hingga VII laju pertumbuhan hari mengalami penurunan,persentase pertumbuhan harian alga merah pada minggu I termasuk pertumbuhan normal, setelah itu terus mengalami penurunan mulai dari minggu II hingga minggu VII, rata-rata pertumbuhan mutlak tertinggi terdapat pada minggu III sebesar 36,800 gram. Sedangkan terendah mulai pada minggu VI sebesar -1,267 gram dan minggu VII sebesar -1,300 gram.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
YUNIATI INA (15390039). Kajian Sifat Organoleptik Dan Kimia Dodol Yang Diproses Dengan Jumlah Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Yang Berbeda : Yunialdi H. Teffu, S.Pi.,M.Si sebagai Pembimbing I dan Dewi S. Gadi,S.Pi.,M.Si sebagai Pembimbing II Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Univeritas Kristen Artha Wacana Kupang.
Rumput laut merupakan komoditi hasil laut yang sangat penting, merupakan salah satu Komoditi ini paling banyak dibudidayakan di Indonesia, dikarenakan memiliki nilai ekonomi tinggi mudah dibudidayakan serta membutuhkan biaya produksi yang rendah (Ananda, 2019). Rumput Laut dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam produk. Rumput laut yang digunakan jenis Kappaphycus alvarezii mampu menghasilkan karaginan untuk meningkatkan kekenyalan pada tekstur dodol. Dodol merupakan produk makanan kecil atau jajanan yang bnyak beredar di masyarakat Indonesia. Dodol memiliki rasa manis, guri, dan legit. Salah satu bentuk pengolahan rumput laut untuk meningkatkan daya gunanya yaitu dengan diversifikasi produk dengan mengolahnya menjadi dodol rumput laut. Dodol tergolong dalam pangan semi basah (Intermediate moisture food) yang bertekstur kenyal, memiliki cita rasa manis sehingga dapat langsung dimakan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui nilai organoleptik warna, aroma, tekstur, rasa, dan nilai kimia Kadar air, Kadar Protein, dan Kadar lemak.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2022, bertempat di Laboratorium Eksakta, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Parameter yang di ukur dan diamati terdiri dari organoleptik,pengujian kadar air,kadar lemak,dan kadar protein.
Data yang diperoleh dari hasil pengujian hedonik yang dilakukan untuk parameter warna memiliki nilai rerata antara 3,26 hingga 3,43 yang berarti rata-rata panelis memberikan penilaian suka terhadap warna dodol rumput laut yang dihasilkan. Parameter tekstur penilaian nilai tekstur memiliki nilai berkisar antara 2,96 hingga 3,16 berdasarkan nilai yang di peroleh tekstur dodol disukai. Parameter aroma penilaian nilai aroma meraih nilai yang sama yaitu 3,13, namun pada 1000 gram bubur rumput laut dengan konsentrasi bubur rumput laut yang semakin banyak yaitu 1000 gram bubur rumput laut nilai aromanya semakin menurun yaitu 2,86. Hasil ini menunjukkan penilaian panelis masi berasa pada taraf suka dan dapat diterima oleh konsumen. Parameter rasa penilaian rasa tertinggi terdapat pada 500 gram bubur rumput laut sebesar 3,40 sangat suka dan terendah pada 1000 gram bubur rumput laut sebesar 3,10 kurang suka. Penurunan nilai rasa dari panelis seiring dengan bertambahnya jumlah bubur rumput laut. Variabel pengamatan meliputi pengujian organoleptik, analisis kadar air, analisis kadar lemak, dan analisis kadar protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerimaan panelis terhadap warna, tekstur, rasa, dan aroma, dengan nilai 4 -5. Kadar air berkisar 39,78% - 54,04%, kadar protein 5,83% - 6,34%, dan kadar lemak berkisar 0,95% - 1,25%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
YOHANIS HIWA WUNU (15380110) Seleksi Varietas Rumput Laut Kappaphycus alvarezii (Doty) Yang Dibudidaya dengan Metode Long Line di Perairan Tablolong dibawah bimbingan: Wilson L. Tisera S.Pi., M.Si, Ph.D sebagai pembimbing I dan Rockie R. L. Supit, S.Pi., M.Si sebagai pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang memiliki potensi perikanan seperti budidaya rumput laut. Rumput laut yang dibudidaya dalam tahap untuk uji coba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui varietas rumput laut Kappaphycus alvarezii (Kappaphycus alvarezii; sacol Sulamu, sacol Semau, kuljar Rote dan cottoni Pasir Panjang).
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2021 dengan lokasi penelitian yaitu Perairan Tablolong. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental yang digunakan untuk uji coba seleksi varietas rumput laut selama kegiatan berlangsung. Metode long line digunakan untuk melakukan uji coba budidaya rumput laut. Analisis data yang digunakan yaitu pertumbuhan harian, presentase pertumbuhan relatif, serta pertumbuhan mutlak.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan harian Sacol Sulamu dari terendah sampai tertinggi rumput laut Kappaphycus alvarezii 8,57-16,90 gram/hari, kemudian diikuti Kuljar Rote dengan nilai pertumbuhan harian terendah 6,95 dan tertinggi 9,54 gram/hari sedangkan Sacol Semau dari terendah sampai tertinggi 3,29-7,37 gram/hari. pertumbuhan mutlak dengan nilai tertinggi yakni 828 gram dari sacol Sulamu sedangkan terendah berasal dari Cattoni Pasir Panjang dengan nilai 214 gram dan pertumbuhan relatif dengan nilai tertinggi 828,00 % dari sacol Sulamu dan terendah dari Sacol Semau dengan nilai 39,00 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hengki Rawa Mandapu (16382696) Studi Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Varietas Berbeda yang Dibudidaya dengan Metode yang Berbeda di Perairan Tablolong. Wilson L. Tisera, S.Pi., M.Si., Ph.D dan Rockie R.L. Supit, S.Pi., M.Si (sebagai Pembimbing I dan II). Program Studi, Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang diekstraksi dari alga laut merah jenis Kappaphycus dan Eucheuma. Karaginan dipakai sebagai stabilisator, pengental, pembentuk gel, pengemulsi, pengikat dan pencegah kristalisasi dalam industri makanan ataupun minuman, farmasi dan kosmetik lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan karaginan dari rumput laut Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidaya dengan metode yang berbeda di perairan Tablolong Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Perlakuan pada penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan dengan empat ulangan.Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel meliputi variabel bebas, variabel terkontrol dan variabel terikat. Varietas Kappaphycus alvarezii yang digunakan dalam penelitian ini adalah varietas tambalang hasil kultur jaringan (Kuljar) dari Rote, varietas sacol asal Sulamu, varietas sacol asal Semau, dan varietas Cottonii asal Pasir Panjang. Hasil penelitian menunjukan nilai kandungan karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii dari metode long line berkisar antara 17,9-32,2%. Nilai kandungan karaginan tertinggi pada metode long line terdapat pada varietas sacol Sulamu dengan nilai rata-rata 32,2%, sedangkan nilai kandungan karaginan terendah terdapat pada tambalang kultur jaringan Rote dengan nilai rata-rata 17,9%. Sedangkan nilai kandungan karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii dari metode lepas dasar berkisar antara 26,7-51,8%. Nilai kandungan karaginan tertinggi terdapat pada tambalang kultur jaringan Rote dengan nilai rata-rata 51,8%, sedangkan nilai kandungan karaginan terendah terdapat pada sacol Sulamu dengan nilai rata-rata 26,7%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EMILIUS YUSTA TUPENG (17383696) Pengaruh Padat Penebaran Berbeda Terhadap Pertumbuhan Alga Merah Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty yang Dibudidayakan Dengan Metode Keramba Jaring Apung di Perairan Koliehak Kabupaten Lembata. Rockie R.L Supit., S.Pi., M.Si dan Alfred G. O. Kase, S.Pi., M.Si., Ph.D sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Rumput laut merupakan komoditas perikanan yang potensial untuk dibudidayakan karena manfaatnya yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Padat tebar merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam kegiatan budidaya rumput laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh padat penebaran yang berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan dengan metode keramba jaring apung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2021. Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan dengan metode keramba jaring apung Hasil penelitian menunjukan pertambahan berat alga merah Kappaphycus alvarezii pada akhir penelitian dengan nilai rata-rata tertinggi 262,00 gram pada padat penebaran 50 bibit rumput laut kemudian di ikuti padat tebar 100 bibit dengan nilai rata-rata 218,00 gram dan terendah 206,33 gram pada padat penebaran 150 bibit. Kisaran pertumbuhan harian tertinggi alga merah Kappaphycus alvarezii dari awal penelitian hingga akhir penelitian 4,33-5,67 % dengan padat tebar 50 bibit rumput laut kemudian di ikuti padat tebar 100 bibit berkisar dari 2,41-5,05 % dan nilai kisaran terendah yaitu 3,19-4,05 % pada padat tebar 150 bibit. Pertumbuhan relatif dengan nilai tertinggi 5,57 % dengan padat tebar 50 bibit kemudian di ikuti padat tebar 100 dengan nilai rata-rata 5,38% dan terendah pada padat tebar 150 yaitu 5,33 % dan pertumbuhan mutlak dengan nilai tertinggi yaitu 212,00 gram pada padat tebar 50 bibit, kemudian di ikuti padat tebar 100 dengan nilai rata-rata 168,00 dan nilai rata-rata terendah 156,33 gram dengan padat tebar 150 bibit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
JEKY W. TUALAKA (16382769) Pengaruh Jarak Tanam Yang Berbeda Terhadap Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan Metode Long Line di Perairan Pantai Letbaun Semau Kabupaten Kupang. ALFRED G.O. KASE S.Pi.,M.Si.,Ph.D, ROCKIE R.L. SUPIT, S.Pi.,M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan merupakan komoditas ekspor di sektor budidaya perikanan indonesia karena permintaanya tinggi di pasar dunia. Perairan pantai Letbaun merupakan salah satu perairan pantai yang terletak di Semau bagian Utara. Hasil rumput laut merupakan sumber pendapatan yang menjanjikan bagi sebagian besar penduduk Desa Letbaun, yang berada di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan alga merah Kappaphycus alvarezii yang meliputi pertumbuhan harian, pertumbuhan spesifik, pertumbuhan mutlak pada jarak tanam yang berbeda dengan metode long line. Penelitian ini menggunakan metode survei dan metode eksperimen. Hasil penelitian menunjukan pertambahan berat alga merah Kappaphycus alvarezii pada akhir penelitian dengan nilai rata-rata tertinggi 433,9 gram pada jarak tanam 20 cm kemudian di ikuti jarak tanam 10 cm dengan nilai rata-rata 363,5 gram dan terendah 328,5 gram pada jarak tanam 30 cm, kisaran pertumbuhan harian tertinggi alga merah Kappaphycus alvarezii dari awal penelitiaan hingga akhir peneletian 6,59- 6,81 gram pengamatan pada jarak tanam 20 cm kemudian di ikuti jarak tanam 10 cm berkisar dari 5,05 -5,62 dan nilai kisaran terendah yaitu 4,51- 4,66 gram pengamatan pada jarak tanam 30 cm, Pertumbuhan relatif dengan nilai tertinggi 5,36 % pengamatan pada jarak tanam 20 cm, kemudian di ikuti jarak tanam 10 cm dengan nilai rata-rata 5,24% dan terendah pada jarak tanam 30 cm yaitu 5,15 % dan pertumbuhan mutlak dengan nilai tertinggi yaitu 333,9 gram pada jarak tanam 20 cm, kemudian di ikuti jarak tanam 10 cm dengan nilai rata-rata 263,5 dan nilai rata-rata terendah 228,5 gram pada jarak tanam 30 cm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Patogen Pada Kappaphycus alvarezii di Perairan Tablolong
Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur
Laidat, M.D) *
Rupidara, A.D.N) **
Sabuna,A.C) **
Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu spesies makro alga yang memiliki banyak manfaat.
Penyakit utama yang menyebabkan penurunan produksi di seluruh pusat pengembangan
budidaya makro alga adalah penyakit ice-ice.Serangan penyakit tersebut tidak hanya
menurunkan hasil panen (60–70%), tetapi dapat juga menyebabkan gagal panen. Masyarakat di
Perairan Tablolong sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani rumput laut, adapun
kendala yang dihadapi yaitu penyakit ice-ice .Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasikan
dan mengidentifikasi bakteri pathogen pada Kappaphycus alvarezii bibit dari perairan Tablolong
Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang NTT. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
survey dan eksperimental dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling
di area Perairan Tablolong, kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur
(NTT). Metode pengujian meliputi pembuatan isolat uji, Uji katalase, uji glukosa. Hasil uji
katalase bada semua bakteri positif dan uji glukosa glokosa positif pada semua bakteri, Bakteri
pathogen yang diisolasi dari Kappaphycus alvarezii ialah genus Pseudomonas sp genus Vibrio
sp, genus Bacillus, genus Flavobaterium, genus Cytophaga Sp dan genus Holobacterium.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
YESKIAL MANAFE (16380321) Analisis Pengaruh Berat Bibit Awal Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dengan Metode Lepas Dasar di Desa Hundihuk Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao : Donny M. Bessie. S.Pi., M.Si dan Wilson L. Tisera S.Pi., M,Si, Ph.D sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Hundihuk pada bulan juli-agustus 2020. Metode yang digunakan yaitu metode ujicoba langsung di lapangan dengan menggunakan metode lepas dasar (patok) dan analisis data yang digunakan yaitu pertumbuhan harian dan pertumbuhan mutlak.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertambahan berat rumpu laut Kappaphycus alvarezii dengan nilai tertinggi pada perlakuan 150 gram (235,33 gram) dan di ikuti oleh perlakuan 100 (238 gram) sedangkan yang terendah pada perlakuan 50 ( 202,67gram). Dan rata-rata pertumbuhan harian tertinggi pada perlakuan 150 gram (4,57%) kemudian diikuti dengan perlakuan 100 (4,52%) dan terendah pada perlakuan 50 (4,33%). Sedangkan pertumbuhan mutlak rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan nilai tertinggi pada perlakuan 50 gram (152,67 gram) kemudian di ikuti oleh perlakuan 100 gram ( 138 gram) dan paling terendah pada perlakuan 150 gram ( 85,33 gram).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK MARIA MARINCE SEUK SERAN (16383571) Analisis Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty Varietas Berbeda Yang Dibudidayakan Pada Habitat Yang Berbeda Menggunakan Metode Lepas Dasar Di Desa Hundihuk Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao : DONNY M. BESSIE S.Pi.,M.Si. WILSON L.TISERA S.Pi.,M.Si,Ph.D sebagai pembimbing I dan II. Progran Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan merupakan komoditas ekspor di sektor budidaya perikanan indonesia karena permintaanya tinggi di pasar dunia.Varietas atau Strain adalah kelompok organisme yang tergabung dalam suatu spesies yang memiliki karakteristik khusus tetapi tidak dijadikan keturunan atau variasi yang terpisah. Habitat merupakan suatu tempat dimana makluk hidup atau juga organisme tinggal. Budidaya rumput laut dibudidayakan pada habitat berbeda dengan tujuan mendapatkan hasil dari budidaya rumput laut memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidayakan pada habitat berbeda menggunakan metode lepas dasar di Desa Hundihuk Kecematan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao. Pengamatan terhadap pertumbuhan rumput laut dilakukan setiap minggu selama 49 hari juga diukur parameter perairan meliputi suhu, salinitas, pH, DO, kecerahan dan kecepatan arus. Penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa pertumbuhan rumput laut yang dibudidayakan di perairan Hundihuk Pertumbuhan harian tertinggi pada habitat Pasir 3,12-3,74 gram/hari dari Sacol Hundihuk dan terendah 0,24-2,43 gram/hari dari Sacol Sulamu sedangkan pada habitat Lamun pertumbuhan harian tertinggi dari Sacol Hundihuk 2,87-3,65 gram/hari dan terendahnya 0,6-1,64 gram/ hari dari Kultur Jaringan Pukuafu. Pertumbuhan relative pada habitat Pasir dengan nilai tertinggi 5,54% dari Sacol Hundihuk dan terendahnya 5,24% dari Sacol Sulamu sedangkan pada habitat Lamun pertumbuhan relative tertinggi 5,50% dari Sacol Hundihuk dan nilai terendah 4,82 % dari Kultur Jaringan Pukuafu. Pertumbuhan mutlak pada habitat pasir dengan nilai tertinggi adalah 182,3 gram dari Sacol Hundihuk dan nilai terendahnya berasal dari Sacol Sulamu dengan nilai 114,7 gram sedangkan pada habitat Lamun pertumbuhan mutlak tertinggi berasal dari Sacol Hundihuk dengan nilai 170,5 gram dan nilai terendahnya 29,2 gram berasal dari Kultur Jaringan Pukuafu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
YUSRI SEMUEL DJAMI (16383715) Analisis Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii (Doty) Doty di Desa Loborai Kecamatan Sabu Timur Kabupaten Sabu Raijua, Dibawah Bimbingan Rockie R.L Supit, S.Pi, M.Si dan Wilson L. Tisera, S. Pi, M.Si.,Ph.D sebagai pembibing I dan Pembimbing II. Program Studi Manejemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Desa Loborai, Kecamatan Sabu Timur, Kabupaten Sabu Raijua memiliki potensi perikanan budidaya seperti rumput laut. Kesesuaian lahan merupakan salah satu faktor keberhasilan budidaya, maka perlu dilakukan pengembangan pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Loborai Kecamatan Sabu Timur Kabupaten Sabu Raijua. Penelitian telah dilaksanakan selama satu bulan terhitung mulai bulan Juli - Agustus 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, observasi dan pengambilan data langsung di lokasi budidaya rumput laut. Pengambilan data diambil pada 3 titik lokasi yang di tetapkan jadi lokasi-1, lokasi-2 dan lokasi-3. selama satu bulan dengan 10 (sepuluh) hari sekali, dengan 3 ulangan. Parameter kualitas perairan yang diambil berupa kecerahan, kedalaman, jenis substrat, suhu, salinitas, pH dan DO. Hasil pengamatan berdasarkan kondisi fisik, kimia di perairan Desa Loborai selama 3 minggu penelitian dan 3 lokasi menunjukan bahwa lokasi tersebut termasuk dalam kategori sangat sesuai, terutama untuk parameter suhu, arus, DO, pH. Sedangkan yang lain dalam kategori sesuai (kecerahan, salinitas dan substrat.dengan nilai 252,5. Suhu yang diperoleh selama 3 kali penelitian di lokasi penelitian lokasi pertama suhu tertinggi ada pada minggu pertama dengan kisaran 30 0C, sedangkan suhu terendah pada minggu ke-3 dengan berkisar suhu 29 0C. Hasil penelitian suhu pada lokasi ke-2 dengan suhu tertinggi pada minggu pertama dengan kisaran suhu 29.9 0C dan terendah pada minggu ke-2 dengan kisaran suhu 29 0C. sedangkan suhu tertinggi pada lokasi ke-3 ada pada kisaran 28.80C dan suhu terendah berkisar 28.4 0C. Suhu di lokasi penelitian selama 3 minggu berada pada kisaran rata-rata; lokasi pertama 29.6 0C, lokasi ke-2. 28.5 0C dan lokasi ke-3. 29.4 0C. Jenis substrat di perairan Desa Loborai yaitu substrat pasir berlumpur, pecahan karang, pasir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
TIMOTEUS DUA BLOLONG (16383164) Analisis Komposisi Jenis Dan Kepadatan Makro Epifit Pada Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezzi Dengan Metode Lepas Dasar Di Perairan Baobolak Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata. WILSON L.TISERA,S.Pi.,M.Si.,Ph.D, ROCKIE R.L. SUPIT, S.Pi.,M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan merupakan komoditas ekspor di sektor budidaya perikanan indonesia karena permintaanya tinggi di pasar dunia. Perairan pantai Baobolak merupakan salah satu perairan pantai yang terletak di Lembata bagian Selatan. Hasil rumput laut merupakan sumber pendapatan yang menjanjikan bagi sebagian besar penduduk Desa Baobolak, yang berada di Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis dan kepadatan epifit yang terdapat pada rumput laut Kappaphycus alvarezii di Perairan Baobolak Kecamatan, Nagawutung Kabupaten Lembata. Hasil penelitian menujukan pertumbuhan berat Kappaphycus alvarezii non epifit memiliki nilai kisaran pertumbuhan lebih tinggi yakni 114,68 gram – 287,70 gram dengan laju pertumbuhan spesifik 4,93% / hari sedangkan yang terjangkit epifit 110,42 gram – 169,88 gram dengan laju spesifik 4,69% / hari.Kepadatan jenis makro epifit pada Kappaphycus alvarezii berada pada kisaran 110,4-176,20 ind/m2 . Kepadatan jenis yang tertinggi yaitu Hypnea cervicrnis dengan nilai 176,20 ind/m2 dan kepadatan jenis yang terendah yaitu ulva lacuta dengan nilai 110,4 ind/m2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RIO MINDO SALY (18380093). Growth Analysis of Red Algae Kappaphycus alvarezii at Different Depths Cultivated Using the Long Line Method in Munaseli Village, Pantar District, Alor Regency. Alfred G.O. Kase, S.Pi, M.Si, Ph.D as Supervisor I and Ir. YOHANES MERRYANTO, S. M.Si, Ph.D as Supervisor II. Aquatic Resources Management Study Program, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Artha Wacana Christian University. Seaweed is one of the coastal resources that has quite high economic value and is an export commodity in the Indonesian aquaculture sector due to high demand in the world market. Munaseli Village is one of the seaweed cultivation centers in Pantar District. This study aims to analyze the growth of the red algae Kappaphycus alvarezii with different depths cultivated using the long line method in Munaseli Village, Pantar District, Alor Regency. This research was conducted in July-August 2022. The seaweed that was tried was the Sakol The research method used is a survey method, observation and data collection directly at the research location as well as experimental methods used for trials of seaweed cultivation with different depths. Quantitative methods were used to analyze the growth of seaweed during the study. Analysis of the data used is the analysis of daily growth, relative growth and absolute growth. The results showed that the highest final growth weight of Kappaphycus alvarezii was at a depth of 60 cm with a value of 122.2 grams in the seventh week, and the lowest was at a depth of 5 cm with a weight of 114.2 grams in the seventh week. The highest daily growth rate was at a depth of 60 cm with an average weight of 0.94 gram/day and the lowest was at a depth of 5 cm with an average weight of 0.89 gram/day. The relative growth of Kappaphycus alvarezii seaweed with the highest average value is at a depth of 60 cm with a weight of 4.13%/day and the lowest is at a depth of 5 cm with an average weight of 4.11%/day. The highest absolute growth of seaweed was at a depth of 60 cm with a value of 72.2 grams and the lowest at a depth of 5 cm with 64.2 grams. The physical-chemical factors of the waters such as temperature, brightness, currents, salinity and pH are within the normal range for the growth of Kappaphycus alvarezii.