Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Habitat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pertumbuhan Alga Merah Kappaphycus alvarezii Varietas Berbeda Yang Dibudidaya Dengan Metode Yang Berbeda Dan Habitat Yang Berbeda Di Peraiaran Tablolong

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Desa Tablolong terletak di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, pemilihan lokasi ini dikarenakan Desa Tablolong memiliki perairan yang cocok dalam melakukan budidaya rumput laut, serta lokasi tersebut juga merupakan lokasi budidaya rumput laut bagi masyarakat sekitar, mengacu pada penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap rumput laut yang diformulasikan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pertumbuhan alga merah Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidaya dengan metode yang berbeda dan habitat. Jumlah rata-rata pada akhir penelitian hari yang ke-49 adalah 716,5 gram pada habit lamun jenis Sacol Sulamu di habitat pasir jenis Eucheuma Cottonii Pasir Panjang pada habitat pasir tertinggi 573,0 gram pertumbuhan harian tertinggi pada habitat lamun 590,4 gram/hari terendahnya 105,2 gram/hari, sedangkan habitat pasir tertinggi 636,4 gram/hari terendahnya 109,2 gram/hari pertumbuhannya awal 4,15% per hari sampai minggu ke-7 dengan nilai 5,47% per hari. Kemudian jenis Eucheuma Cottonii Pasir Panjang pada habitat lamun pertumbuhan spesifik tertinggi 4,15% sampai 5,47% per hari sedangkan pada habitat pasir pertumbuhan awal 4,15%. Pertumbuhan mutlak tertinggi pada habitat lamun dari jenis Sacol Sulamu metode long line tertinggi 657,5 gram, sedangkan pada habitat pasir pertumbuhan tertinggi pada metode long line 569,0 gram, kemudian jenis Eucheuma Cottonii Pasir Panjang pada habitat lamun metode long line 486,5 gram sedangkan pada habitat pasir pertumbuhannya 420,0 gram. Tertinggi pada kedua habitat tersebut berasal dari rumput laut Sacol Sulamu pada habitat lamun dan habitat pasir sedangkan pertumbuhan yang terendah pada habitat pasir dan habitat lamun jenis Eucheuma Cottonii Pasir panjang, pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan pada habitat pasir dan habitat lamun, maka dapat disimpulkan bahwa varietas dari kedua jenis tersebut yang memberikan varietas yang baik di perairan Desa Tablolong adalah rumput laut Sacol Sulamu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KANDUNGAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus spp VARIETAS BERBEDA YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE DAN HABITAT BERBEDA DI PERAIRAN DESA BOLOK

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

HIDEGARDIS ASA (18380049). Analisis Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus spp Varietas Berbeda Yang Dibudidayakan Dengan Menggunakan Metode Dan Habitat Berbeda di Perairan Desa Bolok. WILSON L. TISERA, S.Pi, M.Si, Ph.D dan ADI N.T. LANGGA S.Pi., M.Sc sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana. Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan komoditas unggulan penghasil Karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri. Kandungan karaginan berfluktuasi menurut varietas, metode dan habitat budidaya Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidayakan dengan menggunakan metode dan habitat berbeda. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022, dengan pengambilan sampel dilakukan di Perairan Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat dan Ekstraksi pengujian kandungan karaginan dilakukan di Laboratorium Eksakta UKAW. Terdapat 4 (empat) varietas yaitu varietas tambalang coklat hasil kultur jaringan asal Rote, varietas sacol asal Sulamu, varietas sacol asal Semau, dan varietas tambalang hijau hasil kultur jaringan asal Semau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok Faktorial. Parameter yang diuji yaitu, kandungan karaginan varietas berbeda, metode berbeda, habitat berbeda dan pengukuran kualitas perairan. Analisis data menggunakan uji sidik ragam ANOVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk varietas, varietas Tambalang hijau hasil kultur jaringan asal Semau memberikan nilai tertinggi yaitu 56.71%, Untuk perbandingan metode, Kappaphycus spp yang dibudidaya dengan metode lepas dasar memberikan kandungan karaginan yang lebih tinggi (rata-rata 56,90%) dibandingkan metode longline. Untuk habitat yang berbeda, Kappaphycus spp yang dibudidaya pada habitat pasir memberikan kandungan karaginan yang lebih tinggi (rata-rata 55,15%) dibandingkan habitat lamun. Hasil ANOVA menunjukan bahwa interaksi antara varietas berbeda yang dibudidaya dengan metode dan habitat yang berbeda tidak berpengaruh nyata (p0,05) terhadap kandungan karaginan Kappaphycus spp.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Karakteristik Habitat Dan Tingkah Laku Harian Dugong Mawar (Dugong dugong) Di Perairan Pantai Mali Kelurahan Kabola Kabupaten Alor

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dugong adalah mamalia herbivore laut dan merupakansatu-satunya spesies dari family Dugongidae yang masih hidup. Dugong sendiri masuk ke dalam kategori vulnerable oleh IUCN dan Appendix I oleh CITES karena populasinya menurun di alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuikarakteristik habitat dan tingkah laku harian Dugong (Dugong dugon) di Perairan Pantai Mali Kecamatan Kabola Kabupaten Alor. Penelitian ini telah di laksanakan pada bulan Mei-Juni 2021 di Perairan Pantai Mali Kecamatan Kabola Kabupaten Alor. Metode yang digunakan adalah metode survey/observasilangsung. Survei yang dilaksanakan dalam bentuk pengamatan terhadap karaketeristik habitat dan tingkah laku harian. Karakteristik yang diamati antara lain: (1) menentukan kawasan aktivitas dugong dengan menggunakan titik koordinat GPS; (2) mengamati karakteristik habitat dan kondisi biofisik melalui pengamatan terhadap keadaan biotik dan kondisi abiotik, dan (3) pengukuran parameter fisika-kimia yaitu suhu, salinitas dan pH. Sedangkanpengamatan tingkah laku harian dugong digunakan metode Ad libitum, yaitu mencatat setiap aktivitas dan waktu dari objek yang diamati. Keseluruhan data yang ada selanjutnya dianalisis untuk mencari kecendrungan tingkah laku dugong. Berdasarkan hasil penilitian bahwa ditemukan padang lamun pada lokasi penelitian memiliki tipe vegetasicampuran yang teriridari 3-6 spesies. Kualitas perairan baik suhu, salinitas, pH dan substrat masih dalam kondisi normal atau baik untuk pertumbuhan lamun dan mampu diadaptasi oleh dugong untuk hidup. Terdapat berbagai perilaku yang dilakukan oleh dugong di Perairan Mali seperti bernafas, mengelilingi perahu, berenang di permukaan, berenang di dasar, berenang di kolom air, makan, istirahat di dasar, memainkan kemudi, menggesekan tubuhnya ke kapal, menggesekan tubuhnya ke kemudi, mengeluarkan penis, menggesekan penisnya ke kapal, dan mencoba bermain dengan kaki manusia. Sifat alami dari dugong yang umumnya pemalu berubah menjadi berani dalam beraktivitas dengan manusia di Perairan Mali.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STRUKTUR KOMUNITAS MAKRO ALGA PADA HABITAT BERBEDA DI SEPANJANG PESISIR PANTAI DESA TABLOLONG, KECAMATAN KUPANG BARAT

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

RINGKASAN LA TAKBIR SAMAD (16381885). Struktur Komunitas Makroalga Pada Habitat Berbeda Pesisir Pantai Desa Tablolong Kecamatan Kupang Barat. ROCKIE R.L SUPIT, S.Pi, M.Si dan WILSON L. TISERA., S.Pi. M.Si, Ph.D sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang Makroalga atau yang sering disebut sebagai rumput laut merupakan alga makro yang tumbuh di perairan laut. Makroalga memiliki manfaat, baik secara ekonomi maupun ekologi. Makroalga sebagian besar hidup di perairan laut. Untuk dapat tumbuh, makroalga tersebut memerlukan substrat untuk tempat hidup dan menempel. habitat makroalga lainnya adalah ekosistem lamun, karena lamun memberikan habitat yang baik untuk asosiasinya. makroalga menyukai habitat dengan substrat berpasir, berlumpur, berbatu atau berterumbu di daerah dangkal yang masih dapat ditembusi cahaya matahari. tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas makroalga pada habitat berbeda di pesisir pantai Desa Tablolong Kecamatan Kupang Barat Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskripsi eksploratif, yaitu menganalisa dan menyajikan data berdasarkan objek yang diperoleh di habitat tersebut sehingga dapat disimpulkan serta dipahami. Pengambilan data makroalga menggunakan metode transek linear kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan Habitat hidup makroalga yang ditemukan di pantai Tablolong terdiri dari ekosistem lamun dengan substrat rataan karang mati, pasir, pasir berlumpur dan lumpur berpasir. Ekosistem terumbu karang dengan substrat pecahan karang, rataan karang mati. Makroalga yang ditemukan terdiri dari divisi Chlorophyta, Phaeophyta dan Rhodophyta dengan jumlah jenis sebanyak 28 spesies. Komposisi tertinggi adalah Halimeda opuntia sebanyak 1594 individu dan Halimeda incrassata sebanyak 1129 individu. Kepadatan jenis makroalga tertinggi adalah Halimeda opuntia dengan rata-rata sebesar 13,29 individu/m². kepadatan relatif tertinggi adalah Halimeda opuntia dengan rata-rata sebesar 17,59% dan Halimeda incrassata dengan rata-rata sebesar 17,59%. Frekuensi kehadiran makroalga tertinggi adalah Halimeda opuntia, H. incrassata, H. macroloba, Caulerpa sertularoides, C. lentifera, C. Racemosa dari divisi Chlorophyta; pada divisi Phaeophyta jenis makroalga yang berpeluang muncul pada habitat adalah Padina gymnospora dan Dichtyota deliculata; sedangkan devisi Rhodophyta jenis yang memiliki peluang muncul adalah Gracilaria fisheri, G. salicornia dan Liagora ceranoides. Keanekaragamn jenis makroalga di pantai Tablolong tergolong rendah, keseragaman jenis nilai E mendekati 1 yaitu sebaran makroalga tersebar merata. Dominansi makroalga tergolong rendah. Persen cover penutupan lamun tertinggi di Srasiun I adalah Cymodocea rotundata sebesar 92,9%, Halodule uninervis sebesar 93,1 %, dan Hadodule pinfolia sebesar 78,5%. Stasiun II didominasi oleh Hadodule pinfolia sebesar 96,3% dan Halodule uninervis sebesar 90,6 %. Stasiun III adalah Hadodule pinfolia sebesar 95,2% dan Halodule uninervis sebesar 95,3 %. Stasiun IV didominasi oleh Cymodocea rotundata sebesar 90,6%, Halodule uninervis sebesar 90,5%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail