ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Desa Jenilu terletak di Kecamatan Kakuluk Mesakdan wilayah pesisirnya bisa dimanfaatkan untuk budidaya Alga Merah. Alga Merah yang dibudidaya masih dalam tahap ujicoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan Metode Lepas Dasar di Perairan Desa Jenilu.
Penelitia dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2022. Metode yang digunakan yaitu metode ujicoba langsung dilapangan dengan menggunakan metode lepas dasar (patok) dan analisis data yang digunakan yaitu pertumbuhan harian, pertumbuhan relatif serta pertumbuhan mutlak.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa Alga Merah Kappaphycus alvarezii memiliki pertambahan berat dari awal sampai berakhirnya penelitian dengan berat tertinggi pada minggu ke-7 dengan nilai (283,4 gram), Kisaran pertumbuhan harian Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan nilai (4,76 gram) dan terendahnya dengan nilai (2,19 gram), Pertumbuhan mutlak Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan nilai tertinggi yakni (223,4 gram/hari) dan terendahnya dengan nilai (15,3gram/hari), Pertumbuhan spesifik Alga Merah Kappaphycus alvarezii dengan nilai tertinggi (5,57 %) dan terendah dengan nilai (3,62 %). Hal ini disebabkan karena bibit yang diambil mampu beradaptasi dengan lingkungan perairan yang berbeda.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
DENSIANA LURUK SERAN (17381978) Seleksi Varietas Unggul Rumput Laut Kappaphycus spp. yang Dibudidayakan dengan Metode Lepas Dasar di Perairan Tablolong. Wilson L. Tisera, S.Pi.,M.Si., Ph.D dan Rockie R. L. Supit., S.Pi., M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Kappaphcus merupakan salah satu rumput laut panghasil karaginan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas ekspor perikanan Indonesia di pasar dunia. Seleksi varietas merupakan salah satu metode yang diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan mengurangi penyakit. Desa Tablolong, di Kabupaten Kupang memiliki potensi budidaya Kappaphycus spp. yang besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui varietas rumput laut Kappaphycus spp. yang memberikan pertumbuhan yang lebih baik dan lebih tahan terhadap penyakit ice-ice yang dibudidayakan di Perairan Tablolong.
Penelitian ini telah dilaksanakan selama 7 minggu pada bulan Juni sampai Agustus 2021. Kappaphycus spp. yang diuji adalah Varietas Tambalang hasil kultur jaringan dari Rote, Varietas Sacol dari Sulamu, Varietas Sacol dari Semau dan Varietas Cottonii dari Pasir Panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, dengan metode budidaya adalah metode lepas dasar. Data pertumbuhan dan penyakit ice-ice di ambil setiap 7 hari sekali. Pengukuran parameter kualitas air berupa suhu, salinitas, kecepatan arus, Ph dan kecerahan. Data pertumbuhan yang dianalisis adalah Pertumbuhan Harian, Pertumbuhan Spesifik dan Pertumbuhan Mutlak. Sementara data penyakit adalah Insiden dan Intensitas penyakit.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertambahan berat Kappaphycus spp. tertinggi di Perairan Tablolong adalah Sacol Sulamu dengan nilai rata-rata tertinggi 844,50 gram pada minggu ke tujuh dan nilai terendah Cottonii Pasir Panjang yakni 295,60 gram pada minggu ke tujuh. Pertumbuhan harian dengan nilai rata-rata tertinggi Sacol Sulamu yaitu 13,00 gram/hari, sedangkan pertumbuhan terendah Cottonii Pasir Panjang yakni 2,85 gram/hari. Pertumbuhan spesifik dengan nilai rata-rata tertinggi pada Sacol Sulamu yakni 5,73 %/hari, sedangkan pertumbuhan spesifik terendah pada Cottonii Pasir Panjang dengan nilai 2,18%/hari. Pertumbuhan mutlak dengan nilai rata-rata tertinggi Sacol Sulamu 744,5 gram dan nilai terendah Cottonii Pasir Panjang yakni 195,6 gram. Untk Insiden penyakit ice-ice, Cotonii Pasir Panjang memiliki nilai paling tinggi dari awal penelitian sampai akhir dengan rata-rata 61,85 % sedangkan paling rendah Sacol Sulamu dengan nilai 34,02 %. Untuk Intensitas penyakit, Cottonii Pasir Panjang memiliki nilai paling tinggi dari awal penelitian sampai akhir dengan rata-rata 19,80 % sedangkan paling rendah Tambalang hasil Kultur jaringan Rote dengan rata-rata 3, 88 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hengki Rawa Mandapu (16382696) Studi Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Varietas Berbeda yang Dibudidaya dengan Metode yang Berbeda di Perairan Tablolong. Wilson L. Tisera, S.Pi., M.Si., Ph.D dan Rockie R.L. Supit, S.Pi., M.Si (sebagai Pembimbing I dan II). Program Studi, Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang diekstraksi dari alga laut merah jenis Kappaphycus dan Eucheuma. Karaginan dipakai sebagai stabilisator, pengental, pembentuk gel, pengemulsi, pengikat dan pencegah kristalisasi dalam industri makanan ataupun minuman, farmasi dan kosmetik lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan karaginan dari rumput laut Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidaya dengan metode yang berbeda di perairan Tablolong Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Perlakuan pada penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan dengan empat ulangan.Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel meliputi variabel bebas, variabel terkontrol dan variabel terikat. Varietas Kappaphycus alvarezii yang digunakan dalam penelitian ini adalah varietas tambalang hasil kultur jaringan (Kuljar) dari Rote, varietas sacol asal Sulamu, varietas sacol asal Semau, dan varietas Cottonii asal Pasir Panjang. Hasil penelitian menunjukan nilai kandungan karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii dari metode long line berkisar antara 17,9-32,2%. Nilai kandungan karaginan tertinggi pada metode long line terdapat pada varietas sacol Sulamu dengan nilai rata-rata 32,2%, sedangkan nilai kandungan karaginan terendah terdapat pada tambalang kultur jaringan Rote dengan nilai rata-rata 17,9%. Sedangkan nilai kandungan karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii dari metode lepas dasar berkisar antara 26,7-51,8%. Nilai kandungan karaginan tertinggi terdapat pada tambalang kultur jaringan Rote dengan nilai rata-rata 51,8%, sedangkan nilai kandungan karaginan terendah terdapat pada sacol Sulamu dengan nilai rata-rata 26,7%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
TIMOTEUS DUA BLOLONG (16383164) Analisis Komposisi Jenis Dan Kepadatan Makro Epifit Pada Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezzi Dengan Metode Lepas Dasar Di Perairan Baobolak Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata. WILSON L.TISERA,S.Pi.,M.Si.,Ph.D, ROCKIE R.L. SUPIT, S.Pi.,M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan merupakan komoditas ekspor di sektor budidaya perikanan indonesia karena permintaanya tinggi di pasar dunia. Perairan pantai Baobolak merupakan salah satu perairan pantai yang terletak di Lembata bagian Selatan. Hasil rumput laut merupakan sumber pendapatan yang menjanjikan bagi sebagian besar penduduk Desa Baobolak, yang berada di Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis dan kepadatan epifit yang terdapat pada rumput laut Kappaphycus alvarezii di Perairan Baobolak Kecamatan, Nagawutung Kabupaten Lembata. Hasil penelitian menujukan pertumbuhan berat Kappaphycus alvarezii non epifit memiliki nilai kisaran pertumbuhan lebih tinggi yakni 114,68 gram – 287,70 gram dengan laju pertumbuhan spesifik 4,93% / hari sedangkan yang terjangkit epifit 110,42 gram – 169,88 gram dengan laju spesifik 4,69% / hari.Kepadatan jenis makro epifit pada Kappaphycus alvarezii berada pada kisaran 110,4-176,20 ind/m2 . Kepadatan jenis yang tertinggi yaitu Hypnea cervicrnis dengan nilai 176,20 ind/m2 dan kepadatan jenis yang terendah yaitu ulva lacuta dengan nilai 110,4 ind/m2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumput laut merupakan salah satu komoditas sumberdaya laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, mudah dibudidayakan serta produksi yang tinggi. Desa Kaliuda merupakan salah satu sentra budidaya rumput laut di Kabupaten Sumba Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidaya dengan Metode Lepas Dasar di Perairan Desa Kaliuda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2021. Varietas rumput laut yang dicobakan adalah Varietas Sakol Kaliuda (lokal), Sakol Semau, Kultur jaringan Sulamu, dan Sakol Pasir Panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, observasi dan pengambilan data langsung di lokasi penelitian serta metode eksperimental yang digunakan untuk uji coba budidaya rumput laut varietas berbeda. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis pertumbuhan rumput laut selama penelitian berlangsung. Analisis data yang digunakan yaitu analisis pertumbuhan harian, pertumbuhan relatif dan pertumbuhan mutlak. Hasil penelitian menunjukan bahwa berat akhir pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii tertinggi yaitu Sacol Semau dengan nilai 361,3 gram pada minggu ketujuh, dan terendah Sacol Pasir Panjang dengan berat 309,1 gram pada minggu ketujuh. Laju pertumbuhan harian tertinggi yaitu Sacol Semau dengan berat rata-rata 5,517 gram/hari dan terendah Sacol Pasir Panjang dengan berat rata-rata 4,377 gram/hari. Pertumbuhan relatif rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu sacol asal Semau dengan dengan berat 3.446 %/hari dan terendah sacol Pasir Panjang dengan berat rata-rata 2,949 %/hari Pertumbuhan mutlak rumput laut tertinggi yaitu sacol Semau dengan nilai 153,4 gram dan terendah sacol Pasir Panjang dengan nilai 122,1 gram. Faktor fisik-kimia perairan seperti suhu, salinitas, arus dan pH berada pada kisaran normal untuk pertumbuhan Kappaphycus alvarezii.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN
OCTODINATA WUNGU BULU (14380068), Studi pertumbuhan alga merah Kappaphycus alvarezii varietas berbeda yang dibudidayakan dengan metode lepas dasar diperairan Gorang, Kecamatan Solor Timur; Alfred G. O. Kase., S.Pi., M.Si.,Ph.D sebagai pembimbing I, Imanuel J. Emola. S.Pi., M.Si sebagai pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang.
Alga merah Sacol dan tambalang merupakan rumput laut lokal yang sudah lama di budidayakan petani. Straintambalang paling dominan dikembangkan karena memberikan hasil yang baik serta respon pasar pula. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan alga merah (Kappaphycusalvarezii) varietas berbeda yang dibudidayakan dengan metode lepas dasar di perairan Gorang, Kecamatan Solor Timur.
Penelitian ini telah dilaksanakan selama 2 bulan yaitu bulan Maret-April 2019 di perairanPantai Gorang, Kecamatan Solor Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Lepas Dasar. Metode ini dilakukan dengan cara mengikatkan bibit rumput laut pada tali dan di budidayakan di dasar perairan.Alga merah Kappaphycusalvarezii varietas SacolSulama dan Sacol Alor memiliki pertambahan berat yang bervariasi di setiap minggunya, sedangkan pada varietas lainnya mengalami kenaikan dan penurunan berat pada setiap minggunya. Hasil pengamatan dari kelima varietas, terlihat bahwa bibit alga merah varietas Sulamu Sacol memiliki pertumbuhan yang cukup baik jika dibandingkan dengan varietas lainnya. Hasil pengukuran pertumbuhan alga merah selama penelitian ini menunjukan bahwa pertumbuhan yang baik terdapat pada Sacol Sulamu.
Kata Kunci : Kappaphycusalvarezii, metode lepas dasar, Varietas Pantai Gorang