Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Teologi pembebasan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN PENYANDANG DISABILITAS “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemikiran Nancy Eiesland Tentang Teologi Pembebasan Sebagai Upaya Pemberdayaan Bagi Penyandang Disabilitas di Jemaat Lelakapa Meoain, Klasis Rote Barat Daya”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi berjudul “Gereja Dan Penyandang Disabilitas” dengan sub judul “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemikiran Nancy Eiesland Tentang Teologi Pembebasan Sebagai Upaya Pemberdayaan Bagi Penyandang Disabilitas Dan Implikasinya Bagi Jemaat Disabilitas di Jemaat GMIT Lelakapa Meoain Klasis Rote Barat Daya” ditulis oleh Gresty Felendy Pandie. Realita pergumulan jemaat GMIT Lelakapa Meoain Klasis Rote Barat Daya, terdapat 12 orang penyandang disabilitas dan dalam realita ini gereja tidak melakukan upaya pemberdayaan terhadap mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tujuannya agar dapat memahami dan menjelaskan fenomena serta dapat mengenal lebih dalam mengenai pikiran tokoh dan dapat memahami pikiran dan ide dari tokoh tersebut. Metode studi tokoh dengan model kualitatif juga berbasis pada metode kepustakaan. Skripsi ini membahas hubungan antara gereja dan penyandang disabilitas dalam perspektif teologis, dengan fokus pada pemikiran Nancy Eiesland mengenai teologi pembebasan disabilitas sebagai sarana pemberdayaan. Studi ini bertujuan untuk meninjau bagaimana pemikiran Eiesland dapat diimplementasikan dalam konteks Jemaat GMIT Lelakapa Meoain, Klasis Rote Barat Daya, khususnya dalam mendobrak stigma dan diskriminasi yang masih kerap dialami oleh penyandang disabilitas dalam kehidupan bergereja. Penelitian ini menawarkan kerangka teologis yang inklusif dan transformatif bagi gereja. Teologi ini menuntut gereja untuk tidak hanya bersikap ramah terhadap disabilitas, tetapi juga menjadi ruang yang aktif dalam memberdayakan dan melibatkan penyandang disabilitas secara setara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun GMIT Lelakapa Meoain telah menunjukkan beberapa upaya positif, namun masih terdapat ruang bagi pengembangan pendekatan teologis yang lebih kontekstual dan memberdayakan, sebagaimana digagas oleh Eiesland.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MESIAS YANG MENDERITA

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Song adalah seorang Teolog yang berteologi tentang Teologi Pembebasan. pembebasan ini tumbuh dalam pengalamannya bahwa hanyan Pembebasanlah yang merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan penderitaan yang dialami masyarakat Asia. Song merasa penderitaan yang dialami oleh masyarakat Asia ini tidak akan berakhir kalau masih menggunakan cara berteologi dari Barat, Song juga berpendapat bahwa semua orang bebas berteologi dengan konteks mereka masing-masing tanpa dipengaruhi oleh konteks orang lain. Melalui tulisan ini, akan dibahas secara kritis terhadap nilai yang dapat digali dari pokok pikiran Song mengenai penderitaan. Transposisi juga dapatlah kita maknai sebagai salah satu konsep untuk memerangi penderitaan yang terjadi di lingkup GMIT. Konsep teologi pembebasan ini menjadi relevan dalam konteks GMIT yang sedang mengalami penderitaan kemiskinan dan penderitaan bencana alam. GMIT harus bekerja memerangi penderitaan tersebut, tulisan ini diharapkan juga dapat menjadi salah satu tawaran untuk dipertimbangkan guna diterapkan dalam konteks GMIT.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Rumah Harapan GMIT "Suatu Tinjauan Teologi Sosial Terhadap Identitas Rumah Harapan GMIT dan Implikasinya Bagi Keterlibatan Sosial GMIT"

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kasus kekerasan pada perempuan, anak, dan perdagangan orang di Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan persoalan sosial yang sudah ada pada tingkat darurat. Akibatnya banyak masyarakat dan jemaat yang sudah menjadi korban. Hal ini membuat banyak lembaga-lembaga masyarakat dan keagamaan terlibat dalam upaya pemberantasan. Rumah Harapan GMIT, yang merupakan shelter atau rumah aman bagi para korban, adalah salah satu lembaga gerejawi yang didirikan GMIT dalam menggumuli ketiga kasus di atas. Kehadiran shelter ini bertujuan untuk membebaskan mereka yang menjadi korban. Apa yang melatar-belakangi terbentuknya pelayanan sosial Rumah Harapan GMIT? Apa yang membedakan Rumah Harapan GMIT dan instansi lain dalam pelayanan sosial? Secara teologis, refleksi apa yang bisa dikembangkan terhadap keterlibatan sosial Rumah Harapan GMIT? Dalam tulisan ini, penulis pertama-tama mendeskripsikan tentang latar belakang dan sejarah berdirinya Rumah Harapan GMIT. Setelah itu, penulis juga melihat Teori Teologi Sosial Gustavo Gutierrez yang berjuang bagi kesejahteraan kaum miskin dengan menghasilkan sebuah teologi pembebasan (Theology of Liberation) bagi kaum miskin di Amerika Latin. Teologi yang dikembangkan Gutierrez ini menjadi sebuah landasan teori bagi penulis untuk melihat konteks sebagai sumber berteologi, kemudian penulis menggunakan 4 aspek Teologi sosial dari J.B Banawiratma untuk menganalisa konteks dan menemukan tema yang dapat dikembangkan sebagai refleksi kritis terhadap pelayanan sosial yang dilakukan Rumah Harapan GMIT. Tema yang dimaksud adalah pembebasan. Alkitab mencatat berbagai karya pembebasan, terutama yang dilakukan Allah dalam Perjanjian Lama, yaitu: Pembebasan Allah melalui tradisi Tahun Yobel dan Tahun Sabat, Pembebasan Allah pada masa Pembuangan di Babel, sementara dalam Perjanjian Baru pembebasan itu terjadi melalui karya pelayanan Yesus, para Rasul dan Jemaat Mula-mula. Kepedulian dan keberpihakan kepada kaum yang tertindas dan para korban menjadi pergumulan bersama yang dihadapi dalam konteks Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Amerika Latin dan konteks pelayanan GMIT. Dalam konteks GMIT pada masa kini, idealnya karya pembebasan Allah hadir melalui Pelayanan Rumah Harapan GMIT. Karya pembebasan Allah bagi bangsa Israel dan umat Perjanjian Baru dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi tindakan pembebasan yang sedang dilakukan oleh GMIT melalui Rumah Harapan GMIT. Sebagaimana karya Allah tersebut sungguh-sungguh membebaskan, demikian juga GMIT dalam pelayanan sosialnya lewat Rumah Harapan harus menunjukan kehadiran dan penyertaan Allah bagi para korban karena ketidakadilan yang dihadapi. Upaya pembebasan seperti yang dilakukan Allah adalah standard dalam pelayanan sosial, sehingga kesaksian GMIT menjadi bukti nyata bahwa Allah selalu ada bagi orang-orang yang membutuhkan keadilan untuk menolong mereka tetap melanjutkan kehidupan. Kata-kata Kunci : Peran Sosial, Teologi Pembebasan, Rumah Harapan GMIT, keadilan, Pembebasan Allah

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail