Abstrak
ABSTRAK Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada menafsir teks untuk memberi sumbangan bagi gereja dalam mengatasi masalah stunting. Stunting adalah persoalan sosial yang mencolok di NTT dan didapati pada anak di usia prasekolah. Stunting disebabkan oleh berbagai hal yang bermuara pada kurangnya asupan makanan yang bergizi sesuai kebutuhan gizi anak. Stunting memiliki dampak buruk yang dapat memengaruhi kehidupan pengidapnya di masa depan. Stunting perlu disikapi oleh berbagai pihak termasuk GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme sebagai persekutuan yang meniru Kristus. Dalam menyikapi stunting dibutuhkan sikap tanggung jawab. Tulisan ini berupaya memaknai sikap tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sesuai hasil penafsiran teks Injil Lukas 9:10-17 dengan menggunakan metode tafsir naratif. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sebagaimana yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Yesus, dapat dibawa dalam konteks GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme dalam menyikapi stunting. Dalam upaya mengatasi stunting sikap awal yang mesti dilakukan oleh gereja ialah melayankan hospitalitas. Hospitalitas ini akan melahirkan tanggung jawab terhadap penderita stunting baik di dalam maupun luar gereja. Lebih lanjut, tanggung jawab yang lahir dari hospitalitas ini harus diwujudkan dengan memberi makanan yang bergizi sampai kenyang kepada penderita stunting. Perwujudan tanggung jawab terhadap penderita stunting ini dilaksanakan oleh gereja dengan membangun kemitraan atau bekerja sama dengan pemerintah, tenaga kesehatan, agama dan denominasi lain serta lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap mereka yang menderita stunting.