Abstrak
Pelayanan terhadap Insan dengan Disabilitas (IDD) dalam konteks gereja lokal masih menghadapi persoalan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan struktural. Hambatan akses, stigma, serta praktik pengucilan membatasi partisipasi dan pemulihan martabat IDD, sementara disabilitas kerap dipahami secara sempit dan belum ditempatkan sebagai isu teologis dan eklesiologis yang mendesak. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada penafsiran teks Alkitab sebagai kontribusi teologis bagi pengembangan pelayanan gereja yang inklusif terhadap IDD. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Lukas 18:35–43 merepresentasikan tindakan pemulihan Yesus terhadap IDD serta menghadirkan implikasi teologis dan praksis yang mentransformasi cara pandang gereja terhadap disabilitas, khususnya dalam konteks pelayanan Jemaat GMIT Efrata Oelmasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode kritik naratif, yang membaca teks sebagai satu kesatuan cerita dengan memperhatikan alur, karakter, latar, dan sudut pandang pencerita dalam konteks sosial dan teologis Injil Lukas. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, tindakan Yesus yang berhenti, mendengar, dan berdialog menegaskan bahwa pemulihan dimulai dari pengakuan martabat dan relasi yang memanusiakan, yang menjadi dasar tanggung jawab gereja dalam pelayanan terhadap IDD. Kedua, iman yang melihat bukan iman yang berhenti pada pengakuan, melainkan iman yang menuntut tindakan konkret gereja melalui pelayanan diakonia yang bergerak melampaui pola karitatif menuju diakonia transformatif. Ketiga, pemulihan Yesus bersifat transformasional karena tidak hanya memulihkan individu, tetapi juga mengubah sikap dan struktur komunitas menuju penerimaan dan partisipasi yang setara bagi IDD dalam kehidupan umat Allah.