ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
Penelitian ini merupakan suatu tinjauan teologis kontekstual terhadap ritual penyembahan kepada roh orang yang sudah meninggal dan implikasinya bagi jemaat Syalom Oepula. Ritual penyembahan kepada roh orang yang telah meninggal adalah praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi masyarakat Oepula. Tinjauan teologis ini bertujuan untuk memahami praktik ini dari sudut pandang teologi Kristen, menggali akar teologisnya, serta menganalisis implikasi dan dampaknya pada jemaat Syalom Oepula.Studi ini menggunakan pendekatan teologis kontekstual untuk menghargai dan memahami praktik tradisional ini dalam konteks lokal dan budaya. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik penyembahan roh orang yang sudah meninggal diakar pada keyakinan tentang hubungan manusia dengan dunia roh dan leluhur.Implikasi bagi jemaat Syalom Oepula mencakup perluasan pemahaman teologis mengenai kematian dan kehidupan sesudahnya, serta bagaimana menghadapi ritual tradisional tersebut dari perspektif iman Kristen. Temuan penelitian ini menyiratkan pentingnya dialog dan dialog teologis antara agama tradisional dan iman Kristen, untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif tentang kepercayaan dan praktik keagamaan di Oepula.
Tinjauan teologis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjembatani perbedaan dan memperkuat identitas iman Kristen di tengah masyarakat Oepula yang beragam budaya dan keyakinan. Implementasi temuan penelitian ini dapat memberikan landasan bagi pendekatan pastoral yang menghormati budaya setempat dan mempromosikan nilai-nilai keadilan, kasih, dan toleransi dalam hubungan antarumat beragama di Oepula.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji Ritus Pou Hari sebagai warisan budaya religius masyarakat pesisir Jemaat GMIT Imanuel Folbo, Klasis Alor Barat Laut. Ritus ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut yang diyakini sebagai leluhur, dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian identitas budaya. Permasalahan teologis muncul karena praktik ini mengandung unsur pemujaan yang berpotensi bertentangan dengan kemurnian pengakuan iman Kristen kepada Kristus sebagai satu-satunya Tuhan. Kerangka teori yang digunakan adalah tipologi Kristus Melawan Kebudayaan dari H. Richard Niebuhr, yang menegaskan sikap tegas terhadap praktik budaya yang tidak sejalan dengan Injil, serta pendekatan teologi kontekstual untuk menafsirkan dan mengarahkan nilai positif budaya lokal agar selaras dengan iman Kristen. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Informan penelitian terdiri dari pemimpin ritus, peserta ritus, majelis jemaat, dan pendeta setempat. Data dianalisis untuk mengidentifikasi makna, fungsi, serta implikasi teologis ritus bagi kehidupan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritus Pou Hari memiliki makna religius, sosial, dan ekologis yang penting bagi masyarakat pesisir. Namun, unsur pemujaan kepada penguasa laut menimbulkan risiko sinkretisme. Gereja dipandang perlu mengembangkan pembinaan iman yang kontekstual, mengalihkan nilai positif ritus ke dalam bentuk ibadah syukur atau doa bersama yang berpusat pada Kristus, serta menciptakan liturgi kontekstual yang menjaga kemurnian iman. Refleksi teologi menegaskan panggilan gereja untuk menghargai konteks budaya sekaligus setia pada Injil, menjadi komunitas profetis yang membimbing jemaat menghormati laut sebagai ciptaan Allah tanpa terjebak dalam praktik yang bertentangan dengan iman Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji ritus Hamayang Tollak dalam proses pembangunan rumah adat di Sumba Tengah serta maknanya bagi jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Parewatana. Masalah utama yang diangkat adalah masih kuatnya kepercayaan tentang budaya Marapu dalam jemaat, terhadap ritus ini meskipun mereka telah beriman Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dan penelitian lapangan, dengan wawancara terhadap tuan rumah, tukang, rato adat, majelis, dan warga jemaat sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritus ini dianggap penting untuk menjaga keselamatan dan kelancaran hidup, serta dihargai sebagai warisan leluhur. Namun, terdapat ketegangan antara nilai-nilai budaya dan ajaran iman Kristen. Beberapa elemen ritus dinilai bertentangan dengan teologi Kristen, terutama dalam hal persembahan kepada roh leluhur. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan perlunya gereja melakukan pendekatan teologis dan pastoral yang kontekstual. Gereja tidak hanya dituntut untuk mengoreksi, tetapi juga menafsir ulang nilai-nilai budaya yang masih hidup agar selaras dengan Injil. Disarankan agar GKS Parewatana meningkatkan pembinaan iman dan pendampingan terhadap jemaat dalam menghadapi praktik budaya yang bersinggungan dengan kepercayaan Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSRTAK Penelitian ini berjudul “MORUK” dengan sub-judul “ Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual terhadap Ritus Moruk di Jemaat GMIT Pniel Loomaten, Klasis Malaka dan Implikasinya bagi Gereja masa kini”. Ritus Moruk atau yang sering disebut Moruk Malu atau Moruk antar suku atau kampung. Moruk artinya Pemali atau larangan. Awal mula adanya ritus ini karena adanya perkelahian antara suku dan kampung yang mengakibatkan ada yang meninggal sehingga adanya sumpah yaitu: keturunan mereka tidak boleh menikah dengan warga atau warga kampung yang sudah ditentukan. Melalui ritus ini keluarga yang memiliki dendam atau keluarga yang berasal dari suku-suku yang ditetapkan sebagai Moruk Malu bisa membersihkan semua dendam di masa lalu dengan demikian pasangan yang akan menikah akan hidup bahagia. Untuk mencapai tujuan ini maka tulisan ini mengunakan penelitian kualitatif yang berusaha menjelaskan suatu fenomena dengan mengumpulkan sedalam-dalamnya data yang diteliti. Teknik yang digunakan adalah observasi lapangan serta wawancara kepada Majelis Gereja, Jemaat, Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh adat. Tujuan dari hal ini yakni memperlihatkan kesenjangan budaya dan iman bagaimana keduanya ada di dalam pertemuan dan ketegangan di waktu pelaksanaan ritus Moruk di Loomaten. Analisis teologi kontekstual dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa ritus Moruk ini memiliki nilai-nilai yang positif melalui pelaksanaannya Gereja juga beranggapan bahwa sebagai ritus lokal yang memiliki nilai yang sangat relevan dengan teologi kontekstual. Penelitianya ini sangat diharapkan agar dapat memberi sumbangsih bagi jemaat GMIT Pniel Loomaten. Dalam mencari dan melestarikan kerarifan lokal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi berjudul: Ritus B’ui Ihi dengan sub judul: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Ritus B’ui Ihi (Penyucian Diri) di Sabu dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede yang ditulis oleh Yunita Apriana Lede, memfokuskan pembahasan pada ritus b’ui ihi di Sabu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ritus b’ui ihi dari perspektif ekoteologi, dengan menyoroti relevansi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, untuk membantu gereja dalam usaha mengatasi krisis lingkungan hidup. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan ekoteologi Leonardo Boff untuk menganalis bagaimana ritus ini dapat memberikan sumbangan teologis dan praktis bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritus b’ui ihi mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai ciptaan Allah, kesadaran akan tanggung jawab ekologis, dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan gereja dan jemaat sebagai bagian dari panggilan iman untuk memelihara ciptaan Tuhan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai-nilai ekologis dari ritus b’ui ihi, gereja dapat berperan aktif dalam mendorong kesadaran ekologis, membangun budaya hidup yang selaras dengan alam, dan memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yang semakin mendesak, khususnya di Jemaat GMIT Siloam Lobohede untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap alam semesta dan seluruh ciptaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berfokus pada praktik ritus berkabung "Takaen Noi Aok" di Jemaat GMIT Pniel I Lelogama, yang merupakan bagian dari budaya masyarakat Amfoang-Lelogama. Ritus ini melibatkan serangkaian tahapan yang dilakukan untuk menghormati orang yang telah meninggal dan dipercaya memiliki konsekuensi bagi kerabat yang masih hidup jika tidak dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna dan nilai dari ritus tersebut serta implikasinya terhadap pelayanan gereja. Pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan digunakan dalam penelitian ini, yang melibatkan observasi dan wawancara dengan anggota jemaat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara generasi tua dan muda mengenai pelaksanaan ritus ini. Generasi tua cenderung mempertahankan ritus sebagai tradisi yang sarat makna, sementara generasi muda menganggapnya sebagai beban tambahan dan bertentangan dengan ajaran Kristen. Penelitian ini juga menemukan bahwa ritus "Takaen Noi Aok" memiliki nilai-nilai yang penting dalam kehidupan masyarakat Amfoang, namun seiring dengan perkembangan zaman, makna asli dari ritus ini mulai tergerus. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya gereja untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai ritus ini agar tidak terjadi sinkretisme dan penyesatan dalam praktik keagamaan jemaat. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana ritus berkabung "Takaen Noi Aok" dapat diintegrasikan dengan ajaran Kristen sehingga tetap mempertahankan nilai budaya tanpa mengorbankan keyakinan iman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur tambahan tentang ritus kematian dalam konteks budaya dan agama serta memberikan panduan bagi jemaat dalam menghadapi masa duka dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen.
Kata Kunci: Ritus berkabung, Takaen Noi Aok, Teologi Kontekstual, Solidaritas, Ketaatan, GMIT Pniel I Lelogama, Pelayanan Gereja
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul "Boin Na Smanaf" dengan sub-judul "Suatu Tinjauan Teologis Tentang Ritus Pemanggilan Arwah Boin Na Smanaf Jemaat GMIT Nazareth Taum Klasis Amanuban Selatan." Penelitian ini mengeksplorasi ritus pemanggilan arwah yang dilaksanakan di lokasi kecelakaan yang menyebabkan kematian tidak wajar, seperti kecelakaan kendaraan dan jatuh dari pohon. Ritus ini didasarkan pada keyakinan bahwa arwah orang yang meninggal tidak sepenuhnya hilang, tetapi berpindah ke alam lain (fatu bian ma hau bian), tetap berdampingan dan dapat berinteraksi dengan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman umum jemaat GMIT Nazareth Taum tentang ritus Boin Na Smanaf, menganalisis pelaksanaan ritus ini, dan merefleksikan tinjauan teologis terhadap pemahaman jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi. Penulisan dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif untuk memberikan gambaran jelas mengenai permasalahan yang ada. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pandangan Kristen tentang kematian, dunia orang mati, dan penyembahan terhadap roh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Boin Na Smanaf merupakan bentuk penghormatan dan rasa kasih terhadap arwah. Namun, praktik ini perlu ditinjau kembali dalam konteks iman Kristen untuk menghindari penyembahan arwah yang bertentangan dengan ajaran gereja. Refleksi teologis dari penelitian ini menekankan pentingnya peran gereja dalam memberikan pemahaman yang benar mengenai kematian dan roh agar tradisi Boin Na Smanaf dapat selaras dengan iman Kristen. Gereja harus terus berupaya mengarahkan jemaat agar tidak terjerumus dalam praktik yang bertentangan dengan iman mereka.
Kata Kunci: Ritus, Penyembahan, Kehidupan, Kematian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami konsep kutuk dalam perspektif masyarakat Sabu, khususnya dalam konteks peristiwa Made Harro, yakni kematian yang dianggap tidak wajar dan diyakini terjadi kepada orang yang telah melanggar aturan, perintah, dan larangan dari Deo Ama (Tuhan). Penelitian ini juga mengkaji mekanisme yang ditempuh oleh masyarakat Sabu untuk membebaskan diri dari kutukan tersebut serta refleksi teologis terhadap fenomena ini dalam komunitas Kristen GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat–Raijua. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan kajian fenomena yang lebih komprehensif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kutuk masih sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Sabu Mesara. Meskipun banyak jemaat Kristen mulai meninggalkan praktik ini, beberapa masih melakukannya sebagai bentuk perpaduan antara tradisi budaya dan kepercayaan agama Kristen. Kutukan dianggap sebagai penyebab utama peristiwa Made Harro dan berdampak pada relasi sosial serta harmoni dalam komunitas. Kutukan ini diyakini dapat ditularkan oleh orang yang sudah meninggal dan juga keluarganya kepada orang lain, sehingga memerlukan ritus adat tertentu, yang di dalamnya termasuk penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, dan ritual pembersihan yang dipimpin oleh tokoh adat seperti Rue dan Deo Rai yang bertujuan untuk memutus rantai kutukan tersebut. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bagaimana pemahaman kutukan dalam tradisi Made Harro dapat dilihat dari kaca mata ajaran Kristen. Penelitian ini menggunakan berbagai teori, termasuk pandangan Kristen tentang kematian dan kutuk, serta perspektif antropologis yang melihat kutukan dari sudut pandang berbagai budaya. Selain itu, teori “Kambing Hitam” dari Rene Girard digunakan untuk menganalisis bagaimana masyarakat Sabu menyalurkan ketegangan sosial ke satu objek tertentu, yang kemudian dijadikan sebagai korban dalam ritus adat untuk menciptakan rekonsiliasi dan solidaritas dalam masyarakat yang sedang mengalami krisis. Berdasarkan teori Girard, ritus tersebut dapat dipahami sebagai mekanisme kambing hitam. Namun, René Girard justru mengkritik mekanisme kambing hitam sebagai upaya manusia untuk mengatasi dampak negatif dari dosa dan mencari pembebasan melalui kekuatan sendiri dan tidak memberikan solusi yang sejati terhadap dosa dan konsekuensinya. Sebagai gantinya, Girard menekankan bahwa solusi sejati terletak pada karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Penelitian ini menyoroti peran gereja sebagai agen transformasi dan pendamaian di tengah masyarakat Sabu, membantu mereka menemukan makna kehidupan yang sejati dan kematian di dalam Kristus, serta menolong jemaat terlepas dari belenggu kepercayaan akan kutuk atau pengucilan sosial.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ritus diyakini sebagai suatu tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat pada suatu tempat tertentu untuk tetap menjaga identitas dirinya. Pelaksanaan ritus juga diyakini sebagai suatu upaya manusia untuk menjaga hubungannya dengan leluhur atau pendahulunya. Pelaksanaan ritus semacam ini juga masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Bestobe, khususnya anggota jemaat GMIT Eklesia Bestobe. Di tempat ini, jemaat masih memelihara ritus Tout Ninik atau secara harafiah diartikan sebagai membakar lilin. Ritus ini masih tetap dihidupi dengan maksud melibatkan secara penuh eksistensi dari para leluhur dalam rencana kehidupan keturanannya untuk kehidupan yang akan datang, misalnya dalam melanjutkan studi. Ritus ini kemudian dia nggap menjadi suatu problem iman ketika jemaat yang ada masih tetap mempertahankan budaya ini. Ada dualisme yang muncul dalam praktik budaya ini yakni apakah Kristus masih menjadi pusat iman atau sebaliknya leluhur mengambil alih peran ini. Atas dasar itu maka tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kesenjangan ini dan sejauh mana iman Kristen merespons ritus yang sudah berurat akar dalam kehidupan masyarakat Bestobe. Guna mencapai tujuan ini maka tulisan ini akan menggunakan metode penelitian lapangan dan diimbangi dengan studi Pustaka. Data yang didapat dari wawancara akan diolah dan kemudian dielaborasikan dengan teori yang mendukung atau juga mengkritisi budaya yang ada. Tujuan dari hal ini yakni memperlihatkan kesenjangan budaya dan iman dan bagaimana keduanya ada di dalam pertemuan dan ketegangan di waktu pelaksanaan ritus Tout Ninik di Bestobe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritus Tout Ninik pada satu pihak memiliki nilai-nilai positif dan perlu dilestarikan tetapi di pihak lain mengandung unsur sinkritisme yang mengarah kepada penyembahan kepada leluhur sehingga gereja perlu mendidik warganya untuk tetap menjadikan Kristus sebagai titik sentral iman Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini merupakan suatu tinjauan teologis kontekstual terhadap ritual penyembahan kepada roh orang yang sudah meninggal dan implikasinya bagi jemaat Syalom Oepula. Ritual penyembahan kepada roh orang yang telah meninggal adalah praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi masyarakat Oepula. Tinjauan teologis ini bertujuan untuk memahami praktik ini dari sudut pandang teologi Kristen, menggali akar teologisnya, serta menganalisis implikasi dan dampaknya pada jemaat Syalom Oepula.Studi ini menggunakan pendekatan teologis kontekstual untuk menghargai dan memahami praktik tradisional ini dalam konteks lokal dan budaya. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik penyembahan roh orang yang sudah meninggal diakar pada keyakinan tentang hubungan manusia dengan dunia roh dan leluhur.Implikasi bagi jemaat Syalom Oepula mencakup perluasan pemahaman teologis mengenai kematian dan kehidupan sesudahnya, serta bagaimana menghadapi ritual tradisional tersebut dari perspektif iman Kristen. Temuan penelitian ini menyiratkan pentingnya dialog dan dialog teologis antara agama tradisional dan iman Kristen, untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif tentang kepercayaan dan praktik keagamaan di Oepula. Tinjauan teologis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjembatani perbedaan dan memperkuat identitas iman Kristen di tengah masyarakat Oepula yang beragam budaya dan keyakinan. Implementasi temuan penelitian ini dapat memberikan landasan bagi pendekatan pastoral yang menghormati budaya setempat dan mempromosikan nilai-nilai keadilan, kasih, dan toleransi dalam hubungan antarumat beragama di Oepula.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Kebudayaan merupakan hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar mampu bertahan dalam lingkungan sosial atau lingkungan alam di mana ia hidup. Salah satu warisan kebudayaan itu adalah ritus Pemmau Do Made. Ritus ini adalah ritus yang dilakukan keluarga duka setelah penguburan orang mati dengan tujuan-tujuan tertentu. Namun, kebutuhan hidup masyarakat yang sudah semakin berkembang, menyebabkan banyaknya masyarakat yang memilih untuk tidak lagi melakukan ritus Pemmau Do Made. Pihak gereja (presbiter) dan pemerintah desa pun turut memberi himbauan kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan ritus ini, dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Penulis melihat tindakan gereja (presbiter) dan pemerintah desa merupakan suatu bahaya akan hilangnya warisan budaya. Padahal, ritus ini memiliki nilai baik yang harusnya dilestarikan dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian ini, penulis menawarkan satu metode dialog yakni metode dialog liberal – mencari kebenaran sebagai metode penulisan. Metode ini digunakan sebagai solusi bagi gereja dalam upaya pemberitaan Injil yang kontekstual dan pada saat yang sama tidak menghilangkan warisan-warisan kebudayaan. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipakai penulis yaitu teknik triangulasi, yaitu observasi partisipasi dan wawancara. Dalam penelitian, diketahui bahwa ritus Pemmau Do Made memiliki nilai-nilai yang baik. Nilai yang pertama adalah penghargaan kepada leluhur. Kenyataan bahwa leluhur mereka telah banyak mewariskan hal baik untuk tetap menjaga relasi emosional mereka dengan para leluhur (aspek mistik). Nilai yang kedua, berkaitan dengan relasi sosial mereka sebagai upaya untuk menjaga relasi dengan sesama (aspek sosial). Kemudian, nilai-nilai ini dilihat sebagai hal baik yang penting untuk tetap dilestarikan dan juga menjadi perhatian masyarakat, pemerintah dan gereja. Gereja khususnya, sebagai suatu persekutuan (Koinonia), yang tumbuh di tengah masyarakat yang berbudaya dengan konteks seperti ini, gereja bisa belajar dari budaya. Gereja seharusnya mampu melihat hal yang baik dari budaya dan memperkaya teologi. Namun, sikap toleransi ini berlaku sejauh tidak bertentangan dengan ajaran gereja.