ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi berjudul: Ritus B’ui Ihi dengan sub judul: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Ritus B’ui Ihi (Penyucian Diri) di Sabu dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede yang ditulis oleh Yunita Apriana Lede, memfokuskan pembahasan pada ritus b’ui ihi di Sabu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ritus b’ui ihi dari perspektif ekoteologi, dengan menyoroti relevansi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, untuk membantu gereja dalam usaha mengatasi krisis lingkungan hidup. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan ekoteologi Leonardo Boff untuk menganalis bagaimana ritus ini dapat memberikan sumbangan teologis dan praktis bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritus b’ui ihi mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai ciptaan Allah, kesadaran akan tanggung jawab ekologis, dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan gereja dan jemaat sebagai bagian dari panggilan iman untuk memelihara ciptaan Tuhan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai-nilai ekologis dari ritus b’ui ihi, gereja dapat berperan aktif dalam mendorong kesadaran ekologis, membangun budaya hidup yang selaras dengan alam, dan memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yang semakin mendesak, khususnya di Jemaat GMIT Siloam Lobohede untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap alam semesta dan seluruh ciptaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berfokus pada praktik ritus berkabung "Takaen Noi Aok" di Jemaat GMIT Pniel I Lelogama, yang merupakan bagian dari budaya masyarakat Amfoang-Lelogama. Ritus ini melibatkan serangkaian tahapan yang dilakukan untuk menghormati orang yang telah meninggal dan dipercaya memiliki konsekuensi bagi kerabat yang masih hidup jika tidak dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna dan nilai dari ritus tersebut serta implikasinya terhadap pelayanan gereja. Pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan digunakan dalam penelitian ini, yang melibatkan observasi dan wawancara dengan anggota jemaat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara generasi tua dan muda mengenai pelaksanaan ritus ini. Generasi tua cenderung mempertahankan ritus sebagai tradisi yang sarat makna, sementara generasi muda menganggapnya sebagai beban tambahan dan bertentangan dengan ajaran Kristen. Penelitian ini juga menemukan bahwa ritus "Takaen Noi Aok" memiliki nilai-nilai yang penting dalam kehidupan masyarakat Amfoang, namun seiring dengan perkembangan zaman, makna asli dari ritus ini mulai tergerus. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya gereja untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai ritus ini agar tidak terjadi sinkretisme dan penyesatan dalam praktik keagamaan jemaat. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana ritus berkabung "Takaen Noi Aok" dapat diintegrasikan dengan ajaran Kristen sehingga tetap mempertahankan nilai budaya tanpa mengorbankan keyakinan iman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur tambahan tentang ritus kematian dalam konteks budaya dan agama serta memberikan panduan bagi jemaat dalam menghadapi masa duka dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen.
Kata Kunci: Ritus berkabung, Takaen Noi Aok, Teologi Kontekstual, Solidaritas, Ketaatan, GMIT Pniel I Lelogama, Pelayanan Gereja
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul "Boin Na Smanaf" dengan sub-judul "Suatu Tinjauan Teologis Tentang Ritus Pemanggilan Arwah Boin Na Smanaf Jemaat GMIT Nazareth Taum Klasis Amanuban Selatan." Penelitian ini mengeksplorasi ritus pemanggilan arwah yang dilaksanakan di lokasi kecelakaan yang menyebabkan kematian tidak wajar, seperti kecelakaan kendaraan dan jatuh dari pohon. Ritus ini didasarkan pada keyakinan bahwa arwah orang yang meninggal tidak sepenuhnya hilang, tetapi berpindah ke alam lain (fatu bian ma hau bian), tetap berdampingan dan dapat berinteraksi dengan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman umum jemaat GMIT Nazareth Taum tentang ritus Boin Na Smanaf, menganalisis pelaksanaan ritus ini, dan merefleksikan tinjauan teologis terhadap pemahaman jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi. Penulisan dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif untuk memberikan gambaran jelas mengenai permasalahan yang ada. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pandangan Kristen tentang kematian, dunia orang mati, dan penyembahan terhadap roh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Boin Na Smanaf merupakan bentuk penghormatan dan rasa kasih terhadap arwah. Namun, praktik ini perlu ditinjau kembali dalam konteks iman Kristen untuk menghindari penyembahan arwah yang bertentangan dengan ajaran gereja. Refleksi teologis dari penelitian ini menekankan pentingnya peran gereja dalam memberikan pemahaman yang benar mengenai kematian dan roh agar tradisi Boin Na Smanaf dapat selaras dengan iman Kristen. Gereja harus terus berupaya mengarahkan jemaat agar tidak terjerumus dalam praktik yang bertentangan dengan iman mereka.
Kata Kunci: Ritus, Penyembahan, Kehidupan, Kematian.