ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman Kesambi (Schleichera Oleosa) merupakan salah satu pohon yang paling terkenal di Indonesia. Ciri-ciri tanaman kesambi ini memiliki daun yang lebar, batang yang besar dan kayunya yang keras. Limbah yang dihasilkan dari tanaman ini salah satunya adalah biji yang dihasilkan pada proses pengambilan buahnya. Untuk mengurangi limbah tersebut, biji kesambi akan diolah menjadi briket. Di dalam biji kesambi terkandung 239 kalori/buah dan diduga bisa digunakan untuk pemicu pembakaran awal pada briket. Pengujian kadar air merupakan salah satu parameter dalam menentukan kualitas briket serbuk biji kesambi, semakin tinggi kadar air akan menyebabkan kualitas briket serbuk biji kesambi menurun karena sejumlah nilai kalor digunakan untuk penguapan air, menurunkan titik nyala, serta memperlambat proses pembakaran dan menambah volume gas buang. Proses pembakaran paling lama terjadi pada briket dengan komposisi bahan baku (serbuk biji kesambi) lolos 60 mesh yaitu 3jam 10menit. Dimana pada briket tersebut dicetak dengan komposisi bahan baku paling halus. Sedangkan proses pembakaran tercepat terjadi pada briket berkomposisi bahan baku Tahan 20 mesh serbuk biji kesambi yaitu dengan waktu 2jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suatupenelitiantelahdilakukandengantujuanmengetahuipengaruhpenambahanperekatpada biopeletpadacampuranarangsekamdaundaunkesambi.Bahanyangdigunakanyaituarangsekamdan daunkesambidiolahmenjadipartikelpenggilingan.Penelitiandilakukandengan5perlakuanyaitu ukuran10meshsampai60mesh,rancanganyangdigunakanadalahrancanganacaklengkapdandi lanjutkandenganujiduncan.Setiapperlakuanmengalami7pengulangansetiapbiopeletdibuatdengan bahandasar1000gr.Berdasarkanhasilpenelitiandapatdisimpulkanbahwaperlakuanpenambahan perekatmemberikanpengaruhpadapengamatankerapatandannilaikalorbahan.PerlakuanB(ukuran butiran20mesh)adalahperlakuanterbaikmenghasilkannilaikalortertinggi38,86Jkadarair tertinggi25,71%,danberatjenisterendah0,040gr/cm
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
SuatupenelitiantelahdilakukandengantujuanmengetahuiPengaruhcampurandaunkesambidan tongkoljagungterhadapkualitasbiopelet.Rancanganpercobaanyangdigunakandalampenelitianini adalahRancanganAcakLengkap.Perlakuanyangdiujiadalahkombinasidaunkesambidantongkol jagungsebagaibahanbakubiopeletantaralain:A.(Campurandaunkesambi80%+ 20% tongkol jagung)B.(Campurandaunkesambi60%+40%tongkoljagung)C.(Campurandaunkesambi40%+ 60%)D(Campurandaunkesambi20%+80%).Pembuatanbiopeletdiawalidenganpengecilan ukuran,pengayakandilakukanmenggunakandenganalatpengayakdenganukuran30mesh.Pencetakan dilakukanmenggunakanpipadiameter1mmpanjang 9mmdanpengeringanbiopeletdikeringkan dibawahsinarmatahariselama±6jam.Variabelpengamatanmeliputikadarair,beratjenis,nilaikalor. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa perlakuanpencampurandaunkesambidantongkoljagung memberikanpengaruhpadapengamatanberatjenisdannilaikalordenganperlakuanA(Campuran daunkesambi80%+tongkoljagung20%) adalahperlakuanterbaikdanmenghasilkannilaikalor tertinngi29,83J,beratjenistertinggi0,052gr/cm3dankadarairterendah22,83%biopeletcampuran daunkesambidantongkoljagungterbai
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ranting kesambi (Schleichera oleosa) merupakan bagian dari tumbuhan kesambi yang banyak ditemukan di Indonesia. Ranting kesambi memiliki kandungan selulosa dan serat yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan briket. Namun, untuk meningkatkan kualitas briket yang dihasilkan, perekat atau binder sangat diperlukan. Nilai rata-rata yaitu : Kadar air 10 mesh yaitu 1,57%, 15 mesh yaitu 1,84% dan 20 mesh 2,85%, dengan nilai rata-rata tetinggi yaitu pada perlakuan 20 mesh yaitu 2,85% dan terendah yaitu 1,57% pada perlakuan 10 mesh. Kadar zat mudah menguap yaitu 10 mesh yaitu: 5,19%,15 mesh yaitu 9,46, dan 20 mesh yaitu 9,80. Maka nilai rata rata kadar zat mudah menguap yang tertinggi yaitu 20 mesh dan nilai terendah terdapat pada perlakuan 10 mesh. Kadar abu yaitu : 10 mesh yaitu: 8,74, 15 mesh yaitu: 9,14 dan 20 mesh yaitu: 9,20. Maka nilai rata rata kadar abu yang tertinggi yaitu 20 mesh dan nilai rata rata yang terendah terdapat pada perlakuan 10 mesh.. Lama Pembakaran briket yaitu : 10 mesh 34 menit, 15 mesh 37 menit dan 20 mesh 40 menit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ranting kesambi (Schleichera oleosa) memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan briket. Namun, dalam proses pembuatan briket, ukuran serbuk ranting kesambi juga memegang peran penting dalam menentukan kualitas briket yang dihasilkan. kadar air briket 20 mesh diperoleh 2,83% lebih tinggi dibandingkan dengan briket 40 mesh 1,84%. Rata-rata kadar air briket paling tinggi pada briket 20 mesh sebesar 5,03%.kadar abu briket 40 mesh diperoleh 9,81% lebih tinggi dibandingkan briket 20 mesh 9,60%. Rata-rata kadar abu briket terendah pada penilitian ini sebesar 7,94% pada jenis briket 60 mesh.kadar zat menguap yang tertinggi adalah jenis briket 20 mesh memiliki kadar zat menguap sebesar 9,70%. Sedangkan briket 40 mesh 9,47% dan zat menguap terendah adalah jenis briket 60 mesh 9,22%. kadar karbon terikat pada perlakuan 20 mesh yaitu 95.00%. Sedangkan perlakuan 40 mesh 93,00%. Dan kadar karbon terikat terendah pada perlakuan 60 mesh 83,67%. Hasil uji duncan menunjukan bawah lama pembakaran briket 20 mesh berbeda nyata dengan 40 mesh dan 60 mesh. Lama pembakaran briket 40 mesh berbeda nyata dengan 20 mesh dan 60 mesh. Lama pembakaran briket 60 mesh berbeda nyata dengan 20 dan 40 mesh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun Kesambi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PENGARUH VARIASI GULA TERHADAP KUALITAS CUKA DAGING BUAH KESAMBI (Schleichera oleosa L.) Nalle, O. R*) Rupidara, A. D. N**) Ledo, M. E. S**) Kesambi merupakan pohon local di Nusa Tenggara Timur, kesambi umumnya digunakan sebagai sumber kehidupan dan pendapatan bagi masyarakat, daging buah kesambi memiliki ciri rasa asam agak manis yang berpeluang untuk diproduksi menjadi cuka. Cuka merupakan produk pangan penyedap rasa yang dibuat melalui proses fermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi gula terhadap kualitas cuka daging buah kesambi. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Analisis data menggunakan one way Anova. Formulasi perlakuan yang digunakan P1 (100 ml ekstrak kesambi ditambah dengan 10% gula), P2 (100 ml ekstrak kesambi ditambah dengan 15% gula) dan P3 (100 ml ekstrak kesambi ditambah dengan 20% gula), P4 (100 ml ekstrak kesambi ditambah dengan 25% gula). Hasil penelitian terbukti daging buah kesambi dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan cuka. Berdasarkan analisis one way anova dan uji lanjut DMRT kadar alkohol menunjukkan P1 (13,00%), P2 (18,00%), P3 (21,00%), P4 (23,25%), dan kadar asam asetat menunjukan P1 (8,37%), P2 (16,55%), P3 (17,45%), P4 (23,8%). Menurut SNI mutu cuka makan yaitu kadar alkohol berkisar 11%-13%, dan kadar asam asetat berkisar 4%-12,5%. Berdasarkan hasil penelitian perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan P2 (variasi gula (10%), dengan kadar alkohol 13%, dan kadar asam aetat 8,7%. Kata kunci : Cuka, Daging Buah Kesambi, fermentasi, Kadar Alkohol, Kadar Asam Asatat. Keterangan : *) Penulis **) Pembimbing ABSTRACT THE EFFECT OF SUGAR VARIATIONS ON THE QUALITY OF VINEGAR THE FLESH OF KESAMBI (Schleichera oleosa L.) Nalle, O. R.*) Rupidara, A. D. N.**) Ledo, M. E. S**) Kesambi is a local tree in East Nusa Tenggara, kesambi is generally used as a source of life and income for the community, the flesh of the kesambi fruit has a slightly sweet sour taste that has the opportunity to be produced into vinegar. Vinegar is a flavoring food product made through a fermentation process. The purpose of this study was to determine the effect of sugar variations on the quality of kesambi fruit vinegar. This research method used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Data analysis using one way Anova. The treatment formulations used were P1 (100 ml of kesambi extract added with 10% sugar), P2 (100 ml of kesambi extract added with 15% sugar) and P3 (100 ml of kesambi extract added with 20% sugar), P4 (100 ml of kesambi extract added with 25% sugar). The results of the study proved that the pulp of kesambi fruit can be used as a raw material for making vinegar. Based on one way ANOVA analysis and further DMRT test, alcohol content showed P1 (13.00%), P2 (18.00%), P3 (21.00%), P4 (23.25%), and acetic acid levels showed P1 (8.37%), P2 (16.55%), P3 (17.45%), P4 (23.8%). According to SNI, the quality of vinegar has an alcohol content of 11%-13%, and an acetic acid content of 4%-12.5%. Based on the results of the study, the best treatment was P2 (sugar variation (10%), with 13% alcohol content, and 8.7% acetic acid content. Key words : Vinegar, Kesambi Flesh, fermentation, alcohol content, acetic acid content. Description: *) Researcher *) Adviser
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengaruh Pematahan Dormansi Terhadap Pertumbuhan Benih Kesambi (Schleichera oleosa). Tualaka, O R.) * Solle, H. R. L.) ** Hendrik, A. Ch.)** ABSTRAK Kesambi (Schleichera oleosa) adalah salah satu tanaman dari famili Sapindaceae yang tumbuh dan tersebar di wilayah NTT. Umumnya mempunyai ketinggian ± 25m, batang tegak, bulat, berkayu, daunnya tunggal, bunga kesambi adalah bunga majemuk, buah dan biji berbentuk bulat, biji dikelilingi oleh kulit berwarna cokelat kehitaman, mudah pecah dan daging bijinya mengandung 70% minyak. Kesambi memiliki struktur biji yang keras menyebabkan biji mengalami dormansi sehingga menghambat perkecambahan. Pemecahan dormansi kulit biji yang tebal dapat dilakukan dengan skarifikasi, seperti pengamplasan, pelukaan penusukan. Perumusan masalah dalam penelitian ini yakni apakah cara skarifikasi yang digunakan berpengaruh terhadap pertumbuhan benih kesambi dan skarifikasi manakah yang paling berpengaruh dalam mematahkan dormansi benih kesambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara skarifikasi dan pengaruh pematahan dormansi terhadap pertumbuhan benih kesambi. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah daya kecambah, laju perkecambahan, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan 6 ulangan dan terdapat perbedaan sehingga telah diuji lanjut menggunakan uji Duncan (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan perendaman benih dengan air dingin selama 24 jam merupakan perlakuan terbaik dengan rata-rata daya kecambah 100%, laju kecambah 8 hari, tinggi tanaman 196 cm dan jumlah daun 12 helai. Sehingga disimpulkan bahwa perlakuan pematahan dormansi dengan perendaman selama 24 jam berpengaruh nyata pada setiap parameter pengamatan. Kata Kunci: Kesambi, Dormansi, Skarifikasi. Keterangan : * = Penulis ** =Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PENGARUH CAMPURAN SEKAM PADI DAN DAUN KESAMBI TERHADAP KUALITAS BIOBRIKET Bunga O * Bunga F. J. H ** Makaborang M *** Suatu penelititan telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh campuran sekam padi dan daun kesambi terhadap kualitas biobriket dan perlakuan campuran sekam padi dan daun kesambi terhadap kualitas biobriket terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian dianalisis dengan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan yang diuji adalah kombinasi sekam padi dan daun kesambi sebagai bahan baku biobriket sebagai berikut A. (sekam padi 90, 70, 50, 30, 10% + daun kesambi 10, 30,50,70, 90%). Variabel pengamatan meliputi kadar air, kerapatan, pengembangan diameter dan nilai kalor biobriket. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pencampuran sekam padi dan daun kesambi memberikan pengaruh pada pengamatan kadar air, kerapatan, pengembangan diameter dan nilai kalor bahan dan perlakuan terbaik D. (sekam padi 30% + daun kesambi 70% adalah perlakuan terbaik yang menghasilkan kadar air terendah 11,4 %, pengembangan diameter terendah 5.03 %, kerapatan tertinggi 2,223.67 kg/m3, dan nilai kalor tertinggi 1400.70 j.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN PERE KAT TEPUNG KANJI TERHADAP KUALITAS BRIKET DAUN KESAMBI (Schleichera Oleosa Lour) Oematan F * Makaborang M ** Dethan J. J. S. *** Program Studi Mekanisasi Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Pengaruh perekat tepung kanji menghasilkan kualitas terbaik untuk membuat briket dari daun kesambi ingin mengurangi ekonomis bagi masyarakat. Daun kesambi yang masih muda dapat dimakan sebagai sayur asam. Bahkan dapat dimakan mentah sebagai lalapan, walaupun rasanya agak sepat. Di Sulawesi Selatan, daun kering dari pohon kesambi dapat dibakar dan asapnya digunakan untuk pengobatan (pengasapan) penyakit kudis dan gatal-gatal (Bachli, 2007). Buah yang masih hijau dapat dimakan dan diolah sebagai asinan. Penelitian dilaksanakan pada bulan agustus - september 2021 di Laboratorium Mekanisasi Pertanian, Program Studi Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Kristen Artha Wacana. Bahan utama yaitu serbuk daun kesambi kering. Perlakuan yang diuji adalah ukuran partikel , yaitu 3 variasi ayakan 50 mesh, hand press dan ring die briket mill, jangka sorong, timbangan mettler toledo, bomb calorimeter, dan plastik sampel. Tahapan yaitu : (1) Persiapan bahan, (2) Pengecilan ukuran atau penepungan, (3) Pengayakan (4) Pencampuran serbuk daun kesambi, dengan perekat tepung kanji, dan air. (5) Pencetakan briket, (6) Pengeringan briket, dan (7) Analisis kualitas briket. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa : (1) Sumber energy terbarukan yaitu Briket yang dapat di buat dari partikel-partikel limbah daun kesambi yang menghasilkan kualitas terbaik untuk mempermudah masyarakat dalam ekonomis., (2) Tepung kanji yaitu untuk membuat perekat yang memiliki kualitas yang baik. (3) Briket limbah dari partikel daun kesambi untuk masing – masing perekat, persentase perekat tepung kanji 25gr, memiliki kualitas lebih baik dari segi kadar air, dan nilai kalorinya dibandingkan dengan persentase perekat 25gr, dan 35gr. Dan (4) karakteristik briket limbah organik daun kesambi yang terbaik adalah sebagai berikut : a. Kadar air sebesar 36.00% dan nilai kalori sebesar 1340.72 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PENGARUH PENAMBAHAN PEREKAT PADA BIOPELET CAMPURAN TONGKOL JAGUNG DAN DAUN KESAMBI Riga N. B* Makaborang M ** Dethan J. J. S*** Program Studi Mekanisasi Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Bahan sumber biomassa limbah pertanian yang ketersediaanya melimpah adalah tongkol jagung dan daun kesambi. Daun kesambi berkhasiat sebagai obat eksem, obat kudis, obat koreng dan obat radang telinga. Namun dalam keadaan modern sekarang ini biomassa dari tongkol jagung dan daun kesambi yang dicampur dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan rumah tangga seperti memasak, memanggang, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Dari hasil penelitian perlakuan penambahan perekat berpengaruh nyata terhadap kadar air, pengembangan diameter, kerapatan, dan kalori biopelet pada tingkat kepercayaan P>0.05. Hasil uji jarak berganda Duncan menunjukkan bahwa perlakuan A (Perekat 5%) menghasilkan kadar air tertinggi 14.38 %, perlakuan A (Perekat 5%) yang menghasilkan pengembangan diameter 14.87 %, perlakuan A (Perekat 5%) yang menghasilkan kerapatan 647.52 kg/m3, Perlakuan A (Perekat 5%) yang menghasilkan kalori 1294.69 j.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Tiumlafu J. I * Bunga F. J. H ** Dethan J. J. S *** Pengaruh variasi campuran tongkol jagung dan daun kesambi terhadap kualitas briket. Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi campuran tongkol jagung dan daun kesambi terhadap kualitas briket dan perlakuan campuran tongkol jagung dan daun kesambi terhadap kualitas briket terbaik.Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap. Data hasil penelitian dianalisis dengan Analisis varians dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan yang diuji. Perlakuan yang diuji adalah kombinasi tongkol jagung dan daun kesambi sebagai bahan baku briket sebagai berikut:A. (Campuran Tongkol 80% + Daun kesambi 20%), B. (Campuran Tongkol 70% + Daun kesambi 30%)C. (Campuran Tongkol 60% + Daun kesambi 40%), dan D. (Campuran Tongkol 50% + Daun kesambi 50%). Pembuatan briket tongkol diawali dengan pengecilan ukuran, pengayakan dilakukan menggunakan alat pengayak dengan ukuran saringan 40 mesh, pencampuran tongkol jagung dengan daun kesambi dan bahan perekat. pencetakan briket. Pencetakan dilakukan menggunakan diameter 48.22 mm panjang 60 mm dan pengeringan briket. dikeringkan di bawah sinar matahari selama ± 4 jam. Pengamatan dengan mengukur kadar air, berat, suhu.Variabel pengamatan meliputi kadar air, kerapatan, pengembangan diameter dan nilai kalor briket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pencampuran tongkol jagung dan daun kesambi memberikan pengaruh pada pengamatan kerapatan dan nilai kalor bahan dan perlakuan D (Campuran tongkol jagung 50% + Daun kesambi 50%) adalah perlakuan terbaik yang menghasilkan nilai kalor tertinggi 1419.74J, kerapatan tertinggi 460.03 kg/m3, pengembangan diameter terendah 6.96 % dan kadar air terendah 11.91%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengasapan merupakan salah satu cara untuk mengawetkan ikan agar tidak terjadi pembusukan dan menjaga nilai gizinya. Pengasapan juga berfungsi untuk menambah citarasa dan warna yang spesifik pada makanan serta bertindak sebagai antibakteri dan antioksidan. Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka penulis merumuskan masalah tentang karakteristik pengasapan panas tuna se’i yang diproses menggunakan daun kesambi dan suhu yang berbeda di Nusa Tenggara Timur.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komposisi kimiawi (kadar air, pH dan total fenol) pada produk tuna se’i yang dihasilkan menggunakan metode pengasapan dengan daun kesambi dan tanpa daun kesambi dengan tahap pertama selama satu jam, dan tahap kedua selama enam jam. Menganalisis nilai organoleptik pada produk tuna se’I yang dihasilkan menggunakan metode pengasapan dengan daun kesambi dan tanpa daun kesambi tahap penelitian yaitu pertama pengasapan dilakukan selamasatu jam, dan tahap kedua selama enam jam. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen menggunakan percobaan factorial dengan rancangan dasar adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Gaspersz (1991). Kelompok percobaan yang dilakukan dengan taraf 3x2 yang diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 18 unit percobaan. Adapun perlakuan yang dicobakan adalah suhu pengasapan yang berbeda yaitu: Faktor A SuhuPengasapan dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari:a1 = 60-65oC, a2 = 65-70oC, a3 = 70-75oC. Faktor B Perlakuan penggunaan daun kesambi dengan 2 taraf perlakuan terdiri dari:b1 = Dengan Daun Kesambi, b2 = TanpaDaunKesambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tuna se’I yang diproses dengan daun kesambi 50,52 % sedangakan tanpa daun kesambi 30,53 %. Nilai pH dengan daun kesambi 6,9 sedangkan tanpa daun kesambi 6,13. Total fenol berkisar antara743,8 ml/g sampai 605,34 ml/g. Nilai organoleptik dengan daun kesambi pada parameter Kenampakan 7,66 (sangat suka) tanpa daun kesambi parameter kenampakan 7,56 (suka) pada parameter aroma dengan daun kesambi 8,06 (sangat suka) tanpa daun kesambi 7,63 (sangat suka) parameter tekstur dengan daun kesambi8,06 (sangat suka) tanpa daun kesambi 7,63 (sangat suka) dan parameter rasa dengan daun kesambi 7,96 (sangat suka) sedangkan tanpa daun kesambi 7,7 (suka).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tuna se’i adalah salah satu produk hasil perikanan yang diolah mengunakan metode pengasapan tradisional mengunakan tempurung kelapa sebagai bahan utama penghasil asap dan daun kesambi sebagai penutup saat proses pengasapan. Ciri khas produk tuna se’i yang membedakan dengan produk pengasapan yang lain yaitu bentuk potongan daging yang memanjang dan ciri khas organoleptik yang dipengaruhi oleh daun kesambi. Produk tuna se’i yang di olah dengan metode pengasapan tradisional sering menghasilkan kualitas produk yang berfariasi disebabkan karena belum adanya standar pengolahan untuk menghasilkan produk yang kualitas. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini yaitu memodifikasi suhu pengasapan yang ideal untuk menghasilkan prodak yang dapat diterima oleh konsumen baik secara kimiawi maupun organoleptik. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan (Maret–April 2020) bertempat di Unit Pengolahan Ikan Batu Kapala (UPI) di Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak Kota Kupang sebagai tempat pengasapan tuna se’i dan uji organoleptik (warna, aroma, rasa dan tekstur) dilakukan di Laboratorium Eksata Universitas Kristen Artha Wacana Kupang sedangkan uji total fenol di Laboratorium Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor dan pengujian kadar air pH di PT. Saraswanti Indo Genetech Bogor. Hasil penelitian tuna se’i asap yang diproses dengan suhu yang berbeda menghasilkan rata-rata kadar air produk tuna se’i berkisar antara 25,23% sampai 61,79%, rata-rata nilai pH berkisar antara 6,1-7,3, total fenol berkisar antara52,20-951,43 mg/g dan nilai organoleptik berkisar pada taraf aga suka sampe suka. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan untuk menghasilkan produk tuna se’i dengan niai rerata kadar air produk tuna se’i berkisar antara 25,23% sampai 61,79%, rata-rata nilai pH berkisar antara 6,1-7,3, total fenol berkisar antara522,20-951,43 mg/g. Nilai organoleptik dengan daun kesambi pada parameter warna 7,5 (suka) dan parameter rasa 7,4 (suka). Sementara pengasapan tanpa daun kesambi nilai organoleptik tekstur mengalami penurunan dengan taraf 6,3 (aga suka). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disarankan untuk menghasilkan produk tuna se’i dengan nilai organoleptik yang paling tinggi yaitu tuna se’i di proses pada suhu pengasapan 70-750C mengunakan penutup daun kesambi yang diasa selama 6 jam.