Pengaruh Variasi Arang Sekam Daun Kesambi
Daun Kesambi
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Daun Kesambi
ABSTRAK PENGARUH CAMPURAN SEKAM PADI DAN DAUN KESAMBI TERHADAP KUALITAS BIOBRIKET Bunga O * Bunga F. J. H ** Makaborang M *** Suatu penelititan telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh campuran sekam padi dan daun kesambi terhadap kualitas biobriket dan perlakuan campuran sekam padi dan daun kesambi terhadap kualitas biobriket terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian dianalisis dengan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan yang diuji adalah kombinasi sekam padi dan daun kesambi sebagai bahan baku biobriket sebagai berikut A. (sekam padi 90, 70, 50, 30, 10% + daun kesambi 10, 30,50,70, 90%). Variabel pengamatan meliputi kadar air, kerapatan, pengembangan diameter dan nilai kalor biobriket. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pencampuran sekam padi dan daun kesambi memberikan pengaruh pada pengamatan kadar air, kerapatan, pengembangan diameter dan nilai kalor bahan dan perlakuan terbaik D. (sekam padi 30% + daun kesambi 70% adalah perlakuan terbaik yang menghasilkan kadar air terendah 11,4 %, pengembangan diameter terendah 5.03 %, kerapatan tertinggi 2,223.67 kg/m3, dan nilai kalor tertinggi 1400.70 j.
ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN PERE KAT TEPUNG KANJI TERHADAP KUALITAS BRIKET DAUN KESAMBI (Schleichera Oleosa Lour) Oematan F * Makaborang M ** Dethan J. J. S. *** Program Studi Mekanisasi Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Pengaruh perekat tepung kanji menghasilkan kualitas terbaik untuk membuat briket dari daun kesambi ingin mengurangi ekonomis bagi masyarakat. Daun kesambi yang masih muda dapat dimakan sebagai sayur asam. Bahkan dapat dimakan mentah sebagai lalapan, walaupun rasanya agak sepat. Di Sulawesi Selatan, daun kering dari pohon kesambi dapat dibakar dan asapnya digunakan untuk pengobatan (pengasapan) penyakit kudis dan gatal-gatal (Bachli, 2007). Buah yang masih hijau dapat dimakan dan diolah sebagai asinan. Penelitian dilaksanakan pada bulan agustus - september 2021 di Laboratorium Mekanisasi Pertanian, Program Studi Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Kristen Artha Wacana. Bahan utama yaitu serbuk daun kesambi kering. Perlakuan yang diuji adalah ukuran partikel , yaitu 3 variasi ayakan 50 mesh, hand press dan ring die briket mill, jangka sorong, timbangan mettler toledo, bomb calorimeter, dan plastik sampel. Tahapan yaitu : (1) Persiapan bahan, (2) Pengecilan ukuran atau penepungan, (3) Pengayakan (4) Pencampuran serbuk daun kesambi, dengan perekat tepung kanji, dan air. (5) Pencetakan briket, (6) Pengeringan briket, dan (7) Analisis kualitas briket. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa : (1) Sumber energy terbarukan yaitu Briket yang dapat di buat dari partikel-partikel limbah daun kesambi yang menghasilkan kualitas terbaik untuk mempermudah masyarakat dalam ekonomis., (2) Tepung kanji yaitu untuk membuat perekat yang memiliki kualitas yang baik. (3) Briket limbah dari partikel daun kesambi untuk masing – masing perekat, persentase perekat tepung kanji 25gr, memiliki kualitas lebih baik dari segi kadar air, dan nilai kalorinya dibandingkan dengan persentase perekat 25gr, dan 35gr. Dan (4) karakteristik briket limbah organik daun kesambi yang terbaik adalah sebagai berikut : a. Kadar air sebesar 36.00% dan nilai kalori sebesar 1340.72 %.
ABSTRAK PENGARUH PENAMBAHAN PEREKAT PADA BIOPELET CAMPURAN TONGKOL JAGUNG DAN DAUN KESAMBI Riga N. B* Makaborang M ** Dethan J. J. S*** Program Studi Mekanisasi Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Bahan sumber biomassa limbah pertanian yang ketersediaanya melimpah adalah tongkol jagung dan daun kesambi. Daun kesambi berkhasiat sebagai obat eksem, obat kudis, obat koreng dan obat radang telinga. Namun dalam keadaan modern sekarang ini biomassa dari tongkol jagung dan daun kesambi yang dicampur dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan rumah tangga seperti memasak, memanggang, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Dari hasil penelitian perlakuan penambahan perekat berpengaruh nyata terhadap kadar air, pengembangan diameter, kerapatan, dan kalori biopelet pada tingkat kepercayaan P>0.05. Hasil uji jarak berganda Duncan menunjukkan bahwa perlakuan A (Perekat 5%) menghasilkan kadar air tertinggi 14.38 %, perlakuan A (Perekat 5%) yang menghasilkan pengembangan diameter 14.87 %, perlakuan A (Perekat 5%) yang menghasilkan kerapatan 647.52 kg/m3, Perlakuan A (Perekat 5%) yang menghasilkan kalori 1294.69 j.
ABSTRAK Tiumlafu J. I * Bunga F. J. H ** Dethan J. J. S *** Pengaruh variasi campuran tongkol jagung dan daun kesambi terhadap kualitas briket. Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi campuran tongkol jagung dan daun kesambi terhadap kualitas briket dan perlakuan campuran tongkol jagung dan daun kesambi terhadap kualitas briket terbaik.Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap. Data hasil penelitian dianalisis dengan Analisis varians dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan yang diuji. Perlakuan yang diuji adalah kombinasi tongkol jagung dan daun kesambi sebagai bahan baku briket sebagai berikut:A. (Campuran Tongkol 80% + Daun kesambi 20%), B. (Campuran Tongkol 70% + Daun kesambi 30%)C. (Campuran Tongkol 60% + Daun kesambi 40%), dan D. (Campuran Tongkol 50% + Daun kesambi 50%). Pembuatan briket tongkol diawali dengan pengecilan ukuran, pengayakan dilakukan menggunakan alat pengayak dengan ukuran saringan 40 mesh, pencampuran tongkol jagung dengan daun kesambi dan bahan perekat. pencetakan briket. Pencetakan dilakukan menggunakan diameter 48.22 mm panjang 60 mm dan pengeringan briket. dikeringkan di bawah sinar matahari selama ± 4 jam. Pengamatan dengan mengukur kadar air, berat, suhu.Variabel pengamatan meliputi kadar air, kerapatan, pengembangan diameter dan nilai kalor briket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pencampuran tongkol jagung dan daun kesambi memberikan pengaruh pada pengamatan kerapatan dan nilai kalor bahan dan perlakuan D (Campuran tongkol jagung 50% + Daun kesambi 50%) adalah perlakuan terbaik yang menghasilkan nilai kalor tertinggi 1419.74J, kerapatan tertinggi 460.03 kg/m3, pengembangan diameter terendah 6.96 % dan kadar air terendah 11.91%.
Pengasapan merupakan salah satu cara untuk mengawetkan ikan agar tidak terjadi pembusukan dan menjaga nilai gizinya. Pengasapan juga berfungsi untuk menambah citarasa dan warna yang spesifik pada makanan serta bertindak sebagai antibakteri dan antioksidan. Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka penulis merumuskan masalah tentang karakteristik pengasapan panas tuna se’i yang diproses menggunakan daun kesambi dan suhu yang berbeda di Nusa Tenggara Timur.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komposisi kimiawi (kadar air, pH dan total fenol) pada produk tuna se’i yang dihasilkan menggunakan metode pengasapan dengan daun kesambi dan tanpa daun kesambi dengan tahap pertama selama satu jam, dan tahap kedua selama enam jam. Menganalisis nilai organoleptik pada produk tuna se’I yang dihasilkan menggunakan metode pengasapan dengan daun kesambi dan tanpa daun kesambi tahap penelitian yaitu pertama pengasapan dilakukan selamasatu jam, dan tahap kedua selama enam jam. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen menggunakan percobaan factorial dengan rancangan dasar adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Gaspersz (1991). Kelompok percobaan yang dilakukan dengan taraf 3x2 yang diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 18 unit percobaan. Adapun perlakuan yang dicobakan adalah suhu pengasapan yang berbeda yaitu: Faktor A SuhuPengasapan dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari:a1 = 60-65oC, a2 = 65-70oC, a3 = 70-75oC. Faktor B Perlakuan penggunaan daun kesambi dengan 2 taraf perlakuan terdiri dari:b1 = Dengan Daun Kesambi, b2 = TanpaDaunKesambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tuna se’I yang diproses dengan daun kesambi 50,52 % sedangakan tanpa daun kesambi 30,53 %. Nilai pH dengan daun kesambi 6,9 sedangkan tanpa daun kesambi 6,13. Total fenol berkisar antara743,8 ml/g sampai 605,34 ml/g. Nilai organoleptik dengan daun kesambi pada parameter Kenampakan 7,66 (sangat suka) tanpa daun kesambi parameter kenampakan 7,56 (suka) pada parameter aroma dengan daun kesambi 8,06 (sangat suka) tanpa daun kesambi 7,63 (sangat suka) parameter tekstur dengan daun kesambi8,06 (sangat suka) tanpa daun kesambi 7,63 (sangat suka) dan parameter rasa dengan daun kesambi 7,96 (sangat suka) sedangkan tanpa daun kesambi 7,7 (suka).
Tuna se’i adalah salah satu produk hasil perikanan yang diolah mengunakan metode pengasapan tradisional mengunakan tempurung kelapa sebagai bahan utama penghasil asap dan daun kesambi sebagai penutup saat proses pengasapan. Ciri khas produk tuna se’i yang membedakan dengan produk pengasapan yang lain yaitu bentuk potongan daging yang memanjang dan ciri khas organoleptik yang dipengaruhi oleh daun kesambi. Produk tuna se’i yang di olah dengan metode pengasapan tradisional sering menghasilkan kualitas produk yang berfariasi disebabkan karena belum adanya standar pengolahan untuk menghasilkan produk yang kualitas. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini yaitu memodifikasi suhu pengasapan yang ideal untuk menghasilkan prodak yang dapat diterima oleh konsumen baik secara kimiawi maupun organoleptik. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan (Maret–April 2020) bertempat di Unit Pengolahan Ikan Batu Kapala (UPI) di Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak Kota Kupang sebagai tempat pengasapan tuna se’i dan uji organoleptik (warna, aroma, rasa dan tekstur) dilakukan di Laboratorium Eksata Universitas Kristen Artha Wacana Kupang sedangkan uji total fenol di Laboratorium Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor dan pengujian kadar air pH di PT. Saraswanti Indo Genetech Bogor. Hasil penelitian tuna se’i asap yang diproses dengan suhu yang berbeda menghasilkan rata-rata kadar air produk tuna se’i berkisar antara 25,23% sampai 61,79%, rata-rata nilai pH berkisar antara 6,1-7,3, total fenol berkisar antara52,20-951,43 mg/g dan nilai organoleptik berkisar pada taraf aga suka sampe suka. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan untuk menghasilkan produk tuna se’i dengan niai rerata kadar air produk tuna se’i berkisar antara 25,23% sampai 61,79%, rata-rata nilai pH berkisar antara 6,1-7,3, total fenol berkisar antara522,20-951,43 mg/g. Nilai organoleptik dengan daun kesambi pada parameter warna 7,5 (suka) dan parameter rasa 7,4 (suka). Sementara pengasapan tanpa daun kesambi nilai organoleptik tekstur mengalami penurunan dengan taraf 6,3 (aga suka). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disarankan untuk menghasilkan produk tuna se’i dengan nilai organoleptik yang paling tinggi yaitu tuna se’i di proses pada suhu pengasapan 70-750C mengunakan penutup daun kesambi yang diasa selama 6 jam.