ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Masalah perceraian dan perpisahan dalam rumah tangga Kristen merupakan realitas pastoral yang semakin kompleks, termasuk fenomena suami yang ditinggalkan oleh istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendampingan pastoral gereja bagi suami yang ditinggalkan oleh istri di Jemaat GMIT Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya (RBD), serta meninjau secara teologis praktik pendampingan pastoral yang telah dilakukan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan pendeta dan rekan majelis jemaat, suami yang ditinggalkan istri, keluarga, serta unsur adat dan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, ekonomi, komunikasi, serta konstruksi maskulinitas patriarkal turut memengaruhi terjadinya perpisahan dan respons suami terhadap pendampingan pastoral gereja. Praktik pendampingan pastoral yang dilakukan gereja selama ini cenderung berfokus pada upaya rekonsiliasi dan penyatuan kembali secara fisik, namun belum sepenuhnya menerapkan fungsi-fungsi pendampingan pastoral secara holistik. Melalui kajian teologi pastoral dengan menggunakan fungsi-fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan yang menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara kehidupan suami yang ditinggalkan istri secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi teologis dan praktis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang lebih kontekstual, inklusif, dan transformatif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas pelayanan pendampingan iman bagi generasi Alfa di Jemaat GMIT Efata Belo yang menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaan program-program pelayanannya. Program pelayanan berbasis anak dan remaja yang dimaksudkan untuk membentuk iman generasi muda dalam praktiknya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan generasi Alfa yang hidup dalam dunia digital dengan kreativitas dan pola relasi yang khas. Tantangan ini semakin diperkuat oleh minimnya pemahaman dari generasi sebelumnya dan pengajar mengenai konteks hidup generasi Alfa, yang turut membentuk karakteristik baru serta mempengaruhi proses perkembangan iman mereka. Situasi ini memunculkan persoalan teologis mengenai sejauh mana pengajar yang bertanggung jawab mendampingi anak-anak generasi Alfa di GMIT Efata Belo bersedia memperbarui diri di tengah pengaruh era digital, serta bagaimana gereja dalam lingkup PART menjalankan peran dan tanggung jawab Amanat Agung bagi generasi yang berbeda dalam konteks zaman yang semakin maju sebagai tubuh Kristus yang saling membangun iman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) dan penelitian lapangan. Metode ini dipilih guna memberi perhatian pada pengalaman hidup serta pemahaman subjek penelitian terhadap realitas pelayanan pendampingan iman generasi Alfa di GMIT Efata Belo. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen gerejawi atau literatur yang relevan. Penulisan penelitian bersifat deskriptif, analisis, dan reflektif dengan memanfaatkan teori perkembangan iman James Fowler sebagai kerangka analisis. Dengan lokus penelitian ini adalah Jemaat GMIT Efata Belo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan dunia digital dalam pendampingan iman anak belum dilakukan secara optimal dan kontekstual, serta masih terdapat keterbatasan sikap keterbukaan dan penerimaan lintas generasi. Oleh karena itu, gereja dalam hal ini para pengajar dipanggil untuk menghadirkan pendampingan iman yang relasional, kolaboratif, dan kontekstual, dengan memandang dunia digital bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai komunitas baru bagi perkembangan iman generasi Alfa
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berjudul GEREJA DAN PERSEKUTUAN JEMAAT “Suatu Tinjauan Pastoral terhadap Peran Gereja Laharoi Danalon Menyikapi Persoalan Perpindahan Jemaat dan Implikasinya bagi Persekutuan Mata Jemaat Laharoi Danalon Klasis Rote Timur.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan perpindahan jemaat yang tidak hanya berdampak pada penurunan keanggotaan, tetapi juga merusak keutuhan persekutuan dan menunjukkan lemahnya peran pastoral gereja. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran gereja dalam menyikapi persoalan perpindahan jemaat serta implikasinya bagi kehidupan persekutuan jemaat. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan teologi pastoral dari Howard Clinebell yang menekankan lima fungsi pelayanan pastoral: menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpindahan jemaat di Mata Jemaat Laharoi Danalon disebabkan oleh konflik antara jemaat dan majelis yang tidak ditangani secara pastoral. Gereja tidak hadir secara aktif dalam proses mediasi maupun pemulihan, sehingga relasi jemaat menjadi retak dan persekutuan terganggu. Fungsi-fungsi pastoral belum dijalankan secara maksimal, baik oleh pendeta maupun majelis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pentingnya gereja membangun pelayanan pastoral yang kontekstual dan transformatif. Gereja harus hadir sebagai komunitas yang merangkul dan menyembuhkan, serta aktif menjaga keutuhan tubuh Kristus di tengah konflik dan perubahan zaman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kasus kekerasan seksual semakin meningkat setiap tahunnya. Negara Indonesia dijuluki sebagai negara darurat kekerasan seksual karena krisisnya angka kekerasan seksual yang terus meningkat, salah satu bentuk kekerasan seksual adalah pemerkosaan. Kasus pemerkosaan kian memprihatinkan karena semakin meningkat setiap tahun. Kasus ini juga terjadi dalam jemaat GMIT Elim Kie. Setiap tahunnya akan ada kasus pemerkosaan dan yang menjadi korban adalah warga gereja. Oleh karena itu dalam tulisan ini menganalisa peran pendampingan gereja dalam mendampingi dan memberi dukungan emosional dan spiritual serta keadilan bagikorban pemerkosaan. Dengan menggunakan metode kualitatif, data diperoleh melalui wawancara, dengan gereja dan korban. Melalui penelitian ini, penulis menemukan bahwa gereja belum memberanikan diri untuk mendampingi para korban pemerkosaan secara langsung karena dianggap sebagai hal yang sensitive dan pribadi. Gereja menyadari akan keberadaan para korban dan dampak yang dialami, namun belum mendampingi para korban. Pendampingan gereja adalah proses konseling pastoral yang harus gereja laksanakan dalam program pelayanan. Gereja harus memberanikan diri untuk mendampingi korban pemerkosaan dan berani untuk menyuarakan keadilan bagi perempuan dan anak-anak. Gereja adalah wujud kehadiran Allah dalam dunia dengan suatu tanggung jawab dan panggilan untuk bisa terlibat secara aktif dalam mendampingi, memulihkan dan mendukung mereka yang menjadi korban pemerkosaan. Melalui pendampingan pastoral yang efektif untuk membimbing, menyembuhkan, meneguhkan, membebaskan dan memulihkan, menunjukan bahwa gereja dapat menjadi ruang pemulihan bagi warga gereja terkhususnya bagi korban pemerkosaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Pendampingan Orang Tua Terhadap Anak Remaja Pengguna Media Sosial Di Jemaat
GMIT Kota Kupang Tahun 2020/2021
Dawa A (*) Manu L (**) Ledo
J
Pendampingan orang tua merupakan upaya untuk menemani, memberikan bantuan,
memberikan dorongan, motivasi, dukungan pengawasan untuk memenuhi kebutuhan
dan pemecahan masalah anak remaja dalam rangka mendukung optimalisasi
perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana
pendampingan orang tua terhadap anak remaja pengguna media sosial di Jemaat
GMIT Kota Kupang 2020/2021. Penelitian ini dilakukan 1 bulan (07 Januari - 07
Februari) 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sedangkan
pengumpulan data dengan wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari 5 orang tua anggota jemaat yang melakukan pendampingan
terhadap anak remaja pengguna media sosial khususnya (1) Ikut menyaksikan cerita
atau isi aplikasi yang dibaca remaja sebanyak 2 orang (2) Memberikan penjelasan
atau arah makna dari isi aplikasi yang dibaca remaja sebanyak 2 orang (3)Melarang
untuk tidak membuka isi aplikasi yang bersifat pornografi sebanyak 2 orang
(4)Melarang untuk tidak membaca atau mendengar khotbah yang berbau profokasi
sebanyak 2 orang. Penulis dapat menyimpulkan pendampingan orang tua terhadap
anak remaja pengguna media sosial adalah Orang tua berperan penting dalam
mendampingi anak remaja pada saat menggunakan media sosial karena masih sangat
muda, remaja mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi sehingga perlu mendampingi
remaja dalam penggunaan media sosial supaya tidak adanya dampak negatif media
sosial.
Kata Kunci: Pendampingan, Orang Tua, Remaja, Media Sosial, GMIT, Kota
Kupang