ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan teknologi digital membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan remaja, khususnya dalam proses pencarian identitas diri. Remaja hidup di tengah arus informasi yang cepat, budaya media sosial, dan tuntutan untuk membangun citra diri yang ideal, sehingga sering kali mengalami kebingungan identitas, tekanan psikologis, serta ketergantungan pada pengakuan eksternal. Kondisi ini juga dialami oleh remaja di Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana remaja mencari dan membentuk identitas diri di era digital, serta bagaimana gereja berperan dalam mendampingi proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika pencarian identitas diri remaja pada era digital dan merumuskan bagaimana remaja dapat memahami dan mencari identitas diri pada era digital saat ini dengan baik, penelitian ini juga ingin menegaskan peran gereja sebagai komunitas iman yang aman, menerima, dan mendampingi remaja dalam pergumulan hidup mereka, sehingga remaja dapat membangun identitas diri yang berakar pada iman Kristen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskpsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi. Kajian ini memanfaatkan teori perkembangan remaja, refleksi teologis berdasarkan Alkitab, serta pemikiran Andrew Root tentang pelayanan remaja yang berpusat pada relasi dan pengalaman hidup sebagai ruang perjumpaan dengan Allah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas diri remaja di era digital cenderung rapuh apabila dibangun di atas standar budaya digital seperti popularitas dan citra diri. Oleh karena itu, gereja memiliki peran penting untuk menghadirkan pendidikan agama kristen yang berpusat pada relasi, pendampingan yang setia, dan komunitas yang menerima remaja apa adanya. Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan, implikasi pendidikan agama Kristen ini menegaskan bahwa gereja perlu menjadi ruang aman yang menolong remaja memahami dan menemukan identitas diri mereka sebagai pribadi yang dikenal, dikasihi, dan dipanggil Allah di tengah tantangan era digital.
Kata Kunci: Remaja, Identitas diri, Era digital, Pelayanan Pastoral, GMIT Gunung Sinai Naikolan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas pelayanan pendampingan iman bagi generasi Alfa di Jemaat GMIT Efata Belo yang menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaan program-program pelayanannya. Program pelayanan berbasis anak dan remaja yang dimaksudkan untuk membentuk iman generasi muda dalam praktiknya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan generasi Alfa yang hidup dalam dunia digital dengan kreativitas dan pola relasi yang khas. Tantangan ini semakin diperkuat oleh minimnya pemahaman dari generasi sebelumnya dan pengajar mengenai konteks hidup generasi Alfa, yang turut membentuk karakteristik baru serta mempengaruhi proses perkembangan iman mereka. Situasi ini memunculkan persoalan teologis mengenai sejauh mana pengajar yang bertanggung jawab mendampingi anak-anak generasi Alfa di GMIT Efata Belo bersedia memperbarui diri di tengah pengaruh era digital, serta bagaimana gereja dalam lingkup PART menjalankan peran dan tanggung jawab Amanat Agung bagi generasi yang berbeda dalam konteks zaman yang semakin maju sebagai tubuh Kristus yang saling membangun iman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) dan penelitian lapangan. Metode ini dipilih guna memberi perhatian pada pengalaman hidup serta pemahaman subjek penelitian terhadap realitas pelayanan pendampingan iman generasi Alfa di GMIT Efata Belo. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen gerejawi atau literatur yang relevan. Penulisan penelitian bersifat deskriptif, analisis, dan reflektif dengan memanfaatkan teori perkembangan iman James Fowler sebagai kerangka analisis. Dengan lokus penelitian ini adalah Jemaat GMIT Efata Belo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan dunia digital dalam pendampingan iman anak belum dilakukan secara optimal dan kontekstual, serta masih terdapat keterbatasan sikap keterbukaan dan penerimaan lintas generasi. Oleh karena itu, gereja dalam hal ini para pengajar dipanggil untuk menghadirkan pendampingan iman yang relasional, kolaboratif, dan kontekstual, dengan memandang dunia digital bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai komunitas baru bagi perkembangan iman generasi Alfa
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Praktik flexing atau pamer gaya hidup mewah di media sosial telah menjadi tren dan bagian dari budaya populer yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda, termasuk pemuda GMIT Batu Karang Kupang. Dalam konteks pemuda GMIT Batu karang Kupang, praktik ini tidak hanya muncul sebagai bentuk ekspresi diri, tetapi juga sebagai strategi untuk mencari pengakuan, validasi sosial, dan membangun citra diri di media sosial dan secara langsung. Praktik ini berdampak negatif terhadap relasi antar sesama, persekutuan, dan pertumbuhan iman pemuda. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana keteladanan pemuda GMIT dalam menyikapi praktik flexing serta bagaimana pembinaan warga gereja (PWG) dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter dan spiritualitas pemuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan kuesioner kepada 23 responden yang terdiri dari pendeta, pengurus pemuda, dan anggota pemuda di Jemaat GMIT Batu Karang Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda terlibat dalam praktik flexing untuk mendapatkan pengakuan, yang memicu perpecahan dan persaingan tidak sehat dalam persekutuan. Hal ini menunjukkan bahwa gereja belum optimal dalam memberikan pembinaan yang relevan dan kontekstual terhadap tantangan digital yang dihadapi pemuda. Mengacu pada teori PWG menurut Ruth Selan, pembinaan gereja harus bersifat kontekstual, transformatif dan holistik, menyentuh seluruh aspek kehidupan pemuda serta peran dalam gereja dan Masyarakat. Refleksi teologis dalam skripsi ini menekankan bahwa pemuda dipanggil menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan, sebagaimana yang dicontohkan oleh tokok-tokoh muda seperti Yusuf, Daniel, Daud, Yeremia, Timotius, terutama Yesus Kristus dalam kehidupan dan pelayanan-Nya. Oleh karena itu, PWG memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan iman pemuda agar mampu menghadapi godaan digital secara bertanggung jawab. Gereja perlu meningkatkan kualitas pembinaan berbasis nilai-nilai Alkitabiah dan mendampingi pemuda dengan pendekatan kontekstual yang membumi, agar mereka menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan.