Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Teladan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Keteladanan Hidup

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK KETELADANAN HIDUP FAKULTAS TEOLOGI, UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA KUPANG Anisa Putri Melinda Djo Email: [email protected] Keteladanan hidup adalah pokok tulisan yang dibahas dalam skripsi ini. Latar belakang penulis mengambil pokok ini ialah karena dalam kehidupan warga Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), secara khusus di Jemaat GMIT Ora Et Labora Oebaun. Kenyataannya terdapat para orang tua yang suka melakukan hal-hal yang menyimpang, seperti; mengkonsumsi minuman keras secara berlebihan, berselingkuh, berzinah, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, mengeluarkan kata-kata kotor, membuat onar dalam lingkungan sekitar seperti berkelahi, memfitnah, hidup dalam hutang, tidak setia dalam mengikuti ibadah-ibadah. Hal ini mengakibatkan munculnya pandangan yang buruk terhadap orang tua yang seharusnya mendidik dan menjadi teladan bagi kehidupan keluarga. Melihat persoalan yang terjadi, penulis tertarik untuk menafsirkan teks surat Titus 2:1-5 dan mencoba melihat ajaran yang sehat yang menekankan pada peraturan bagi perilaku Kristen yang harus dimiliki oleh orang tua. Lalu seperti apakah peraturan bagi perilaku Kristen yang harus dimiliki oleh orang tua? Hal ini akan nampak melalui tafsiran teks surat Titus 2:1-5. Penulis menafsirkan teks surat Titus 2:1-5 ini menggunakan metode historis kritis, yaitu menggali sejarah terbentuknya teks dan menemukan maksud serta tujuan yang mendasari peristiwa dalam teks surat Titus 2:1-5 ini. Secara khusus teks surat Titus 2:1-5, menjelaskan tentang peraturan bagi perilaku Kristen bagi jemaat di Kreta yang harus dimiliki oleh orang tua. Pengaruh ajaran yang berkembang pesat waktu itu, menjadi suatu ancaman bagi kehidupan persekutuan dalam gereja dan keluarga. Hal ini membuat Paulus meminta kepada Titus untuk berbicara tentang apa yang sesuai untuk ajaran yang sehat yang menekankan pada peraturan bagi perilaku Kristen kepada para orang tua dengan memuat unsur-unsur tanggung jawab sebagai penatua yang harus dilakukan oleh orang tua. Orang tua harus hidup benar dan tidak menyimpang agar mereka dapat mendidik anak-anak mereka kepada kehidupan yang benar dan Firman Allah tidak dihujat. Demikian pula dengan orang tua masa kini, mereka harus menyadari bahwa menjadi teladan merupakan eksistensi diri dan tanggung jawab mendidik adalah tugas utama orang tua berdasarkan peraturan bagi perilaku Kristen yang Paulus tekankan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Disiplin Rohani

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK DISIPLIN ROHANI Suatu Tinjauan Eksegetis Terhadap Surat 1 Timotius 4:6-16 dan Impliikasinya Bagi Anggota GMIT Masa Kini Ardin L. Bulu Bani Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang Email: [email protected] Dampak negatif dari era modernisasi membawa orang Kristen di masa ini tidak mampu untuk menahan diri dari aktivitas-aktivitas kriminal sebagai bentuk dari dampak persaingan hidup yang semakin tinggi. Nasihat Paulus untuk Timotius sebagai pemimpin Jemaat agar melatih diri dalam ibadah mengandung pengertian bagi Timotius untuk selalu melatih dirinya dalam ibadah. Nasihat inilah yang kemudian di kembangkan dengan sebuah istilah disiplin rohani. Secara umum disiplin rohani dipahamai sebagai praktek atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka membangun relasi dan komunikasi dengan Tuhan secara pribadi. Untuk membangun hubungan yang baik dengan Tuhan diperlukan kedisiplinan dan pola pengaturan yang baik. Banyak orang Kristen di masa kini tidak mengerti dan memahamami dengan perkataan Palus dalam 1 Timotius 4:7b. Penulis menemukan bahwa dalam era modernisasi banyak orang yang kehilangan pemahaman dan pengajaran yang baik tentang Yesus dalam dirinya sehingga mudah terjebak dalam dampak negatif Modernisasi itu. Penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut secara lebih mendalam melalui karya ilmiah dengan melakukan studi eksegetis dari teks 1 Timotius 4:6-16. Teks tersebut adalah sebuah nasihat dari Paulus untuk timotius mengenai cara-cara yang harus digunakan Timotius dan secara tidak langsung kepada jemaat Efesus agar mampu melewati ancaman-ancaman pengajaran sesat dan perkembangan budaya-budaya penyembahan berhala. Penulis ingin mencari tahu maksud dari pada disiplin Rohani yang merupakan penekanan penting dari pada teks 1 Timotius 4 :6-16, untuk mendapatkan pemahaman yang baru tentang disiplin rohani dari pandangan Paulus, penulis mencari tahu konteks orang Kristen masa kini dan membandingkannya dengan konteks di jemaat Efesus. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif untuk melihat konteks kehidupan jemaat. Hal itu dilakukan dengan melakukan wawancara kepada beberapa tokoh yang di rasa mampu untuk memberikan sumbangsih pemikiran yang berkaitan dengan disiplin rohan. Untuk menyelesaikan tulisan ini penulis menggunakan metode penulisan deskriptif, analitif, reflektif. Penulis menggunakan metode penafsiran Historis Kritis untuk menjangkau teks asli dalam konteks agar menemukan kerygmanya, kemudian bisa dihubungkan dengan konteks masa kini.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMUDA DAN PRAKTIK FLEXING “Suatu Tinjauan Pembinaan Warga Gereja Terhadap Keteladanan Pemuda GMIT Batu Karang Kupang Dalam Menyikapi Praktik Flexing di Era Digital”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Praktik flexing atau pamer gaya hidup mewah di media sosial telah menjadi tren dan bagian dari budaya populer yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda, termasuk pemuda GMIT Batu Karang Kupang. Dalam konteks pemuda GMIT Batu karang Kupang, praktik ini tidak hanya muncul sebagai bentuk ekspresi diri, tetapi juga sebagai strategi untuk mencari pengakuan, validasi sosial, dan membangun citra diri di media sosial dan secara langsung. Praktik ini berdampak negatif terhadap relasi antar sesama, persekutuan, dan pertumbuhan iman pemuda. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana keteladanan pemuda GMIT dalam menyikapi praktik flexing serta bagaimana pembinaan warga gereja (PWG) dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter dan spiritualitas pemuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan kuesioner kepada 23 responden yang terdiri dari pendeta, pengurus pemuda, dan anggota pemuda di Jemaat GMIT Batu Karang Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda terlibat dalam praktik flexing untuk mendapatkan pengakuan, yang memicu perpecahan dan persaingan tidak sehat dalam persekutuan. Hal ini menunjukkan bahwa gereja belum optimal dalam memberikan pembinaan yang relevan dan kontekstual terhadap tantangan digital yang dihadapi pemuda. Mengacu pada teori PWG menurut Ruth Selan, pembinaan gereja harus bersifat kontekstual, transformatif dan holistik, menyentuh seluruh aspek kehidupan pemuda serta peran dalam gereja dan Masyarakat. Refleksi teologis dalam skripsi ini menekankan bahwa pemuda dipanggil menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan, sebagaimana yang dicontohkan oleh tokok-tokoh muda seperti Yusuf, Daniel, Daud, Yeremia, Timotius, terutama Yesus Kristus dalam kehidupan dan pelayanan-Nya. Oleh karena itu, PWG memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan iman pemuda agar mampu menghadapi godaan digital secara bertanggung jawab. Gereja perlu meningkatkan kualitas pembinaan berbasis nilai-nilai Alkitabiah dan mendampingi pemuda dengan pendekatan kontekstual yang membumi, agar mereka menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TELADAN SEORANG PENATUA “Kajian Historis Kritis Titus 1:5-16 dan Implikasinya bagi Keteladanan Penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing, Klasis Alor Barat Laut”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Teladan adalah contoh atau panutan yang dapat dijadikan acuan dalam bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan. Seseorang yang menjadi teladan biasanya memiliki karakter, moral, atau keterampilan yang baik, sehingga layak untuk ditiru oleh orang lain.Dalam konteks kepemimpinan, teladan sangat penting karena seorang pemimpin yang baik harus mampu menunjukkan perilaku yang positif agar diikuti oleh bawahannya. Berkaitan dengan pengertian tersebut, penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing tidak menjadi teladan yang baik bagi jemaatny. Penatua yang mabuk saat memimpin ibadah jemaat. Penatua akan meminum sopi terlebih dahulu sebelum memimpin ibadah. Ini dilakukan untuk memuaskan atau menenangkan hati dan pikiran mereka, sehingga ibadah yang dilakukan tidak memenuhi standar pelayanan. Hal ini dilakukan oleh Penatua-penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing, bukan sekali saja mereka lakukan ini, tetapi sudah terus-menerus mereka lakukan. Jemaat terus-menerus mengeluh tentang pelayanan yang mereka lakukan seperti ini, sehingga mereka melakukan pelayanan tidak lagi sesuai dengan Firman Tuhan. Mabuk adalah salah satu hal yang sudah menjadi kewajiban utama bagi Jemaat Maranatha Limarahing sebelum melakukan sesuatu. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mencari tahu keteladanan penatua di Jemaat tersebut yang terus-menerus melakukan pelayanan dalam keadaan mabuk. Sehingga Tujuan dari penulisan untuk melengkapi bahkan menjadi salah satu acuan untuk bisa menjadi sebuah pedoman bagi jemaat tersebut untuk merubah akan tindakan mereka yang telah melanggar aturan dalam melakukan pelayanan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis, yang menyoroti elemen-elemen tafsir historis kritis seperti tempat nas dalam konteks, kritik sastra, bidang kehidupan, kritik nas, tafsiran ayat per ayat dan kerygma teologis. Hasil kajian yang ditemukan yaitu; 1). Pemimpin Jemaat yang menjadi Teladan yang baik; 2). Pemimpin Jemaat menjadi harus memiliki karakter yang Baik, terpuji serta Berintegritas. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan studi teologi tentang keteladanan Penatua serta manfaat praktis bagi para pemimpin gereja untuk meneladani syarat-syarat penatua yang ditunjukkan oleh Titus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail