Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

24 hasil
Subjek: Pangan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PANGAN OLAHAN (USAHA SHOUN) BERDASARKAN UNDANG-UNDANG 18 TAHUN 2012

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

INTISARI Judul penelitian ini adalah Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pangan Olahan (Usaha Shoun) Berdasarkan Undang-undang 18 Tahun 2012 Berikut Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah : a. Bagaimana bentuk tindak pidana perdagangan pangan tanpa izin edar? b. Mengapa terhadap pelaku tindak pidana perdagangan pangan olahan tanpa izin edar ada yang diputus pidana penjara dan ada yang diputus denda ? Berikut tujuan penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui bentuk tindak pidana perdagangan pangan olahan tanpa izin edar b. Untuk mengetahui alasan tindak pidana perdagangan pangan olahan tanpa izin edar ada yang diputus pidana penjara dan ada yang diputus denda Metode Penelitian yang penulis gunakan adalah sifat penelitian adalah bersifat deskriptif yakni penulis akan memaparkan secara lengkap,rinci,jelas dan sistematis hasil dalam bentuk karya ilmiah dan Jenis Penelitian yang penulis gunakan adalah jenis penelitian Normatif . sumber data yang digunakan adalah bahan hukum Primer yang terdiri dari Putusan Hakim serta Peraturan perundang-undangan,traktat,kaidah dasar atau norma serta peraturan dasar, Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan dimana diperoleh informasi dari putusan pengadilan. Analisis Data yang digunakan adalah menggunakan analisis secara kualitatif yaitu analisis yang bersifat deskriptif Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakuakan oleh penulis selanjutnya dirumuskan dan ditarik kesimpulan sebagai berikut: a. Bentuk tindak pidana perdagangan pangan olahan tanpa izin edar b. Perdagan pangan olahan ada yang putus pidana penjara dan ada putus pidana Denda Kata Kunci : penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pangan olahan (usaha shoun)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PENAMBAHAN PASTA BUAH LONTAR DALAM PEMBUATAN KUE TALAM

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

“ PENGARUH PENAMBAHAN PASTA BUAH LONTAR DALAM PEMBUATAN KUE TALAM” Hedu T. Isak 1 ; Nubatonis L.M 2; Malelak Zet 2 ABSTRAK Berdasarkan uraian yang dapat diidentifikasi adalah pemanfaatan buah lontar yang tua yang belum maksimal sedangkan kandungan gizi pada buah lontar serta warna dari buah lontar yang tua sangat menarik untuk diolah menjadi berbagai produk, salah satunya yaitu produk kue talam. Tujuan Penelitian ini Untuk mengetahuipengaruh penambahan pasta buah lontar dalam pembuatan kue talam - Untuk mendapatkan salah satu perlakuan penambahan pasta buah lontar dalam menghasilkan kue talam dengan karakteristik organoleptik yang baik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali pengulangan sehingga diperoleh 15 unit percobaan. Ada pun perlakuan percobaan yang dicobakan, yaitu : P0 0g pasta buah lontar P1 20 g pasta buah lontar P2 30g pasta buah lontar P3 40g pasta buah lontar P4 50g pasta buah lontar Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil uji organoleptik dengan tingkat kesukaan paling tinggi terdapat pada perlakuan P4 dengan konsentrasi 50g penambahan pasta buah lontar dalam pembuatan kue talam dengan nilai rata-rata warna kue talam 3,667 (suka),aroma kue talam yang sangat di sukai terdapat pada perlakuan P4 dengan konsentrasi pasta buah lontar 50g menghasilkan nilai rata-rata 3,611(suka),sedangkan tingkat kesukaan terhadap tekstur kue talam adalah perlakuan P4 dengan konsentrasi 50g pasta buah lontar menghasilkan nilai rata-rata3,733 dan tingkat kesukaan terhadap rasa kue talam terdapat pada perlakuan P4 dengan konsentrasi 50g pasta buah lontar menghasilkan nilai rata-rata3,811.1. Perlakuan penambahan pasta buah lontar yang berbeda dalam pembuatan kue talam memberikan pengaruh yang sangat nyata pada taraf 1% (P0,01) terhadap karakteristik kue talam dari warna, tekstur, rasa dan aroma kue talam yang dihasilkan. 2. Perlakuan terbaik dengan penambahan pasta buah lontar yang berbeda dalam pembuatan kue talam terdapat pada perlakua P4 dengan penambahan pasta buah lontar 50g menghasilkan nilai rata-rata rasa kue talam sebesar 3,811 (suka), warna kue talam sebesar 3,667 (sangat suka), tekstur kue talam dengan nilai rata-rata 3,733 (suka) dan aroma kue talam dengan nilai rata-rata sebesar 3,611 (suka). Kata Kunci: Kue Talam, Buah Lontar, Dan Pangan Lokal Keterangan 1)Peneliti 2) Pembimbing.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG MOTIF, MODUS DAN AKIBAT HUKUM TERJADINYA TINDAK PIDANA USAHA PANGAN TANPA IZIN EDAR

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul : “Deskripsi Tentang Motif, Modus Dan Akibat Hukum Terjadinya Tindak Pidana Usaha Pangan Tanpa Izin Edar”. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana motif pelaku tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar. 2. Bagaimana modus pelaku tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar, 3. Bagaimana akibat hukum tindak pidana usaha pangan tanpa izin edar terhadap pelaku dan barang bukti. Tujuan penelitian adalah : 1. Untuk mengetahui motif pelaku tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar 2. Untuk mengetahui modus tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar 3. Untuk mengetahui akibat hukum tindak pidana usaha pangan tanpa izin edar terhadap pelaku dan barang bukti. Penelitian ini bersifat deskriptif dan jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian normatif. Variabel yang digunakan adalah variable bebas dan variable terikat. Berdasarkan hasil penelitian bahwa : 1. Motif Pelaku Tindak Pidana Melakukan Usaha Pangan Tanpa Izin Edar a. Untuk mendapatkan keuntungan b. Menghindari pembiayaan c. Keinginan menjual secara bebas. 2. Modus Pelaku Tindak Pidana Melakukan Usaha Pangan Tanpa Izin Edar a. Memproduksi b. Memperdagangkan bahan olahan pangan tanpa izin edar c. Membeli dan menjual kembali bahan olahan pangan tanpa izin edar 3. Akibat Hukum Tindak Pidana Usaha Pangan Tanpa Izin Edar Terhadap Pelaku Dan Barang Bukti a. Terhadap Pelaku 1) Pelaku ditahan 2) Pelaku dikenakan pidana penjara 3) Pelaku dibebankan biaya perkara. b. Terhadap Barang Bukti. Barang bukti dirampas untuk dimusnahkan atas perintah hakim pengadilan. Saran yang penulis berikan adalah pemerintah diharapkan lebih aktif melakukan pengawasan keamanan mutu dan gizi, pelaku usaha pangan harus memiliki izin edar usaha.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PERBANDINGAN TEPUNG TERIGU DENGAN TEPUNG PISANG KEPOK (Musa paradisia caformatypica) TERHADAP SIFAT ORGANOLEPTIK PASTA MACARONI PISANG KEPOK

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perbandingan tepung pisang kepok terhadap sifat organoleptik pastamacaroni pisang kepok dan untuk mengetahui salah satu perlakuan terbaik dari perbandingan tepung terigu dan tepung pisang kepok terhadap sifat fisik macaroni pisang kepok.. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAL) menggunakan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan presentasi 0%,5%,10%,15% tepung pisang kepok. Hasil penelitian menunjukkan Uji Analisis Organoleptik tertinggi pada perlakuan B dengan penambahan tepung pisang kepok 5 % terhadap warna dengan skor 4,639 ( sangat suka )aroma dengan skor 4,722 ( sangat suka ), rasa dengan skor 4,806 (sangat suka), dan tekstur pada perlakuan 5 % dengan skor 4,722 (sangat suka)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEK PENAMBAHAN TEPUNG BERAS MERAH TERHADAP KUE SARANG SEMUT

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Efek penambahan tepung beras merah terhadap kue sarang semut Marta Peang Lagur *) Ir. Nuhamara melkianus, mp**) Banoet M, I Regina, Sp, Mp**) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pnambahan tepung beras merah terhadap kue sarang semut dengan mengunak ranangan acak lengkap (RAL) 4 perlkuan dan masih-masih 3 kali ulangan dengan persentasi 0%. 5%, 10%, 15% tepung beras merah. Hasil peneltian ini menunjukan bawah uji analisis organeleptik tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan subsitusi 5% terdapat aroma kue sarang semut yang tertinggi dengan skor 4.611 ( sangat suka) rasa kue sarang semut yang paling tinggi disukai terdapat pada 5% terdapat rasa kue sarang semut yang lebih tinggi dengan skor 4.806 (sangat suka) tektur kue sarang semut yang paling di sukai terdapat pada 5% terdapat tektur kue sarang semut yang lebih tinggi dengan skor 4.778 ( sangat suka) Kata kunci ; bahan pangan lokal penambahan tepung beras merah terhadap kue sarang semut *) penelitian **) pembimbing

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KANDUNGAN GIZI PADA MIE BASAH DARI BIJI SORGUM (Sorghum bicolor L. Moench) DI DESA UMALOR KECAMATAN MALAKA BARAT KABUPATEN MALAKA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK ANALISIS KANDUNGAN GIZI PADA MIE BASAH DARI BIJI SORGUM (Sorghumbicolor L. Moench) DI DESA UMALOR KECAMATAN MALAKA BARAT KABUPATEN MALAKA. Werung, U. A.S)* Ballo, A)** Nge, T.S)*** Sorgum merupakan salah satu bahan pangan alternatif untuk mengurangi impor terigu, sehingga dapat memperbaiki status gizi dari mie basah yang dihasilkan. Sorgum memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dibandingkan bahan pangan yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi pada mie basah dari biji sorgum yang terdapat di Desa Umalor Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biologi UKAW kupang dan di Laboratoium Pengawasan Mutu Pangan (PMP) menggunakan metode eksperimen RAL dengan 4 perlakuan dan 2 kali ulangan yaitu (PO) 100%: 0%, (P1) 60%: 40%, (P2) 50% : 50% (P3) 40%: 60%. Uji proksimat meliputi kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar karbohidrat. Berdasarkan hasil uji ANOVA didapatkan hasil yang berbeda nyata pada setiap perlakuan sehingga dilanjutkann uji lanjut Duncan Multiple Reing Test (DMRT) pada taraf signifikan 5%. Hasil Uji proksimat untuk mengukur kandungan gizi mie basah, kandungan kadar air tertinggi pada perlakuan P0 sebesar 61,06%, kadar protein tertinggi pada perlakuan P0 sebesar 7,91%, kadar lemak tertinggi pada perlakuan P3 sebesar 11,34%, kadar abu tertinggi pada perlakuan P3 sebesar 0,48% dan kadar karbohidrat tertinggi pada perlakuan P3 sebesar 30,2% Kata Kunci:Sorgum, Mie Basah, Kandungan Gizi, Bahan Pangan,Desa Umalor. Keterangan: *) Peneliti **)Pembimbing ABSTRACT ANALYSIS OF THE NUTRITIONAL CONTENT OF WET NOODLES MADE FROM SORGHUM (Sorghum bicolor L. Moench) IN UMALOR VILLAGE, WEST MALAKA DISTRICT, MALAKA REGENCY Werung, U. A.S)* Ballo, A)** Nge, T.S)*** Sorghum is an alternative food source that can help reduce wheat imports and improve the nutritional quality of wet noodles. Compared to other food ingredients, sorghum has relatively high nutritional value. This study aimed to determine the nutritional content of wet noodles made from sorghum seeds originating from Umalor Village, West Malaka District, Malaka Regency. The research was conducted at the Biology Education Laboratory of Artha Wacana Christian University (UKAW) Kupang and the Food Quality Control Laboratory (PMP). The experimental method used was a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and two replications, namely P0 (100% wheat flour : 0% sorghum flour), P1 (60% wheat flour : 40% sorghum flour), P2 (50% wheat flour : 50% sorghum flour), and P3 (40% wheat flour : 60% sorghum flour). Proximate analysis was carried out to determine the levels of moisture, protein, fat, ash, and carbohydrates. Based on the results of the ANOVA test, there were significant differences among treatments; therefore, the analysis was continued using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results of the proximate test showed that the highest moisture content was found in treatment P0 (61.06%), the highest protein content in P0 (7.91%), the highest fat content in P3 (11.34%), the highest ash content in P3 (0.48%), and the highest carbohydrate content in P3 (30.2%). Keywords:Sorghum,Wet Noodles,Nutritional Content,Foodstuffs,Umalor Village Information: *) Researcher **) Advisor

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG MOTIF, MODUS DAN AKIBAT HUKUM TERJADINYA TINDAK PIDANA USAHA PANGAN TANPA IZIN EDAR

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul : “Deskripsi Tentang Motif, Modus Dan Akibat Hukum Terjadinya Tindak Pidana Usaha Pangan Tanpa Izin Edar”. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana motif pelaku tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar. 2. Bagaimana modus pelaku tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar, 3. Bagaimana akibat hukum tindak pidana usaha pangan tanpa izin edar terhadap pelaku dan barang bukti. Tujuan penelitian adalah : 1. Untuk mengetahui motif pelaku tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar 2. Untuk mengetahui modus tindak pidana melakukan usaha pangan tanpa izin edar 3. Untuk mengetahui akibat hukum tindak pidana usaha pangan tanpa izin edar terhadap pelaku dan barang bukti. Penelitian ini bersifat deskriptif dan jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian normatif. Variabel yang digunakan adalah variable bebas dan variable terikat. Berdasarkan hasil penelitian bahwa : 1. Motif Pelaku Tindak Pidana Melakukan Usaha Pangan Tanpa Izin Edar a. Untuk mendapatkan keuntungan b. Menghindari pembiayaan c. Keinginan menjual secara bebas. 2. Modus Pelaku Tindak Pidana Melakukan Usaha Pangan Tanpa Izin Edar a. Memproduksi b. Memperdagangkan bahan olahan pangan tanpa izin edar c. Membeli dan menjual kembali bahan olahan pangan tanpa izin edar 3. Akibat Hukum Tindak Pidana Usaha Pangan Tanpa Izin Edar Terhadap Pelaku Dan Barang Bukti a. Terhadap Pelaku 1) Pelaku ditahan 2) Pelaku dikenakan pidana penjara 3) Pelaku dibebankan biaya perkara. b. Terhadap Barang Bukti. Barang bukti dirampas untuk dimusnahkan atas perintah hakim pengadilan. Saran yang penulis berikan adalah pemerintah diharapkan lebih aktif melakukan pengawasan keamanan mutu dan gizi, pelaku usaha pangan harus memiliki izin edar usaha

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG MOTIF DAN MODUS TERJADINYA TINDAK PIDANA PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN DALAM MAKANAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penulis melakukan penelitian dengan judul deskripsi tentang motif dan modus terjadinya tindak pidana penggunaan bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah apa motif terjadinya tindak pidana penggunaan bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam makanan dan apa modus terjadinya tindak pidana penggunaan bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam makanan. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui motif terjadinya tindak pidana penggunaan bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam makanan dan untuk mengetahui modus terjadinya tindak pidana penggunaan bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam makanan. Jenis penulisan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Teknik pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan studi dokumen atau studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Hasil penelitian dalam tulisan ini Penulis menemukan motif para terdakwa adalah para terdakwa menggunakan formalin agar mie tahan lama dan awet sedangkan dengan menambahkan boraks agar mie menjadi kenyal dan faktor ekonomi tetap utama dimana penjualan mie yang mengandung formalin dan boraks dalam jumlah banyak memberikan banyak keuntungan yang besar setelah mie basah di produksi dan dijual kepada pembeli. Modus pelaku yang memproduksi pangan dengan menggunakan bahan berbahaya didasari oleh faktor-faktor yang menyebabkan perbuatan tersebut terjadi. Ada dua modus yang menjadi penyebab produsen memproduksi pangan dengan menggunakan bahan berbahaya, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan yang berasal dari dalam diri individu tersebut, sedangkan kebalikannya faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu tersebut. Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan, maka penulis menarik kesimpulan yakni motif terjadinya tindak pidana penggunaan bahan tambahan pangan dalam makanan karena ingin mendapatkan mie yang lebih putih, lentur dan awet serta tahan lama serta ingin keuntungan yang besar dari hasil penjualan dan modus yang dilakukan oleh pelaku yang memproduksi mie dengan campuran formalin dan boraks adalah pelaku mencampur semua bahan yang telah disiapkan yakni terigu, air, garam, soda mie, formalin dan atau boraks kemudian dimasak/direbus dan dikeringkan/ angin-anginkan setelah itu dicetak menjadi mie yang kemudian siap untuk dijual ke pasaran. Sedangkan saran dalam tulisan ini yakni pemerintah harus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pembedaan bahan tambahan pangan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam memproduksi pangan. Untuk mencegah pelaku produsen yang memproduksi pangan dengan menggunakan bahan berbahaya yang didorong oleh faktor pendidikan, dibutuhkan peran pemerintah dalam melakukan sosialisasi dan pemberian edukasi tentang klasifikasi bahan tambahan pangan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA MEMPRODUKSI BAHAN PANGAN MELAMPAUI AMBANG BATAS DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI WAMENA

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul skripsi : “Deskripsi Tentang Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Memproduksi Bahan Pangan Melampaui Ambang Batas Di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Wamena”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : faktorfaktor apa saja yang menyebabkan terjadinya tindak pidana memproduksi bahan pangan melampaui ambang batas ? Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana memproduksi bahan pangan melampaui ambang batas Di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Wamena. Penelitian ini bersifat deskriptif dan jenis penelitian adalah penelitian normatif. Variabel penelitian yang digunakan adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penyebab pelaku tindak pidana memproduksi bahan pangan melampaui ambang batas sedangkan vaiabel terikat adalah putusan pengadilan terhadap pelaku tindak pidana memproduksi bahan pangan yang melampaui ambang batas Di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Wamena. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka yang menjadi tindak pidana memproduksi bahan pangan yang melampaui ambang batas adalah : 1) faktor ekonomi, yaitu terdakwa ingin mendapatkan keuntungan guna memenuhi keperluan sehari-hari. 2) tidak mempunyai penghasilan tetap dan 3) untuk membayar hutang. Diharapkan bagi pemerintah untuk meningkatkan pengawasan yang efektif dan bertanggung jawab mengatur dalam mengawasi produksi, pengolahan, pendistribusian makanan, dan minuman termasuk penggunaan bahan tambahan makanan dan minuman yang boleh digunakan dalam produksi dan pengolahan makanan dan minuman. Pemberlakuan sanksi pidana untuk pengamanan peredaran makanan dan minuman perlu dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan, baik pidana penjara, pidana denda dan pidana tambahan, baik terhadap perseorangan maupun korporasi untuk memberikan efek jera terhadap pelaku dan agar supaya bagi pihak lain tindak melakukan lagi perbuatan yang sama.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

INVENTARISASI JENIS KACANG-KACANGAN (Leguminosae) YANG TERDAPAT DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kacang-kacangan merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang dikenal sebagai tanaman pangan.Tanaman kacang-kacangan termasuk dalam suku leguminosae. Kacang memiliki ciri khas pada bentuk polong dengan biji berkeping dua, berakar tunggang atau serabut, tipe pertumbuhan batangnya (tegak, merambat dan semak) serta memiliki daun yang berwarna hijau. Menurut Puspita dkk (2017), terdapat 10 jenis biji kacang di Pulau Timor (Desa Binaus, Kecamatan Molo Tengah, Kabupaten TTS), yang diidentifikasikan sebagai pengembangan inovasi pangan. Kacang-kacangan mengandung sejumlah nutrisi penting seperti protein, mineral, vitamin, karbohidrat dan serat (Puspita dkk, 2018).Melihat keberadaan dan kandungan jenis kacang menurut kedua pendapat diatas, maka kacang-kacangan di Kabupaten TTS dapat dikategorikan sebagai pangan komersial yang baik. Salah satu strategi yang dilakukan untuk mendata semua jenis kacang-kacangan di Kabupaten TTS adalah inventarisasi.Inventarisasi adalah suatu upaya untuk mendata atau mengumpulkan informasi tentang suatu benda, baik dari segi bentuk, ukuran dan ciri-cirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahhui jenis-jenis kacang yang terdapat di kabupaten timor tengah selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, telah ditemukan 11 jenis kacang. Jenis kacang-kacangan yang ditemukan antara lain kacang kedelai (Glycine max L), kacang tanah (Arachis hypoge L), kacang hijau (Vigna radiata L), kacang tunggak (Vigna unguiculata L), kacang nasi (Vigna umbelata), kacang turis (Cajanus cajan L), kacang kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), kacang arbila (Phaseolus lunantus L), kacng komak (Lablab porpus), kacang buncis (Phaseolus vulgaris L).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH LAMA PERENDAMAN BUAH SUKUN (Artocarpus altillis) DALAM LARUTAN KAPUR SIRIH TERHADAP KARAKTERISTIK KERIPIK SUKUN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian tentang pengaruh lama perendaman buah sukun (Artocarpus alltilis) dalam larutankapur sirih terhadap karakteristik keripik sukun. Metode yang digunakan adalah menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 faktorial.Adapun faktor perlakuan yang digunakan adalah persentase kapur sirih dan lama perendaman larutan kapur sirih. Hasil penelitian menunjukan bahwa uji analisis organoleptik pada. Nilai rata-rata produk keripik sukun yang paling tinggi disukai konsumen yaitu terdapat pada perlakuan D dengan lama perendaman 80 menit menghasilkan nilai rata-rata Tekstur 3,689 (sangat suka) warna 3,756 (sangat suka) ; rasa 3,822 (sangat suka)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

WAKTU FERMENTASI PADA TEMPE KACANG TUNGGAK (vignaunguucilata) TERHADAP SIFAT SENSORIK TEMPE

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK EFEK WAKTU FERMENTASI TEMPE KACANG TUNGGAK (vignaunguucilata) Rassi N. M*) Godlief F. Neonufa**) Zet M**) Tempe adalah makanan hasil fermentasi yang populer di Indonesia dan dibuat dari kacang-kacangan (Syam dan Patang, 2018). Melalui proses fermentasi, kacang-kacangan yang dicampur dengan ragi tempe akan membentuk padatan kompak berwarna putih. Warna putih disebabkan adanya miselia jamur yang tumbuh pada permukaan biji kacang-kacangan yang menghubungkan biji-biji tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek waktu fermentasi tempe kacang tunggak Terhadap organoleptik (rasa,warna, aroma, dan tekstur) sebagai bentuk penganekaragaman produk olahan dari kacang tunggak. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan presentase fermentasi 1 hari, fermentasi 2 hari, fermentasi 3 hari, fermentasi 4 hari tempe kacang tunggak. Hasil penelitian menunjukan bahwa Uji Analisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan fermentasi 2 hari, yang dimana proporsi tempe kacang tunggak fermentsi 2 hari terdapat tekstur tempe kacang tunggak yang tertinggi dengan skor 3,7, rasa tempe kacang tunggak yang paling tertinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan fermentasi 2 hari dengan skor 3,9,aroma tempe kacang tunggak yang paling tertinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan fermentsi 2 hari dengan skor 3,7, warna tempe kacang tunggak yang sesuai dengan pengamatan terhadap kartu warna makanan, warna yang paling tegas terdapat pada perlakuan fermentasi 2 hari dengan indikator warna 16 PMS 142 kuning kecoklatan. Kata kunci : Bahan Pengolahan Pangan, Tempe Kacang Tunggak *) Penelitian

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KOMPOSISI TEPUNG TAPIOKA DAN BUBUR UBI JALAR UNGU PADA TEPUNG TERIGU TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIK MIE KERING

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH KOMPOSISI TEPUNG TAPIOKA DAN BUBUR UBI JALAR UNGU PADA TEPUNG TERIGU TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIK MIE KERING (Dima Mega Desrianti*), (Medah Ishak Andreas**),(Malelak Zet**) ABSTRAK Mie merupakan jenis makanan hasil olahan tepung yang sudah dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Mie juga merupakan jenis makanan yang digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Mie kering adalah mie segar yang dikeringkan hingga kadar airnya mencapai 8-10%. Pengeringan umumnya dilakukan dengan penjemuran dibawah sinar matahari atau dengan dioven. Mie kering mempunyai kadar air rendah sehingga daya simpannya relatif lama dan mudah penanganannya (Astawan, 2005). Bahan baku pembuatan mie di Indonesia yaitu terigu yang hingga saat ini masih diimpor dari negara lain seperti yang tercatat selama periode Januari 2017 –Agustus 2018, impor tepung gandum tertinggi tercatat pada bulan Maret 2018 yaitu hampir mencapai 8 ribu ton. Sehingga perlu dilakukan upaya pencarian bahan lain untuk menggantikan tepung terigu dengan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar kita, salah satunya berasal dari umbi-umbian seperti ubi jalar. Pembuatan mie kering dengan komposisi bubur ubi jalar ungu yang menghasilkan produk dengan rasa, aroma, warna dan tekstur yang berbeda dengan mie kering biasanya. Hal ini disebabkan karena tepung ubi jalar ungu tidak mengandung gluten, sehingga daya patah pada mie kering dari bubur ubi jalar ungu akan meningkat (Sri Winarti, 2017) dan memiliki tekstur yang lebih lengket satu sama lain (Monica, dkk, 2018). Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh komposisi tepung tapioca dan bubur ubi jalar ungu terhadap karakteristik sensorik mie kering. Untuk memperoleh salah satu perlakuan yang paling baik dan tepat dari komposisi tepung tapioca dan bubur ubi jalar ungu terhadap sifat sensorik mie kering. Metode penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap dengan menggunakan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. dengan presentasi 0%,10%, 20%,30% bubur ubi jalar. Hasil penelitian menunjukkan Uji Analisis Organoleptik tertinggi pada perlakuan B dengan penambahan bubur ubi jalar 10% terhadap rasa dengan skor 3,844 (sangat suka), warna engan skor 3,667 (sangat suka), aroma dengan skor 3,686 (sangat suka), dan tekstur pada perlakuan 10 % dengan skor 3,756 (sangat suka). .

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Subtitusi Tepung Biji Nangka Dalam Pembuatan Kue Kering Putri Salju

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kue kering merupakan makanan yang banyak digemari oleh masyarakat. Menurut SNI 01-2973-1992,kue kering merupakan salah satu jenis biskuit yang terbuat dari adonan lunak,berkadar lemak tinggi,relatif renyah bila dipatahkan dan bertekstur padat. Menurut O’Brien (2003) lemak dalam kue kering berfungsi sebagai shortening dan akan mempengaruhi tekstur,flavor,kelembutan,dan mouthfeel. Berdasarkan standar dari USDA (2009),kue kering memiliki kandungan lemak yang tinggi(sekitar 20% -40% kue kering). Bahan dasar pembuatan kue kering terdiri atas terigu dengan kadar protein sedang, margarin,dangula. Tepung yang umum digunakan dalam pembuatan kue kering adalah terigu.Tepung terigu merupakan produk olahan gandum yang termasuk komoditi impor yang konsumsi selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kenaikan impor gandum tersebut untuk konsumsi terigu atas makanan yang berbasis tepung terigu. Hal ini terjadi karena gandum merupakan tanaman yang hanya bisa tumbuh didaerah sub tropis,sehingga tidak dapat dibudiyakan di Indonesia.Komoditas tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada iklim tropis dan menghasilkan tepung sebagai bahan substitusi yaitu tepung biji nangka. Tepung biji nangka ini berasal dari varietas tanaman yang banyak terdapat di Indonesia,yang penggunaannya belum dapat dimaanfaatkan secara maksimal. Tujuan dalam penelitian ini untuk memperoleh proporsi subtitusi maksimum dari tepung biji nangka dalam pembuatan kue kering putri salju. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kelompok dengan presentasi 0%,10%,15%,20%,25% tepung biji nangka. Hasil penelitian menunjukkan Uji Analisis Organoleptik tertinggi pada perlakuan B dengan penambahan tepung biji nangka 10% terhadap rasa dengan skor 4,711 (sangat suka), dan tekstur pada perlakuan 10 % dengan skor 4,464 (sangat suka).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemanfaatan Tepung Uwi Ungu Sebagai Bahan Substitusi Dalam Pembuatan Kue Baruasa

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kue baruasa adalah kue manis yang berukuran kecil-kecil yang dibuat dengan bahan dasar tepung terigu dan bahan tambahan lainnya yang membentuk suatu formula adonan dengan cara dipanggang sehingga memiliki sifat dan struktur tertentu yang digemari masyarakat. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 17 Mei sampai dengan 2 Juni 2021 di Laboratorium processing Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang Tahun, Penelitian ini bertujun untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung uwi dan tepung terigu dalam pembuatan kue baruasa dan untuk memperoleh substitusi tepung uwi dan tepung terigu yang tepat dalam pembuatan kue baruasa dengan karakteristik sensorik yang dapat diterima oleh konsumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak 3 kali dengan persentase 0%, 10%, 20%, dan 30%. Parameter yang diukur pada kualitas kue baruasa yang dihasilkan adalah uji warna, rasa, aroma, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukan Uji Analisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan penambahan tepung uwi 10% terhadap warna dengan skor 4.694 (sangat suka), rasa pada perlakuan 10% dengan skor 4.833 (sangat suka) aroma pada perlakuan 10% dengan skor 4.667 (sangat suka) dan tekstur pada perlakuan 10% dengan skor 4.722 (sangat suka).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI KOMPOSISI PANGAN LOKAL KAPARAK BERBASIS POTENSI DAERAH DI SUMBA TIMUR

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

STUDI KOMPOSISI PANGAN LOKAL KAPARAK BERBASIS POTENSI DAERAH DI SUMBA TIMUR Yakobus Damu Wulang*), A. I. Medah**), Regina I. M. Banoet**) ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makanan lokal sesuai dengan potensi daerah untuk mengebangkan makanan lokal di Sumba Timur.Satuan sampel penelitian ini adalah desa yang dipilih secara acak bertingkat.pemilihan sampel pertama adalah memilih 20% Kecamatan secara acak nama kecamatan terpilih,di lanjutkan dengan pemilihan 20% Desa. Pada kecamatan kepada Responden pada desa sampel dipilih berdasarkan komunikasi dengan kepala wilayah atau Desa, yakni sebanyak satu orang Responden yang sering membuat kaparak di Desa tersebut.hasil pertanian seperti Padi, Jagung, Ubi jalar, Ubi Kayu, Kedelai, Kacang Tanah dan Kacang Hijau dapat diolah menjadi makanan lokal.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

JENIS UBI-UBIAN YANG DIMANFAATKAN SEBAGAI BAHAN PANGAN DI DESA MOTONGBANG KECAMATAN TELUK MUTIARA KABUPATEN ALOR

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Jenis Ubi-Ubian Yang Dimanfaatkan Sebagai Bahan Pangan di Desa Motongbang Kecamatan Teluk Mutiara Kabupaten Alor Blegur,D.K.)* Bullu,N.I)** Daud,Y)* Salah satu usaha memantapkan swasembada pangan dan ketahanan pangan adalah dengan diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan yang dimaksudkan bukan untuk menggantikan beras sepenuhnya, namun mengubah dan memperbaiki pola konsumsi masyarakat supaya lebih beragam jenis pangan dengan mutu gizi yang lebih baik. Ubi-ubian merupakan tanaman yang cocok dikembangkan untuk mengatasi masalah pangan. ubi-ubian memiliki nilai gizi tinggi dan lengkap serta dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ubi-ubian yang di manfaatkan sebagai bahan pangan di Desa Motongbang Kecamatan Teluk Mutiara Kabupaten Alor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi. Pengambilan data tanaman ubi-ubian dilakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi serta pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Jenis ubi-ubian yang berpotensi sebagai bahan pangan yang ditemukan di Desa Motongbang Kecamatan Teluk Mutiara Kabupaten Alor meliputi 8 jenis tanaman ubi-ubian dan 12 kultivar dari 4 jenis tanaman yaitu Ubi kayu mentega, ubi kayu putih, ubi kayu adira 2, Ubi jalar putih, ubi jalar kuning, ubi jalar ungu, Uwi putih, uwi kuning, uwi kelapa, Uwi putih kulit coklat, Gadung, Talas kimpul, talas beneng, talas ungu, Ganyong, Garut. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan yaitu umbi dan daun. Kata kunci : Jenis ubi-ubian, Bahan pangan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Substitusi Tepung Jagung Pada Tepung Beras Terhadap Karakteristik Organoleptik Kue Cucur Khas NTT

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

SUBSTITUSI TEPUNG JAGUNG PADA TEPUNG BERAS TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK KUE CUCUR KHAS NTT Kellin .S Nobel*) Medah.I.A,**) Malelak Zet**) ABSTRAK Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Pengaruh Substitusi Tepung Jagung Pada Tepung Beras Terhadap Karakteristik Organoleptik Kue Cucur Khas NTT. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing diulang 3 kali dengan presentase 100%, 50%, 75%, 100% tepung jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Uji Ananlisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan A dengan substitusi 100% terhadap rasa kue cucur khas NTT yang tertinggi dengan skor 4,2 (sangat suka),dan tekstur kue cucur khas NTT yang paling tinggi dengan skor 4,3 (sangat suka).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Substitusi Serbuk Biji Labu Kuning (Cucurbita moschata) Pada Kacang Kedelai (Glicine Max L) Terhadap Pembuatan Tempe

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi serbuk biji labu kuning terhadap pembuatan tempe. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing diulang 3 kali dengan presentase 0%, 10%, 15%, 20% serbuk biji labu kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Uji Ananlisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan substitusi 10% terhadap rasa tempe yang tertinggi dengan skor 4,756 (sangat suka), warna tempe yang paling tinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan 10% dengan skor 4,600 (sangat suka) Dan aroma tempe yang paling tinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan 10% dengan skor 4,644 (sangat suka) .

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYANGRAIAN TERHADAP RASA PAHIT PASTA KASAR KAKAO ( Theobroma cacao L)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYANGRAIAN TERHADAP RASA PAHIT PASTA KASAR KAKAO (Theobroma cacao L) Ka M Julnaim * Medah.I.A ** Malelak Zet ** ABSTRAK Kakao merupakan salah satu komoditi yang cukup banyak dimanfaatkan pada dunia industri.Biji kakao dapat diolah menjadi berbagai macam produk.Produk utama dari biji kakao adalah bubuk dan lemak kakao yang kemudian dapat diolah menjadi beberapa produk baru yang bernilai ekonomi tinggi.Pasta cokelat dikenal sebagai chocolate paste atau chocolate mass yang merupakan hasil setengah jadi. Produk pasta cokelat ini biasa dipasarkan dalam skala besar, baik dari pabrik ke pabrik makanan cokelat atau dalam skala rumah tangga yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan kue rumah tangga (Wahyudi dkk, 2008).Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui adanya interaksi suhu dan lama penyangraian terhadap pengurangan rasa pahit pasta kasar kakao.Metode yang digunakan adalah metode eksperimendenganmenggunakanRancangsanAcakKelompok dengan 2 faktorial dan masing-masing diulang 3 kali dengan suhu 1000c dan 1400c biji kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Uji Ananlisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan faktor A2B3 (Suhu 1400c dengan lama waktu 60 menit ) dengan skor rata- rata 4,800 (sangat suka).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail