ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INTISARI Judul penelitian ini ialah: Deskripsi Tentang Penjatuhan Hukuman Kepada Anak Yang Melakukan Tindak Pidana Seksual. Masalah pokok yang diteliti penulis ialah: mengapa hakim lebih memilih menjatuhkan pidana penjara kepada anak yang melakukan tindak pidana seksual?. Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini ialah: untuk mengetahui alasan hakim lebih memilih menjatuhkan pidana penjara kepada anak yang melakukan tindak pidana seksual. Sifat penelitian ini ialah deskriptif sedangkan jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian hukum normatif karena sepenuhnya menggunakan data sekunder. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah alasan hakim menjatuhkan pemidanaan terhadap pelaku anak yang melakukan tindak pidana seksual. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah putusan hakim lebih memilih menjatuhkan pidana penjara kepada anak yang melakukan tindak pidana seksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan hakim lebih memilih menjatuhkan pidana penjara kepada anak yang melakukan tindak pidana seksual, karena: 1. Perbuatan anak telah memenuhi memenuhi unsur-unsur tindak pidana. 2. Perbuatan anak telah dilakukan lebih dari satu kali. 3. Perbuatan anak merusak masa depan anak korban. 4. Hukuman lain tidak bias merubah perilaku anak. 5. Anak terbukti bersalah melakukan tindak pidana adalah merupakan pilihan terakhir (ultimum remedium) yang tidak dapat dihindari demi untuk kebaikan anak dan kepentingan masyarakat. Adapun yang menjadi saran penulis sebagai berikut: 1. Tindak pidana seksual telah bertentangan dengan norma yang hidup di masyarakat, maka perlu perhatian bersama dan kolaborasi seluruh pihak, baik itu orang tua, sekolah, masyarakat, pemerintah, akdemisi, dan aparat penegak hukum, melalui instansi terkait melakukan upaya preventif dan edukatif, serta korektif sehingga mampu memperbaiki perilaku seksual anak. 2. Penegakan hukum kekerasan seksual terhadap anak di dalam peradilan perlu mendapat perhatian serius dari perangkat peradilan itu sendiri khususnya hakim karena kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan serius (se'ious crimes) yang semakin meningkat dari waktu ke waktu dan mengancam jiwa anak, merusak kehidupan pribadi dan tumbuh kembang anak, serta mengganggu rasa kenyamanan, ketentraman, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Kata Kunci: Anak, Hukuman, Pidana Penjara, Seksual
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kekerasan seksual merupakan realitas yang terus dihadapi gereja dan menimbulkan luka yang tidak selalu berakhir ketika peristiwa kekerasan berhenti. Dalam konteks ini, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berhadapan dengan pengalaman trauma para korban yang berlangsung secara berkelanjutan dalam tubuh, ingatan, dan relasi sosial mereka. Skripsi ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran teologi trauma Shelly Rambo, khususnya konsep Remaining, sebagai luka yang menubuh, serta menelaah implikasinya bagi sikap dan pelayanan pastoral GMIT dalam merespons kasus kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis kontekstual. Sumber data primer berasal dari karya-karya Shelly Rambo, terutama Spirit and Trauma: A Theology of Remaining dan Resurrecting Wounds: Living in the Afterlife of Trauma, sedangkan sumber data sekunder meliputi literatur teologi trauma, dokumen gerejawi GMIT, serta laporan pendampingan Rumah Harapan GMIT pada periode 2020–2024. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Remaining menolong gereja untuk memahami trauma sebagai penderitaan yang tidak sepenuhnya selesai, melainkan tetap hadir dan bekerja dalam kehidupan para penyintas. Dalam konteks GMIT, kehadiran Rumah Harapan menunjukkan komitmen pastoral gereja terhadap korban kekerasan seksual. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan pastoral GMIT masih cenderung berfokus pada pemulihan yang cepat dan belum sepenuhnya mengintegrasikan pengakuan atas luka yang menubuh ke dalam sistem pastoral, disiplin gereja, dan spiritualitas jemaat. Oleh karena itu, skripsi ini menegaskan pentingnya pengembangan sikap pastoral yang lebih peka terhadap trauma, yang tidak mengabaikan tubuh yang terluka, ingatan yang rapuh, dan relasi sosial yang retak, serta bersedia tinggal bersama luka sebagai bagian dari kesetiaan iman Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini mengkaji tentang kekerasan seksual berdasarkan kitab 2 Samuel 13:1-22 , dengan tujuan untuk memahami gambaran konteks kisah perkosaan Tamar, Menerapkan metode tafsir feminis dan memberikan refleksi dan sumbangan bagi perempuan yang mengalami kekerasan seksual di jemaat GMIT Sonhalan Usapimnasi. Metode yang digunakan adalah metode tafsir feminis Elisabet Schüssier Fiorenza yaitu : hermeneutika dominasi dan lokasi sosial, hermeneutika kecurigaan, dan hermeneutika transformasi. Hasil tafsiran menunjukkan tiga kerygma utama yaitu: 1) Kekerasan Seksual Bertentangan dengan Kehendak Tuhan, 2) Membangun Hubungan di atas dasar Ketulusan, 3) Menjalin Kehidupan dengan penuh Kewaspadaan. Dari kerygma teologi yang didapatkan ini, dapat menjadi sumbangan implikasi bagi jemaaat GMIT Sonhalan Usapimnasi dalam menjaga kewaspadaan diri dan menjalin hubungan dengan dasar cinta. Kisah ini, dapat menjadi inspirasi bagi gereja-gereja dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan seksual. Gereja sebagai lembaga persekutuan juga harus dapat lebih terbuka dalam memberi perhatian bagi korban kekerasan seksual. Karena kesadaran akan banyaknya kasus kekesaran seksual saja tidak cukup , namun lebih jauh perlu adanya tindakan untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan. Perempuan-perempuan korban kekerasan seksual tidak boleh menutup diri, merasa tidak berharga, merasa berdosa dan menanggung kepahitannya sendiri. Karena sejatinya, Allah berpihak bagi orang-orang yang tertindas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kekerasan seksual merupakan permasalahan serius yang berkaitan dengan harkat dan martabat seseorang yang dilakukan tanpa persetujuan. Terkhususnya di Sumba kekerasan sering terjadi bagi anak-anak dan perempuan. Gereja dan PPA selalu mengupayakan untuk mendukung dan mencegah permasalah kekerasan seksual. Meski demikian tidak serta merta masalah kekerasan seksual dapat menghilang begitu saja. Banyak hal yang menyebabkan permasalahan ini semakin meningkat. Kekerasan seksual berdampak pada tubuh, mental dan sosial dari korban. Seringkali muncul stigma negatif bagi para korban bahwa mereka adalah pembawa aib. Skripsi ini mengkaji tentang peranan pusat pengembangan anak (PPA) dalam pencegahan kekerasan seksual dari perspektif Teologi. Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi PPA dan GKS untuk membantu permasalahan kekerasan seksual yang semakin tinggi. Penulis melakukan penelitian lapangan di jemaat GKS Umamapu dengan mengobservasi secara langsung dan melakukan wawancara. Penulis menggunakan teori dari Allbert J. Reiss tentang Kontrol Sosial bahwa ikatan sosial yang kuat dapat berfungsi sebagai penghalang terhadap perilaku menyimpang. Individu cenderung mematuhi norma ketika memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga, teman dan masyarakat. Karena itu, perlu didorongnya proses penegakan hukum yang lebih tegas. Berdasarkan konteks permasalahan maka penulis mengambil refleksi teologis dari Injil Markus 10:13-16. Hasil refleksi teologi antara lain: pertama, anak-anak sangat berharga di mata Tuhan. Yesus menyatakan kasih tanpa syarat serta memperlakukan anak-anak dengan berharga dan memberikan harapan bagi yang terluka. Kedua, Yesus sangat mencekam tindakan kekerasan terhadap anak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
PEMAHAMAN KATEKUMEN GMIT MARANATHA OEBUFU TENTANG MATERI SEKSUALITAS DALAM BAHAN AJAR KATEKISASI SINODE GMIT
TAHUN 2022/2023
Kisek.R.R (*) Manu. L (**) Metboki. M (**)
Penelitian ini membahas tentang upaya GMIT dan Gereja dalam meningkatkan pengetahuan peserta didik katekisasi akan materi seksualitas dalam bahan ajar katekisasi di Jemaat GMIT Maranatha Oebufu Tahun 2022/2023. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan para pengajar terhadap bahan ajar katekisasi yang diberikan GMIT akan materi seksualitas di Jemaat GMIT Maranatha Oebufu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah seluruh pengajar dan peserta didik yaitu 13 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah 3 pengajar dan 10 peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan verfikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya GMIT dalam meningkatkan materi seksualitas dalam pengajaran katekisasi di Jemaat GMIT Maranatha Oebufu tahun 2022/20223 adalah gereja dapat menjalankan pengajaran katekisasi, memberikan materi yang dapat dimengerti, melibatkan pemuda dalam pelayanan ibadah gereja serta memotivasi pemuda. Namun dalam kenyataannya bahwa materi yang diberikan GMIT masih belum memadai atau masih memakai materi yang masih lama. GMIT perlu terus mengupayakan materi yang mudah dipahami dan materi yang selalu melihat masalah-masalah yang terjadi pada masa kini. Jika pemuda dilihat sebagai tulang punggung gereja dan masa depan gereja maka dari sekarang para pemuda harus dipersiapkan dalam segala hal. Perlu adanya upaya GMIT dalam bahan ajar katekisasi yang berfokus pada materi seksualitas.
Kata Kunci: Katekisasi, GMIT , Seksualitas
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kekerasan seksual inses adalah sebuah bentuk pelecehan atau persetubuhan yang dilakukan secara paksaaan atau acaman terhadap korban yang mana pelaku dari tindak kekerasan seksual inses adalah seseorang yang masih memiliki hubungan darah atau hubungan kekerabatan dengan korban. Kasus kekerasan seksual inses terjadi juga di Mali-Kabola. Kekerasan ini dilakukan oleh ayah kandung dari korban yang adalah anak kandungnya sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kasus kekerasan seksual inses yang dialami oleh korban serta menganalisis faktor penyebab dan dampak kekerasan seksual inses bagi korban. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana sikap pastoral gereja terhadap korban. Jadi, fokus penelitian ini hanya kepada korban bukan pada pelaku. Penelitian ini menggunakan Metode Studi Kasus. Metode Studi Kasus adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengolah studi kasus yang terjadi dalam masyarakat. Hasil dari penelitian ini menggambarkan, bahwa kekerasan seksual inses ini benar terjadi pada korban sehingga memberikan dampak trauma bagi korban yakni dampak secara fisik, psikis, sosial, dan dampak secara spiritual. Serta faktor yang menjadi penyebab kekerasan seksual inses ini adalah faktor gender, pendidikan dan ekonomi. Oleh karena itu, gereja harus melihat persoalan ini sebagai persoalan yang serius, dengan memberikan sebuah pendampingan pastoral bagi korban, pendampingan gereja dalam bentuk merawat, mengasuh, menopang dan menyembuhkan, sehingga baik hubungan sosial maupun spiritualitas korban menjadi pulih melalui pendampingan pastoral. Pendampingan pastoral yang diberikan harus menggambarkan sikap Yesus yang peduli dan pembela orang-orang yang membutuhkan pertolongan.