2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Jemaat GMIT Yegar Sahaduta Oenaek masih kental dengan tradisi sebagai
identitas mereka dan mewarisi untuk menjaga persekutuan mereka. Salah satu tradisi
yang kental adalah Tradisi Mole Dame. Tradisi Mole Dame dilakukan untuk
mendamaikan kedua keluarga karena anak mereka telah kawin lari dan atau hamil di
luar nikah. Tradisi Mole Dame sangat membantu untuk menyelesaikan masalah yang
ada, akan tetapi, untuk sampai pada tahap perdamaian terdapat sejumlah sanksi adat,
yang sudah ditetapkan dalam peraturan adat. Kendala ini membuat beberapa pasangan
tidak sampai tahap pernikahan secara gerejawi. Maka dari itu, masalah yang terjadi
adalah kedua pasangan hidup tak serumah, anak-anak lahir tanpa keluarga yang utuh,
bahkan persoalan ini mempengaruhi persekutuan jemaat karena pasangan berada dalam
satu jemaat dan suku yang sama.
Skripsi ini bertujuan untuk mengupayakan Injil dan Tradisi Mole Dame dapat
berjalan bersama-sama. Tradisi ini penting dilakukan, namun tradisi ada bagian yang
harus dikritisi dan diperbarui sehingga benar-benar tradisi ini memuliakan nama Tuhan.
Terhadap masalah ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan penelitian
lapangan. Teori yang dipakai, yakni model sintesis oleh Stephen Bevans, yakni
mengupayakan berteologi untuk menemukan jalan tengah atau menjawab masalah
dengan pertimbangan tetap menerima Tradisi Mole Dame, tetapi memperbarui sanksi-
sanksi adat yang menjadi kendala atau penyebab masalah.
Berdasarkan analisis model sintesis, maka hasil penelitian menunjukkan, bahwa
pihak-pihak yang terlibat seperti keluarga, tokoh adat, dan gereja perlu membangun
perdamaian, yakni merevitalisasi sanksi adat yang memberatkan. Dalam tradisi penting
adanya inisiatif untuk kerja sama dari berbagai pihak dalam melakukan pendampingan
dan pengawasan terhadap anak, sehingga mengurangi kasus hamil di luar nikah dan
kawin lari. Untuk membenahi relasi yang renggang akibat tradisi, maka keluarga perlu
meneladani karya perdamaian Yesus Kristus yang memampukan keluarga saling
memberikan pengampunan dan saling mengasihi.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Jemaat GMIT Syalom Nisum, Klasis Amarasi Barat merupakan salah satu gereja di Amarasi selatan. Jemaat ini sudah ada sejak tahun 1954, hal ini ditandai dengan masuknya Injil ke Amarasi dan sakramen baptisan kudus pertama yang dilayankan di Amarasi Barat, tepatnya di Baun pada tahun 1875. Penelitian ini berfokus pada pemahaman jemaat terkait dengan praktik kan nitu (pemberian nama orang mati) pada bayi oleh warga jemaat GMIT Syalom Nisum. Sejak kan nitu dipraktikan, pemahaman jemaat terhadap pemberian nama pada bayi yang baru lahir mulai terpengaruh. Ada yang memahami praktik kan nitu sebagai bagian dari cara mengenang atau menghormati pada leluhur, namun ada juga yang memahami praktik ini sebagai bagian dari cara leluhur menunjukkan kehendaknya. Meneliti pemahaman jemaat berkaitan dengan praktik kan nitu menjadi penting karena praktik kan nitu mulai dipraktikan dengan kepercayaan bahwa leluhur masih turut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang masih hidup. Warga jemaat GMIT Syalom Nisum percaya bahwa melalui mimpi dan sakit-penyakit, leluhur menunjukkan kehendak atau keinginan mereka. Untuk mengetahui praktik kan nitu warga jemaat GMIT Syalom Nisum, maka penulis menggunakan metode penulisan deskriptif-analisis-reflektif. Warga jemaat jemaat Syalom Nisum, meski sudah menjadi Kristen sejak lama, namun mereka tetap menghidupi praktik kan nitu kan nitu yang ditinggalkan leluhur.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Skripsi merupakan karya ilmiah yang menjadi tugas akhir yang harus diselesaikan mahasiswa Fakultas Teologi untuk mendapat gelar Sarjana Theologi (S.Th). Dalam proses mengerjakan skripsi, mahasiswa banyak mengalami stres. Hans Selye membagi stres menjadi tiga, yaitu Eustres atau stres positif yang memberi dampak yang baik, Distress dan Hyperstress yaitu stres negatif yang memberi dampak negatif dan merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu stres apa yang dialami mahasiswa Teologi, faktor-faktor apa yang menyebabkan stres tersebut, dampak apa yang ditimbulkan dari stres tersebut, dan merefleksikannya menurut teologi pastoral, serta bagaimana pendampingan pastoral yang tepat bagi mahasiswa Fakultas Teologi yang mengalami stres dalam mengerjakan skripsi.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif berupa wawancara dan pengamatan, untuk memperoleh data yang akurat dengan kebenaran yang mendalam mengenai persoalan stres pada mahasiswa Fakultas Teologi yang mengerjakan skripsi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa mahasiswa Teologi lebih banyak mengalami Distress dan Hyperstress. Faktor yang menyebabkan mahasiswa Teologi mengalami stres tersebut, yaitu melihat teman seangkatan lebuh dulu ujian skripsi dan wisuda, tingkat semester yang semakin tinggi, ditanya kapan wisuda, pertemuan bimbingan yang tidak terlaksana dalam waktu yang lama, mengerjakan skripsi dalam keadaan sakit, dan orang tua yang menuntut untuk segera wisuda, dengan dampak buruk yang ditimbulkan yaitu: dampak fisik seperti penyakit yang semakin parah dan sering kambuh, dampak psikologis seperti timbulnya berbagai perasaan negatif yang menganggu, dampak sosial seperti sikap menutup diri, merokok, mengonsumsi alkohol, dan dampak spiritual yakni marah kepada Tuhan dan memandang Tuhan tidak adil. Stres tersebut juga memberi dampak lanjutan pada perekonomian keluarga dan akreditasi Fakultas Teologi. Karena itu, stres negatif pada mahasiswa yang menulis skripsi perlu mendapat perhatian melalui peranan pastoral untuk menolong mahasiswa yang mengalami stres, agar dapat menangani stres tersebut.
Sebagimana yang telah disaksikan oleh Alkitab bahwa ketenangan dapat dicari dan ditemukan di dalam Tuhan, dan dalam persoalan hidup manusia sebenarnya sedang bergumul dengan Tuhan, maka melalui pendampingan pastoral, mahasiswa yang mengerjakan skripsi perlu dibimbing untuk memahami Allah sebagai sumber ketenangan, dan memandang skripsi sebagai perjalanan spiritual yang dipakai Allah untuk membentuk mahasiswa Teologi, dan menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan keteguhan imannya kepada Tuhan, dengan bekerja keras mengatasi tantangan yang ada dan menyelesaikan perjuangan mereka dalam menulis skripsi. Dalam upaya menolong mahasiswa yang mengalami stres dalam mengerjakan skripsi, maka, Fakultas Teologi perlu menerapkan pola pendampingan pastoral yang memuat fungsi membimbing, menopang, menyembuhkan, memulihkan, dan memelihara atau mengasuh.
Kata Kunci: Mahasiswa Fakultas Teologi, Skripsi, Stres, Pastoral.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pandemi Covid-19 telah menjadi momok menakutkan bagi semua umat manusia di seluruh dunia oleh karena berbagai dampak yang ditimbulkannya. Inilah penderitaan (dukkha) bagi semua elemen masyarakat. Sebagai masyarakat pluralis di Indonesia, semua perhatian kita tentu diarahkan pada bagaimana merespon situasi ini. Lantas muncul berbagai tanggapan teologis yang beragam dengan menghubungkannya dengan Sang Ilahi. Ada yang menyebutnya hukuman, ujian, pencobaan, malapetaka, dan lain sebagainya. Inilah kekayaan sudut pandang teologi agama-agama. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan Agama Buddha secara khusus, yang memandang dunia dengan segala realitas penderitaannya lebih filosofis. Sebabnya, tulisan ini memuat pandangan filosofis Buddhisme, sekaligus bagaimana korelasinya dengan teologi agama-agama, dalam hal ini agama Kristen, yang pada akhirnya mengarah pada sebuah dialog kehidupan dan karya dalam menghadapi pergumulan pandemi Covid-19 ini sebagai dukkha bersama seluruh umat manusia.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keterlibatan sosial GMIT dalam bidang pendidikan dilakukan dalam kesadaran untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia, secara khusus dalam konteks pelayanan GMIT di Nusa Tenggara Timur. Penyelenggaraan pendidikan di GMIT tidak lepas dari sejumlah persoalan, seperti: terbatasnya fasilitas pendidikan, rendahnya kualitas tenaga pendidik, serta manajemen pendidikan di sekolah-sekolah GMIT yang belum tertata dengan baik. Menyikapi persoalan-persoalan tersebut, GMIT membangun kemitraan dengan beberapa pihak dengan tujuan untuk mengatasi persoalan serta meningkatkan kualitas pendidikan di GMIT. Namun, dampak dari kemitraan GMIT dalam bidang pendidikan belum menyentuh seluruh sekolah GMIT.
Fakta tersebut penulis temukan melalui sebuah penelitian dengan metode kualitatif di lima sekolah GMIT di kabupaten TTS dan satu sekolah GMIT di Kota Kupang. Lima sekolah GMIT di kabupaten TTS belum merasakan dampak dari kemitraan GMIT dalam bidang pendidikan. Hingga kini mereka masih berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan guru, fasilitas pendidikan, dan manajemen pendidikan. Berbeda dengan SMA Lentera Harapan Kupang sebagai salah satu sekolah GMIT yang lahir dari kemitraan GMIT dengan Yayasan Pelita Harapan. SMA Lentera Harapan Kupang menampilkan kualitas lebih baik dibandingkan lima sekolah GMIT di Kabupaten TTS.
Penulis melakukan analisa berdasarkan teori teologi sosial Banawiratma. Dua aspek teologi sosial yang ditekankan adalah aspek sosial dan aspek historis. Aspek sosial menunjuk pada keterlibatan semua pihak dalam penyelengggaraan pendidikan di GMIT, secara khusus dalam kemitraan eksternal dan internal GMIT. Sementara itu aspek historis menunjuk pada suatu usaha mempertahankan esensi sekolah-sekolah GMIT sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan gereja. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak semua pihak untuk memaknai hakekat keberadaan GMIT sebagai mitra Allah melalui kemitraan dalam bidang pendidikan. Sebelum GMIT membangun kemitraan dengan pihak lain, GMIT itu sendiri adalah mitra Allah. Oleh karena itu, perlu adanya optimalisasi penyelenggaraan pendidikan di GMIT melalui kemitraan dalam bidang bidang pendidikan dalam rangka pembenahan sekolah-sekolah GMIT. Upaya optimalisasi tersebut dilakukan di dalam kesadaran untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di dunia.
Kata Kunci: Kemitraan, Pendidikan, Keterlibatan Sosial, Keadilan, Optimalisasi.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Kematian adalah peristiwa natural, setiap manusia pasti akan mati. Kematian adalah kehidupan dalam cara yang baru, bentuk baru, dari kehidupan itu Yesus namakan tidur. Ini adalah suatu masa antara di mana manusia itu istirahat sambil menantikan kebangkitan. Orang beriman mati sebelum kedatangan kembali Kristus dihubungkan dengan Kristus oleh karen itu disebut mati dalam Kristus. Anggota jemaat Etam Lipa, Klasis Alor Tengah Utara memahami kematian karena kecelakaan sebagai penyakit atau masalah adat yang belum terselesaikan sehingga harus melaksanakan ritus Patei Sela Kate untuk membatasi kematian karena kecelakaan. Kematian bagi orang percaya bukan suatu hal yang harus ditakutkan karena Kristus sendiri telah mati dan bangkit pada hari yang ketiga untuk mengalahkan kuasa dosa.
Penelitian mengenai pemahaman anggota Jemaat GMIT Etam Lipa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pandangan anggota Jemaat tentang ritus Patei Sela Kate. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa pemahaman anggota Jemaat Etam Lipa terhadap kematian merupakan suatu penyakit. Kematian dipahami secara sempit oleh anggota Jemaat Etam Lipa mengenai kematian karena kecelakan dipengaruhi juga oleh faktor warisan leluhur. Oleh karena itu gereja perlu memberikan pemahaman lagi tentang kematian dalam ajaran Iman Kristen sehingga anggota jemaat Etam Lipa tidak menganut pemahaman yang keliru tentang kematian, tetapi dapat diterima bahwa kematian bagi orang percaya merupakan kehidupan dalam cara yang baru yaitu tidur sambil menantikan kebangkitan.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Kitab Keluaran ditulis untuk memperlihatkan kuasa Tuhan, karena selama 400 tahun (Kej. 15:13), bangsa Israel diperbudak dan dianiaya di Mesir. Kitab Keluaran juga melanjutkan sejarah pembebasan dan perkembangan umat Israel sebagai pilihan Allah, selama di Mesir, kelepasan, dan kehadiran mereka di padang Gurun Sinai sampai pada pendudukan tanah Kanaan. Tujuan kitab Keluaran adalah menekankan tentang penyataan diri Allah (Kel. 6: 2-3), serta memberi pengajaran kepada umat Israel melalui aturan-aturan untuk memelihara perjanjian (covenant) dengan Allah. Pemberian Perjanjian di Sinai untuk memelihara jati diri Israel sebagai umat Allah (Kel. 23:20-23) di tengah-tengah bangsa lain. Keluaran 21 termasuk dalam hukum-hukum Kitab Perjanjian (Kel. 19-24). Keluaran 21: 12-17 mengatur tentang penghargaan terhadap nyawa sesama. Dalam kehidupan Israel kuno, terdapat hukum yang mengatur kejahatan-kejahatan, terutama pembunuhan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja (Kel. 21:12-14). Maka ditetapkannya tempat perlindungan (Bil. 35:13-14; Ul. 19;11-13; Yos. 20:6) sebagai tempat untuk beroleh hak perlindungan (Raj. 1:51; 2:28) dari para go’el (penuntut darah).
Metodologi yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian studi pustaka dan metode tafsir historis kritis. Metode studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan data pustaka melalui berbagai literatur. Sedangkan metode tafsir historis kritis yakni metode penafsiran Alkitab sebagai studi tentang tek-teks Alkitab yang menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dalam teks dan menemukan kerygma teologi (eksegesis) dari teks bukan menambahkan kerygma teologi dari luar teks (eisegesis).
Kehidupan masa kini juga tidak terlepas dari banyak kejahatan dan menjadi realita yang dihadapi oleh semua orang, termasuk pemerintah maupun gereja. Pembunuhan, perdagangan orang (human trafficking), dan masih banyak masalah lain yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Kepolisian Republik Indonesia (polri) sebagai lembaga hukum juga belum melaksanakan tugasnya secara maksimal, karena masih terdapat oknum-oknum Polri yang melakukan pelanggaran HAM terhadap masyarakat, seperti kasus di Warior, penganiayaan tehadap Napi, dan memperkosa anak di bawah umur. Demikian juga gereja, di dalamnya masih ada oknum yang melakukannya pelanggaran HAM, yang terlibat pelaku humman trafficking. Segala diskusi dan upaya harus dilakukan oleh gereja dan Polri. Gereja dan Polri juga harus menjadi tempat perlindungan yang menjamin keamanan, hak perlindungan dan keadilan bagi semua orang demi mempertahankan martabat dan HAM menurut hukum perjanjian dan ketetapan-ketetapan Tuhan. Dalam hal ini, baik Gereja Masehi Injili di Timur (GMIT), pemerintah, Polri, masyarakat, dan individu berkewajiban untuk melindungi HAM tanpa membeda-bedakan.
Kata kunci: Hukum, Perjanjian, TUHAN, Tempat Perlindungan, Hak Asasi Manusia
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Sejarah merupakan peristiwa yang telah berlalu dalam kehidupan, baik itu hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Sejarah juga turut mempengaruhi kahidupan di hari esok, baik itu pengaruh buruk maupun pengaruh baik. Oleh karena itu belajar dari pengalaman masa lalu adalah hal yang sangat penting untuk menata hari ini dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Sejarah perjalanan gereja juga harus menjadi perhatian masa kini. Lewat pengalaman masa lalu gereja dapat mengetahui bagaimana gereja bertumbuh hingga kini. Namun, pada kenyataannya banyak generasi masa kini yang tidak peduli terhadap peristiwa masa lalu. Hal ini membuat mereka tidak mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi dan berkesan dari perjalanan sebuah gereja. Jemaat Efata adalah salah satu jemaat GMIT yang memiliki perjalanan sejarah yang panjang, namun tidak diketahui oleh generasi masa kini. Hal ini mengakibatkan akan mulai hilangnya sejarah dari generasi muda. Metode penelitian kualitatif dan metode penelitian sejarah yang dilakukan melalui langkah-langkah berikut, menentukan topik yang akan diteliti, mengumpulkan sumber data yang diperlukan baik itu secara lisan, dan tulisan. Melakukan verifikasi data, dan interpretasi (penulisan hasil), menolong untuk dapat mengetahui sejarah Jemaat Efata yang pertumbuhannya disertai oleh Tuhan, Selama 66 tahun Jemaat Efata bertumbuh, yang terbagi menjadi tiga periode yakni: periode 1954-1974, periode 1975-2005, dan periode 2005-2020. Setiap periode memiliki cerita masing-masing, yang mempengaruhi perjalanan selanjutnya. Pemaknaan atas penyertan Tuhan dalam perjalanan kehidupan jemaat membuat jemaat semakin bertumbuh dalam iman dan juga mengalami perkembangan pembangunan yang lebih maju. Peristiwa-peristiwa masa lalu yang telah dilewati kini menjadi pembelajaran penting bagi generasi masa kini, untuk dapat menata masa depan gereja menjadi lebih baik dan syalom Allah benar-benar nyata dalam kehidupan jemaat. Kata kunci: Gereja, Sejarah, Pertumbuhan, Penyertaan Tuhan, Jemaat Efata.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Traktor merupakan salah satu penerapan teknologi di bidang pertanian. Tujuan adanya pengalihan teknologi tersebut yaitu untuk meringankan beban dalam melakukan pengolahan lahan pertanian, terutama dengan luas lahan yang tidak sedikit dan jenis tanah yang cukup sulit untuk diolah. Pengolahan tanah di daerah P3A Dahulu Rasa bisa berjalan sesuai yang diharapkan demi mewujudkan tanam padi serentak pada musim tanam pertama apabila kebutuhan traktor terpenuhi dan menejemen pengoperasiannya dibuat dengan baik..Tujuandaripenelitian di iniadalah : Untuk mengetahui kebutuhan traktor pada pengolahan tanah guna mewujudkan jadwal tanam padiserentak pada musim tanam pertama di daerah P3A Dahulu Rasa Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah..Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani sawah di daerah P3A Dahulu Rasa Desa Mata Air. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 25 orang yang terdiri dari:Petani pemilik traktor, petani pemakai traktor operator traktor dan pengurus P3A. Tingkat kebutuhan traktor untuk pengolahan tanah di daerah P3A Dahulu Rasa untuk pengolahan tanah pertama menggunkan traktor roda 4 dan traktor tangan sedangankan untuk pengolahan tanah kedua semua masih menggunakan traktor tangan. Pada pengolahan tanah dengan menggunakan traktor dari pengolahan tanah pertama dan kedua membutuhkan waktu 8 hari dan juga membutuhkan 1 unit traktor roda 4 dan 10 unit traktor tangan.Sedangkan untuk tingkat kecukupan traktor di daerah P3A Dahulu Rasa sudah sangat melebihi dari apa yang dibutuhkan namun masih kurang dalam manajemen pengoperasian traktor bagi petani pemilik dan juga operator sehingga sering terjadi keterlambatan dan juga kendala dalam pengolahan tanah bagi petani...
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sejarah gereja merupakan kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang dialami oleh gereja selama di dunia ini. Sejarah gereja dapat memberikan gambaran tentang berdirinya gereja tersebut dan bagaimana perjalanan pelayanannya hingga saat ini. Sejarah itu juga penting bagi generasi masa kini dan yang akan datang untuk mengenal para pendahulu yang telah meletakan dasar bagi kehidupan berjemaat dengan suka dan dukanya, dan catatan sejarah juga dapat memotivasi jemaat untuk terus membangun persekutuan yang indah serta berperan aktif dalam pelayanan. Bertolak dari hal itu, penulis tertarik untuk meneliti sejarah terbentuk dan pertumbuhannya Jemaat GMIT Eklesia Oeteta. Penulis memberi judul Bertumbuh di Tengah Semak Duri karena melihat pergumulan Jemaat Eklesia Oeteta saat ini; Jemaat Eklesia Oeteta bergumul dengan Spritualitas Jemaat, hubungan antar anggota jemaat yang kurang baik, perselisihan antar anggota jemaat yang tidak terselesaikan terus berlanjut sehingga membuat persekutuan dalam jemaat menjadi terhimpit dan adanya oknum-oknum tertentu yang berambisi menjadi pemimpin dalam jemaat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih Jemaat GMIT Eklesia Oeteta menjadi lokus penelitian untuk mengkaji tentang sejarah terbentuk dan pertumbuhannya Jemaat Eklesia Oeteta. Dari penelitian tersebut penulis menemukan bahwa latar belakang berdirinya jemaat tersebut karena adanya konflik antar jemaat dan jemaat serta jemaat dan majelis jemaat yang mengakibatkan perpecahan. Gereja sebagai persekutuan orang percaya membentuk suatu perkumpulan atau perhimpunan yang kemudian dikenal dengan istilah jemaat. Ketika hubungan dalam sebuah Jemaat dilandaskan atas takut akan Tuhan dan membangun hubungan berlandaskan kasih Kristus, maka jemaat tersebut akan mengalami suatu pertumbuhan yang baik, baik itu dari segi kualitasnya maupun kuantitasnya. Akan tetapi jika jemaat tersebut masih hidup dengan melakukan hal-hal di luar dari kehendak Tuhan, maka jemaat tersebut akan terpecah belah. dari pandangan di atas dapat dikatakan bahwa yang menjadi faktor penyebab terjadinya perpecahan dalam gereja karena adanya ketidaksepahaman orang-orang yang ada dalam gereja yang ingin menang sendiri dan berkeinginan untuk menjadi pemimpin dalam gereja sehingga menyebabkan perpecahan. Untuk itu jemaat perlu memahami arti dari gereja itu sendiri yakni; gereja merupakan orang yang dipanggil keluar dari dalam kegelapan Menuju terang yang ajaib untuk mewartakan berita sukacita tentang Yesus Kristus Sang Juruselamat. Kata Kunci : Sejarah Jemaat GMIT Eklesia Oeteta, Konflik, Perpecahan, Pembentukan, Pertumbuhan.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hendrik Kraemer adalah seorang misiolog yang lahir pada 17 Mei 1888 di Amsterdam, Belanda dan meninggal dunia pada 11 November 1965. Kreamer adalah salah seorang pemikir Kristen yang paling berpengaruh pada zamannya, khususnya dalam hal hubungan antara agama Kristen dengan agama-agama lain serta berbagai budaya. Dia memiliki banyak kemampuan dan memberikan banyak kontribusi serta inspirasi dalam berbagai diskusi dunia tentang persoalan misiologis. Sebagai salah seorang teolog kaum awam yang menjadi guru besar Teologi dan mempersoalkan berbagai masalah teologis tentang kebudayaan modern manusia, Kraemer menjadi semakin menyadari kebutuhan untuk mendirikan gereja lokal yang independen di ladang misi karena misi mereka itu bukanlah menjadi seorang guru tetapi kehadiran mereka itu sebagai panggilan yang membuat benih gereja bertumbuh dan berkembang dalam pekabaran injil, itulah mengapa dia menganjurkan agar gereja-gereja Indonesia dibuat mandiri.
Berdasarkan konsep pemikiran Kraemer sebagai kaum awam penulis menganalisis Kraemer menggunakana data sekunder dan primer dengan melihat pentingnya peran kaum awam dalam pelayanan gereja. Bagi Kraemer pemberitaan Injil Yesus Kristus adalah misi gereja, karena itu harus diingat, bahwa satu-satunya motif untuk pekerjaan misi Pekabaran Injil ialah “Panggilan rasuli untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, yang diutus oleh Allah ke dunia sebagai jalan, kebenaran dan hidup” dengan segala kekuatan yang ada pada kita, maka semua kita berkewajiban untuk melaksanakan tugas agung yang dipercayakan Allah kepada kita, yaitu untuk memberitakan Injil. Dalam menyampaikan misi Pekabaran Injil Kraemer menyarankan gereja-gereja lokal di Indonesia untuk mandiri. Salah satunya di Timor yaitu GMIT pada tahun 1947. Kemandirian gereja dalam bidang teologi, daya dan dana menjadi pusat dalam melaksanakan misi Allah yaitu pekabaran Injil yang dapat dikembangkan oleh kaum awam yang juga terlibat dalam kemandirian gereja melalui bimbingan pembacaan Alkitab, pemberdayan sumber daya yang dimiliki gereja serta pengelolan dana yang ada.
Penulis menemukan bahwa GMIT sendiri dapat mandiri karena GMIT memiliki dasar teologis yang sudah ada sepanjang masa dan menjadi titik acuan dalam misi pekabaran Injil. Pemandirian yang terjadi membuat GMIT terus berkembang menjadi lebih baik lagi baik itu dalam hal teologi, daya dan dana karena itu kelancaran pekabaran Injil haruslah didukung dengan pembagian tugas yang merata dan bertanggung jawab karena seluruh orang percaya (warga jemaat) dipanggil dan diutus untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan di dunia yaitu, mengabarkan Injil kepada seluruh bangsa. Selain itu dalam kemandirian, gereja perlu menyadari keberadaan kaum awam, karena gereja tidak terlepas dari peran kaum awam untuk membantu memberitakan Injil Kristus.
Kata Kunci : Hendrik Kraemer, Kaum Awam, Pekabaran Injil, Kemandirian
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Anak yatim piatu adalah anak yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu atau kedua orang tua telah meninggal dunia. Anak yatim piatu memiliki pergumulan kehidupan yang khas. Pergumulan mereka berkaitan erat dengan empat aspek penting dalam kehidupan manusia yaitu aspek fisik, aspek mental, aspek sosial dan aspek spiritualitas. Perhatian kepada kebutuhan anak yatim piatu tidak hanya datang dari negara tetapi juga harus datang dari pihak gereja sebagai bentuk nyata tindakan kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Di Jemaat GMIT Imanuel Oepura terdapat sejumlah anak yatim piatu yang merupakan anggota jemaat tersebut. Kehadiran mereka dalam jemaat harus mendapat perhatian khusus dari gereja sebagaimana kelompok kategori lainnya. Hal itu harus diwujudkan dalam program pelayanan yang disusun secara berkala dan teratur. Menjadi masalah adalah jika kehadiran anak yatim piatu dalam gereja tidak terdata dengan baik. Tidak adanya data membuat pihak gereja mengalami kesulitan dalam menentukan bentuk pelayanan yang akan diberikan kepada anak - anak yatim piatu tersebut. Penelitian ini berfokus pada bagaimana peran gereja terhadapanak-anak yatim piatu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui realitas anak yatim piatu dalam konteks jemaat setempat dan bagaimana peran pastoral gereja terhadap kehadiran dan pergumulan yang dihadapi mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa peran gereja sangat penting bagi anak-anak yatim piatu. Gereja dapat membuat program pelayanan khusus dan membuat pendataan bagi anak-anak yatim piatu. Demikian pula peran pastoral holistik gereja bagi anak yatim piatu harus dijalankan dengan kesadaran bahwa gereja harus menjadi rumah dan orang tua bagi mereka.
Kata Kunci: Pastoral, Gereja, Anak-anak Yatim Piatu
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang terpanggil untuk mempersaksikan panggilan itu kepada orang lain. Berdasarkan keterpanggilan itu, Alkitab menggambarkan gereja dengan berbagai model sebagai metafora yang lahir dari konteks kehidupan jemaat. Dalam pandangan yang lahir dari pengalaman persekutuan Jemaat GMIT Betel Nitneo, gereja memberi perhatian cinta kasih dan memastikan pertumbuhan iman jemaat, dengan begitu, terciptanya persekutuan yang harmonis. Sejatinya, salah satu pengajaran tentang metafora Gereja sebagai Ibu telah dihidupi nilai-nilainya oleh Jemaat GMIT Betel Nitneo dalam hidup sehari-hari, hanya saja ajaran ini tidak dirumuskan secara baik dalam doktrin tentang gereja sehingga tidak diketahui dengan pasti. Maka tulisan ini mengkaji tentang bagaimana pemahaman Jemaat GMIT Betel Nitneo memaknai metafora Gereja sebagai Ibu berdasarkan nilai-nilai yang telah dihidupi. Hal ini menarik karena jarang sekali orang mendengarkan dan membicarakan tentang metafora Gereja sebagai Ibu.
Tulisan ini dikaji menggunakan metode penelitian deskriptif-analitif yang diharapkan dapat mendeskripsikan pemahaman jemaat secara kritis dan dianalisis secara ilmiah. Berdasarkan hasil analisa, diketahui bahwa jemaat memahami gereja secara beragam, baik sebagai orang-orang yang bersekutu, tubuh Kristus, pokok anggur, maupun sebagai institusi. Sedangkan berbicara tentang Gereja sebagai Ibu, hampir tidak diketahui secara baik. Namun, jika bertolak dari kata ‘ibu’ sejatinya jemaat menyadari dan mengakui bahwa Gereja adalah Ibu, sebab gereja telah memberi jemaat sebuah keluarga baru, dan mereka dapat mengalami Allah seperti seorang Ibu yang mengasuh dan memelihara mereka melalui rahim Gereja. Metafora Gereja sebagai Ibu menjadi suatu pengajaran yang relevan dalam praktik kehidupan persekutuan di Jemaat GMIT Betel Nitneo.
Kata Kunci : Gereja, Metafora, Ibu, Rahim, Keluarga
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui kinerja P3A saluran irigasi Dalam Kom Kelurahan Oesao Kecamatan kupang Timur Kabupaten Kupang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode dekriptif untuk memberikan gambaran tentang pengelolaan dan kondisi fisik jaringan irigasi pada Daerah Irigasi Dalam Kom.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja P3A sudah berjalan dengan baik. Sedangkan kegiatan operasi dan pemeliharaan saluran irigasi pada daerah irigasi Dalam Kom yang telah dilakukan oleh P3A belum berjalan dengan baik yang dipengaruhi karena kurangnya kerja sama antar petani, Sehingga masih ditemukan sampah pada pintu saluran utama, masih ditemukan juga rumput yang tumbuh pada saluran dan pembagianan air pada petak tersier masih belum dapat dilakukan secara maksimal
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Air dalampertanianmerupakankebutuhanpokokterutamadalambudidayapadisawah. Air dalambudidayapadisawahdigunakanuntukpengolahantanahdanpertumbuhantanaman. Air dalampertumbuhandanperkembangantumbuhansebagaibahanbakutanamandalam proses fotosintesisdan juga dapatmenjagakelembabantumbuhan agar tidaklayu. Air diserapolehakartumbuhandandikirimkankedauntempatmelakukanfotosintesis.
PenelitianinimenggunakanmetodeRancanganAcakLengkap (RAL) dengan 4 perlakuandan 5 kali ulangansehinggamenghasilkan 20 unit percobaan. Adapunperlakuan yang di cobakanyaitu A= tinggigenangan 2 cm, B= tinggigenangan 3 cm, C= tinggigenangan 4, D= tinggigenangan 5 cm. Perlakuanterbaikdalampenelitianiniterdapatpadaperlakuan D denganpemberianketinggiangenangan air padisawah 5 cm mendapatnilai rata-rata tertinggipadatinggitanamanpadisawahdengannilai rata-rata 89.760cm, nilai rata-rata pertumbuhanjumlahanakan/rumpun 15.600 yang terbuktidapatmeresponpengaruhketinggiangenangan air padisawahterhadappertumbuhantanamanpadisawah
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam realitas kehidupan, manusia hidup di dalam budaya sebagai sebuah kekayaan untuk menata kehidupan sosial manusia. Setiap kebudayaan memiliki beragam tradisi yang unik dan terkandung nilai-nilai luhur. Dalam budaya Atoni Pah Meto, ada tradisi-tradisi yang mengatur, menata serta mengontrol kehidupan manusia sehingga diwariskan dari satu generasi kepada generasi yang lain. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui konteks masyarakat secara umum dan secara khusus konteks jemaat GMIT Hosana Tauanas. Selanjutnya konsep Atoen Amaf sebagai warisan kultural yang terus dipertahankan dalam kehidupan sosial dan berjemaat khususnya di Jemaat GMIT Hosana Tauanas, dengan menemukan peran Atoen Amaf yang selalu nampak dalam peristiwa kelahiran, pernikahan dan kematian. Selain itu, Peran Atoen Amaf dalam resolusi konflik, tradisi tanam, panen dan sebagainya, serta pada urusan yang sifatnya religius, Atoen Amaf memiliki peran yang sentral (memimpin doa dan sebagainya). Tradisi pewarisan dan pengangkatan Atoen Amaf berdasarkan silsilah keturunan. Kendati demikian, sikap hidup Atoen Amaf kerap menjadi sangat otoriter dan menekankan pada keinginan sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan umum (keluarga yang dipimpin). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, yakni penulis terjun ke lapangan untuk meneliti sendiri mengumpulkan data melalui informan sebanyak 30 orang yang terdiri dari anggota Jemaat dan majelis Jemaat GMIT Hosana Tauanas, lalu menganalisis dan menyimpulkan. Terakhir penulis menggunakan tinjauan teologi kontekstual yaitu; pendekatan sikap dualis; Kristus dan kebudayaan dalam paradox, oleh Niebuhr. Penulis juga menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam peranan Atoen Amaf serta tema-tema dominan yaitu; keutamaan, keteladanan dan tanggung jawab. Selanjutnya direfleksikan menurut pandangan iman Kristen dengan sumber Alkitab, dengan melihat teladan Yesus Kristus, sebagai suatu pembaharuan dalam peranan Atoen Amaf. Kata-kata Kunci: Atoen Amaf, Alekat Alulut, Yesus Kristus
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Pemberitaan Alkitab memuat kesaksian iman umat percaya akan Allah yang berkarya
dalam beragam realitas pergumulan dunia, termasuk dalam krisis. Muatan tema krisis
yang lumrah ditemui dalam kesaksian Perjanjian Lama salah satunya ialah krisis
pangan atau dapat disebut kelaparan. Kelaparan, merupakan situasi di mana makhluk
hidup mengalami kesulitan disebabkan tidak tersedia dan sulitnya akses kepada
pangan. Kejadian 41 mencatat kelaparan yang melanda Mesir pada masa Yusuf. Krisis
tersebut diasosiasikan bukan sebagai akibat dosa umat sebagaimana teks biblis lain
menjelaskannya, melainkan sebuah peristiwa alami, dan Allah memberikan
kesempatan manusia untuk mengantisipasi dampaknya. Isu krisis pangan pada
Kejadian 41 menemui relevansinya kini. Krisis tersebut menjadi isu global dan
memiliki urgensi yang kuat.
Tulisan ini didasarkan pada tinjauan eksegese terhadap teks Kejadian 41:46-57,
menggunakan metode penelitian kajian pustaka dengan tafsir kritik historis sebagai
metode tafsirnya, dan penulisan deskripsi-analisis-reflektif sebagai metode
penulisannya. Penggunaan metode tafsir kritik historis berguna dalam upaya membaca
kebutuhan konteks historis serta menggali pemaknaan yang lebih utuh terhadap teks
didasarkan pada analisa bahasa.
Isu Krisis pangan global pada periode sejak 2020 semakin menemui
urgensinya. FAO (Food and Agriculture Organzation) memprediksi kemungkinan
besar terjadinya krisis pangan dalam beberapa tahun ke depan, diakibatkan kenaikan
harga bahan baku, pandemi, konflik dan krisis iklim. Antisipasi terhadap krisis pangan
memerlukan keterlibatan semua pihak, tidak terkecuali gereja. Dalam konteks NTT,
ancaman krisis pangan bukan isu baru. Upaya menyikapinya pada ranah lokal
memerlukan keterlibatan semua pihak, termasuk Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)
Tulisan ini memuat implikasi terkait, yakni: mengedepankan aspek kolaboratif,
antisipatif dan adaptif pada ranah lokal sebagai upaya mitigasi bersama terkait ancaman
krisis pangan. Kolaboratif yakni mau dan rela menjalin kerjasama dengan pihak-pihak
terkait di luar dirinya yang memiliki kapasitas yang cukup dalam bidangnya;
antisipatif, yakni memiliki kepekaan dan perhatian terhadap tanda-tanda zaman; dan
adaptif, yakni mengakomodir pemanfaatan sumber-sumber lokal sebagai sarana
mitigasi aktif dalam meresponi ancaman krisis pangan.
Kata Kunci: Yusuf, krisis pangan, mitigasi, Kejadian 41:46-57, Gereja Masehi Injili
di Timor (GMIT)
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Kinerja merupakan nilai dari seperangkat perilaku yang berkontribusi baik secara positif maupun negatif terhadap pencapaian tujuan organisasi, artinya kinerja positif akan berkontribusi pada semakin tercapaianya tujuan organisasi, dan semakin negatif kinerja, maka akan berpengaruh terhadap semakin jauh pencapaian tujuan.
Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kinerja mengajar guru Penjasorkes pada masa pandemi Covid-19.
Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pengamatan, wawancara dan dokumentasi.
Hasil dan pembahasan: Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja mengajar guru PJOK SD Negeri Naumang Kabupaten Alor dengan Indikator penilaian kinerja guru mengacu pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 yaitu penilaian terhadap Perencanaan Pembelajaran, Pelaksanaan Pembelajaran dan Evaluasi Pembelajaran hasil yang dilakukan oleh guru. Hasil analisis data menunjukan hasil yang cukup baik.
Simpulan: penilaian kinerja mengajar guru PJOK SD Negeri Naumang pada masa pandemi Covid-19 dengan menggunakan beberapa indikator yang telah dianalisis dan mendapatkan hasil yang baik. Guru mampu memberikan pengajaran yang cukup baik dengan metode yang di kembangkan berdasarkan instruksi KEMENDIKBUD.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
irigasi ialah usaha untuk memperoleh air yang menggunakan bangunan dan saluran buatan untuk keperluan penunjang produksi pertanian.
Operasi jaringan irigasi dalam arti sempit adalah pengaturan pintu-pintu pada bangunan air (bendungan, bangunan bagi) untuk menyadap air dari sumber air mengalirkannya kedalam jaringan irigasi memasukan air kepetak-petak sawah, serta membuang kelebihan air ke saluran pembuang.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jemaat Kemah Ibadat Airnona, Klasis Kota Kupang adalah salah satu jemaat GMIT yang secara aktif menggunakan bahasa Sabu dalam aktifitas pelayanan dan interaksi sehari-hari mereka sebagai sebuah persekutuan. Bahasa Sabu dipakai sebagai bahasa awal ketika mereka berinteraksi dengan sesama. Lewat bahasa Sabu jemaat dapat mengerti tentang Firman Tuhan dalam hidup mereka. Dari bahasa Sabu ini juga, pergumulan jemaat untuk memiliki gedung beribadah dapat tercapai meskipun banyak tantangan yang dialami.
Peranan bahasa Sabu yang besar juga dapat dilihat melalui penggunan liturgi dalam bahasa Sabu. Sejak berdirinya Gereja Kemah Ibadat Airnona dari tahun 1956 sampai tahun 2022 liturgi bahasa Sabu sangat sering digunakan dalam Kebaktian Minggu, namun seiring perkembangan zaman intensitas penggunaan liturgi bahasa Sabu semakin menurun. Apresiasi menggunakn liturgi bahasa Sabu tetap ada meskipun dalam praktiknya di masa kini dianggap tidak lagi moderen. Jemaat masa kini menganggap bahasa Sabu merupakan bahasa kuno jika dibandingkan dengan bahasa asing linnya. Selain itu adanya keterbatasan jemaat dalam memahami bahasa Sabu sehingga jemaat merasa jenuh ketika liturgi bahasa sabu digunakan.
Melalui tinjauan kontekstual secara umum dan pemikiran Bevnas secara khusus mengenai model sintesis, penulis menemukan kesaksian bahwa setiap orang dalam konteks bisa belajar dari konteks yang lain (masa kini bisa terus belajar dari masa lampau). Dari pembelajaran ini akan menghasilkan keterbukaan dialog antara Injil dan kebudayaan. Lewat skripsi ini, penulis menemukan bahwa biarpun perkembangan zaman mempengaruhi pola kehidupan jemaat, namun identitas Jemaat Kemah Ibadat tidak terpengaruhi. Jemaat Kemah Ibadat tetap menggunakan bahasa Sabu dalam liturgi Kebaktian Minggu di akhir bulan sebagai pengingat akan persekutuan dan pergumulan mereka.
Kata Kunci: bahasa, liturgi, identitas, persekutuan, pemberitaan injil