ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertolak dari realitas kehidupan masyarakat Ladon, Klasis Alor Barat Laut, yang hidup dalam konteks keberagaman agama, khususnya relasi antara umat Kristen dan Islam. Di tengah pluralitas tersebut, masyarakat menghidupi nilai budaya lokal Tena’El yang dimaknai sebagai persaudaraan, persahabatan, dan kebersamaan lintas iman. Pokok persoalan dalam penelitian ini adalah bagaimana konteks wilayah dan jemaat GMIT Tena’El Ladon membentuk relasi Islam-Kristen, bagaimana makna dan nilai Tena’El dipahami serta dipraktikkan dalam kehidupan sosial-keagamaan, dan bagaimana nilai tersebut ditinjau secara teologis dalam terang Injil dengan menggunakan perspektif pluralisme agama menurut Paul F. Knitter. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna Tena’El sebagai identitas lokal yang berperan dalam membangun relasi persaudaraan antara umat Kristen dan Islam, mengkaji praktik hidup bersama dalam keberagaman melalui pendekatan teologi agama-agama, serta menafsirkan nilai Tena’El sebagai bagian dari kesaksian iman Kristen yang kontekstual dan dialogis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi agama-agama. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan warga jemaat, tokoh gereja, tokoh masyarakat, serta umat Islam, observasi lapangan, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menafsirkan temuan penelitian dalam kerangka pluralisme agama Paul Knitter dan teologi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tena’El berfungsi sebagai modal sosial dan teologis yang memperkuat relasi persaudaraan Islam–Kristen di Ladon. Nilai ini tidak bertentangan dengan iman Kristen, melainkan sejalan dengan Injil yang menekankan kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan hidup berdampingan secara damai. Tena’El menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan gereja hadir sebagai agen perdamaian dan memperteguh kesaksian iman di tengah masyarakat plural.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini mengkaji relasi antara Gereja Katolik dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Sikun, Klasis Malaka, dalam konteks pluralisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kedua gereja ini dalam menghadapi perbedaan kepercayaan dan sejarah kedatangan masing-masing gereja, serta merefleksikan nilai-nilai teologis yang mendasari hubungan tersebut. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat konflik awal akibat perbedaan keyakinan, kedua gereja mampu membangun keharmonisan melalui kegiatan bersama seperti bakti sosial, proses belajar bersama, dan perayaan keagamaan. Pluralisme agama di Sikun, yang mencakup kehadiran Islam, Katolik, Protestan (GMIT), dan Pentakosta, menjadi latar belakang penting dalam memahami dinamika hubungan ini. Model misi Konvivenz dari Theo Sundermeier, yang menekankan gotong-royong, belajar bersama, dan perayaan hidup, terbukti relevan dalam konteks Sikun. Relasi yang baik antara Gereja Katolik dan GMIT di Sikun dapat menjadi model bagi gereja-gereja lain yang masih mengalami konflik. Gereja perlu terus mempromosikan dialog dan kerjasama lintas agama untuk mewujudkan kasih Allah yang universal dan menciptakan kehidupan yang adil dan damai. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya dialog antaragama, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan upaya untuk memahami serta menghargai identitas agama masing-masing. Penelitian ini memberikan saran untuk memperkuat relasi antar gereja melalui forum diskusi rutin dan program-program bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dialog antara umat beragama Kristen dan Islam telah menjadi isu yang penting dan relevan dalam masyarakat yang semakin majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami pentingnya dialog inter-religius antara kedua agama tersebut, dengan fokus pada membangun pemahaman dan toleransi antar umat beragama, terkhususnya pemahaman Jemaat GMIT Pohonitas Manulai II. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggali literatur, serta wawancara tokoh agama, dan jemaat Kristen. Hasil analisis menunjukan bahwa dialog inter-religius merupakan instrument penting untuk menciptakan kesadaran dan saling menghargai antara umat beragama yang berbeda. Dalam konteks dialog Kristen dan Islam, ditemukan sejumlah tantangan yang perlu diatasi, seperti perbedaan keyakinan teologis, sejarah konflik, dan mispersepsi tentang agama lain. Namun, melalui pendekatan saling mengenal dan saling mendengarkan, umat beragama dapat membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai dan ajaran masing-masing agama. Selain itu, dialog inter-religius juga berperan dalam membangun toleransi dan mengurangi prasangka terhadap agama lain. Melalui dialog yang jujur, terbuka, dan bermakna, umat Kristen dan Islam dapat menemukan kesamaan nilai-nilai universal yang menggalang persatuan dan persaudaraan. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya peran tokoh agama dalam mendorong dialog inter-religius. Dengan memberikan contoh positif dan menciptakan ruang untuk dialog, pemimpin agama dapat menjadi agen perubahan yang membawa masyarakat menuju pemahaman yang lebih toleran dan pluralisme. Kesimpulannya, dialog umat beragama Kristen dan Islam adalah sarana penting untuk memperkuat hubungan antar umat beragama. Melalui dialog ini, pemahaman yang lebih baik tentang ajaran agama masing-masing dapat dibangun, dan prasangka serta konflik yang berakar pada ketidaktahuan dapat diatasi. Dengan begitu, masyarakat dapat hidup dalam harmoni dan menghormati keberagaman agama serta kepercayaan sesama umat manusia.