ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas umat Kristen di Surat Roma yang hidup dalam disharmonisasi, di mana ada pertikaian dari dalam komunitas jemaat sendiri dan juga dengan pemerintahan Roma. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana kerygma teologis Roma 12:17–21 dipahami dalam konteks historis dan teologisnya, serta bagaimana pesan tersebut relevan bagi respons umat Kristen terhadap realitas intoleransi pada masa kini. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji secara mendalam latar belakang dan isi pewartaan teologis Roma 12:17–21, menggali makna kerygma yang terkandung di dalamnya, serta merefleksikan implikasinya bagi kehidupan umat Kristen Indonesia dalam menghadapi pengalaman diskriminasi dan pembatasan kebebasan beragama. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir historis-kritis, melalui analisis teks Alkitab, konteks jemaat Roma, struktur literer perikop, serta makna kata-kata kunci dalam bahasa Yunani, dengan memanfaatkan sumber-sumber Alkitab, tafsiran, leksikon, dan literatur teologis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roma 12:17–21 memuat kerygma tentang panggilan umat percaya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, menyerahkan pembalasan kepada Allah, mengupayakan hidup dalam damai sejauh hal itu bergantung pada diri sendiri, serta mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kerygma ini menegaskan bahwa respons orang percaya terhadap ketidakadilan dan penderitaan harus berakar pada kasih Kristus dan kepercayaan kepada keadilan Allah, sehingga dalam konteks intoleransi di Indonesia, umat Kristen diarahkan untuk tetap setia pada iman, membangun sikap rekonsiliatif dalam relasi sosial, dan memperjuangkan martabat manusia tanpa terjebak dalam lingkaran kebencian dan pembalasan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini mengkaji mengenai teriakan dan doa-doa seorang nabi bernama Habakuk kepada Allah yang seolah-olah tidak peduli dengan hanya berdiam saja terhadap kehidupan orang-orang saleh yang ada dalam penindasan oleh orang-orang sebangsa mereka dalam Habakuk 1:2-4. Dengan menggunakan metode penafsiran historis kristis maka dibutuhkan untuk melihat teks-teks Alkitab yang lebih dahulu dan teks yang kemudian, lalu dikaitkan dengan teks yang dibahas. Untuk melihat teks tersebut, maka teks yang dibahas akan digali keluar (ex-egesis) dan bukan memasukkan ke dalam (eis-egesis) yang tidak disiplin. Maka dengan demikian penulis dapat menggali kerygma yang relevansi dengan masalah intoleransi yang dialami oleh umat Kristiani di Indonesia pada masa kini, kerygma teologis yang berhasil digali oleh penulis, ialah: 1) Terus bergumul bersama Allah bahkan ketika belum terjawab sekalipun, 2) Allah sedang menahan diri-nya, bukan berdiam diri, 3) Kejahatan tidak akan terus mendominasi selamanya. Melalui kerygma teologi yang didapatkan ini kemudian menjadi relevan dengan keberadaan umat Kristiani di Indonesia yang ada dalam pergumulan yang panjang berkaitan dengan perilaku-perilaku intoleransi yang dialami oleh orang-orang yang berada sebangsa dengan mereka. Dalam hal ini kemudian dikaji masalah intoleransi yang dialami oleh umat Kristiani di Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Dalam hal larangan membangun gereja, 2) Dalam hal larangan beribadah, 3) Dalam hal memberi ucapan selamat pada hari raya. Umat Kristiani dibawa untuk melihat perilaku-perilaku intoleransi yang sering menimpa keberadaan kelompok agama mereka sebagai salah kelompok agama minoritas di Indonesia yang seringkali menjadi sasaran tindakan penindasan dan ketidakadilan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dialog antara umat beragama Kristen dan Islam telah menjadi isu yang penting dan relevan dalam masyarakat yang semakin majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami pentingnya dialog inter-religius antara kedua agama tersebut, dengan fokus pada membangun pemahaman dan toleransi antar umat beragama, terkhususnya pemahaman Jemaat GMIT Pohonitas Manulai II. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggali literatur, serta wawancara tokoh agama, dan jemaat Kristen. Hasil analisis menunjukan bahwa dialog inter-religius merupakan instrument penting untuk menciptakan kesadaran dan saling menghargai antara umat beragama yang berbeda. Dalam konteks dialog Kristen dan Islam, ditemukan sejumlah tantangan yang perlu diatasi, seperti perbedaan keyakinan teologis, sejarah konflik, dan mispersepsi tentang agama lain. Namun, melalui pendekatan saling mengenal dan saling mendengarkan, umat beragama dapat membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai dan ajaran masing-masing agama. Selain itu, dialog inter-religius juga berperan dalam membangun toleransi dan mengurangi prasangka terhadap agama lain. Melalui dialog yang jujur, terbuka, dan bermakna, umat Kristen dan Islam dapat menemukan kesamaan nilai-nilai universal yang menggalang persatuan dan persaudaraan. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya peran tokoh agama dalam mendorong dialog inter-religius. Dengan memberikan contoh positif dan menciptakan ruang untuk dialog, pemimpin agama dapat menjadi agen perubahan yang membawa masyarakat menuju pemahaman yang lebih toleran dan pluralisme. Kesimpulannya, dialog umat beragama Kristen dan Islam adalah sarana penting untuk memperkuat hubungan antar umat beragama. Melalui dialog ini, pemahaman yang lebih baik tentang ajaran agama masing-masing dapat dibangun, dan prasangka serta konflik yang berakar pada ketidaktahuan dapat diatasi. Dengan begitu, masyarakat dapat hidup dalam harmoni dan menghormati keberagaman agama serta kepercayaan sesama umat manusia.