Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: KLT
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS SENYAWA β-KAROTEN DALAM EKSTRAK SINGKONG LOKAL (Manihot esculenta) MELALUI KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Umbi singkong kaya akan karbohidrat sehingga sering digunakan sebagai bahan pangan pengganti beras. Salah satu nutrisi yang terkandung dalam singkong adalah β- karoten yang berfungsi sebagai prekursor vitamin A yang disebut sebagai provitamin A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa β- karoten dalam ekstrak singkong lokal (Manihot esculenta) dengan variasi waktu menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Teknik pengolahan data yang dilakukan yaitu mentah dan mengukus. Sampel diekstraksi dengan menggunakan pelarut aseton. Prinsip metode KLT yaitu memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen, maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, Uji kualitatif β-karoten pada masing-masing sampel singkong (Manihot esculenta) dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) didapatkan kandungan β-karoten yaitu : singkong mentah = 0,583; singkong kukus 20’ = 0,7; singkong kukus 30’ = 0,783; dan singkong kukus 40’ = 0,8. Uji kuantitatif β-karoten pada masing-masing sampel singkong (Manihot esculenta) dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis didapatkan hasil: singkong mentah = 3,718; singkong kukus 20’= 3,894; singkong kukus 30’ = 3,982; singkong kukus 40’ = 4,535. Dengan demikian singkong yang diberi perlakuan dengan cara dikukus menunjukan bahwa kadar β-karoten pada singkong mentah lebih rendah dibandingkan dengan kadar β-karoten pada singkong yang diberi perlakuan dengan cara dikukus dengan variasi waktu 20, 30, dan 40 menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar β-Karoten pada singkong mengalami peningkatan saat pengukusan lebih lama.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KANDUNGAN FLAVONOID MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL PADA TUMBUHAN PAKU DAUN KEPALA TUPAI (Drynaria quercifolia L.) SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN SPEKTROFOTOMETER UV-VIS

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Senyawa aktif yang terdapat dalam tumbuhan umumnya dalam bentuk metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, kumarin, dan lain-lain. Seperti metabolit sekunder lainnya, flavonoid mempunyai aktifitas beragam, diantaranya mempunyai efek sebagai anti virus, anti kanker, anti imflamasi, anti oksidan, anti hepatoksik, anti diabetes dan juga sebagai pencelup tekstil. Flavanoid adalah senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman, salah satunya adalah tumbuhan paku. Tumbuhan paku banyak ditemukan di Indonesia dan dimanfaatkan sebagai pupuk pada tanaman padi, media tanaman anggrek, bahan patung dan sebagai obat-obatan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan flavanoid menggunakan pelarut etanol 96% pada tumbuhan paku daun kepala tupai (D. quercifolia L.) secara kromatografi lapis tipis (KLT) dan spektrofotometer UV-Vis. Larutan standar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Larutan Standar Rutin Kuersetin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis kualitatif menggunakan KLT menunjukan 4 noda yang diperoleh dapat diidentifikasikan bahwa noda pertama mengandung senyawa flavonoid dengan nilai Rf sebesar 0,21, noda kedua juga mengandung senyawa flavonoid dengan nilai Rf sebesar 0,30, noda ketiga mengandung senyawa tanin dengan nilai Rf sebesar 0,41 dan noda keempat mengandung senyawa tanin dengan nilai Rf sebesar 0,50. Analisis kuantitatif dengan spektrofotometri UV-Vis diperoleh kandungan flavonoid sebesar 2,30 mg QE/g ekstrak atau 0,23 %. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etanol 96% Daun Kepala Tupai (Drynaria quercifolia L) mengandung flavonoid dengan kadar sebesar 0,23 %.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KANDUNGAN SAPONIN PADA EKSTRAK SERAT MATANG BUAH LONTAR (Borassus flabellifer Linn)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Lontar (Borassus flabellifer Linn) merupakan salah satu tanaman jenis palmae yang dapat tumbuh baik di lingkungan tropis. Bagian pohon lontar yang dapat dimanfaatkan adalah daun, batang, buah dan nira. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa kandungan saponin pada ekstrak metanol serat matang buah lontar (Borassus flabellifer Linn). Penelitian ini menggunakan metode (KLT) dan spektrofotometri UV-Vis. Analisis data secara kualitatif ditandai dengan pembentukan busa setelah penambahan HCl 2N dan terbentuknya cincin warna cokelat setelah ditambahkan pereaksi Lieberman-Burchard. Cincin warna cokelat yang terbentuk menunjukan adanya reaksi saponin triterpen. Analisis senyawa menggunakan Kromatografi Lapis Tipis diperoleh lima spot warna atau bercak noda. Masing-masing noda memiliki nilai Rf 0.72 (spot 1), 0.73 (spot 2), 0.75 (spot 3), 0.76 (spot 4) dan 0.78 (spot 5). Mengacu pada nilai Rf dan warna kuning yang terdapat pada plat KLT menunjukan bahwa pada sampel terkandung saponin (triterpenoid). Saponin merupakan senyawa glikosida yang tersebar luas pada tumbuhan tingkat tinggi serta beberapa hewan laut dan saponin memiliki senyawa aktif kuat yang menimbulkan busa bila dihomogenkan dengan air. Hasil analisis kualitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis diperoleh nilai absorbansi saponin 0,325 pada panjang gelombang 280 nm yang juga menunjukan bahwa pada sampel terkandung saponin. Dengan demikian maka dapat dijelaskan bahwa pada ekstrak serat matang buah lontar terkandung saponin.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK RIMPANG ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L.)YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIBAKTERI

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Alang - alang merupakan tumbuhan pesaing bagi tanaman lain yang memiliki khasiat farmakologi sebagai antidiuretik, antiinflamasi, neuroprotektif, antifungi dan antibakteri. Di Nusa Tenggara Timur alang-alang hanya dijadikan pakan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif ekstrak rimpang alang-alang sebagai bahan alternatif alami untuk mengurangi tingkat resistensi bakteri. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif dan kuantitatif Data berupa senyawa bioaktif alang-alang diuji secara kualitatif menggunakan metode KLT dan secara kuantitatif yaitu uji kemampuan antibakteri terhadap S. aureus dan E. coli. Data dianalisis menggunakan analisis nilai Rf untuk menganalisis kandungan besar kandungan senyawa bioaktif sampel dan zona hambat untuk menganalisis pengaruh kekuatan senyawa biokatif terhadap bakteri. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan senyawa bioaktif yang terdapat dalam ekstrak rimpang alang-alang yang berpotensi sebagai antibakteri berupa senyawa Flavonoid dengan nilai Rf 0,47, senyawa Steroid dengan nilai Rf 0,62 dan Saponin dengan nilai Rf 0.82. Konsentrasi ekstrak terendah yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri E.coli adalah konsentrasi 7% dan konsentrasi tertinggi 10%. Konsentrasi ekstrak terendah yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri S.aureus adalah konsentrasi 7% dan konsentrasi tertinggi 10%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail