· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Penelitian ini dilakukan di Desa Batutua, Kecamatan Rote Barat Daya selama 2 (dua) bulan denga responden sebanyak 91 orang. Dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, seluruh analisis penelitian ini bersandar pada metode deskriptif potensi sumber daya ikan di Indonesia meliputi udang, teripang, ikan, cumu-cumi, penyu dan rumput laut. Selain itu terdapat banyak spesies ikan dengan harga yang bervariasi yang juga dapat dikonsumsi oleh masyarakat dengan kandungan protein yang sangat tinggi.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui dan menjelaskan angka konsumsi ikan segar masyarakat di Desa Batutua, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao. Selanjutnya akan di ungkap dan dijelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi angka konsumsi ikan segar masyarakat Desa Batutua.
Metode Penelitian: Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustu-September 2022, di Desa Desa Batutua Kecamatan Rote Barat Daya. Penelitian merupakan proses pemecahan suatu masalah dengan melakukan suatu pendekatan dengan metode ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada secara sistematis. Responden adalah bagian dari jumlah atau karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan responden yang diambil dari populasi.
Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa angka konsumsi ikan segar di Desa Batutua 26,56 kg/kapita/tahun. Pola konsumsi ikan segar di Desa Batutua, Kecamatan Rote Barat Daya sangat minim sehingga masih menggunakan cara yang bersifat tradisional, yaitu: rebus, goreng, bakar, masak kuah, masak cuka dan fermentasi garam atau gula air. Masyarakat Desa Batutua belum mengembangkan jenis olahan-olahan ikan lainnya disebabkan pengetahuan yang minim tentang olahan hasil perikanan sehingga berdampak pada angka konsumsi ikan segar menjadi rendah.
Kesimpulan: angka konsumsi ikan segar masyarakat Desa Batutua masih sangat rendah yang berada di kisaran 26,56 kg/kapita/tahun, angka ini berada di bawah angka konsumsi ikan Nusa Tenggara Timur yang mencapai 47,07 kg/kapita/tahun. Rendahnya angka konsumsi ikan segar masyarakat Desa Batutua disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang nilai gizi ikan
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengoperasian kapal penangkap ikan asing diwilayah ZEEI menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia dikarnakan setiap tahun nelayan-nelayan asing sering masuk ke wilayah ZEEI dengan berbagai modus untuk menangkap ikan secara illegal. Oleh karna itu penulis tertarik untuk meneliti hal tersebut dengan mengangkat judul: “Deskripsi Terjadinya Pengoperasian Kapal Penangkap Ikan Asing Diwilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI)” dengan 3 (tiga) permasalahan yaitu Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya pengoperasian kapal penangkap ikan asing diwilayah ZEEI, bagaimana modus terjadinya pengoperasian kapal penangkap ikan asing diwilayah ZEEI dan Bagaimana Akibat hukum dari pengoperasian kapal penangkap ikan asing diwilayah ZEEI. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apakah yang menyebabkan terjadinya pengoperasian kapal penangkap ikan asing diwilayah ZEEI, untuk mengetahuai bagaimana modus pengoperasian kapal penangkap ikan asing diwilayah ZEEI dan akibat hukum bagi pelaku pengoperasian kapal penangkap ikan asing diwilayah ZEEI. Penelitian ini bersifat deskriptif artinya suatu penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan secara utuh suatu permasalahan, jenis penelitian ini adalah penelitian normatif/kepustakaan. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi dokumen terhadap bahan hukun primer, sekunder dan tertier.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis ditemukan bahwa faktor terjadinya pengoperasian kapal penangkap ikan asing yaitu faktor ekonomi dan juga faktor tingkat pendidikan yang rendah, selain itu modus yang digunakan juga beragam dari alat tangkap yang dilarang, penggunakan bendera asing dan lain sebagainya sehingga menimbulkan akibat hukum bagi pelaku yang ditangkap dan diadili wajib membayar denda berupa uang tunai sesuai dengan putusan pengadilan.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul penelitian ini ialah: Deskripsi Tentang Motif, Modus Dan Akibat Hukum Tindak Pidana Membuka Lahan Dengan Cara Membakar.
Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1.Apa motif pelaku dalam melakukan tindak pidana membuka lahan dengan cara membakar?, 2.Bagaimanakah modus pelaku melakukan tindak pidana membuka lahan dengan cara membakar?, dan 3.Bagaimanakah akibat hukum dari tindak pidana membuka lahan dengan cara membakar?.
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini ialah untuk mengetahui: 1.Motif dari pelaku dalam melakukan tindak pidana membuka lahan dengan cara membakar, 2.Modus pelaku melakukan tindak pidana membuka lahan dengan cara membakar, dan 3.Akibat hukum dari tindak pidna membuka lahan dengan cara membakar.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jenis penelitian hukum normatif, menggunakan teknik pengumpulan data secara kepustakaan karena sepenuhnya menggunakan data sekunder. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah modus operendi membuka lahan dalam kawasan dengan cara membakar dan variabel terikat adalah putusan hakim terhadap tindak pidana membuka lahan dengan cara membakar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Motif pelaku melakukan tindak pidana membuka lahan adalah :
a. Mencari keuntungan atau penambahan penghasilan,
b. Melakukan penghematan biaya operasional.
2. Modus pelaku melakukan pembukaan lahan adalah:
a. Membersihkan lahan miliknya, ada pula yang disuruh membersihkan lahan milik orang lain,
b. Membersihkan lahan dengan cara memotong/ membersihkan dan mengumpulkan rumput kering dan kayu-kayuan yang ada dalam halaman dan menyulutkan api melalui korek api gas tumpukan tersebut,
c. Meninggalkan tempat atau lahan yang dianggapnya bahwa api telah padam.
d. Mendengar informasi lahan milik orang lain terbakar. Pelaku kembali untuk memadamkan api, namun terlambat karena lahan milik orang lain dan lahan milik pelaku sediri juga telah terbakar.
3. Akibat hukum dari tindak pidana membuka lahan adalah:
a. Pelaku menjalani pemidanaan,
b. Pelaku dikenai denda,
c. Menetapkan para pelaku tetap ditahan; dan
d. Membebankan kepada para pelaku untuk membayar biaya perkara.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Konsentrat protein ikan merupakan produk yang dihasilkan dengan cara menghilangkan lemak dan air sehingga menghasilkan konsentrat dengan protein yang tinggi. Tujuan dari penelitian karakteristik konsentrat protein ikan dari tetelan tuna loin yang diekstraksi dengan pelarut isopropil alkohol adalah sebagai berikut: (1) Mengetahui perlakuan ekstraksi terbaik menggunakan pelarut isopropil alkohol terhadap karakteristik kimiawi (kadar air, kadar lemak, kadar protein, dan kadar abu) dan organoleptik pada konsentrat protein ikan dari tetelan tuna loin yang dihasilkan, (2) Mengetahui perlakuan ekstraksi menggunakan pelarut isopropil alkohol terhadap jumlah mikroba pada konsentrat protein ikan dari tetelan tuna loin yang dihasilkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2022, yang bertempat di Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana untuk analisis rendemen, uji organoleptik, kadar air, uji mikroba dan di Laboratorium Nutrisi Dan Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang (kadar lemak, kadar protein dan kadar abu ). Hasil dari penelitian ini adalah karasteristik konsentrat protein ikan dari tetelan tuna loin yang diekstrak dengan pelarut isopropil alkohol yaitu pada tingkat penerimaan panelis berdasarkan organoleptik terbaik pada perlakuan 3 kali esktraksi dengan kenampakan 7,27, bau 7,71, dan tekstur 9,00 sudah memenuhi SNI-01-2346-2006, pengujian karasteristik kimiawi untuk perlakuan terbaik terhadap kadar air, lemak, protein, dan abu yaitu pada perlakuan 3 kali ekstraksi kadar air 3,55%, kadar lemak 2,98%, kadar protein 80,79% termasuk ke dalam golongan KPI tipe B menurut ketetapan standard mutu FAO (1976), kadar abu 1,25% memenuhi nilai standar mutu yang ditentukan oleh SNI 01-2715-1996, angka lempeng total 2,4 x 104 koloni/g di bawah nilai maksimum yang ditentukan oleh SNI 7388:2009.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul penelitian ini adalah “Deskripsi Tentang Sebab Dan Akibat Hukum Terjadinya Tindak Pidana Penadahan Hewan Curian Di Wilayah Kabupaten Sumba Barat”. Rumusan masalah yaitu Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penadahan hewan curian di Kabupaten Sumba Barat dan Bagaimana akibat hukum dari tindak pidana penadahan hewan curian terhadap pelaku, korban dan barang bukti. Tujuan penelitian yaitu Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penadahan hewan curian di Kabupaten Sumba Barat dan Untuk mengetahui akibat hukum dari tindak pidana penadahan hewan curian terhadap pelaku, korban dan barang bukti. Sifat penelitian yaitu bersifat deskriptif dan jenis penelitian ini adalah Penelitian Hukum Normatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor penyebab terjadinya tindak pidana penadahan hewan curian di Kabupaten Sumba Barat dan akibat hukum dari tindak pidana penadahan hewan curian terhadap pelaku, korban dan barang bukti. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah putusan pengadilan tentang tindak pidana penadahan hewan curian. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Faktor penyebab terjadinya tindak pidana penadahan hewan curian di Kabupaten Sumba Barat yaitu : 1) Faktor Ekonomi. 2) Faktor Penegakan Hukum. Akibat hukum dari tindak pidana penadahan hewan curian terhadap pelaku, korban dan barang bukti yaitu : 1) Akibat hukum bagi pelaku yaitu pelaku di pidana penjara dan membayar biaya perkara kepada pelaku penadahan hewan curian tersebut. 2) Akibat hukum bagi korban yaitu korban mengalami kerugian materil. 3) Akibat hukum bagi barang bukti yaitu barang bukti dikembalikan kepada pemilik hewan curian tersebut. Saran, Kepada masyarakat agar lebih berhati-hati atau teliti jika ingin memperoleh ataupun mendapatkan sesuatu barang untuk mengecek apakah barang tersebut hasil tindak kejahatan atau tidak. Kepada pemerintah agar lebih aktif untuk mensosialisasikan aturan mengenai tindak pidana penadahan dikarenakan masyarakat sering berdalih tidak mengetahui bagaimana meneliti barang yang hendak diperoleh.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Proporsi ikan terdiri dari bagian yang dapat dimakan (edible
portion) berupa daging dan bagian yang dibuang (processing waste) berupa sisik,
kepala, tulang dan kulit. Penyedap rasa alami merupakan salah satu bahan
tambahan (zat aditif) yang diberikan pada masakan dengan tujuan untuk
memperkuat rasa pada masakan dan digunakan secara instan supaya masakan
menjadi lebih lezat dengan takaran bumbu yang sedikit. Berdasarkan beberapa
informasi yang penulis kumpulkan belum ada penelitian tentang pembuatan
penyedap rasa alami dari ikan layur (Trichiurus sp) dan ikan tembang (Sardinella
sp) sebagai bahan penyedap rasa alami.
Tujuan penelitian: Penyedap rasa alami dari ikan layur (Trichiurus sp) dan ikan
tembang (Sardinella sp) sebagai bahan penyedap rasa alami adalah sebagai
berikut: (1) Mengetahui proporsi ikan layur (Trichiurus sp) dan ikan tembang
(Sardinella sp) sebagai bahan alternatif penyedap rasa alami, (2) Mengetahui
karakteristik uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) serta kandungan
kadar air, protein, lemak dan asam amino dari penyedap rasa alami dari ikan layur
(Trichiurus sp) dan ikan tembang (Sardinella sp).
Metode penelitian: Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus
2022 untuk pembuatan studi proporsi daging ikan layur (Trichiurus sp) dan ikan
tembang (Sardinella sp) sebagai bahan penyedap rasa alami di Laboratorium
Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Lab Fakultas Teknologi
Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk pengujian kadar lemak dan protein serta
di Laboratorium PT. Saraswanti Indo Genetech (SIG), Bogor untuk pengujian
asam amino.
Hasil dan pembahasan: Proporsi pembuatan penyedap rasa alami dari ikan layur
(Trichiurus sp) dan ikan temang (Sardinella sp) yang dapat digunakan adalah
75%. Simpulan: Karakteristik organoleptik yang dimiliki oleh ikan tembang
menunjukan bahwa ikan tembang lebih baik digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan penyedap rasa dibandingkan ikan layur. Berdasarkan analisis kimia
pada penyedap rasa hasil uji kadar air belum memenuhi syarat mutu SNI, analisis
kadar protein, kadar garam, memenuhi syarat mutu SNI 01-4273-1996, asam
amino esensial yang dominan adalah asam glutamat dan aspartat sedangkan asam
amino non esensial yang dominan adalah leusin dan arginin.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kabupaten Sabu Raijua merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak dibagian selatan. Masyarakat Desa Lobohede, Desa Menia, Desa Kudjiratu dan Desa Ledeunu Kabupaten Sabu Raijua sebagai kawasan budidaya rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii. Rumput laut dapat dipanen bila usia pemeliharaan mencapai 30-45 hari. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan teknik penanganan pascapanen rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Sabu Raijua, mengetahui kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di Perairan Sabu Raijua. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2022 di Kabupaten Sabu Raijua, Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana, Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian karagenan rumput laut di Desa Lobohede, rendemen 67,23%, kadar air 8,27%, kadar abu 26,24%, viskositas 59,65cP dan Kekuatan gel 89,75 g/cm2. Desa Menia, rendemen 60,09%, kadar air 7,04%, kadar abu 29,75%, viskositas 31,75cP dan Kekuatan gel 80g/cm2. Desa Kudjiratu, rendemen 65,62%, kadar air 8,82% kadar abu 26,71%, viskositas 36,01cP dan Kekuatan gel 80,5 g/cm2. Desa Ledeunu, rendemen 58,32%, kadar air 8,16%, kadar abu 26,84%, viskositas 35,95cP dan Kekuatan gel 68 g/cm2. Petani rumput laut kering di Desa Lobohede, Desa Menia, Desa Kudjiratu dan Desa Ledeunu Kabupaten Sabu Raijua dengan parameter rendemen, kadar air, kadar abu, dan viskositas telah memenuhi syarat mutu yang ditetapkan FAO (1986), FCC (1981), dan EEC (1978), sedangkan parameter kekuatan gel belum memenuhi syarat mutu yang ditetapkan FAO (1986).
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul:Deskripsi Tentang Pemaknaan Kata Berjumlah Dalam Pasal 83 Ayat (1)
Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Oleh
Mahkamah Konstitusi. Permasalahannya adalah: 1). Alasan-alasan yuridis apakah
yang melandasi pemohon mengajukan Constitutional Review terhadap Pasal 83
ayat (1) Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia? 2).
Mengapa Mahkamah Konstitusi memberi pemaknaan terhadap kata berjumlah
pada Pasal 83 ayat (1) Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia?Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan-alasan yuridis
yang melandasi pemohon mengajukan Constitutional Review terhadap Pasal 83
ayat (1) Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan
untuk mengetahui Mahkamah Konstitusi memberi pemaknaan terhadap kata
berjumlah pada Pasal 83 ayat (1) Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia yang berguna secara teoretis dan praktis. Sifat dari penelitian
ini adalah deskritif kualitatif dengan jenis penelitian normatif. Variabel dalam
penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu:alasan pengujian dan pemaknaan
Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 83 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 39
Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Terhadap UUD RI 1945dan variabel
terikat yaitu:Putusan Mahkamah Konstitusi30/PUU-XX/2022dengan sumber
bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier dengan
studi kepustakaan / dokumen yang dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian dan analisis penulis terhadap putusan diperoleh jawaban
bahwa:Alasan-alasan yuridis yang melandasi pemohon mengajukan judicial
review terhadap Pasal 83 ayat (1) Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia yaitu:Pertama, Pasal 83 ayat (1) UU HAM khususnya
sepanjang frasa “Anggota Komnas HAM berjumlah 35 (tiga puluh lima) yang
dirumuskan secara limitatif.Kedua,Pasal 83 ayat (1) UU HAMtidak
mencerminkan kedudukan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan
Negara. Ketiga, Pasal 83 ayat (1) UU HAM menimbulkan adanya ketidakpastian
dalam proses seleksi dan menimbulkan multitafsir.Keempat,Pasal 83 ayat (1) UU
HAM membatasi yang hak warga negara untuk menjadi Anggota Komnas HAM;
KelimaPasal 83 ayat (1) UU HAMmenutup partisipasi publik dalam rangka
menjaga transparansi dan akuntabilitas proses.Alasan Mahkamah Konstitusi
membatalkan kata berjumlah pada Pasal 83 ayat (1) Undang Undang Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia karena:Pertama, Mahkamah Konstitusi
memberikan pemaknaan kata “berjumlah” 35 (tiga puluh lima) yang diatur secara
imperatif menjadi fakultatif.Kedua, Mahkamah Konstitusi memberikan kepastian
hukum dengan memberikan pemaknaan kata berjumlah 35 menjadi berjumlah
paling tinggi.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul: Deskripsi Tentang Pemaknaan Frasa Penyidik Tindak Pidana Asal Dalam Penjelasan Pasal 74
Undang Undang No. 8 tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
oleh Mahkamah Konstitusi. Pokok permasalahannya: 1). Alasan-alasan apakah yang melandasi pemohon
mengajukan permohonan uji materil tentang penjelasan Pasal 74 Undang Undang No. 8 tahun 2010 Tentang
Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang? 2). Mengapa Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia menjatuhkan putusan menyatakan frasa penyidik tindak pidana asal bertentangan dengan UUD RI
1945? Tujuan dari penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahui Alasan-alasan permohonan uji materil dan 2)
untuk mengetahui alasan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menjatuhkan putusan menyatakan frasa
penyidik tindak pidana asal bertentangan dengan UUD RI 1945. Sifat dari penelitian ini adalah deskritif
kualitatif dengan jenis penelitian normatif. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu: alasan
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menjatuhkan putusan menyatakan frasa penyidik tindak pidana asal
bertentangan dengan UUD RI 1945 dan variabel terikat yaitu: putusan Mahkamah Konstitusi dengan sumber
bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier dengan studi kepustakaan / dokumen
yang dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Dari hasil penelitian dan analisis putusan diperoleh jawaban bahwa:
1. Alasan-alasan yang melandasi pemohon mengajukan permohonan constitutional review yaitu:
a. Pemohon sebagai PPNS hak konstitusionalnya dirugikan.
b. Pasal 74 Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
membatasi para pemohon tidak memiliki kewenangan.
2. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menjatuhkan putusan menyatakan frasa penyidik tindak pidana
asal bertentangan dengan UUD RI 1945 karena:
a. Penjelasan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang bertentangan dengan UUD 1945
b. Adanya ketidaksinkronan antara norma Pasal 74 dan Penjelasan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang;
c. Diskriminasi penanganan tindak pidana pencucian uang bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul penelitian ini adalah “Motif, Modus, Dan Akibat Hukum Terjadinya Tindak
Pidana Pencurian Sarang Burung Walet Hasil Budidaya”.
Rumusan masalah yaitu Motif apa yang menyebabkan pelaku melakukan tindak
pidana pencurian sarang burung walet hasil budidaya?, bagaimana Modus Pelaku
melakukan tindak pidana pencurian sarang burung walet hasil budidaya? dan
Bagaimana Akibat hukum dari tindak pidana pencurian sarang burung walet hasil
budidaya terhadap pelaku, korban dan barang bukti?
Tujuan penelitian yaitu Untuk mengetahui Motif yang menyebabkan pelaku
melakukan tindak pidana pencurian sarang burung walet hasil budidaya, Untuk
mengetahui Modus pelaku melakukan tindak pidana pencurian sarang burung walet
hasil budidaya, dan Untuk mengetahui akibat hukum dari tindak pidana pencurian
sarang burung walet hasil budidaya terhadap pelaku, korban, dan barang bukti.
Dengan metode penelitian yang bersifat “Deskriptif” diartikan bahwa penelitian
ini diberikan suatu gambaran serta menguraikan suatu permasalahan yang diteliti,
menyimpulkan ,serta dapat menganalisisnya, dengan Penelitian ini menggunakan
Metode Penelitian Hukum Normatif yang mencakup penelitian terhadap asas-asas
hukum, sistematik hukum, taraf sinkroniasi vertical dan horizontal. Dan menggunakan
normative dengan mengkaji Putusan No.80/Pid.B/2017/PN.MGL,
No.21/Pid.B/2020/PN.PNN, No.146/Pid.B/2020/PN.PSB, No.212/Pid.B/2020/PN.TNR,
No.6/Pid.B/2022/PN.SBS .
Hasil Penelitian menunjukan bahwa :1)Motif para terdakwa melakukan pencurian
sarang burung walet adalah karena faktor ekonomi dan juga faktor kurangnya
pengamanan. 2) Modus para terdakwa melakukan pencurian yaitu dengan cara terdakwa
membuka gembok/engsel pintu rumah sarang burung walet, atau melalui lubang tempat
keluar masuknya burung walet dan setelah terdakwa masuk kedalam kemudian
mengambil sarang burung walet dan dimasukan ke dalam kantong plastik hitam yang
sudah disiapkan sebelumnya. 3) akibat hukum yang di terima oleh : a)Akibat hukum
bagi para pelaku yaitu terdakwa dikenakan pidana penjara dan membayar biaya perkara
.b) Akibat hukum bagi korban yaitu akibat hukum untuk korban tidak ada dikarenakan
dalam putusan Majelis Hakim tidak ada biaya penggantian kerugian bagi para korban
dan mengalami kerugian materil. c) Akibat hukum bagi barang bukti yaitu barang bukti
dirampas dan dimusnahkan.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN KREDIT INVESTASI DI KSP KOPDIT SWASTI SARI KOTA KUPANG
Oleh :
APRIANA BERTHA KLAU
Nim: 18410074
Koperasi sebagai usaha masyarakat diharapkan mampu memperkuat dirinya sebagai suatu badan usaha yang tangguh dan mandiri. Koperasi juga berlandasan pada prinsip-prinsip koperasi, sekaligus gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Prinsip-prinsip koperasi merupakan dasar kerja koperasi sebagai badan usaha serta ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain (Ali, 2002: 4). Koperasi dapat tumbuh dan berkembang tidak lepas dari falsafah Negara yaitu Pancasila dan UUD 1945 yang terjalin erat dalam bentuk asas kekeluargaan.
Koperasi Simpan Pinjam (KSP) adalah koperasi yang kegiatannya usaha simpan pinjam yang memberikan pinjaman kepada anggotanya dengan ketentuan membuka usaha atau menggunakan pinjaman tersebut untuk mengembangkannya. Oleh karena itu sebuah badan usaha harus menjaga kinerjanya agar banyak anggota yang tertarik untuk meminjam dan menyimpan uangnya maka menjadi keuntungan tersendiri bagi pihak koperasi.
Dalam penelitian ini dilakukan pada koperasi Swasti Sari yang berada diKelapa Lima, Kota Kupang. Dalam penelitian ini difokuskan pada permintaan ini kredit investasi yang sebagai pembahasan, kredit ini termasuk kredit produktif dan membahas jumlah faktor- faktor yang mempengaruhi permintaan akan kredit investasi tersebut.Salah satu faktor yang menpengaruhi adalah suku bunga dan laba. Suku bunga merupakan persentase nilai harga dari penggunaan uang atau juga sebagai imbalan sewa atas penggunaan uang dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan laba merupakan indicator yang digunakan untuk menilai prestasi perusahaan melalui kinerja operasional perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwasecara parsial suka suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan kredit investasi pada KSP Kopdit Swasti Sari Kupang dan secara parsial laba berpengaruh positif dan signifikan permintaan kredit investasi pada KSP Kopdit Swasti Sari Kupang.
Kata Kunci : Tingkat Suku Bunga, Laba , Permintaan Kredit Investasi
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mutu ikan segar semakin tinggi perubahan secara fisik, kimia, mikribiologi pada tubuh ikan maka semakin kompleks perubahan yang terjadi dan mengakibatkan penurunan mutu terhadap tingkat kesegaran ikan. Ikan tongkol adalah salah satu ikan yang cepat mengalami perubahan fisik, bau, lendir, tekstur serta atribut lainya seperti mata, insang, daging yang disebabkan oleh suhu dan mikroorganisme yang dapat mempengaruhu mutu ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mutu ikan tongkol segar berdasarkan uji organoleptik (sensorik) kenampakan (mata, insang, lendir), daging, bau, tekstur, kandungan total volatile base nitrogen dan kadar histamin. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni - Juli 2022 bertempat di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba sebagai tempat pengambilan sampel Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana untuk uji organoleptik dan sedangkan untuk pengujian histamin dilakukan di PT. Saraswanti Indo Genetech Bogor dan Total Volatile Base Nitrogen Laboraturium Biokimia Departemen Hasil Perairan Institut Pertanian Bogor. Parameter yang diteliti dalam penelitian ini meliputi pengamatan secara subjektif (sensorik) meliputi pengamatan kenampakan (mata, insang, lendir), daging, bau, tekstur dan objektif (kimiawi) total volatile base nitrogen dan kadar histamin. Ikan tongkol segar memiliki nilai rata-rata TVB-N dengan nilai ikan tongkol 1 dan ikan tongkol 2 (21.25-17.85) memenuhi SNI 2009 dan kadar histamin dengan nilai ikan tongkol 1 dan ikan tongkol 2 (183.71-172.13) tidak memenuhi SNI 2017. Pengujian organoleptik (sensorik) ikan tongkol segar dengan tingkat penerimaan panelis untuk parameter kenampakan (mata, insang, lendir), daging, bau, tekstur dengan nilai masih segar dan diterima oleh panelis.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul skripsi : “Deskripsi Tentang Terjadinya Tindak Pidana Kekarantinaan Kesehatan”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1. Mengapa pelaku melakukan tindak pidana kekarantinaan Kesehatan?
2. Apa akibat hukum bagi pelaku tindak pidana kekarantianaan kesehatan? Tujuan penelitian adalah :
1. Untuk mengetahui alasan pelaku melakukan tindak pidana kekarantinaan kesehatan.
2. Untuk mengetahui akibat hukum bagi pelaku tindak pidana kekarantinaan kesehatan.
Penelitian ini bersifat deskriptif dan jenis penelitian adalah penelitian normatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penyebab pelaku melakukan tindak pidana kekarantinaan kesehatan dan akibat hukum bagi pelaku tindak pidana kekarantianaan kesehatan dan vaiabel terikat adalah putusan pengadilan terhadap pelaku tindak pidana kekarantianaan kesehatan.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka alasan pelaku melakukan tindak pidana kekarantinaan kesehatan adalah :
1. Terdakwa tidak mematuhi protocol kesehatan
2. Terdakwa telah melakukan pengambilan paksa Jenazah dari petugas tanpa menggunakan masker dan Alat Pelindung Diri (APD)
3. Terdakwa dalam melakukan aksi unjuk rasa tidak membawa rapid test atau swab dari petugas kesehatan, tidak menjaga jarak dan tidak menggunakan masker.
Akibat hukum bagi pelaku tindak pidana kekarantianaan kesehatan adalah hakim menerapkan Pasal 93 jo Pasal 9 ayat (1) Undang Undang RI Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
Akbat dari perbuatan terdakwa :
a. Dipidana dengan pidana percobaan
b. Membayar denda
c. Membayar biaya perkara
Saran yang dapat penulis berikan adalah :
1. Dalam penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana Kekarantinaan Kesehatan, Hakim harus mampu bukan saja memberikan efek jera bagi terdakwa agar tidak mengulangi kembali perbuatannya, tetapi juga bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
2. Dengan adanya pengaturan hukum yang jelas mengenai tindak pidana Kekarantinaan Kesehatan, maka diharapkan bagi setiap penegak hukum untuk menegakkan dan menerapkan setiap kekentuan-ketentuan yang ada didalam peraturan perundang-undangan terkait sesuai dengan kualifikasi atau jenis tindak pidana yang dilakukan.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul: “Deskripsi Tentang Terjadinya Tindak Pidana Penggunaan Sumber Daya Air Untuk Usaha Tanpa Izin”.
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin?, Bagaimana cara pelaku melakukan penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin?, dan Bagaimanakah akibat hukum penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin terhadap pelaku?.
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah: Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya tindak pidana penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin, Untuk megetahi cara pelalaku melakukan penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin, Untuk mengetahui akibat hukum penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin terhadap pelaku.
Penelitian ini bersifat deskripstif dan jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian normatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor penyebab terjadinya tindak pidana penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin, cara pelaku melakukan penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin dan akibat hukum penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin terhadap lingkungan dan pelaku. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah tindak pidana penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka :
1. Faktor penyebab terjadinya tindak pidana peggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin yaitu:
a. Izin penggunaan Sumber daya air masih dalam proses,
b. Terdakwa belum mengurus izin.
2. Cara pelaku melakukan penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin yaitu:
a. Air tanah disedot dengan menggunakan mesin pompa air,
b. Air di tampung ke dalam bak penampung/tangki,
c. Air di alirkan ke tempat atau mesin pendorong.
3. Akibat hukum Terhadap pelaku tindak pidana penggunaan sumber daya air untuk usaha tanpa izin yaitu:
a. Pelaku dipidana penjara,
b. Pelaku membayar denda,
c. Pelaku dibebankan membayar biaya perkara.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Deskripsi tentang penjatuhan putusan bebas dan lepas dari segala tuntutan hukum dalam perkara tindak pidana korupsi diwilayah hukum pengadilan tipikor pada pengadilan negeri kupang dengan permasalahan sebagai berikut:Bagaimanakah pertimbangan hakim menjatuhkan putusan bebas dan lepas dari segala tuntutan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan pertimbangan hakim menjatuhkan putusan bebas dan lepas dari segala tuntutan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang berguna secara teoretis dan praktis. Sifat dari penelitian ini adalah deskritif kualitatif dengan jenis penelitian normatif. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variable bebas yaitu: pertimbangan hakim dan variabel terikat yaitu: putusan bebas dan lepas dari segala tuntutan hukum dengan sumber bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier dengan studi kepustakaan / dokumen yang dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Dari hasil penelitian dan analisis putusan diperoleh jawaban bahwa: pertimbangan hakim menjatuhkan putusan bebas dan lepas dari segala tuntutan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi adalah :
1. Analisis putusan bebas oleh hakim karena:
a. Perbuatan terdakwa bukan tindak pidana korupsi
b. Perbuatan terdakwa tidak memenuhi unsur dakwaan jaksa penuntut umum.
2. Analisis Putusan lepas dari segala tuntutan oleh hakim karena: Perbuatan terdakwa terbukti namun bukan merupakan tindak pidana.
Berdasarkan pada kesimpulan di atas, maka dapat disarankan sebagai berikut:
Bagi terdakwa. Diharapkan agar tidak mengulangi perbuatan yang sama agar terhindar dari tindak pidana korupsi;
Bagi Penuntut Umum. Diharapkan agar lebih jeli dan teliti dalam menjerat pelaku tindak pidana korupsi mengenai alat bukti dan barang bukti dan harus membedakan antara perkara pidana dan perdata dalam pembuktian mengenai tindak pidana korupsi sehingga dapat menjerat para pelaku korupsi
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu perusahaan disamping faktor lain seperti modal, sumber daya manusia harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektifitas dan efisien organisasi. karena tanpa sumber daya manusia, organisasi tidak berjalan lancar. tantangan dan peluang dalam menciptakan dan mengelola organisasi seringkali bersumber dari masalah-masalah yang terkait dengan manusia. oleh karena itu, mengelola sumber daya manusia merupakan aktivitas paling vital, sentral dan strategis.
Dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan bagian yang sangat penting. Suatu organisasi atau perusahaan mengingginkan karyawan untuk bekerja secara maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan perusahaan.
Kepuasan kerja menurut Hasibuan (2017,p.202). adalah sikap emosional atau perasaan yang menyenangkan dan mencintai pekerjaan. sikap ini dicermikan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. kepuasan kerja di nikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Menurut Robbins (2008:170) kepuasan kerja merupakan sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. jadi kepuasan kerja yang diperoleh oleh individu merupakan gambaran dari pekerjaan yang dilakukan.
Memberikan kompensasi yang sesuai dengan jenis pekerjaan dan jabatan kerja karyawan, maka karyawan akan merasakan kepuasan dalam bekerja. Suatu perusahaan harus mengetahui faktor-faktor yang bisa menciptakan kepuasan kerja bagi karyawan dan bisa memberikan kompensasi secara tepat, sehingga bisa tercapai kepuasan kerja karyawan yang akan dapat meningkatkan kinerja
Dengan kompetensi karyawan yang tinggi dimiliki dalam suatu perusahaan tentu hal ini akan menentukan kualitas SDM yang dimiliki dan pada akhirnya akan menentukan kualitas kompetitif perusahaan itu sendiri. dan Kompetensi dibutuhkan untuk melaksanakan peran tertentu untuk menghasilkan kinerja berupa prestasi kerja yang memuaskan. Namun dari berbagai penelitian ditemukan bukti bahwa perusahaan memiliki karyawan yang lebih puas cenderung dan lebih efektif dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki karyawan yang kurang puas.
Komitmen organisasi seorang karyawan sangat berkaitan erat dengan kepuasan kerja yang di rasakan karyawan tersebut. Menurut Utami (2014:03) komitmen dan kepuasan kerja dapat diidentifikasi sebagai akumulasi dari hasil interaksi yang terjadi secara terus-menerus antara pribadi dengan pekerjaan dan lingkungan tempatnya bekerja dalam suatu kurun waktu tertentu. kepuasan sangat penting bagi perusahaan karena berperan untuk mengetahui bagaimana tanggapan positif karyawan terhadap pekerjaannya, sehingga dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan komitmen karyawan.
Berdasarkan penjelasan diatas tersebut,maka objek yang peneliti teliti adalah pada PT. Barelang Karya Kota Kupang dengan jumlah sampel yang layak untuk penelitian ini adalah sebanyak 36 responden. Hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat parsial berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan.
Teknik pengumpulan data yang dipakai yaitu, data primer yang diperoleh secara langsung dengan melakukan survey lapangan yang menggunakan metode data original lewat pembagian kuesioner pada seluruh karyawan PT. Barelang Karya Kota Kupang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 36 karyawan pada PT. Barelang Karya Kota Kupang.
Berdasarkan hasil penelitian analisis lanjutan dalam analisis regresi linear berganda menggunakan SPSS dengan hasil nilai konstanta sebesar 9.485. Hasil Uji T menunjukkan bahwa thitung sebesar 4.223 ˃ttabel sebesar 1.696 maka, H0 ditolak dan Ha diterima yaitu Pemberian kompensasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Barelang karya. Nilai thitung sebesar 4127 ˃ttabel1.696 maka, H0 ditolak dan Ha diterima yaitu Kompetensi karyawan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Barelang karya. Dan nilai thitung sebesar 4.618˃ttabel1.696 maka, H0 ditolak dan Ha diterima yaitu komitmen organisasional berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Barelang karya.
Untuk hasil Uji F dapat di ketahui bahwa fhitung˃ ftabel yaitu 72.565˃2,90 maka, H0 ditolak dan Ha diterima. Maka secara simultan Pemberian kompensasi, kompetensi karyawan dan komitmen organisasional berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Barelang karya.
Berdasarkan tabel hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) dapat diketahui bahwa nilai R Square adalah 0.872 atau 87,2%. Hal ini berarti bahwa besarnya kontribusi Pemberian kompensasi, kompetensi karyawan dan Komitmen organisasional terhadap kepuasan kerja karyawan adalah 86,0% sedangkan sebesar 1,6% di pengaruh oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
An Analysis of Translation Methods on narrative Text from Indonesian into English Done by Sixth Semester Students at Artha Wacana Christian University
ABSTRACT
Student, Name1 Supervisor1, Name.2 Supervisor2, Name.3
(Mnir, Yashinta Lereansi) (Ngongo, Magdalena) (Ludji, Ifoni)
Translation is changing an activity of changing a language into another language spoken or written. It has become something which affects the development of world literature. This research was conducted to identify the translation methods applied by the students in translating narrative text. The objective of this research were to describe 1. the types of translation methods, and 2. the dominant types of translation methods used by the sixth semester students. This research was classified as descriptive qualitative method. The researcher carried out this study on May 2022. The researcher obtained the data from the 33 students. Based on the analysis, it was found out that there were eight types of translation methods used in translating the story from Indonesian into English. They were 1.word-for-word translation example : SL : pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu.TL : ‘to a certain day Sangkuriang request leave for hunt’. (2) literal translation example SL : Dayang Sumbi tidak akan menikah dengan Sangkuriang.TL : ‘Dayang Sumbi would never marry with her son’.(3) faithful translation example SL : Ibu pergi ke pasar TL : ‘Mother goes to the market’. (4) semantic translation example SL : air sungai mengalir TL : ‘the river run’. (5) adaptation translation example SL : Rambut nenek itu putih seperti salju TL : ‘Grandma’s hair was white like cotton’. (6) free translation example SL : suatu hari sangkuriang minta pamit untuk berburu.TL : ‘one day sangkuriang want to hunting. (7) idiomatic translation example SL : menendang ember TL : ‘kick the bucket’. (8) communicative translation example SL : Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. TL : ‘One day, Sangkuriang asked a permission to Dayang Sumbi to go to hunting’.Relating to the dominant types of translation methods, it was found out communicative translation type was the dominant 33 times used and it was followed by word for word translation that consist of 26 times used, faithful translation was 6 times, semantic translation was 3 times, literal translation was used 12 times, adaptation translation was used 0 times, free translation was used 0 times and idiomatic translation was 5 times used.
Key words: Translation, Translation Methods, Narrative Text.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dengan menggunakan objek penelitian kantor BPKAD pada kabupaten Alor. Tujuan dari penelitian ini Untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan daerah kabupaten Alor. Alat analisis yang digunakan untuk mengukur kinerja pengelolaan keuangan daerah dan tingkat kemandirian kabupaten Alor adalah dengan menggunakan rasio efektifitas, rasio efesiensi, rasio keserasian, rasio pertumbuhan, dan rasio kemandirian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif.
Otonomi daerah adalah pemberian kewenangan dalam pembuatan keputusan daerah secara lebih leluasa. Untuk menjalankan otonomi daerah dan mengelola sumber-sumber keuangan daerah dilihat melalui kinerja keuangan pemerintah daerah. Kinerja Keuangan daerah adalah keluaran atau hasil dari kegiatan yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran daerah dengan kuantitas dan kualitas yang terukur, kemampuan daerah daerah dapat diukur dengan menilai efesiensi atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Hasil Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Alor jika dilihat dari Rasio Efektivitas PAD tergolong kurang efektif, karena rata-rata efektivitasnya di bawah 100%.
2. Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Alor jika dilihat dari Rasio
Efisiensi Keuangan Daerah sudah Efisien.
3. Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Alor jika dilihat dari Rasio Keserasian masih banyak mengalokasikan Belanja Operasi dari pada Belanja Modalnya.
4. Kinerja Keuangan Daerah jika dilihat dari rasio Pertumbuhan Dengan diketahuinya Rasio Pertumbuhan pada Kabupaten Alor belum begitu baik karena selama kurun waktu 3 tahun belum stabil karena mengalami turun naik dari tahun ke tahun.
Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Alor jika dilihat dari Rasio Kemandirian Keuangan Daerah masih tergolong Rendah Sekali dan dalam kategori pola hubungan Instruktif
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INTISARI
Judul Skripsi Penulis adalah : DESKRIPSI TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA HAK CIPTA UNTUK ORGANISASII SOSIAL. Rumusan masalah yang penulis kaji adalah Mengapa Hakim Pengadilan Niaga Menolak Gugatan Penggugat, Hakim Mahkamah Agung (Kasasi) Mengabulkan Gugatan Penggugat dan Mengapa Hakim Peninjauan Kembali pertama Menolak Permohonan Peninjauan Kembali dari Para Tergugat, Hakim Peninjauan Kembali kedua Menyatakan Permohonan Peninjauan Kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali tersebut tidak dapat diterima. Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan maka yang menjadi kesimpulan sesuai masalah yang penulis kaji yaitu Mengapa Hakim Pengadilan Niaga Menolak Gugatan Penggugat, Hakim Mahkamah Agung (Kasasi) Mengabulkan Gugatan Penggugat dan Mengapa Hakim Peninjauan Kembali pertama Menolak Permohonan Peninjauan Kembali dari Para Tergugat, Hakim Peninjauan Kembali kedua Menyatakan Permohonan Peninjauan Kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali tersebut tidak dapat diterima adalah sebagai berikut:
1. Dasar Pertimbangan Hakim Pengadilan Niaga Menolak Gugatan Penggugat dikarenakan:
a. Gugatan penggugat sempurna secara formil.
b. Penggugat tidak dapat membuktikan kepemilikan atas hak cipta dalam dalil-dalil gugatannya.
2. Dasar Hakim Mahkamah Agung (Kasasi) Mengabulkan Gugatan Penggugat dikarenakan:
a. Hakim Judex Facti Pengadilan Niaga salah menerapkan hukum.
b. Penggugat dapat membuktikan kepemilikan atas hak cipta dalam dalil- dalil gugatannya.
3. Alasan Hakim Peninjauan Kembali pertama Menolak Permohonan Peninjauan Kembali dari Para Tergugat dikarenakan:
a. Pemohon tidak dapat membuktikan adanya kekhilafan atau kekeliruan yang nyata dalam putusan Judex Juris.
b. Novum yang diajukan tidak memenuhi kualitas sebagai Novum .
4. Hakim Peninjauan Kembali kedua Menyatakan Permohohan Peninjauan Kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali tersebut tidak dapat diterima dikarenakan:
a. Permohonan peninjauan kembali dari para pemohon peninjauan kembali telah lewat waktu.
Kata Kunci : Penyelesaian Sengketa Hak Cipta, HaKI
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INTISARI
Judul Skripsi Penulis adalah Deskripsi Tentang Terjadinya Tindak Pidana Penyerobotan Hak Milik Atas Tanah.
Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah bentuk terjadinya tindak pidana penyerobotan tanah? (2) Fakor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya pidana penyerobotan tanah? (3) Bagaimanakah akibat hukum dari tindak pidana penyerobotan tanah?
Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui bentuk terjadinya tindak pidana penyerobotan tanah, (2) Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyerobotan tanah dan (3) Untuk mengetahui akibat hukum dari tindak pidana penyerobotan tanah. Metode penelitian penulisan ini bersifat “Deskripsi” dan berjenis “Normatif”.
Hasil penelitian penulis terhadap permasalahan penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penyerobotan tanah antara lain:
a. Terdakwa mengklaim tanah tersebut miliknya.
b. Memperoleh keuntungan.
2. Bentuk terjadinya tindak pidana penyerobotan tanah antara lain:
a. Terdakwa menjual tanah yang bukan milinya.
b. Terdakwa telah melakukan penanaman atau pembelian.
c. Terdakwa melakukan pembangunan.
d. Terdakwa melakukan penyewaan.
e. Terdakwa melakukan pembersihan lahan.
3. Akibat hukum dari tindak pidana penyerobotan tanah.
a. Terdakwa dipidana penjara.
b. Terdakwa membayar biaya perkara.
Adapun saran bagi penulis terhadap konteks permasalahan penelitian ini antara lain:
1. Diharapkan bagi masyarakat pada umumnya janganlah melakukan pembangunan, penjualan, penanaman atau pembenihan terhadap lahan tanah yang mana sudah diketahui bukan miliknya.
2. Diharapkan bagi masyarakat pada umumnya yang ingin membeli tanah atau menjual tanah ataupun menyewah tanah haruslah memperhatikan terlebih dahulu terkait dengan alas hak atas tanah tersebut, sehingga tidak menimbulkan konflik dikemudian hari.
3. Diharapkan Pemerintahan Desa memfasilitasi penyelesaian sengketa penyerobotan tanah agar dapat diselesaikan secara ke-keluargaan berdasarkan Asas Restoratif Justice.