2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kehidupan bergereja di konteks perkotaan kerap dipahami secara sempit sebagai aktivitas yang berpusat pada gedung gereja, liturgi, dan struktur kelembagaan. Cara pandang ini sering kali menutupi realitas sosial yang lebih dalam, khususnya pengalaman kemiskinan struktural yang dialami sebagian anggota jemaat. Penelitian ini berangkat dari persoalan tersebut dengan memfokuskan kajian pada konsep Gereja Diaspora yang dikemukakan oleh Y. B. Mangunwijaya dan implikasinya bagi kehidupan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua sebagai gereja perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk merefleksikan secara teologis realitas kemiskinan struktural dalam kehidupan jemaat serta menelaah bagaimana pemikiran Gereja Diaspora dapat menjadi kerangka teologis bagi pembaruan pelayanan gereja. Penelitian ini juga bertujuan menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk hadir bukan semata sebagai organisasi religius, melainkan sebagai organisme iman yang hidup, bertumbuh, dan berpihak pada kehidupan umat yang rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis dan refleksi teologis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya Y. B. Mangunwijaya, kajian Alkitab, serta analisis kontekstual berdasarkan data sosial dan pekerjaan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan kritis atas realitas jemaat sebagai “tanda-tanda zaman” yang menantang gereja untuk merefleksikan kembali identitas dan panggilannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami sebagian jemaat GMIT Kaisarea merupakan bentuk kemiskinan struktural yang tidak dapat direduksi sebagai persoalan individual. Dalam terang pemikiran Mangunwijaya, kemiskinan tersebut menjadi locus teologis yang menguji kesetiaan iman dan kesaksian gereja. Konsep Gereja Diaspora menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk bergerak dari pemusatan pada gedung menuju kehadiran nyata dalam kehidupan umat. Dengan demikian, GMIT Kaisarea dipahami sebagai “Kebun Anggur Tuhan yang Berbunga,” yakni komunitas iman yang merawat keberagaman, memperjuangkan martabat manusia, dan menghadirkan Injil sebagai daya yang membebaskan di tengah realitas perkotaan yang timpang.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Tradisi Molebingga adalah warisan kebudayaan masyarakat Rote Dengka yang mempunyai makna mengenai kehidupan sosial. Tradisi Molebingga dipahami sebagai ritual mendinginkan keadaan pasca kematian, yang sering kali membuat jemaat ada dalam kondisi ketegangan identitas yaitu antara patuh terhadap adat dan iman Kristen. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana praktik Molebingga yang terkandung nilai-nilai dan makna dapat dialogkan secara kritis dengan teks Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai dan makna dari praktik Molebingga sehingga tidak menimbulkan dualisme iman, tetapi sebuah teologi yang kontekstual bagi jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini memakai analisis yang mendalam sebab lebih mengutamakan situasi yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, pendekatan teologi yang digunakan adalah model dialektis yang dikembangkan oleh Emanuel Gerrit Singgih. Informasi yang didapatkan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara dengan tokoh adat dan pemimpin jemaat di GMIT Getsemani Longgo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Molebingga terkandung nilai-nilai dikorelasikan kritis maka ada nilai positif dan nilai negatif. Terdapat nilai luhur dari tradisi Molebingga yaitu upaya memanusiakan manusia dan psikologis melalui simbolisme (mendinginkan). Oleh karena itu, melalui proses dialektika, ditemukan bahwa praktik Molebingga memberikan pemahaman jemaat tentang rasa syukur kepada Tuhan sebagai kesejukan di tengah duka dan perlindungan serta perdamaian hanya dari-Nya. Lalu, teks Alkitab sangat berperan penting dalam memberikan kritik profetis untuk mentransformasikan pemaknaan ritual yang awalnya bersifat legalistik dan penuh ketakutan akan kematian menjadi sebuah perayaan kasih Allah. Penelitian ini, dengan refleksi teologis kritis maka menyimpulkan bahwa tradisi Molebingga di lakukan pemaknaan kembali dalam budaya sebagai peneguhan iman dan solidaritas berupa diakonia penghiburan di Jemaat GMIT Getsemani Longgo, di mana Allah bekerja melalui struktur kekeluargaan suku Rote (Dengka) yaitu To’o yang menyatakan kasih dan keadilan bagi keluarga duka.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kehidupan perkotaan ditandai oleh dinamika sosial yang kompleks,
keberagaman latar belakang manusia, serta tekanan ekonomi dan budaya yang
kuat. Realitas ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga dapat
membentuk spiritualitas umat beriman yang hidup di dalamnya. Skripsi ini
mengkaji pemikiran spiritualitas kota menurut Philip Sheldrake dan penulis
merefleksikan relevansinya bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara
yang hidup dalam konteks perkotaan di Kota Waingapu. Permasalahan utama
penelitian ini adalah bagaimana kota dapat dipahami sebagai ruang teologis dan
spiritual, serta bagaimana pemikiran Sheldrake dapat menolong gereja
membangun spiritualitas jemaat di tengah tantangan kehidupan kota.Tujuan
penelitian ini adalah untuk memahami pemikiran Philip Sheldrake mengenai
spiritualitas kota, untuk menganalisis kota sebagai ruang relasional dan ruang
publik teologis, serta untuk menemukan relevansi nilai-nilai spiritualitas kota
tersebut bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang didominasi oleh
jemaat pendatang dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Metode
penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan
pendekatan studi tokoh dan kajian kepustakaan, yang dilengkapi dengan
penelitian lapangan melalui wawancara. Kajian kepustakaan digunakan untuk
menelaah pemikiran Sheldrake, sementara data lapangan digunakan untuk
memahami realitas konkret kehidupan jemaat Manubara dalam konteks perkotaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Philip Sheldrake, kota bukan
sekadar ruang geografis atau material, melainkan ruang relasional yang
membentuk identitas, iman, dan spiritualitas manusia. Kota memiliki potensi
besar sebagai ruang pembentukan komunitas iman yang inklusif, tetapi juga
mengandung risiko individualisme dan keterasingan. Dalam konteks GKS Jemaat
Manubara, tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dan perbedaan latar belakang
sering kali melemahkan relasi antarjemaat yang menjadi bentuk dari praktik
spiritualitas. Oleh karena itu, pemikiran Sheldrake relevan untuk menolong gereja
memaknai kota sebagai ruang panggilan iman, tempat spiritualitas jemaat
bertumbuh melalui relasi, solidaritas, dan kesaksian hidup di tengah kehidupan
kota.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berangkat dari realitas budaya masyarakat Putun, khususnya jemaat Pos Pelayanan Getsemani Oekani yang memaknai jagung sebagai pemberi kehidupan dan simbol penting dalam keberlangsungan hidup. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana dampak dari pemaknaan terhadap filosofi jagung. Ketika jagung diposisikan sebagai penentu keselamatan, maka iman jemaat mengalami pergeseran. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat filosofi jagung melalui pendekatan teologi kontekstual berdasarkan teori dari Richard Niebuhr dengan tipologi (Kristus memperbaharui budaya) dan membuat refleksi teologi kontekstual dari perspektif Alkitab dan iman Kristen, serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman jemaat dan peran gereja. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah sebelas orang. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa jagung dapat dimaknai sebagai tanda pemeliharaan Allah yang menopang kehidupan jasmani, tetapi bukan sebagai sumber keselamatan. Yesus Kristus sebagai Roti Hidup adalah pusat iman dan sumber kehidupan sejati. Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib menegaskan bahwa karya keselamatan Allah telah diselesaikan secara sempurna dan final. Sehingga praktik pengorbanan dalam budaya filosofi jagung perlu ditafsirkan kembali secara kritis dan teologis. Pengorbanan budaya pada jagung yang menuntut kurban sebagai syarat ketaatan pada leluhur untuk memperoleh kehidupan atau keselamatan tidak lagi dapat dipahami sebagai keharusan religius yang menentukan relasi manusia dengan Allah untuk memperoleh keselamatan. Sebab, dalam iman Kristen, relasi tersebut telah dipulihkan sepenuhnya melalui pengorbanan Kristus. Oleh karena itu budaya filosofi jagung tidak dihapus, melainkan diperbaharui nilai dan maknanya dalam terang injil sehingga dapat memmbangun iman jemaat yang kontekstual dan berakar pada Kristus.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna tarian Li N’gae sebagai ekspresi budaya masyarakat suku Helong di Pulau Semau serta merefleksikannya secara teologis dalam kerangka teologi kontekstual. Tarian Li N’gae merupakan tradisi agraris yang lahir dari pengalaman historis masyarakat Helong, khususnya dalam menghadapi keterbatasan hidup, kerja keras, dan ketergantungan pada hasil panen jagung sebagai sumber penghidupan utama. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini memanfaatkan data hasil observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, pelayan gereja, dan jemaat, serta studi pustaka teologis. Kerangka analisis dalam penelitian ini menggunakan teori teologi lokal dari Robert J. Schreiter, yang menekankan dialog antara Injil, budaya, dan tradisi gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Li N’gae tidak hanya berfungsi sebagai praktik pengawetan jagung atau hiburan masyarakat, melainkan sebagai teks budaya yang memuat nilai-nilai religius, sosial, dan teologis, seperti syukur atas kehidupan, solidaritas komunal, kerja kolektif, dan relasi harmonis dengan alam. Nilai-nilai tersebut telah membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat Helong secara turun-temurun. Dalam konteks kehidupan berjemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, tarian Li N’gae dipahami sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan sebagai simbol kebersamaan, meskipun kehadirannya masih ditempatkan di luar liturgi resmi gereja. Analisis menunjukkan bahwa terdapat potensi besar bagi Li N’gae untuk dikembangkan sebagai bagian dari teologi lokal yang memperkaya pemahaman persekutuan jemaat, tanpa harus mengubah struktur ibadah gerejawi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tarian Li N’gae dapat menjadi medium teologi lokal yang kontekstual dan transformatif, baik bagi gereja maupun budaya. Dengan pendekatan teologi kontekstual, gereja didorong untuk membaca dan memaknai tradisi budaya sebagai ruang karya Allah, sehingga iman Kristen dapat dihayati secara lebih kontekstual dan relevan dalam kehidupan Masyarakat Helong
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas pelayanan pendampingan iman bagi generasi Alfa di Jemaat GMIT Efata Belo yang menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaan program-program pelayanannya. Program pelayanan berbasis anak dan remaja yang dimaksudkan untuk membentuk iman generasi muda dalam praktiknya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan generasi Alfa yang hidup dalam dunia digital dengan kreativitas dan pola relasi yang khas. Tantangan ini semakin diperkuat oleh minimnya pemahaman dari generasi sebelumnya dan pengajar mengenai konteks hidup generasi Alfa, yang turut membentuk karakteristik baru serta mempengaruhi proses perkembangan iman mereka. Situasi ini memunculkan persoalan teologis mengenai sejauh mana pengajar yang bertanggung jawab mendampingi anak-anak generasi Alfa di GMIT Efata Belo bersedia memperbarui diri di tengah pengaruh era digital, serta bagaimana gereja dalam lingkup PART menjalankan peran dan tanggung jawab Amanat Agung bagi generasi yang berbeda dalam konteks zaman yang semakin maju sebagai tubuh Kristus yang saling membangun iman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) dan penelitian lapangan. Metode ini dipilih guna memberi perhatian pada pengalaman hidup serta pemahaman subjek penelitian terhadap realitas pelayanan pendampingan iman generasi Alfa di GMIT Efata Belo. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen gerejawi atau literatur yang relevan. Penulisan penelitian bersifat deskriptif, analisis, dan reflektif dengan memanfaatkan teori perkembangan iman James Fowler sebagai kerangka analisis. Dengan lokus penelitian ini adalah Jemaat GMIT Efata Belo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan dunia digital dalam pendampingan iman anak belum dilakukan secara optimal dan kontekstual, serta masih terdapat keterbatasan sikap keterbukaan dan penerimaan lintas generasi. Oleh karena itu, gereja dalam hal ini para pengajar dipanggil untuk menghadirkan pendampingan iman yang relasional, kolaboratif, dan kontekstual, dengan memandang dunia digital bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai komunitas baru bagi perkembangan iman generasi Alfa
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya persoalan ketegangan peran yang dialami pendeta dalam konteks pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), khususnya di wilayah Klasis Amabi Oefeto Timur. Fokus utama penelitian diarahkan pada analisis satu status pelayanan pendeta yang memuat berbagai tuntutan peran yang harus dijalankan secara bersamaan, antara lain sebagai pelayan rohani, pemimpin organisasi gereja, pendamping pastoral bagi jemaat, figur sosial di tengah masyarakat, serta juga sebagai anggota keluarga. Keragaman dan kompleksitas ekspektasi tersebut, sering kali menimbulkan ketegangan peran yang berdampak pada kondisi fisik, emosional, dan spiritual pendeta. Namun situasi ini cenderung dipandang sebagai kelemahan pribadi, sehingga menutupi akar masalah yang bersifat struktural dan sistemik dalam kehidupan bergereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami latar belakang terjadinya ketegangan peran pendeta dalam konteks GMIT, menganalisis dampaknya terhadap kualitas pelayanan dan kehidupan pendeta, serta merumuskan refleksi sosio-teologis yang dapat membantu gereja menata kembali pemahaman dan praktik pelayanannya agar lebih selaras dengan hakikat gereja sebagai persekutuan tubuh Kristus yang saling menopang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pendeta dan pihak-pihak terkait. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan kajian pustaka terhadap literatur teologis dan sosiologis yang relavan, khusunya teori ketegangan peran (role strain) yang dikemukakan oleh Robert K. Merton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketegangan peran pendeta bukan terutama disebabkan oleh keterbatasan individu, melainkan oleh struktur pelayanan gereja yang menempatkan pendeta sebagai pusat berbagai tuntutan, tingginya ekspektasi jemaat, serta keterbatasan sumber daya dan fasilitas pelayanan. Refleksi sosio-teologis menegaskan pentingnya pengembangan sistem pelayanan yang lebih kolaboratif, partisipatif, dan saling mendukung, sehingga pendeta dapat menjalankan panggilannya secara manusiawi, sehat, dan berkelanjutan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Di Pulau Sabu, salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah pehere djara. Tradisi ini kemudian menginspirasi umat Kristen di Sabu untuk mengadopsinya menjadi pehere djara paskah. Tradisi pehere djara paskah memiliki nilai kearifan lokal yang penting dalam memperkuat solidaritas antarsesama. Di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko, Klasis Sabu Barat Raijua, tradisi ini memegang peran penting, terutama dalam kehidupan masyarakat adat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Jemaat GMIT Bukit Sion Boko memaknai pehere djara paskah sebagai bentuk penghormatan terhadap kemenangan Yesus Kristus atas maut. Selain itu, peneliti menggali bagaimana jemaat menerapkan tradisi ini dalam kehidupan bergereja melalui liturgi serta bagaimana tradisi tersebut direfleksikan melalui teologi kontekstual, berdasarkan pandangan Stephen B. Bevans. Pendekatan teologis ini digunakan untuk menghubungkan budaya lokal dengan pemahaman Kristen. Dengan demikian, pehere djara paskah tidak hanya dilaksanakan sebagai ritual semata, melainkan sebagai sarana bagi jemaat untuk merasakan dan memaknai kemenangan Kristus atas maut secara mendalam. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif-analitis-reflektif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh jemaat dan masyarakat adat, serta studi dokumen terkait tradisi dan ibadah Paskah. Teknik analisis data mencakup reduksi data untuk menyaring informasi esensial, triangulasi sumber untuk memastikan keabsahan, serta penarikan kesimpulan yang logis dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pehere djara paskah memberikan kontribusi positif dalam menjaga keharmonisan sosial. Tradisi ini memperkuat hubungan antara iman Kristen, budaya lokal Sabu, dan kehidupan sehari-hari jemaat. Pelaksanaannya menjadi wujud nyata penerapan teologi kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan ajaran Kristen. Analisis teologis mengungkapkan bahwa ritual pehere djara paskah mencerminkan nilai-nilai Kristen, seperti kebangkitan Kristus, kasih sesama, dan solidaritas komunal. Gereja didorong untuk melihat tradisi ini sebagai jembatan yang memperkuat iman, budaya, pemahaman teologis jemaat, serta tindakan sosial yang berdampak positif. Oleh karena itu, pelestarian tradisi pehere djara paskah di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko menjadi upaya krusial dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkaya kehidupan beriman. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan ilmu teologi kontekstual serta sumbangan praktis bagi jemaat GMIT Bukit Sion Boko dalam mengintegrasikan tradisi lokal ke dalam ibadah Kristen yang relevan dan bermakna.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan pastoral merupakan wujud konkret kehadiran gereja dalam mendampingi kehidupan iman jemaat secara holistik. Namun, dalam realitas pelayanan di Jemaat GMIT Pniel Oetua Klasis Amanuban Timur, praktik pastoral, khususnya perkunjungan pastoral masih cenderung bersifat pendeta-sentris dan belum melibatkan majelis jemaat secara optimal. Kondisi ini menimbulkan keterbatasan jangkauan pelayanan, lemahnya partisipasi jemaat, serta ketergantungan yang tinggi terhadap figur pendeta. Berdasarkan realitas tersebut, pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana gambaran konteks Jemaat GMIT Pniel Oetua, bagaimana realita model perkunjungan pastoral yang dijalankan, serta bagaimana tinjauan teologi pastoral dapat berimplikasi terhadap pengembangan model perkunjungan pastoral yang partisipatif. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan konteks kehidupan jemaat, menganalisis praktik perkunjungan pastoral yang berlangsung, serta merumuskan pemahaman teologi pastoral yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan model perkunjungan pastoral yang melibatkan seluruh unsur pelayan jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap pendeta, penatua, diaken, dan pengajar jemaat, kemudian dianalisis secara deskriptif, analitis, dan reflektif dengan menggunakan perspektif teologi pastoral, khususnya pemikiran Eugene Peterson. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral di Jemaat GMIT Pniel Oetua masih dipahami sebagai tanggung jawab individual pendeta, sehingga peran majelis jemaat belum berfungsi secara maksimal. Melalui tinjauan teologi pastoral, penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral sejatinya merupakan tanggung jawab kolektif seluruh tubuh Kristus. Oleh karena itu, perkunjungan pastoral perlu dimaknai sebagai ruang persekutuan, pendampingan, dan penggembalaan bersama yang partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Model pastoral yang partisipatif ini diharapkan mampu memperkuat pemeliharaan iman jemaat serta menghadirkan gereja sebagai komunitas yang saling menggembalakan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas terbatasnya pemahaman jemaat GMIT Zoar Penkase tentang marturia, yang berdampak pada implementasi pelayanan bidang marturia yang belum optimal dan cenderung dipersempit dalam bentuk program marturia secara tertulis. Meskipun dalam pengamatan empiris Zoar telah melaksanakan berbagai aktivitas yang menunjukkan bahwa pelayanan marturia sudah dijalankan, tetapi dari pelayanan tersebut juga cenderung dipahami secara terbatas karena masih pada batasan-batasan tertentu. Situasi ini menjadi titik munculnya kesenjangan antara konsep teologis marturia dan praktik pelayanan di jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri pemahaman mengenai marturia, menganalisis dialog antara konsep teologis dan praktik pelayanan di jemaat, yang merefleksikan secara teologis serta implikasi praktis bagi pelayanan marturia yang lebih kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi partisipatif, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman jemaat tentang marturia berdampak pada implementasi dari pelayanan marturia di gereja yang masih sempit. Dengan menggunakan beberapa kerangka teologi marturia salah satunya Moltmann menghasilkan tiga unsur konstruksi pemahaman yang profetis, kritis, dan transformasional dan GMIT Zoar masih terbatas menjalankan marturia yang terbatas pada dimensi profetis. Dalam penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan marturia tidak hanya terbatas pada perkataan, tetapi juga dalam tindakan nyata yang menyatakan keberpihakan kepada keadilan, solidaritas dengan yang tertindas, serta keterlibatan aktif gereja untuk menampilkan marturia yang profetis, kritis, dan transformasional. Rekonstruksi pemahaman menegaskan marturia merupakan tugas panggilan gereja yang integral dan harus dihidupi dengan kasih, solidaritas dalam konteks pelayanan marturia. Refleksi teologis yang sintesis dari perspektif perjanjian lama dan perjanjian baru menyatakan bahwa marturia tidak pernah netral, melainkan berakar pada kebenaran Allah, berhadapan dengan realitas ketidakadilan, dan mengarah pada pemulihan dan transformasi hidup bersama. Dengan demikian, implikasi bagi pelayanan di Zoar penkase, terletak pada bagaimana kehadiran gereja di dunia menjadi gereja yang bersaksi tidak hanya secara profetis, tetapi kritis dan transformasional.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul: Industri Tambak Garam dengan sub judul: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Kehadiran Tambak Garam di Jemaat Imanuel Walurede dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Walurede yang ditulis oleh Raganof Miledu Biha. Penelitian ini berfokus pada persoalan ekoteologi yang sejauh mana kehadiran industri tambak garam di jemaat GMIT Imanuel Walurede mempengaruhi keadaan alam dan kehidupan jemaat setempat. Fokus ini muncul dari kenyataan efektifitas kehadiran tambak garam di tengah-tengah jemaat yang sangat mempengaruhi keadaan alam dan kehidupan jemaat dalam bersosialisasi antar jemaat. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan ekoteologi Emanuel Gerrit Singgih untuk menganalisis bagaimana pengaruh kehadiran tambak garam dan dapat memberikan sumbangan teologis dan praktis bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kehadiran tambak garam tidak serta-merta jemaat memperoleh lapangan pekerjaan, penghasilan yang menetap setiap bulan, pasokan garam yang banyak, tetapi juga terkandung dampak negatif, yaitu kerusakan alam yang membuat struktur tanah tidak subur, ketidakberlanjutan ekonomi dan ketegangan sosial jemaat serta munculnya pembangunan ekonomi yang tidak lagi berjalan seimbang dengan tanggung jawab terhadap ciptaan dan kehidupan sosial jemaat. Nilai-nilai yang terkandung dalam ekoteologi mengajak manusia untuk menghidupi cara mengelola dan juga tawaran dalam memelihara alam. Relevansi nilai-nilai ekoteologi bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede terletak pada panggilan untuk menghidupi nilai-nilai tersebut sebagai tanggung jawab terhadap alam. Gereja diajak untuk menghidupi dan mengajarkan nilai-nilai kepada jemaat serta berpartisipasi dalam pengelolaan alam. Demikian pengelolaan industri tambak garam bukan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi jemaat dalam melestarikan alam, melainkan kehadiran alam dapat dikelola dan dirawat dengan baik menjadi anugerah dari Allah dan bagian tersendiri dalam membangun pertumbuhan ekonomi bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji keterlibatan majelis jemaat dalam praktik sabung ayam yang mengandung unsur perjudian sebagai persoalan teologi pastoral dan etika pelayanan gereja. Praktik tersebut tidak hanya bertentangan dengan nilai iman Kristen dan tata kehidupan bergereja, tetapi juga memunculkan krisis kepemimpinan dalam kehidupan persekutuan jemaat. Keterlibatan pelayan gereja dalam praktik ini berdampak pada melemahnya integritas kepemimpinan, terganggunya relasi pelayanan, serta menurunnya kepercayaan jemaat terhadap gereja sebagai komunitas moral. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas kasus, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan majelis jemaat, menafsirkan kasus tersebut secara teologis, serta merumuskan rencana aksi pastoral yang bersifat kontekstual, operasional, dan berorientasi pada pemulihan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Interpretasi teologis dilakukan dengan merujuk pada teks 1 Samuel 2:11-26 yang menggambarkan krisis kepemimpinan rohani akibat pembiaran terhadap dosa dan kegagalan tanggung jawab pelayan Tuhan. Teks ini menjadi dasar refleksi untuk memahami relasi antara jabatan pelayanan, tanggung jawab etis, dan kehidupan iman pelayan gereja. Kerangka teologi pastoral Howard Clinebell digunakan sebagai landasan untuk menata rencana aksi pastoral melalui fungsi pembimbingan, penopangan, penyembuhan, pemulihan, dan pemeliharaan sebagai proses yang saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan majelis jemaat dalam praktik sabung ayam dipengaruhi oleh kebiasaan sosial yang terinternalisasi, tekanan ekonomi, lemahnya penghayatan jabatan pelayanan sebagai panggilan iman, serta kurangnya pendampingan pastoral yang personal dan berkelanjutan. Dampak dari praktik tersebut terlihat dalam krisis kepemimpinan gerejawi dan kebingungan nilai di tengah jemaat. Oleh karena itu, rencana aksi pastoral difokuskan pada pemulihan majelis jemaat sebagai subjek utama, dengan keterlibatan gereja, jemaat, dan keluarga sebagai ruang pendukung pemulihan iman dan relasi. Penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral tidak dapat berhenti pada teguran normatif, tetapi harus diwujudkan melalui pendampingan yang menyentuh dimensi personal, relasional, dan struktural, sehingga kepemimpinan gerejawi dapat dipulihkan dan persekutuan jemaat dibangun secara sehat dan bertanggung jawab.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ideologi kekerasan dalam Ester 9:11–17 dengan menggunakan pendekatan kritik ideologi menurut Gale A. Yee serta merefleksikan implikasinya bagi pewartaan firman yang bertanggung jawab di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Ester 9:11–17 merupakan bagian yang paling problematis dalam Kitab Ester karena memuat narasi pembalasan orang Yahudi terhadap musuh-musuh mereka yang dilegitimasi secara politis dan religius. Narasi ini tidak hanya merekam pengalaman keselamatan umat Yahudi di masa diaspora, tetapi juga membentuk cara pandang tertentu mengenai identitas komunal, relasi kuasa, dan pembenaran terhadap tindakan kekerasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Metode tafsir yang digunakan adalah kritik ideologi, yang dilakukan melalui analisis intrinsik terhadap struktur naratif, penokohan, serta oposisi biner “kami” dan “mereka”, dan analisis ekstrinsik terhadap konteks sosial-politik serta ideologi yang melatarbelakangi teks. Melalui pendekatan ini, teks Alkitab dipahami bukan sebagai narasi yang netral, melainkan sebagai konstruksi ideologis yang mereproduksi dan melegitimasi kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan dalam Ester 9:11–17 merupakan produk ideologis yang berperan dalam membentuk identitas komunal orang Yahudi dan menormalkan pembalasan sebagai bagian dari narasi penyelamatan. Dalam konteks GMIT, pembacaan kritis ini menolong para pelayan firman untuk tidak memberitakan teks secara literal dan normatif, melainkan secara reflektif, etis, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pewartaan firman tidak menjadi sarana pembenaran kekerasan atas nama iman, tetapi berfungsi membentuk iman yang peka terhadap keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral Kata Kunci: Kritik Ideologi, Gale A. Yee, Ester 9:11–17, Kekerasan, Pewartaan Firman GMIT ABSTRACT This study aims to examine the ideology of violence in Esther 9:11–17 using the ideological criticism approach developed by Gale A. Yee and to reflect on its implications for responsible proclamation of the Word within the Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Esther 9:11–17 is one of the most problematic passages in the Book of Esther because it presents a narrative of Jewish retaliation against their enemies that is politically and religiously legitimized. This narrative not only records the experience of Jewish deliverance in the diaspora but also shapes particular perspectives on communal identity, power relations, and the justification of violence. This research employs a qualitative method with a library research approach. The interpretive method used is ideological criticism, carried out through intrinsic analysis of the narrative structure, characterization, and the binary opposition of “us” and “them,” as well as extrinsic analysis of the socio-political context and ideological background underlying the text. Through this approach, the biblical text is understood not as a neutral narrative, but as an ideological construction that produces and legitimizes violence. The findings indicate that the violence depicted in Esther 9:11–17 functions as an ideological product that shapes Jewish communal identity and normalizes retaliation as part of the deliverance narrative. In the GMIT context, this critical reading helps ministers of the Word avoid proclaiming the text in a literal and normative manner, and instead encourages a reflective, ethical, and responsible interpretation. Thus, the proclamation of the Word does not serve to justify violence in the name of faith, but contributes to the formation of faith that is sensitive to justice, humanity, and moral responsibility. Keywords: Ideological Criticism, Gale A. Yee, Esther 9:11–17, Violence, GMIT Proclamation of the Word
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilaksanakan di Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Kupang dan
berangkat dari realitas pengasuhan anak-anak panti asuhan yang tidak hanya
mencakup pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga dimensi emosional, sosial, dan
spiritual anak. Dalam praktiknya, pola pengasuhan yang diterapkan belum
sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai pastoral yang mendukung pertumbuhan
holistik anak, seperti kasih, penerimaan, pemeliharaan, dan pembimbingan yang
aman dan membangun. Berdasarkan realitas tersebut, persoalan utama dalam
penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai pastoral diwujudkan dalam praktik
pengasuhan anak-anak panti asuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengasuhan anak-anak di Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Kupang serta
meninjaunya secara teologis berdasarkan pendekatan konseling pastoral.
Kerangka teoretis penelitian ini menggunakan teori konseling pastoral Howard
Clinebell, khususnya lima fungsi pastoral, yaitu menyembuhkan (healing),
menopang (sustaining), membimbing (guiding), memulihkan (reconciling), dan
memelihara pertumbuhan (nurturing), namun penulis lebih fokus pada fumgsi
membimbing (guiding). Teori ini digunakan untuk menilai sejauh mana nilai-nilai
pastoral terealisasi dalam praktik pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Data diperoleh melalui
wawancara mendalam dengan pengasuh dan anak-anak panti asuhan, serta studi
kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan
menggunakan kerangka teori konseling pastoral. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai-nilai pastoral telah diupayakan dalam praktik pengasuhan, namun
belum dijalankan secara konsisten dan optimal. Refleksi teologis dari Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru menegaskan bahwa anak-anak adalah pribadi berharga
di hadapan Allah yang berhak menerima pengasuhan yang manusiawi,
memerdekakan, dan membimbing. Pengasuh dipanggil sebagai rekan sekerja
Allah untuk menghadirkan relasi yang aman, menerima, dan menyembuhkan,
sementara gereja memiliki tanggung jawab pastoral untuk memperlengkapi dan
mendampingi pengasuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengasuhan yang
utuh memerlukan sinergi antara pengasuh dan gereja untuk menumbuhkan
kesejahteraan holistik dan nilai-nilai pastoral pada anak-anak panti asuhan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penindasan gender merupakan persoalan serius yang masih dihadapi dalam kehidupan bergereja di GMIT. Keberadaan jemaat yang hidup dalam konteks masyarakat dengan budaya patriarki yang kuat turut membentuk sistem sosial yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat, kurang didengar, dan kerap dipahami sekadar sebagai pelengkap laki-laki. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengungkapkan suara, perasaan, emosi dan tindakan Yael dalam teks Hakim-hakim 4:17–24 dan 5:24–27 yang selama ini terpinggirkan dalam pembacaan Alkitab yang dipengaruhi struktur patriarki serta mengimplikasikannya bagi jemaat GMIT Alfa Omega Labat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode feminis kritis Elisabeth Schüssler Fiorenza yang menafsirkan teks dari pengalaman konkret perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks Hakim-hakim 4:17–24 dan 5:24–27, menegaskan bahwa kekerasan tidak dibenarkan, melainkan dipahami dalam konteks krisis kehidupan dan ketiadaan sistem keadilan, sehingga penekanan teks terletak pada keberpihakan Allah terhadap kehidupan dan pembebasan dari penindasan. Suara Yael dalam teks ini menegaskan keberanian, kepekaan, dan tanggung jawab moral sebagai sikap iman yang berpihak pada kehidupan. Temuan ini menegaskan bahwa Allah memberkati perempuan bukan karena status sosial atau kepatuhan pada struktur patriarki, melainkan karena keberanian dan tanggung jawab etisnya, sehingga Jemaat GMIT Alfa Omega Labat dipanggil untuk keluar dari struktur patriarki yang menindas serta secara berani, bertanggung jawab, peka, dan cerdik menghadirkan pembebasan
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini membahas makna teologis tindakan memberi dalam konteks pembangunan rumah Tuhan melalui kajian terhadap 1 Tawarikh 29:1–9. Teks ini dipilih karena secara eksplisit menekankan kerelaan hati sebagai dasar utama dalam memberi, yang sering kali diabaikan dalam praktik kehidupan bergereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami konteks historis dan teologis 1 Tawarikh 29:1–9, merumuskan kerygma teologis yang terkandung di dalamnya, serta mengkaji implikasinya bagi pemaknaan persembahan pembangunan di GMIT Bait’EL Naimata.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir historis-kritis, yang dilengkapi dengan refleksi teologis normatif. Data primer diperoleh dari teks Alkitab 1 Tawarikh 29:1–9, sedangkan data sekunder berasal dari literatur tafsir, buku teologi, dan sumber akademik lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan memberi dalam teks ini merupakan respons iman atas kasih karunia Allah, yang diwujudkan melalui kerelaan hati, keteladanan pemimpin, dan partisipasi komunal. Memberi tidak dipahami sebagai kewajiban struktural atau tekanan sosial, melainkan sebagai ekspresi syukur, ketaatan, dan sukacita dalam relasi dengan Allah. Implikasi teologisnya bagi GMIT Bait’EL Naimata menegaskan pentingnya membangun spiritualitas memberi yang berpusat pada kerelaan hati, sehingga persembahan pembangunan tidak dipahami sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab iman umat.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji konsep Civil Religion (agama sipil) dalam pemikiran Robert N. Bellah serta implikasinya bagi refleksi teologi Kristen dan peran Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Agama sipil dipahami sebagai bentuk religiusitas publik yang menampilkan simbol, ritus, dan nilai-nilai transenden dalam ruang kenegaraan tanpa terikat pada agama formal tertentu. Bellah melihat agama sipil bukan sekadar alat legitimasi negara, melainkan juga memiliki fungsi profetis untuk mengoreksi penyimpangan moral dalam kehidupan publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh melalui penelitian kepustakaan terhadap karya-karya utama Robert Bellah serta literatur teologi dan sosiologi agama yang relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dan kritis-reflektif untuk menilai kontribusi dan keterbatasan konsep agama sipil dari perspektif teologi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama sipil memiliki potensi positif dalam membangun nilai moral bersama dan memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat majemuk. Namun demikian, agama sipil juga mengandung risiko teologis apabila gereja terjebak dalam sakralisasi negara, nasionalisme berlebihan, atau kedekatan yang tidak kritis dengan kekuasaan. Dalam konteks GMIT sebagai gereja mayoritas di Nusa Tenggara Timur, agama sipil tampak dalam keterlibatan gereja di ruang publik, baik melalui ritus kenegaraan maupun peran sosialnya. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk bersikap kritis dan profetis, menjaga kesetiaan pada pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, sekaligus menghadirkan nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kasih dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini menegaskan pentingnya refleksi teologi publik agar gereja mampu berperan secara relevan tanpa kehilangan identitas dan integritas iman Kristen.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berangkat dari persoalan bahwa Doa Bapa Kami dalam Injil Matius 6:5-15 kerap dipahami terutama sebagai praktik spiritual personal, sementara dimensi sosial dan komunal yang melekat pada doa tersebut kurang mendapat perhatian. Situasi ini juga tampak dalam kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, yang meskipun hidup dalam budaya komunal, cenderung memaknai doa sebagai relasi individual dengan Allah dan belum sepenuhnya menghayati implikasi sosialnya. Karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada pemaknaan Doa Bapa Kami sebagai dasar spiritualitas sosial serta implikasinya bagi kehidupan spiritualitas pemuda dalam konteks jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji latar belakang dan orientasi teologis Injil Matius, merumuskan kerygma teologis Matius 6:5-15, serta menjelaskan implikasi kerygma tersebut bagi kehidupan spiritualitas pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Penelitian ini juga bertujuan menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami tidak hanya berfungsi sebagai formula doa, tetapi sebagai ajaran yang membentuk cara hidup beriman dalam relasi dengan Allah dan sesama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penafsiran teks dilakukan melalui metode tafsir sosio-historis, dengan memperhatikan latar belakang sosial, historis, dan religius komunitas Kristen-Yahudi penerima Injil Matius. Melalui pendekatan ini, teks Injil Matius 6:5-15 dipahami dalam konteks kritik Yesus terhadap kesalehan yang bersifat performatif serta upaya pembentukan identitas komunitas yang setara dan solider. Hasil penafsiran kemudian didialogkan dengan konteks kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami mengandung kerygma tentang spiritualitas sosial, yaitu spiritualitas yang mengintegrasikan relasi intim dengan Allah dan tanggung jawab etis dalam kehidupan bersama. Struktur doa yang bersifat komunal, penggunaan kata ganti jamak, serta penekanan pada pengampunan dan kebergantungan bersama menegaskan bahwa doa ini membentuk kesadaran kolektif dan solidaritas komunitas. Dalam konteks pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, Doa Bapa Kami menolong pemuda mengembangkan spiritualitas yang tidak hanya berorientasi personal, tetapi juga peka terhadap kehidupan bersama dalam kehidupan bergereja.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK
“Deskripsi Tentang Penegakan Hukum Memasukan Media Pembawa Hama Dan
Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia”.
Natalia Sartony De Fatima
Masalahan penelitian penulis adalah: Bagaimanakah Pertimbangan Hakim Dalam
Memutuskan Perkara Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat
Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia dan Bagaimana Akibat Hukum
Terhadap Pelaku Dan Barang Bukti?
Tujuan Penelitian penulis adalah: Untuk Mengetahui Penerapan Pasal Terkait
Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan
Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia dan Untuk Mengetahui Akibat Hukum Terhadap
Pelaku Dan Barang Bukti.
Sifat penelitian penulis adalah “Deskriptif”, yaitu memberikan gambaran
permasalahan yang diteliti. Jenis penelitian penulis adalah penelitian hukum normative.
Variable yang digunakan yaitu: Variabel bebas dan Variabel Terikat. Teknik
pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan studi kepustakaan atau studi
dokumen. Studi kepustakaan adalah kegiatan untuk menghimpun informasi yang relevan
dengan topik atau masalah yang menjadi obyek penelitian. Informasi tersebut dapat
diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, tesis, disertasi, ensiklopedia, internet, dan
sumber-sumber lain.
Hasil penelitian menunjukan bahwa:
1. Pertimbangan hakim dalam memutus perkara memasukan media pembawa hama dan
penyakit tanpa sertifikat kesehatan dan karantina dari Malaysia ke Indonesia adalah:
a. Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana
b. Perbuatan terdakwa terbukti melanggar pasal Pasal 31 ayat (1) Jo Pasal 5 huruf a
dan c UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP yakni :
1) Memasukan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina ke dalam
wilayah NKRI.
2) Tidak dilengkapi sertifikat kesehatan dari negara asal dan negara transit bagi
hewan, bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan, ikan, tumbuhan dan
bagian-bagian tumbuhan, kecuali media pembawa yang tergolong benda lain.
3) Tidak dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat
pemasukan untuk keperluan tindakan karantina.
4) Menganjurkan orang lain dengan menjanjikan sesuatu untuk memasukan
media pembawa hama dan penyakit hewan karantina ke dalam wilayah
NKRI.
c. Majelis hakim mempertimbangkan untuk memberikan pidana penjara dan denda
kepada pelaku tersebut.
2. Akibat hukum dari tindak pidana memasukan media pembawa hama dan penyakit
tanpa sertifikat kesehatan dan karantina dari Malaysia ke Indonesia terhadap pelaku
dan barang bukti.
a. Pelaku yaitu Pelaku dipidana penjara, Pelaku membayar denda dan Pelaku
membayar biaya perkara
b. Barang Bukti dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dipergunakan sebagai
barang bukti dalam perkara lainnya.