ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sistem pemerintahan daerah sangat erat kaitannya dengan otonomi daerah yang saat ini telah berlangsung di Indonesia. Dengan pelaksanaan otonomi daerah diharapkan pemerintah daerah mampu mengatur sistem pemerintahannya sendiri dengan memaksimalkan sumber daya yang di miliki.
Dalam tahap perencanaan manajemen aset memastikan efektivitas dan koordinasi kegiatan manajemen aset yang disusun pemerintah serta mengawasi penggunaan dana dalam proses manajemen aset properti sangat berpengaruh terhadap laporan keuangan pemerintah daerah. Karena pada dasarnya kunci keberhasilan manajemen aset adalah memiliki potensi daerah yang efektif dan efisien.
Salah satu bentuk pengelolaan aset yaitu konsep real property adalah suatu hak perorangan/badan hukum untuk memiliki dalam arti menguasai tanah dengan suatu hak atas tanah, misalnya hak milik/hak guna bangunan berikut bangunan (permanen) yang didirikan diatasnya/tanpa bangunan.
Tujuan dilakukan penelitian ini untuk megetahui seberapa efektif pengelolaan manajemen aset properti pemerintah daerah pada kantor Badan Pendapatan dan Aset Daerah Provinsi NTT. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.
Teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang di gunakan kuantitatif dengan rasio efektivitas untuk menggambarkan secara akurat mengenai fakta-fakta perhitungan dan memberikan prediksi mengenai hasil penelitian guna mendapatkan suatu kesimpulan.
Populasi yang dipakai peneliti ini adalah dokumen Laporan keuangan Badan Pendapatan dan Aset daerah Provinsi NTT. Dengan demikian maka untuk kepentingan analisis maka sampel dokumen Laporan keuangan yang diambil adalah Laporan Anggaran, Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD) Tahun 2021-2022.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas manajemen aset properti pemerintah daerah pada kantor badan pendapatan dan aset daerah provinsi NTT kurang efektif dan tidak efektif karena adanya pandemic covid-19 yang melanda dunia, Indonesia dan Nusa Tenggara Timur. Pengelolaan manajemen aset properti juga masih kurang efektif karena terdapat beberapa Permasalahan seperti :keterbatasan sumber daya, (SDM terbatas sedangkan jumlah aset itu banyak), ketersediaan anggaran untuk melakukan monitoring dan pengawasan itu minim sekali serta sistem aplikasi tentang pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) belum maksimal.
Hasil penelitian ini di harapkan memberikan manfaat bagi kepentingan keilmuan yang kemudian dapat dijadikan sebagai acuan maupun referensi untuk penelitian mendatang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Optimasi merupakan pengukuran kemampuan kitosan menggunakan aktivator natrium hidroksida (NaOH) dan kalium hidroksida (KOH). Sampel dalam penelitian ini adalah cangkang keong sawah (Pilla ampullacea L.) yang diperoleh dari area persawahan di desa Oesao, kabupaten Kupang. Optimasi kitosan memiliki keunggulan yaitu sampel yang digunakan dalam jumlah sedikit, waktu singkat, biodegradable, dan mudah terlarut dalam basa kuat seperti NaOH dan KOH. Metode penelitian ini menggunakan metode deasetilasi dan demineralisasi untuk menguji aktivitas kitosan pada variasi konsentrasi aktivator berbeda yaitu larutan NaOH 30%,40%,50% dan KOH 30%,40%,50% . Selanjutnya dilakukan uji kualitas kitosan yaitu persentase rendemen, kadar air, kadar abu dan uji adsorpsi Metilen Biru (MB). Hasil penelitian menunjukan bahwa % rendemen, kadar air, kadar abu yang terbaik pada konsentrasi aktivator 30% NaOH secara berturut-turut adalah 3,33%, 5,72% sedangkan pada konsentrasi aktivator 30% KOH secara berturut-turut adalah 3,17%, 6,67% pengujian daya adsorpsi dilakukan terhadap Metilen Biru (MB) pada konsentrasi aktivator NaOH dan KOH optimumsecara berturut-turut adalah 11,66 mg/g dan 1,63 mg/g. Dengan demikian, cangkang P. ampullacea L. dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan kitosan. Kata Kunci : Kitin, kitosan, cangkang keong, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Keterangan: *) :Peneliti **) :Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat kaya akan hasil tenun tradisional yang beraneka ragam, masing-masing daerah memiliki hasil tenunan dengan beraneka ragam motif sesuai dengan ciri khas dan adat istiadat budaya setempat. Tenunan ini merupakan hasil karya atau buatan tangan wanita-wanita daerah setempat dengan sistem menenun secara tradisional. Sejak dahulu masyarakat atau pengrajin sudah mengenal zat pewarna alami yang dipakai untuk memberi warna pada makanan, kosmetik, pakaian atau sandang, dan bahan-bahan kerajinan. Namun, seiring berkembangnya teknologi dengan ditemukan zat pewarna sintetis maka masyarakat atau pengrajin lebih memilih menggunakan pewarna sintetis. Salah satu kendala zat pewarna alami ialah tumbuhan yang menghasilkan zat warna ini terbatas dan warna yang dihasilkan itu kurang bervariasi. Dibalik dari kelemahan zat pewarna alami ini memiliki potensi yang sangat tinggi di pasar global karena memiliki keunikan warna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode trial and eror research karena dapat meneiliti suatu objek secara berulang atau mencoba sesuatu yang terdapat dimasa sekarang. Tumbuhan rimpang kunyit menghasilkan warna sepia brown, dark golden, dan lemon ginger. Tumbuhan daun mangga menghasilkan warna olive, olive, dan muddy waters brown. Tumbuhan kulit batang pohon nangka menghasilkan warna soft brown, sepia brown dan chocolate brown. Dari proses pewarnaan benang katun dapat dilihat adanya perbedaan warna yang dihasilkan dari rimpang kunyit, daun mangga, dan kulit batang pohon nangka karena adanya perbedaan takaran air sebanyak 1 liter dan 500 mililiter sehingga menghasilkan perbedaan warna pada benang yang telah diwarnai. Adapun perbedaan warna yang dihasilkan dari setiap tumbuhan pada benang katun yaitu: lamanya waktu perebusan bahan pewarna selama 1 jam dan 30 menit, lamanya waktu perendaman benang pada bahan pewarna selama 24 jam dan 12 jam, dan mordan yang digunakan. Disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan mengenai uji ketahanan luntur untuk warna kuning alami pada benang katun dan dilakukan penelitian lanjutan dengan mengukur pH dan suhu pada benang katun yang warnai. Kata kunci: Inventarisasi, Pewarna Alami, Tumbuhan Pewarna, Benang Katun, Nusa Tenggara Timur Keterangan: *) Peneliti **) Pembimbing