Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: Penangkapan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG PENGGUNAAN BAHAN PELEDAK DALAM PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH PERIKANAN INDONESIA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul penelitian penulis adalah “Deskripsi Tentang Penggunaan Bahan Peledak Dalam Penangkapan Ikan Di Wilayah Perikanan Indonesia”. Rumusan masalah yaitu Mengapa penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di wilayah perikanan Indonesia dilarang oleh undang-undang dan Faktor-faktor apakah yang mendorong pelaku melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peleadak? Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui mengapa penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di wilayah perikanan Indonesia dilarang oleh undang-undang dan faktor-faktor apakah yang mendorong pelaku melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Penelitian ini bersifat deskriptif dan jenis pene;itian yang digunakan adalah nomatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yaitu dengan membaca dan mempelajari serta menganalisa buku-buku, peraturan-peraturan dan referensi putusan pengadilan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah bentuk, faktor penyebab dan akibat hukum dari penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di wilayah perikanan Indonesia. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah putusan hakim terhadap tindak pidana penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di wilayah perikanan Indonesia. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri memutus perkara Penggunaan Bahan Peledak Dalam Penangkapan Ikan DI Wilayah Pereikanan Indonesia dengan Kronologi Kasus dan Dakwaan dengan mengunakan alat bukti dan dengan pertimbangan dalam fakta persidangan.Hasil penelitian penulis, sebagai berikut:1).Mengapa penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan diwilayah perikanan Indonesia dilarang oleh undang-undang? Alasan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak di Wilayah Hukum Perairan Indonesia dilarang oleh Undang-Undang karena :a).Merugikan Negara,b).Merusak ekosistem laut,c).Merugikan Nelayan Lainnya.2).Faktor-faktor apakah yang mendorong pelaku melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak?Adapun yang mendorong pelaku melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak yaitu:1).Pertimbangan ekonomi.b).Lebih mudah dan tangkapan lebih banyak

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Adat Pasola Dalam Hubungan Dengan Penangkapan Nyale (Polychaeta) di Kecamatan Lamboya Kabupaten Sumba Barat

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

STUDI ADAT PASOLA DALAM HUBUNGAN DENGAN PENANGKAPAN NYALE (Eunicidae) DI KECAMATAN LAMBOYA KABUPATEN SUMBA BARAT ABTRAKSI Oleh KRISFINUS ANDRI BORA NIM. 18380095 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA KUPANG 2022 Studi Adat Pasola Dalam Hubungan Dengan Penangkapan Nyale (Eunicidae) Di Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat. 1. Krisfinus Andri Bora, 2. Donny M. Bessie, 3. Ir. Izaak S. Angwarmasse Program Studi Manajemen Sumber Daya Peraira, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang *Email: [email protected] ABSTRAK Pasola merupakan tradisi perang adat dimana dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan, kejar-mengejar seraya melempar lembing kayu kearah lawan. Pasola berasal dari kata sola atau hola yang berarti kayu lembing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Tradisi Adat Pasola dalam Hubungan dengan Penangkapan Nyale (Eunicidae) di Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat. Metode peneltian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan menganalisis data melalui wawancara mendalam, observasi serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Upacara atau ritual adat Pasola dalam hubungan dengan penangakapan Nyale/cacing laut di Kecamtan Lamboya dilakukan pada bulan Februari. Pasola dan penangakapan Nyale/cacing laut dipimpin oleh Rato (Imam) yang telah dianggap dapat mengetahui sejarah dan syair - syair adat Pasola dan penangakapan Nyale/cacing laut. Adat Pasola dalam hubungan dengan penangakapan Nyale/cacing laut bagi masyarakat Lamboya merupakan sebagai tanda keberhasilan panen warga/masyarakat Lamboya yang tergambar pada warna Nyale, yang berbentuk utuh dan gerombolan - gerombolan Nyale yang banyak. Bila Nyale tersebut gemuk, sehat, dan berwarna-warni, pertanda tahun tersebut akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Sebaliknya, bila Nyale kurus dan rapuh, akan didapatkan malapetaka. Peranan ritual Nyale dalam hubungan dengan adat Pasola di Lamboya dimaknai sebagai alat pemersatu masyarakat berupa persaudaraan dan ungkapan kegembiraan sejati menyambut hasil panen. Prosesi upacara atau ritual Nyale dan Pasola adalah (a) Menghitung dan Menentukan Waktu (b) Penangkapan Nyale/Cacing Laut, (c) Pelaksanaan Pasola. Kata Kunci: Tradisi, Nyale, Pasola, Penangkapan, Kecamatan Lamboya.   Study Of Pasola Indigenousness In Relation To Nyale (Eunicidae) Catching In Lamboya District, West Sumba Regency. Krisfinus Andri Bora, Donny M. Bassie, and Izaak S. Angwarmasse Aquatic Resources Management Study Program, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Artha Wacana Christian University Kupang *Email: [email protected] ABSTRACT Pasola is a traditional war tradition where two groups of horsemen face each other, chasing each other while throwing a wooden javelin at the opponent. Pasola comes from the word sola or hola which means javelin. The purpose of this study was to determine the Pasola Traditional Tradition in Relation to the catching of Nyale (Eunicidae) in Lamboya District, West Sumba Regency. The research method used was qualitative with an approach to analyzing data through in-depth interviews, observation and documentation. The results showed that Pasola traditional ceremonies or rituals in relation to catching Nyale/sea worms in Lamboya District were carried out in February. Pasola and the capture of Nyale/sea worms were led by Rato (Imam) who was considered to be able to know the history and traditional poetry of Pasola and catching Nyale/sea worms. The Pasola tradition in relation to the catching of Nyale/sea worms for the Lamboya community was a sign of the successful harvest of the Lamboya community/community which was reflected in the color of Nyale, which was intact and in large groups of Nyale. If the Nyale was fat, healthy, and colorful, it was a sign that the year will get good and a successful harvest. On the other hand, if Nyale was thin and fragile, it would be disastrous. The role of the Nyale ritual in relation to the Pasola tradition in Lamboya was interpreted as a unifying tool for the community in the form of brotherhood and an expression of true joy in welcoming the harvest. Nyale and Pasola ceremonial processions or rituals were (a) Counting and Determining Time (b) Catching Nyale/Sea Worms, (c) Implementation of Pasola. Keywords: Tradition, Nyale, Pasola, Catching, Lamboya District.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Variasi Plankton Berdasarkan Kondisi Oseanografi di Daerah Penangkapan Bagan Apung dan Bagan Tancap di Perairan Oesapa

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Plankton merupakan organisme yang hidup melayang di dalam badan perairan dan mempunyai kemampuan yang terbatas. Perairan Oesapa diduga merupakan salah satu daerah perikanan tangkap ikan pelagis kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi plankton dalam komunitasnya berdasarkan kondisi oseanografi pada daerah penangkapan bagan apung dan bagan tancap di perairan Oesapa. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah deskripsi eksploratif. Penelitian ini dilaksanakan di daerah penangkapan bagan apung dan bagan tancap Perairan Oesapa, selama dua (2) bulan yaitu Maret dan Mei 2021. Sementara untuk identifikasi sampel di Laboratorium Eksakta UKAW Kupang. Hasil penelitian menunjukan bahwa plankton yang ditemukan di daerah penangkapan bagan apung terdiri dari fitoplankton sebanyak 178 jenis dari 3 kelas. Sedangkan Zooplankton sebanyak 195 jenis dari 11 kelas. sedangkan Fitoplankton ditemukan di daerah penangkapan bagan tancap sebanyak 179 jenis dari 3 kelas. Sedangkan zooplankton ditemukan sebanyak 162 jenis dari 8 kelas.Kelimpahan plankton di daerah penangkapan bagan apung dan bagan tancap mengikuti trend kedalaman dan waktu pengamatan terlihat bahwa kelimpahan plankton di kedua lokasi penelitian bervariasi. Nilai keanekaragaman Plankton di daerah penangkapan baganapung dan bagan tancap memiliki nilai keanekaragaman tinggi. Keseragaman plankton yang diperoleh pada kedua daerah penangkapan (bagan apung dan bagan tancap) kekayaan setiap individu memiliki spesies jauh berbeda. Dominansi plankton di daerah penangkapan bagan apung dan bagan tancap perairan Oesapa tidak terdapat spesies yang dominan lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Produktivitas Primer Fitoplankton pada Daerah Penangkapan Alat Tangkap Lampara di Perairan Oeseli Kabupaten Rote Ndao

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Fitoplankton merupakan salah satu parameter tingkat kesuburan suatu perairan. Fitoplankton berkontribusi sangat besar untuk mengetahui produktivitas primer di perairan.Jika jumlahfitoplankton dalam perairan tinggi maka perairan tersebut cenderung memiliki produktivitas tinggi.Perairan Oeseli merupakan salah satu daerah penangkapan bagi nelayan setempat dan dari desa lainnya. Salah satu sumber makan ikan pelagis kecil adalah fitoplankton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitoplankton di daerah penangkapan lampara perairan Oeseli yang ditemukan di kedalaman 1 m sebanyak 67 jenis. Kelimpahan fitoplankton tertinggi di kedalaman 1 m pada siang hari sebesar 6324 sel/L, sedangkan terendah pada malam hari sebanyak 4682,9 sel/L. Kelimpahan pada kedalaman 5 m tertinggi pada siang hari sebanyak 5084,8 sel/L dan terendah adalah di sore hari sebanyak 3932,8 sel/L. Nilai keanekaragaman (H’) di daerah penangkapan lampara Perairan Oeseli baik kedalaman 1 m dan 5 m pada pagi, siang, sore dan malam tergolong tinggi. Nilai dominansi fitoplankton di daerah penangkapan lampara perairan Oeseli pada kedalaman 1 m berkisar antara 0,020-0,021, sedangkan di kedalaman 5 m nilai dominansi fitoplankton berkisar antara 0,021-0,023. Hubungan atau korelasi yang terjadi sangat kuat dan positif antara parameter kimia (nitrat) dan kelimpahan fitoplankton dengan nilai korelesi (R²) sebesar 0,724; kecerahan dan kelimpahan fitoplankton dengan nilai korelesi (R²) sebesar 0,611.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG PENYEBAB DAN AKIBAT HUKUM TERJADINYA TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul “Deskripsi tentang Penggunaan Bahan Peledak dan Trawl dalam Penangkapan Ikan di Perairan Laut Indonesia”. Tujuan penelitian ini adalah unruk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penggunaan bahan peledak dan trawl (pukat harimau) dalam penangkapan ikan di Perairan Laut Indonesia. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis yaitu untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penggunaan bahan peledak dan trawl (pukat harimau). Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. variabel bebas dalam dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penggunaan bahan peledak dan trawl (pukat harimau) dalam penangkapan ikan di Perairan Laut Indonesia. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian adalah putusan pengadilan terhadap penggunaan bahan peledak dan trawl dalam penangkapan ikan di perairan laut Indonesia. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer, data sekunder dan bahan hukum tersier. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana penggunaan bahan peledak dan trawl (pukat harimau) dalam penangkapan ikan di Perairan Laut Indonesia adalah;11) Faktor Meningkatkan Produksi Penangkapan Ikan dan 2) Faktor Meningkatkan Pendapatan Nelayan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang diberikan adalah melakukan pemeriksaan terhadap alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di setiap kapal nelayan yang akan berangkat mencari ikan ke laut dan juga melakukan razia rutin di wilayah perairan Republik Indonesia oleh aparat terkait guna meminimalisir terjadinya tindak pidana perikanan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail