Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Disabilitas
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG PUTUSAN HAKIM KEPADA PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN TERHADAP KAUM DISABILITAS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

INTISARI Skripsi ini berjudul:“Deskripsi Tentang Putusan Hakim Kepada Pelaku Tindak Pidana Perkosaan Terhadap Kaum Disabilitas”. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah Mengapa Hakim Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan pemidanaan sedangkan Hakim Pengadilan Tinggi dan Kasasi menjatuhkan putusan bebas kepada pelaku tindak pidana perkosaan terhadap kaum disabilitas ?. Tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui dan menjelaskan Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan pemidanaan sedangkan Hakim Pengadilan Tinggi dan Kasasi menjatuhkan putusan bebas kepada pelaku tindak pidana perkosaan terhadap kaum disabilitas. Penelitian ini bersifat Deskriptif dan jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian Normatif. Variabel Bebas dalam penelitian ini adalah pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan pemidanaan, sedangkan Hakim Pengadilan Tinggi dan Kasasi menjatuhkan putusan bebas kepada pelaku tindak pidana perkosaan terhadap kaum disabilitas. Sedangkan variabel Terikat dalam penelitian ini adalah putusan Pengadilan terkait tindak pidana perkosaan terhadap kaum disabilitas. Berdasarkan hasil penelitian pada putusan pertama sampai putusan ketiga, maka penulis menarik kesimpulan bahwa alasan Hakim Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan pemidanaan sedangkan Hakim Pengadilan Tinggi dan Kasasi menjatuhkan putusan bebas: 1. Alasan Hakim Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana perkosaan terhadap kaum disabilitas karena: a. Dakwaan primer Jaksa Penuntut Umum yang telah terbukti yang menyatakan terdakwa Efendi terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana “ melakukan persetubuhan diluar perkawinan dengan seorang perempuan yang diketahuinya sedang berada dalam keadaan pingsan dan tidak berdaya” melanggar pasal 286 KUHP. b. Pertimbangan Hakim terhadap unsur tindak pidana yang telah terbukti dalam pasal 286 KUHP. c. Pertimbangan Hakim terhadap hal-hal yang memberatkan terdakwa. 2. Alasan Hakim Pengadilan Tinggi memutus bebas terhadap pelaku tindak pidana perkosaan terhadap kaum disabilitas disebabkan karena: a. Hakim Tingkat Banding tidak sependapat dengan fakta hukum dan pertimbangan hukum Majelis Hakim Tingkat Pertama. b. Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang telah didakwakan oleh JPU. 3. Alasan Mahkamah Agung menjatuhkan putusan menolak permohonan kasasi dari Jaksa Penutut Umum disebabkan karena: a. Mahkamah Agung sependapat dengan Majelis Hakim tingkat banding. b. Majelis Hakim Tingkat Pertama telah salah dalam menerapkan hukum. c. Majelis Hakim Tingkat banding dipandang benar dalam menerapkan hukum. d. Putusan judex factie Tingkat Banding dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan Undang-Undang, maka permohonan Kasasi Jaksa Penuntut Umum ditolak. Kata Kunci : Putusan Hakim, Perkosaan, Kaum Disabilitas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

YESUS DAN TRANSFORMASI CARA PANDANG TERHADAP INSAN DENGAN DISABILITAS: SUATU KAJIAN NARATIF TERHADAP INJIL LUKAS 18:35-43 DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAYANAN INSAN DENGAN DISABILITAS DI JEMAAT GMIT EFRATA OELMASI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan terhadap Insan dengan Disabilitas (IDD) dalam konteks gereja lokal masih menghadapi persoalan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan struktural. Hambatan akses, stigma, serta praktik pengucilan membatasi partisipasi dan pemulihan martabat IDD, sementara disabilitas kerap dipahami secara sempit dan belum ditempatkan sebagai isu teologis dan eklesiologis yang mendesak. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada penafsiran teks Alkitab sebagai kontribusi teologis bagi pengembangan pelayanan gereja yang inklusif terhadap IDD. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Lukas 18:35–43 merepresentasikan tindakan pemulihan Yesus terhadap IDD serta menghadirkan implikasi teologis dan praksis yang mentransformasi cara pandang gereja terhadap disabilitas, khususnya dalam konteks pelayanan Jemaat GMIT Efrata Oelmasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode kritik naratif, yang membaca teks sebagai satu kesatuan cerita dengan memperhatikan alur, karakter, latar, dan sudut pandang pencerita dalam konteks sosial dan teologis Injil Lukas. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, tindakan Yesus yang berhenti, mendengar, dan berdialog menegaskan bahwa pemulihan dimulai dari pengakuan martabat dan relasi yang memanusiakan, yang menjadi dasar tanggung jawab gereja dalam pelayanan terhadap IDD. Kedua, iman yang melihat bukan iman yang berhenti pada pengakuan, melainkan iman yang menuntut tindakan konkret gereja melalui pelayanan diakonia yang bergerak melampaui pola karitatif menuju diakonia transformatif. Ketiga, pemulihan Yesus bersifat transformasional karena tidak hanya memulihkan individu, tetapi juga mengubah sikap dan struktur komunitas menuju penerimaan dan partisipasi yang setara bagi IDD dalam kehidupan umat Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN PENYANDANG DISABILITAS “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemikiran Nancy Eiesland Tentang Teologi Pembebasan Sebagai Upaya Pemberdayaan Bagi Penyandang Disabilitas di Jemaat Lelakapa Meoain, Klasis Rote Barat Daya”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi berjudul “Gereja Dan Penyandang Disabilitas” dengan sub judul “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemikiran Nancy Eiesland Tentang Teologi Pembebasan Sebagai Upaya Pemberdayaan Bagi Penyandang Disabilitas Dan Implikasinya Bagi Jemaat Disabilitas di Jemaat GMIT Lelakapa Meoain Klasis Rote Barat Daya” ditulis oleh Gresty Felendy Pandie. Realita pergumulan jemaat GMIT Lelakapa Meoain Klasis Rote Barat Daya, terdapat 12 orang penyandang disabilitas dan dalam realita ini gereja tidak melakukan upaya pemberdayaan terhadap mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tujuannya agar dapat memahami dan menjelaskan fenomena serta dapat mengenal lebih dalam mengenai pikiran tokoh dan dapat memahami pikiran dan ide dari tokoh tersebut. Metode studi tokoh dengan model kualitatif juga berbasis pada metode kepustakaan. Skripsi ini membahas hubungan antara gereja dan penyandang disabilitas dalam perspektif teologis, dengan fokus pada pemikiran Nancy Eiesland mengenai teologi pembebasan disabilitas sebagai sarana pemberdayaan. Studi ini bertujuan untuk meninjau bagaimana pemikiran Eiesland dapat diimplementasikan dalam konteks Jemaat GMIT Lelakapa Meoain, Klasis Rote Barat Daya, khususnya dalam mendobrak stigma dan diskriminasi yang masih kerap dialami oleh penyandang disabilitas dalam kehidupan bergereja. Penelitian ini menawarkan kerangka teologis yang inklusif dan transformatif bagi gereja. Teologi ini menuntut gereja untuk tidak hanya bersikap ramah terhadap disabilitas, tetapi juga menjadi ruang yang aktif dalam memberdayakan dan melibatkan penyandang disabilitas secara setara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun GMIT Lelakapa Meoain telah menunjukkan beberapa upaya positif, namun masih terdapat ruang bagi pengembangan pendekatan teologis yang lebih kontekstual dan memberdayakan, sebagaimana digagas oleh Eiesland.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail