Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

ST.

735 karya publik ditemukan.

2026: 282025: 152024: 102023: 922022: 1662021: 2702020: 322018: 6

GEREJA DIASPORA : DARI GEDUNG KE KEHIDUPAN Suatu Tinjauan Teologis terhadap Pemikiran Y.B. Mangunwijaya tentang Gereja Diaspora dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua, Klasis Kota Kupang Timur.

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehidupan bergereja di konteks perkotaan kerap dipahami secara sempit sebagai aktivitas yang berpusat pada gedung gereja, liturgi, dan struktur kelembagaan. Cara pandang ini sering kali menutupi realitas sosial yang lebih dalam, khususnya pengalaman kemiskinan struktural yang dialami sebagian anggota jemaat. Penelitian ini berangkat dari persoalan tersebut dengan memfokuskan kajian pada konsep Gereja Diaspora yang dikemukakan oleh Y. B. Mangunwijaya dan implikasinya bagi kehidupan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua sebagai gereja perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk merefleksikan secara teologis realitas kemiskinan struktural dalam kehidupan jemaat serta menelaah bagaimana pemikiran Gereja Diaspora dapat menjadi kerangka teologis bagi pembaruan pelayanan gereja. Penelitian ini juga bertujuan menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk hadir bukan semata sebagai organisasi religius, melainkan sebagai organisme iman yang hidup, bertumbuh, dan berpihak pada kehidupan umat yang rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis dan refleksi teologis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya Y. B. Mangunwijaya, kajian Alkitab, serta analisis kontekstual berdasarkan data sosial dan pekerjaan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan kritis atas realitas jemaat sebagai “tanda-tanda zaman” yang menantang gereja untuk merefleksikan kembali identitas dan panggilannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami sebagian jemaat GMIT Kaisarea merupakan bentuk kemiskinan struktural yang tidak dapat direduksi sebagai persoalan individual. Dalam terang pemikiran Mangunwijaya, kemiskinan tersebut menjadi locus teologis yang menguji kesetiaan iman dan kesaksian gereja. Konsep Gereja Diaspora menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk bergerak dari pemusatan pada gedung menuju kehadiran nyata dalam kehidupan umat. Dengan demikian, GMIT Kaisarea dipahami sebagai “Kebun Anggur Tuhan yang Berbunga,” yakni komunitas iman yang merawat keberagaman, memperjuangkan martabat manusia, dan menghadirkan Injil sebagai daya yang membebaskan di tengah realitas perkotaan yang timpang.

TRADISI TARONG GANG TARONG BU Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Tarong Gang Tarong Bu Dalam Konteks Pertanian Dan Implikasinya Bagi Anggota Mata Jemaat Betania Mampui, Klasis Alor Timur

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan anggota Mata Jemaat Betania Mampui yang menjalankan aktivitas pertanian berdasarkan tahun tertentu, yakni tahun ganjil dan tahun genap. Kondisi ini dipengaruhi oleh tradisi yang diwariskan oleh leluhur, yakni tradisi Tarong Gang Tarong Bu (Tahun baik dan tahun buruk). Tradisi ini mendasari pemahaman jemaat bahwa tahun bernomor ganjil merupakan tahun tidak baik, sebab tahun ini mempengaruhi peningkatan hama tikus. Sebaliknya tahun bernomor genap merupakan tahun baik, sehingga baik untuk melaksanakan aktivitas pertanian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman jemaat terhadap tradisi ini, kemudian mengidentifikasi setiap pemahaman berdasarkan tradisi ini menggunakan model pendekatan teologi kontekstual. Model kontekstual yang digunakan adalah model antropologis dan sintesis yang digagas oleh Stephen B. Bevans, selanjutnya menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tarong Gang Tarong Bu serta merumuskan refleksi teologis dan relevansinya bagi anggota Mata Jemaat Betania Mampui. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Penelitian ini turut menggunakan metode kepustakaan yang bersumber dari buku, jurnal, dan artikel-artikel teologis. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman jemaat dalam pengecualian tahun didasari atas ketakutan akan hama tikus yang meningkat, padahal peningkatan hama tikus bukan didasari oleh tahun tertentu, melainkan pada faktor pembersihan lahan yang tidak serentak pada satu lahan, seperti yang dilakukan pada tahun baik (Tarong Gang). Berdasarkan pendekatan teologi kontekstual antropologi dan sintesis. Pemahaman jemaat akan ketakutan hama tikus dalam tradisi ini, dapat didialogkan dengan iman Kristen, yang tidak terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tarong Gang Tarong Bu. Berdasarkan pendekatan tersebut, penelitian ini menemukan transformasi pemahaman. Pengecualian tahun dalam aktivitas pertanian oleh anggota mata jemaat tidak lagi dilihat sebagai ketakutan mistis, melainkan bentuk pemeliharaan alam. Selain itu, dengan menggunakan pendekatan teologi kontekstual, penelitian ini menemukan nilai nilai dalam tradisi yang mendukung kehidupan jemaat dan pelayanan gereja.

SPIRITUALITAS SOSIAL DALAM DOA BAPA KAMI: Tafsir Sosio-Historis terhadap Injil Matius 6:5-15 dan Implikasinya bagi Kehidupan Spiritualitas Pemuda di Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, Klasis Pantar Barat

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari persoalan bahwa Doa Bapa Kami dalam Injil Matius 6:5-15 kerap dipahami terutama sebagai praktik spiritual personal, sementara dimensi sosial dan komunal yang melekat pada doa tersebut kurang mendapat perhatian. Situasi ini juga tampak dalam kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, yang meskipun hidup dalam budaya komunal, cenderung memaknai doa sebagai relasi individual dengan Allah dan belum sepenuhnya menghayati implikasi sosialnya. Karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada pemaknaan Doa Bapa Kami sebagai dasar spiritualitas sosial serta implikasinya bagi kehidupan spiritualitas pemuda dalam konteks jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji latar belakang dan orientasi teologis Injil Matius, merumuskan kerygma teologis Matius 6:5-15, serta menjelaskan implikasi kerygma tersebut bagi kehidupan spiritualitas pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Penelitian ini juga bertujuan menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami tidak hanya berfungsi sebagai formula doa, tetapi sebagai ajaran yang membentuk cara hidup beriman dalam relasi dengan Allah dan sesama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penafsiran teks dilakukan melalui metode tafsir sosio-historis, dengan memperhatikan latar belakang sosial, historis, dan religius komunitas Kristen-Yahudi penerima Injil Matius. Melalui pendekatan ini, teks Injil Matius 6:5-15 dipahami dalam konteks kritik Yesus terhadap kesalehan yang bersifat performatif serta upaya pembentukan identitas komunitas yang setara dan solider. Hasil penafsiran kemudian didialogkan dengan konteks kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami mengandung kerygma tentang spiritualitas sosial, yaitu spiritualitas yang mengintegrasikan relasi intim dengan Allah dan tanggung jawab etis dalam kehidupan bersama. Struktur doa yang bersifat komunal, penggunaan kata ganti jamak, serta penekanan pada pengampunan dan kebergantungan bersama menegaskan bahwa doa ini membentuk kesadaran kolektif dan solidaritas komunitas. Dalam konteks pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, Doa Bapa Kami menolong pemuda mengembangkan spiritualitas yang tidak hanya berorientasi personal, tetapi juga peka terhadap kehidupan bersama dalam kehidupan bergereja.

YESUS DAN TRANSFORMASI CARA PANDANG TERHADAP INSAN DENGAN DISABILITAS: SUATU KAJIAN NARATIF TERHADAP INJIL LUKAS 18:35-43 DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAYANAN INSAN DENGAN DISABILITAS DI JEMAAT GMIT EFRATA OELMASI

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan terhadap Insan dengan Disabilitas (IDD) dalam konteks gereja lokal masih menghadapi persoalan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan struktural. Hambatan akses, stigma, serta praktik pengucilan membatasi partisipasi dan pemulihan martabat IDD, sementara disabilitas kerap dipahami secara sempit dan belum ditempatkan sebagai isu teologis dan eklesiologis yang mendesak. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada penafsiran teks Alkitab sebagai kontribusi teologis bagi pengembangan pelayanan gereja yang inklusif terhadap IDD. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Lukas 18:35–43 merepresentasikan tindakan pemulihan Yesus terhadap IDD serta menghadirkan implikasi teologis dan praksis yang mentransformasi cara pandang gereja terhadap disabilitas, khususnya dalam konteks pelayanan Jemaat GMIT Efrata Oelmasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode kritik naratif, yang membaca teks sebagai satu kesatuan cerita dengan memperhatikan alur, karakter, latar, dan sudut pandang pencerita dalam konteks sosial dan teologis Injil Lukas. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, tindakan Yesus yang berhenti, mendengar, dan berdialog menegaskan bahwa pemulihan dimulai dari pengakuan martabat dan relasi yang memanusiakan, yang menjadi dasar tanggung jawab gereja dalam pelayanan terhadap IDD. Kedua, iman yang melihat bukan iman yang berhenti pada pengakuan, melainkan iman yang menuntut tindakan konkret gereja melalui pelayanan diakonia yang bergerak melampaui pola karitatif menuju diakonia transformatif. Ketiga, pemulihan Yesus bersifat transformasional karena tidak hanya memulihkan individu, tetapi juga mengubah sikap dan struktur komunitas menuju penerimaan dan partisipasi yang setara bagi IDD dalam kehidupan umat Allah.

PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA RADIO REPUBLIK INDONESIA DI KOTA KUPANG

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sumber daya manusia merupakan aset utama yang sangat berperan dalam menentukan keberliasilan dan keberlangsungan strata organisasi. Organisasi tidak akan mampu berjalan dengan efektif tanpa adanya dukungan sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki motivast yang tinggi, serta kepuasan dalam menjalankan tugasnya. Dalam konteks lembaga penyiaran publik seperti Radio Republik Indonesia (RRI) Kupang, kinerja pegawai menjadi salah satu faktor yang sangat penting karena keberhasilan organisasi dalam memberikan pelayanan informasi, pendidikan, dan hiburan kepada masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas dan semangat kerja para pegawainya. Motivasi kerja merupakan dorongan internal maupun eksternal yang membuat seseorang mau dan rela mengerahkan kemampuan, waktu, dan tenaganya untuk mencapai tujuan organisasi. Pegawai yang memiliki motivasi tinggi cenderung menunjukkan semangat kerja yang kuat, disiplin, serta tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Menurut Mangkuprawira (2017), motivasi kerja dapat meningkatkan kinerja seseorang melalui dorongan untuk mencapai prestasi tertentu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun organisasi. Di sisi lain, kepuasan kerja memiliki pengaruh yang tidak kalah penting terhadap kinerja pegawai. Kepuasan kerja menggambarkan sejauh mana seseorang merasa senang dan puas terhadap pekerjaannya, baik dari segi gaji, hubungan dengan rekan kerja, lingkungan kerja, maupun peluang pengembangan karier. Robbins (2015) menjelaskan bahwa kepuasan kerja yang tinggi akan menghasilkan perilaku kerja positif seperti loyalitas, disiplin, dan komitnien yang kuat terhadap organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh motivasi kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai pada Radio Republik Indonesia (RRI) Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan asosiatif Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai RRI Kupang yang berjumlah 79 orang, sekaligus dijadikan sebagai sampel penelitian (sampel jenuh). Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis regresi linear berganda, uji parsial (uji t), uji simultan (uji F), serta uji koefisien determinasi (R2) untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel motivasi kerja (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (Y). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi motivasi kerja yang dimiliki pegawai RRI Kupang, maka semakin tinggi pula kinerja yang dihasilkan. Demikian pula dengan variabel kepuasan kerja (X2), yang juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Pegawai yang merasa puas terhadap pekerjaannya akan cenderung bekerja lebih baik, memiliki tanggung jawab yang tinggi, serta mampu memberikan kontribusi maksimal dalam menjalankan tugasnya. Secara simultan, kedua variabel independen yaitu motivasi kerja (X1) dan kepuasan kerja (X2) berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (Y) pada Radio Republik Indonesia (RRI) Kupang. Hasil koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa sebagian besar variasi kinerja pegawai dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti lingkungan kerja, gaya kepemimpinan, dan sistem penghargaan. Berdasarkan basil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi motivasi kerja dan kepuasan kerja yang dimiliki pegawai, maka semakin baik pula kinerja yang ditunjukkan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Olen karena itu, pihak manajemen RRI Kupang disarankan untuk terus meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja pegawai melalui pemberian penghargaan yang adil, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif memperhatikan kesejahteraan karyawan, serta memberikan kesempatan pengembangan karier yang lebih luas. Dengan demikian, diharapkan kualitas pelayanan dan kinerja lembaga dapat meningkat secara berkelanjutan. Penelitian ini juga memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi pengembangan ilmu manajemen number daya manusia, khususnya terkait hubungan antara motivasi kerja, kepuasan kerja, dan kinerja pegawai di instansi pemerintahan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga-lembaga publik lainnya untuk mengembangkan strategi peningkatan kinerja pegawai yang lebih efektif dan berkelanjutan.

MANAJEMEN INDUSTRI HASIL PERIKANAN

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Buku Manajemen Industri Hasil Perikanan ini hadir sebagai referensi komprehensif bagi akademisi, praktisi, dan mahasiswa yang ingin memahami berbagai aspek strategis dalam pengelolaan industri hasil perikanan secara modern dan berkelanjutan. Setiap bab membahas tema penting mulai dari ruang lingkup, manajemen bahan baku, organisasi, fasilitas, hingga mutu, pemasaran, dan pengembangan produk, yang dikemas berdasarkan pendekatan ilmiah dan pengalaman lapangan para penulis. Dengan mengintegrasikan wawasan teknis dan manajerial, buku ini menjadi panduan aplikatif dalam mendukung daya saing industri perikanan nasional di tengah tantangan globalisasi dan perubahan lingkungan.

MENCARI MAKNA HIDUP DI DALAM ALLAH "Suatu Tinjauan Kritik Historis Terhadap Teks Pengkhotbah 2:18-26 dan Relevansinya Bagi Pemuda Jemaat GMIT Ebenhaezer Tarus Barat"

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Pencarian makna hidup di tengah krisis eksistensial yang banyak dialami oleh kaum muda, khususnya dalam periode Quarter Life Crisis, yang ditandai dengan rasa cemas, kehilangan arah, dan ketidakpuasan terhadap pencapaian hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman teologis dari Pengkhotbah 2:18–26 dalam menjawab krisis makna yang dialami generasi muda serta membangun landasan iman bahwa makna hidup sejati hanya ditemukan di dalam Allah. Mencari Makna Hidup di dalam Allah bertujuan untuk mengungkap bagaimana kitab Pengkhotbah, khususnya bagian Pengkhotbah 2:18–26, memandang upaya manusia dalam menemukan makna hidup. Kitab Pengkhotbah merupakan bagian dari sastra hikmat dalam Alkitab Ibrani, dan diyakini ditulis pada masa pasca-pembuangan, ketika umat Israel sedang mengalami tekanan sosial, politik, dan spiritual. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan tafsir kritik historis, dengan menelaah latar belakang sejarah, budaya, serta konteks penulisan kitab Pengkhotbah. Analisis dilakukan secara ayat demi ayat untuk menggali makna teks secara mendalam dan menemukan pesan teologis yang relevan bagi masalah Quarter Life Crisis yang dialami. Hasilnya, makna hidup bukan ditemukan dalam pencapaian pribadi atau kepemilikan materi, tetapi dalam pemberian Allah yang membawa damai dan sukacita. Penelitian ini juga menghubungkan isi kitab Pengkhotbah dengan fenomena Quarter Life Crisis yang dialami oleh banyak pemuda masa kini. Dalam tekanan hidup modern—baik dalam pendidikan, pekerjaan, relasi, maupun masa depan—banyak anak muda bergumul dengan arah dan tujuan hidup mereka. Teks ini memberikan jawaban iman bahwa pengakuan akan keterbatasan manusia dan kebergantungan penuh kepada Allah justru membawa pemulihan dan kedamaian. Maka, hidup yang bermakna bukanlah hasil dari keberhasilan material semata, melainkan relasi yang dalam dan utuh dengan Allah. Dengan demikian, Kitab Pengkhotbah menawarkan perspektif spiritual yang menenangkan bahwa sekalipun segala sesuatu di bawah matahari tampak sia-sia, makna sejati dapat ditemukan dalam hubungan yang intim dengan Allah dan dalam penerimaan akan keterbatasan hidup manusia. Kata kunci: Pengkhotbah 2:18–26, makna hidup, kritik historis, Allah, Quarter Life Crisis.

PERSEKUTUAN YANG SEHATI SEPIKIR: “Suatu Tinjauan Kritik Historis terhadap Surat Filipi 2:1-11 dan Implikasinya bagi Persekutuan di Jemaat GMIT Bukit Kasih Baumata Barat, Klasis Kupang Tengah”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertolak dari realitas bahwa persekutuan jemaat sering kali dihadapkan pada persoalan ketidakharmonisan, konflik internal, dan kepentingan pribadi, seperti yang terjadi di Jemaat GMIT Bukit Kasih Baumata Barat. Kondisi ini menunjukkan perlunya pemaknaan kembali atas nilai-nilai persekutuan Kristen yang sejati sebagaimana diajarkan dalam Filipi 2:1-11. Dalam perikop ini, Rasul Paulus menasihatkan jemaat untuk hidup sehati sepikir, dalam kasih, kerendahan hati, dan tidak mementingkan diri sendiri, dengan menjadikan Kristus sebagai teladan utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami konteks historis dan teologis dari teks Filipi 2:1-11, menggali kerygma yang terkandung di dalamnya, serta merumuskan implikasi teologis dan praktis bagi persekutuan jemaat GMIT Bukit Kasih. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis reflektif dengan pendekatan historis kritis serta studi pustaka yang diperkuat dengan data wawancara lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerygma utama dari Filipi 2:1-11 adalah panggilan kepada jemaat untuk merendahkan hati, menjadikan Kristus teladan utama dalam mewujudkan persekutuan, dan ketaatan dalam Kristus sebagai dasar persekutuan. Implikasi dari kerygma ini menegaskan bahwa persekutuan kristen harus dibangun atas dasar kasih, kerendahan hati, dan kesediaan untuk melayani, bukan atas dasar kepentingan pribadi atau status sosial.

KADERISASI PRESBITER Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Kaderisasi Presbiter di Jemaat Talitakumi Pasir Panjang

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul “Kaderisasi Presbiter: Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Kaderisasi Presbiter di Jemaat GMIT Talitakumi Pasir Panjang”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lemahnya proses regenerasi kepemimpinan dalam jemaat GMIT Talitakumi Pasir Panjang, ditandai oleh dominasi tokoh-tokoh lama dan minimnya keterlibatan generasi muda. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi konsep dan realitas kaderisasi presbiter di jemaat, menganalisis kendala-kendala pelaksanaannya, serta merumuskan refleksi teologis sebagai kontribusi terhadap pembaruan pelayanan gereja. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan belum adanya sistem kaderisasi yang terencana, ketiadaan program pembinaan berkelanjutan, serta lemahnya kesadaran akan pentingnya regenerasi kepemimpinan. Refleksi teologis berdasarkan Titus 1:5-9, doktrin imamat am orang percaya, dan prinsip presbiterial-sinodal dalam tradisi Reformed menegaskan bahwa kaderisasi adalah panggilan iman, bukan sekadar kebutuhan struktural. Penelitian ini merekomendasikan penerapan model pemuridan kontekstual sebagai pendekatan efektif dalam membentuk presbiter yang setia, kontekstual, dan berintegritas.

PATEHALA “Suatu Tinjauan Pastoral Terhadap Tradisi Patehala sebagai Wadah Pastoral Kontekstual bagi Jemaat GMIT Hermon Helangdohi”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Manusia dalam kehidupan sosial tidak pernah lepas dari interaksi yang membentuk hubungan, nilai, dan makna. Salah satu bentuk interaksi yang sarat makna ditemukan dalam tradisi Patehala, sebuah kearifan lokal masyarakat Pantar, Alor, yang digunakan dalam penyelesaian konflik antar individu atau kelompok. Tradisi ini menggunakan simbol darah hewan dan pemberian denda sebagai bentuk pengakuan kesalahan, perdamaian, dan pemulihan relasi. Namun, dalam praktiknya, tradisi ini kerap mengalami pergeseran makna, terutama ketika pelaksanaannya tidak dilandasi oleh penyesalan sejati. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Patehala sebagai salah satu ekspresi sosial-budaya masyarakat yang juga adalah bagian dari jemaat GMIT Hermon Helangdohi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan teologis-pastoral serta memanfaatkan teori pendampingan pastoral Jacob daan Engel, penelitian ini mengungkap nilai-nilai seperti pengakuan, pertobatan, pemulihan, dan rekonsiliasi sebagai kontribusi budaya terhadap kehidupan bergereja. Refleksi teologis menunjukkan bahwa meskipun tradisi ini tidak dapat menggantikan karya penebusan Yesus Kristus, nilai-nilainya dapat memperkaya pelayanan pastoral gereja secara kontekstual. Pada akhirnya, Patehala menjadi ruang belajar bagi gereja untuk merawat relasi sosial dan spiritual yang menyeluruh dan menyembuhkan.

GEREJA DAN PENYANDANG DISABILITAS “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemikiran Nancy Eiesland Tentang Teologi Pembebasan Sebagai Upaya Pemberdayaan Bagi Penyandang Disabilitas di Jemaat Lelakapa Meoain, Klasis Rote Barat Daya”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi berjudul “Gereja Dan Penyandang Disabilitas” dengan sub judul “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemikiran Nancy Eiesland Tentang Teologi Pembebasan Sebagai Upaya Pemberdayaan Bagi Penyandang Disabilitas Dan Implikasinya Bagi Jemaat Disabilitas di Jemaat GMIT Lelakapa Meoain Klasis Rote Barat Daya” ditulis oleh Gresty Felendy Pandie. Realita pergumulan jemaat GMIT Lelakapa Meoain Klasis Rote Barat Daya, terdapat 12 orang penyandang disabilitas dan dalam realita ini gereja tidak melakukan upaya pemberdayaan terhadap mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tujuannya agar dapat memahami dan menjelaskan fenomena serta dapat mengenal lebih dalam mengenai pikiran tokoh dan dapat memahami pikiran dan ide dari tokoh tersebut. Metode studi tokoh dengan model kualitatif juga berbasis pada metode kepustakaan. Skripsi ini membahas hubungan antara gereja dan penyandang disabilitas dalam perspektif teologis, dengan fokus pada pemikiran Nancy Eiesland mengenai teologi pembebasan disabilitas sebagai sarana pemberdayaan. Studi ini bertujuan untuk meninjau bagaimana pemikiran Eiesland dapat diimplementasikan dalam konteks Jemaat GMIT Lelakapa Meoain, Klasis Rote Barat Daya, khususnya dalam mendobrak stigma dan diskriminasi yang masih kerap dialami oleh penyandang disabilitas dalam kehidupan bergereja. Penelitian ini menawarkan kerangka teologis yang inklusif dan transformatif bagi gereja. Teologi ini menuntut gereja untuk tidak hanya bersikap ramah terhadap disabilitas, tetapi juga menjadi ruang yang aktif dalam memberdayakan dan melibatkan penyandang disabilitas secara setara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun GMIT Lelakapa Meoain telah menunjukkan beberapa upaya positif, namun masih terdapat ruang bagi pengembangan pendekatan teologis yang lebih kontekstual dan memberdayakan, sebagaimana digagas oleh Eiesland.

TRADISI OPAT Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap Pelaksanaan Tradisi Opat Di Masyarakat Neonmat dan Implikasinya bagi Pelayanan di Jemaat GMIT Elim Neonmat, Klasis Mollo Timur”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tradisi denda adat (opat) merupakan salah satu mekanisme budaya yang penting dalam kehidupan masyarakat Neonmat, khususnya dalam menyelesaikan konflik sosial dan memulihkan hubungan antar individu. Denda adat dipandang sebagai sarana untuk menegakkan keadilan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta mengembalikan keharmonisan hidup bersama. Namun, dalam pelaksanaannya, denda adat sering kali mengandung unsur pengampunan bersyarat—di mana perdamaian dan pengampunan hanya diberikan setelah pembayaran denda material dipenuhi. Hal ini menimbulkan ketegangan teologis dengan ajaran Injil, yang mengajarkan bahwa pengampunan adalah anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang bertobat.Penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kontekstual dengan menggunakan tipologi "Kristus sebagai Pembaharu Kebudayaan" dari H. Richard Niebuhr untuk merefleksikan praktik opat secara kritis dalam terang Injil. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, melalui wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun nilai-nilai luhur seperti rekonsiliasi, pertobatan, dan tanggung jawab terkandung dalam tradisi opat, praktik pengampunan bersyarat melalui denda dapat mereduksi makna kasih dan pengampunan Injil. Implikasi dari penelitian ini bagi pelayanan Jemaat GMIT Elim Neonmat adalah perlunya pembaruan pelayanan pastoral yang mampu menjembatani antara penghargaan terhadap budaya lokal dan kesetiaan pada nilai-nilai Injil. Gereja dipanggil untuk hadir sebagai agen pembaharu budaya, bukan hanya menerima adat apa adanya, tetapi memurnikannya agar selaras dengan kasih dan anugerah Kristus. Gereja juga perlu membangun pendidikan iman yang kontekstual, pelayanan sakramental yang bebas dari unsur transaksional, serta memperkuat peran profetis dalam menghadirkan keadilan dan pengampunan sejati.

MISI GEREJA BAGI KAUM LANJUT USIA “Suatu Tinjauan Misiologi Dengan Pendekatan Model Komunikasi Menurut Theo Sundermeier Terhadap Pelayanan Gereja Bagi Kaum Lanjut Usia (60 Tahun Ke Atas) Di Jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur “

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Lansia merupakan kelompok usia yang semakin bertumbuh secara jumlah dalam masyarakat dan jemaat gereja masa kini. Namun, tidak jarang mereka terpinggirkan dalam program pelayanan gereja karena dianggap kurang produktif atau tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks ini, gereja dipanggil untuk merefleksikan kembali misi dan panggilannya terhadap kelompok usia ini, bukan hanya sebagai bentuk pelayanan sosial, tetapi sebagai bagian dari partisipasi mereka dalam kehidupan iman dan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana misi gereja bagi lansia dapat dilaksanakan secara kontekstual melalui pendekatan model komunikasi misi menurut Theo Sundermeier. Theo Sundermeier, seorang teolog dan missiolog asal Jerman, menawarkan pendekatan komunikasi misioner yang menekankan pada aspek dialog, relasionalitas, kehadiran bersama, dan saling memahami sebagai landasan dalam menjalin hubungan dengan konteks dan budaya setempat. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan wawancara mendalam terhadap pelayan gereja dan lansia di jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur, penelitian ini menemukan bahwa adanya masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, kondisi kesehatan lansia yang membutuhkan perhatian, keadaan lingkungan dan sosial budaya, kondisi psikologis lansia dan penetapan program pelayanan serta anggaran pendapatan dan belanja yang seimbang, adalah realitas pelayanan bagi lansia yang memerlukan penangan serius. Dari fakta ini penulis melihat, model komunikasi Sundermeier sangat relevan untuk diterapkan dalam pelayanan kepada lansia. Pendekatan ini mendorong gereja untuk tidak hanya "berbicara kepada" lansia, tetapi "berdialog dengan" mereka, menghargai pengalaman hidup, spiritualitas, dan kebijaksanaan yang mereka miliki. Lansia tidak lagi diposisikan sebagai objek pelayanan semata, melainkan sebagai subjek iman yang memiliki kontribusi aktif dalam kehidupan bergereja. Oleh karena itu, misi gereja bagi lansia perlu dirancang secara partisipatif, kontekstual, dan berlandaskan pada komunikasi yang empatik dan inklusif. Dengan demikian, gereja dapat benar-benar menjadi ruang yang merangkul, memperhatikan, dan memberdayakan lansia sebagai bagian dari umat Allah yang utuh dan bermakna.

MAKNA ANGKAT BANTAL GULUNG TIKAR ( DADANG NULANG LUNUNG TAPU ) DALAM BUDAYA MASYARAKAT DI DESA UMBU JODU KECAMATAN UMBU RATU NGGAY BARAT KABUPATEN SUMBA TENGAH 2022

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK MAKNA ANGKAT BANTAL GULUNG TIKAR (DADANG NULANG LUNUNG TAPU) DALAM BUDAYA MASYARAKAT DESA UMBU JODU,KEC AMATAN UMBU RATU NGGAY BARAT KABUPATEN SUMBA TENGAH 2022 ASTI H)* LINTJE, P)* MANGGOA, M)** Budaya dan adat-istiadat di asyarakat pada mumnya berbeda. Budaya dan adat-istiadat ini mengacu kepada masyarakat pada umumnya dan cara menjalankannya yang berbeda, seperti: upacara perkawinan, upacara kematian, upacara pernikahan dan lain-lain. Dalam Penelitian ini Tujuan untuk mengetahui Makna Angkat Bantal Gulung Tikar (Dadang Nulang Lunung Tapu ) Dalam budaya masyarakat Di Desa Umbu Jodu,Kecamatan Umbu Ratu Nggay Kabupaten Sumba Tengah dalam tradisi adat sumba Tengah ada tiga tahap dalam proses adat, yaitu 1) Masuk minta, 2) Membawa sirih pinang, 3) Bungkus sirih pinang dengan tahapan di atas harus di selesaikan agar proses adat dapat berjalan dengan lancar. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian Deskriftif kualitatif .Teknik. Pengumpulan data yang digunakan adalah Teknik Dokumentasi, dan wawancara . Hasil yang diperoleh dalam menganalisis makna angkat bantal (Dadang nulang lunung tapu ) pada masyarakat desa umbu jodu,kecamatan umbu ratu nggay barat kabupaten sumba tengah yakni fungsi dari makna yang ditemukan adalah makna bertanggung jawab, makna memberi perlindungan, makna kebersamaan, makna sosial, dan makna Religius. Kata kunci : Makna Angkat Bantal Gulung Tikar (Dadang Nulang Lunung Tapu). Keterangan : Mahasiswa : ** Dosen pembimbing

PENERAPAN MEDIA VISUAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS 5 DI SD INPRES OESAPA

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK Penerapan Media Visual Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas 5 Di SD Inpres Oesapa Lau, K.)* Pellu, H. L.)** Metboki, M.)** Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada Sekolah Dasar harus dapat disampaikan kepada siswa dengan tepat, dan salah satu cara untuk menarik minat siswa untuk belajar Pendidikan Agama Kristen sebagai kesenangan dan suatu kebutuhan mereka untuk masa depan adalah dengan cara mengkaitkan pembelajaran dengan kesenangan mereka yaitu media. Maka pembelajaran yang harus dilakukan adalah pembelajaran yang berbasis media. Adapun fokus penelitian ini adalah bagaimana penerapan media pembelajaran Visual dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas 5 di Sekolah Dasar Inpres Oesapa. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan menggunakan media pembelajaran Visual pada siswa kelas 5 di Sekolah Dasar Inpres Oesapa. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas media Kemmis dan Mc. Taggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi, dengan subjek penelitian siswa kelas 5C yang berjumlah 20 orang. Peningkatan minat belajar Pendidikan Agama Kristen pada siklus II Ini menunjukan bahwa penggunaan media pembelajaran Visual pada proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sudah dikatakan baik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa media pembelajaran Visual dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada siswa kelas 5C Sekolah Dasar Inpres Oesapa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan minat belajar siswa antara siklus I dan siklus II. Dimana pada siklus I persentase minat belajar siswa yang diperoleh yakni 61,68%, sedangkan pada siklus II persentase minat belajar siswa yang diperoleh yakni 85,87%. Hasil pelaksanaan pada siklus II ini sudah mencapai indikator kinerja yang ditetapkan dan telah mencapai target penulis. Kata kunci :Media Visual, PAK, Minat Belajar.

GILA AIR LUMPUR Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual terhadap Fenomena (Gila Air Lumpurr “Kalango Wee Karijakka) dan Implikasinya bagi Pelayanan di GKS Jemaat Patiyala.

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tulisan ini berjudul Kalango Wee Karijaka dengan Sub judul Suatu Tinjauan Kontekstual terhadap Fenomena (Gila Air Lumpurr “Kalango Wee Karijakka”) dan Implikasinya bagi Pelayanan di GKS Jemaat Patiyala. Tulisan ini menggeksplorasikan tentang penderitaan yang dialami masyarakat Laboya pada Bulan Paddu/Bulan Oktober. Gila Air Lumpurr adalah penderitaan, yang disembuhkan dengan menggunakan air dan lumpurr. Tujuan penulisan ini adalah, bagaimana pandangan GKS jemaat Patiya, dan cara menyikapi kalango wee karijaka. Penulis juga ingin mengetahui makna yang terkandung didalamnya dan merefleksikan tinjauan teologis. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan wawancara pada yang terkait. Untuk mengganalisis penulis menggunakan Teori model antropologis salah satu model yang dipaparkan oleh Bevans tentang bagaimana jadi diri budaya dalam pandangan seorang beragama Kristen. Dimalam dalam budaya itu Allah menyatakan diri-Nya, dengan menawarkan kesembuhan dan keutuhan. Menurut hasil penelitian Kalango wee karijaka terjadi akibat dosa-dosa yang masyarakat Laboya perbuat selama satu tahun itu. Pemahaman inilah yang memicu timbulnya refleksi dari para tua-tua adat, bahwa masalah ini berkaitan dengan relasi mereka dengan yang Ilahi, maka harus dilakukan ritual penghapusan dosa. Dalam refleksi teologi penulis menekankan tentang Yesus Sang Korban yaneg kekal, yang berkoban sekali untuk selamanya demi mengahapus dosa menusia dan telah dikerjakan secara tuntas. Penulis juga menekankan bagaiman peranan gereja untuk menyuarakan suara Kristus dan bertindak sebagai representasi kehadiran Allah. Gereja harus terus mengarahkan dan membebaskan jemaat dari penderitaan musiman yang dialami dengan iman Kepada Yesus Kristus Sang pembebas. Kata Kunci: Fenomena, Pemulihan, Hubungan Horizontal dan Vertikal. Email : [email protected]

KONSEP AGAMA PUBLIK “Suatu Studi Terhadap Pemikiran José Casanova Mengenai Konsep Agama Publik dan Relevansinya Bagi Pelayanan Jemaat GMIT Silo Naikoten I, Klasis Kota Kupang”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah penelitian mengenai kajian terhadap pemikiran Casanova mengenai Konsep Agama Publik dan relevansinya dengan pelayanan Jemaat GMIT Silo Naikoten I. Dalam realita yang ditemukan, maka penulis menemukan bahwa Gereja dalam program pelayanan belum menunjukkan peran Gereja di tengah masyarakat sebagai ruang publik, sebab Gereja dipanggil untuk berperan bagi dunia disekitarnya lewat pelayanan itu sendiri. Gereja dipanggil ke dunia untuk memperlihatkan karya Allah secara universal bagi dunia. Realita dalam konteks Jemaat Silo Naikoten I sendiri tidak sejalan dengan Konsep Agama Publik Casanova. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif, khususnya studi kepustakaan untuk menganalisis mengenai biografi Casanova, teori, dan melihat relevansi antara teori dan konteks masalah. Dalam kajian penulis, penulis menemukan bahwa Gereja belum berperan bagi ruang publik lewat program pelayanan yang ada, sebab faktor cara berpikir jemaat, kurangnya kemitraan, dan pembangunan Gereja. Hal lain yang penulis temukan ialah dalam beberapa kesempatan terlihat bahwa Gereja melakukan kemitraan, namun sasaran program ialah hanya untuk jemaat secara internal. Hal ini tidak hanya sejalan dengan Konsep Agama Publik Casanova secara sosiologi, tetapi secara teologis, hal ini pun tidak sejalan dengan Naskah Teologi Panca Pelayanan GMIT, dan Panca Pelayanan GMIT. Penulis pun menarik refleksi teologis berdasarkan Injil Matius 5:13-16 mengenai garam dan terang dunia untuk menjawab akan peran Gereja yang seharusnya berdampak keluar. Pada akhirnya, penulis menarik kesimpulan bahwa Jemaat GMIT Silo dalam pelayanannya perlu untuk bersifat publik sehingga ia tetap relevan dalam konteks masa kini, dan sebaliknya tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

MENYELAMI PERJUANGAN IBU TUNGGAL: Kajian Biblis dengan Pendekatan Reader Respons dan Naratif terhadap Teks Injil Markus 7:24-30 dan Implikasinya bagi Pelayanan Jemaat yang Berstatus Ibu Tunggal di GMIT Imanuel Oepura

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Menjalankan peran sebagai seorang ibu tunggal bukanlah hal yang mudah. Tentu ia akan menghadapi berbagai kesulitan baik itu dari segi psikologis, ekonomi dan sosial. Sama halnya dengan apa yang dialami oleh perempuan Siro Fenisia. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 dengan metode tafsir Reader Respons. Metode ini menafsirkan makna teks berdasarkan pengalaman pembaca. Sampel penelitian terdiri dari 12 ibu tunggal sebagai pembaca masa kini sekaligus penafsir teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 menghasilkan kerygma seputar perjuangan seorang ibu. Maka kerygma yang lahir sangat dekat dengan kehidupan pembaca masa kini. Hal ini disebabkan pengalaman yang dibawa oleh pembaca juga mempengaruhi makna yang dihasilkan. Penulis juga menemukan bahwa penggunakan metode tafsir Reader Respons tidak dapat menemukan makna original dari teks. Hal ini penulis temukan ketika melakukan penafsiran dari dalam teks dengan metode naratif. Selain itu, dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa kekurangan dalam metode ini dapat dilengkapi oleh metode naratif. Dari kedua metode ini, terdapat dua pesan dari teks Injil Markus 7:24-30 yang lahir oleh pendekatan Reader Respons maupun Naratif yakni “Iman percaya seorang ibu kepada Yesus Kristus membuahkan pertolongan Tuhan dan Yesus tidak diskriminatif dalam pelayanan-Nya”. Berdasarkan berbagai uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa kedua metode pendekatan ini perlu dilakukan atau diperhatikan secara berimbang untuk memperkaya makna penafsiran suatu teks. Gereja harus belajar dari kisah Perempuan Siro Fenisia ini untuk mengupayakan pelayanan yang menyentuh seluruh ibu tunggal yang ada.

RITUAL GELAK WAHA- Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK RITUAL GELAK WAHA Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores Kesehatan merupakan aspek paling berharga dalam kehidupan manusia, namun sakit menjadi tantangan besar yang kerap kali sulit diatasi meski dengan kemajuan pengobatan modern. Sebagai alternatif, pengobatan tradisional yang mengandalkan kepercayaan dan pengalaman turun-temurun tetap relevan di beberapa masyarakat, termasuk dalam konteks ritual Gelak Waha yang dilakukan oleh masyarakat Beloaja di Flores. Ritual ini bertujuan mencari kesembuhan melalui prosedur magis dengan melibatkan dukun serta penggunaan bahan alami, seperti sirih, pinang, dan ayam kampung. Penelitian ini mengkaji makna dan nilai yang terkandung dalam ritual Gelak Waha serta implikasinya terhadap pelayanan gerejawi di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Permasalahan utama yang diangkat meliputi pemahaman jemaat tentang konteks lokal, kesembuhan, dan refleksi teologis terhadap praktik tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian jemaat GMIT telah mengadopsi ajaran Kristen, mereka masih menjalankan ritual Gelak Waha karena kepercayaan turun-temurun kepada Lera Wulan sebagai entitas pelindung dan penyembuh. Hal ini memunculkan tantangan bagi gereja dalam mendampingi jemaat untuk memahami kesembuhan sebagai anugerah Allah yang dapat terjadi melalui berbagai cara, baik secara medis maupun spiritual. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang kesembuhan melalui ritual Gelak Waha serta menyajikan refleksi teologis untuk mendorong pendekatan yang kontekstual dalam pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi bagi pengembangan pelayanan gereja dalam menghadapi fenomena sinkretisme budaya dan iman. Kata kunci: Ritual Gelak Waha, teologi kontekstual, kesembuhan, pelayanan gereja.

SPIRITUALITAS PEREMPUAN PENENUN SUMBA Suatu Tinjauan Teologis terhadap Spiritualitas Perempuan Penenun di GKS Jemaat Payeti, Klasis Waingapu.

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK Fokus utama penulis adalah melihat spiritualitas kehidupan para perempuan penenun di GKS Jemaat Payeti. Kain tenun Sumba Timur adalah salah satu karya seni yang sangat indah dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, ada makna yang terdapat dalam setiap lembar kain tenun Sumba Timur melalui motif-motif yang digambar oleh para perempuan penenun. Namun dalam kenyataannya, ada berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penenun, tetapi mereka tetap berjuang untuk tidak meninggalkan pekerjaan menenun yang menjadi warisan budaya nenek moyang. Perjuangan para perempuan penenun inilah yang penulis temukan bahwa ada nilai-nilai spiritualitas dalam diri mereka. Terkait dengan spiritualitas perempuan penenun, penulis memakai pemahaman spiritualitas dari Jacob Daan Engel yaitu 6 tahapan spiritualitas diri seseorang di antaranya kesadaran diri, penerimaan diri, ketegasan diri, tujuan hidup, tanggung jawab diri, dan integritas diri. Adapun metode yang digunakan penulis yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yaitu penulis melakukan wawancara kepada beberapa narasumber terkait masalah yang didalami, sedangkan studi pustaka yang di mana penulis menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang dapat membantu penulisan ini. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, para perempuan penenun GKS Jemaat Payeti memberi diri bahkan mengorbankan diri mereka. Dalam proses menenun, ada pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras perempuan demi harapan mereka untuk kebutuhan keluarga. Hal ini menunjukkan nilai-nilai spiritualitas diri mereka. Salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab bernama Rut yang terus bertahan dan berjuang di tengah kesulitan dan pada akhirnya Allah menyatakan kuasa-Nya. Begitu halnya dengan perempuan penenun, Allah mengijinkan berbagai situasi sulit terjadi dalam kehidupan para perempuan penenun yang sesungguhnya membuat spiritualitas mereka semakin bertambah.