Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

S

4.594 karya publik ditemukan.

2121: 12026: 1192025: 912024: 662023: 7132022: 9232021: 15352020: 2402019: 12018: 772017: 12016: 42015: 12014: 22013: 22010: 12009: 21989: 1

RESPON AYUB DALAM PENDERITAAN Suatu Tafsir Naratif Terhadap Teks Kitab Ayub 1:1-22 dan Implikasinya Bagi Anggota Jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa Dalam Merespon Penderitaan

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini mengkaji tentang respon Ayub terhadap penderitaan berdasarkan kitab Ayub 1:1-22, dengan tujuan untuk memahami latar belakang kitab Ayub, menggali kerygma teologi sehingga dapat memberikan sumbangan implikasi bagi kehidupan jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa dalam merespon penderitaan. Metode yang digunakan adalah kritik naratif, yang menyoroti elemen-elemen tafsir narasi seperti narator, sudut pandang, plot, penokohan, dan latar untuk mengungkap kerygma teologis dalam teks. Hasil kajian menunjukkan tiga kerygma utama yaitu: 1) kedaulatan Allah atas segala hal termasuk penderitaan, 2) kerendahan hati sebagai pengakuan atas kedaulatan Allah dan (3) mengucap syukur dalam penderitaan. Dari kerygma teologi yang didapatkan ini, dapat menjadi sumbangan implikasi bagi jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa dalam membangun pemahaman bahwa penderitaan bukanlah tanda penolakan Allah atau Allah meninggalkan kita menderita sendirian melainkan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Jemaat diajak untuk melihat penderitaan sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, serta meresponnya dengan mengakui akan kedaulatan Allah, memiliki sikap rendah hati dan bisa mengucap syukur kepada kepada Allah dalam penderitaan yang dialami.

KOMUNITAS YANG MENYEMBUHKAN

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.

TUA ES NOK IN SUNAN Suatu Tinjauan Sosiologi Agama terhadap Tradisi Tua Es Nok In Sunan dari Perspektif Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Bet'el Nailopo, Klasis Mollo Utara

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sejatinya manusia dalam kenyataan sosial selalu menjalin interaksi satu sama lain. Interaksi yang terjalin kerap ditunjukkan melalui berbagai bentuk termasuk di dalamnya menggunakan simbol yang diberi makna. Dalam kebutuhan untuk menyampaikan maksud dan tujuan, manusia memberi makna terhadap suatu simbol tertentu yang dapat digunakan untuk berinteraksi. Namun, interaksi dengan menggunakan simbol seringkali melahirkan penafsiran yang berbeda sehingga nampak adanya ketimpangan. Masyarakat Mollo juga memiliki salah satu bentuk interaksi dengan menggunakan simbol, yakni tua es nok in sunan. Pada prinsipnya, tradisi tua es nok in sunan menggunakan media sopi dan uang yang dipakai secara bersamaan dalam berinteraksi secara khusus pada pertemuan-pertemuan penting seperti peminangan, permintaan maaf, upacara adat dan lain sebagainya. Seringkali dalam penerapannya, tradisi tua es nok in sunan ini mengalami bias makna sehingga menciptakan kemungkinan terjadinya konflik. Pembahasan dalam kepenulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai makna dan nilai dibalik penggunaan simbol tua es nok in sunan sebagai media interaksi yang dipraktekkan secara turun temurun, dalam masyarakat yang juga adalah jemaat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan memanfaatkan prespektif George Herbert Mead mengenai Interaksionisme Simbolik sebagai pisau analisis. Pesan yang dihasilkan berupa nilai-nilai yang ditinjau dari kacamata sosiologi agama yakni pengorbanan, kesungguhan dan perdamaian atau kerukunan. Pada akhirnya, sebuah interaksi haruslah menjadi interaksi yang menyembuhkan, menghadirkan kedamaian di tengah-tengah realita sosial sebagai masyarakat yang juga adalah jemaat.

DESKRIPSI TENTANG PENEGAKAN HUKUM MEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT TANPA SERTIFIKAT KESEHATAN DAN KARANTINA DARI MALAYSIA KE INDONESIA

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK “Deskripsi Tentang Penegakan Hukum Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia”. Natalia Sartony De Fatima Masalahan penelitian penulis adalah: Bagaimanakah Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia dan Bagaimana Akibat Hukum Terhadap Pelaku Dan Barang Bukti? Tujuan Penelitian penulis adalah: Untuk Mengetahui Penerapan Pasal Terkait Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia dan Untuk Mengetahui Akibat Hukum Terhadap Pelaku Dan Barang Bukti. Sifat penelitian penulis adalah “Deskriptif”, yaitu memberikan gambaran permasalahan yang diteliti. Jenis penelitian penulis adalah penelitian hukum normative. Variable yang digunakan yaitu: Variabel bebas dan Variabel Terikat. Teknik pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan studi kepustakaan atau studi dokumen. Studi kepustakaan adalah kegiatan untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang menjadi obyek penelitian. Informasi tersebut dapat diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, tesis, disertasi, ensiklopedia, internet, dan sumber-sumber lain. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1. Pertimbangan hakim dalam memutus perkara memasukan media pembawa hama dan penyakit tanpa sertifikat kesehatan dan karantina dari Malaysia ke Indonesia adalah: a. Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana b. Perbuatan terdakwa terbukti melanggar pasal Pasal 31 ayat (1) Jo Pasal 5 huruf a dan c UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP yakni : 1) Memasukan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina ke dalam wilayah NKRI. 2) Tidak dilengkapi sertifikat kesehatan dari negara asal dan negara transit bagi hewan, bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan, ikan, tumbuhan dan bagian-bagian tumbuhan, kecuali media pembawa yang tergolong benda lain. 3) Tidak dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan untuk keperluan tindakan karantina. 4) Menganjurkan orang lain dengan menjanjikan sesuatu untuk memasukan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina ke dalam wilayah NKRI. c. Majelis hakim mempertimbangkan untuk memberikan pidana penjara dan denda kepada pelaku tersebut. 2. Akibat hukum dari tindak pidana memasukan media pembawa hama dan penyakit tanpa sertifikat kesehatan dan karantina dari Malaysia ke Indonesia terhadap pelaku dan barang bukti. a. Pelaku yaitu Pelaku dipidana penjara, Pelaku membayar denda dan Pelaku membayar biaya perkara b. Barang Bukti dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dipergunakan sebagai barang bukti dalam perkara lainnya.

BERSAKSI MELALUI NYANYIAN - Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Fungsi Nyanyian Jemaat Di GKS Jemaat Payeti dan Implikasinya Bagi Gereja Kristen Sumba

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Fokus utama penulis dalam penelitian ini menyoroti tentang penggunaan nyanyian jemaat sebagai media kesaksian di GKS Jemaat Payeti. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan gabungan yakni kualitatif dan kuantitatif dengan metode studi lapangan, studi pustaka dan survei. Sampel penelitian ini terdiri dari 110 orang yang mana 10 di antaranya menggunakan teknik purposive sampling sedangakan 100 lainnya menggunakan teknik formula Slovin. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keresahan jemaat berkaitan dengan penggunaan nyanyian rohani kontemporer yang sama sekali bukan nyanyian yang biasanya dinyanyikan dalam ibadah karena kurangnya pemahaman terhadap nyanyian rohani kontemporer. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa jemaat memahami nyanyian sebagai media kesaksian, namun dalam praktik terjadi pergeseran dalam penggunaan nyanyian. Kini terdapat nyanyian rohani kontemporer yang mana dalam model nyanyian ini terdapat juga banyak nyanyian yang memiliki teologi yang keliru, hal ini juga tidak sesuai dengan buku nyanyian yang telah ditetapkan oleh Sinode GKS. Selain itu, terdapat juga nyanyian bukan rohani yang dinyanyikan oleh paduan suara. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose terbuka terhadap nyanyian-nyanyian lain, namun berkaitan dengan isi nyanyian pengajaran yang benar tentang Kristus menjadi tolok ukur terhadap nyanyian tersebut. Raja Daud memberikan teladan dalam mempersiapkan segala sesuatu secara serius berkaitan dengan pelayanan musik dalam Bait Suci. Demikian juga dengan gereja masa kini harus memberi perhatian yang penuh dalam nyanyian oleh karena nyanyian merupakan media yang Allah sediakan bagi umatNya untuk bersaksi.

A COURSE IN PHONETICS AND SPOKEN ENGLISH

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

This much improved revised edition of the book takes into account the needs of the student in the context of the present curricula followed in various universities and English language teaching institutes. This edition therefore devotes a new chapter to Assimilation, a section to Tones in relation to Attitudes, and highlights certain important aspects of pronunciation, such as rules of word accentuation.Starting with general phonetics, the book goes on to give a brief functional account of general phonology and then a selective and yet fairly exhaustive description of the phonetics and phonology of English. It also provides a number of conversational passages in phonetic script as well as in ordinary spelling for practice in reading aloud. What sets this text apart is its novelty of approach and lucidity of treatment. English pronunciation is followed as per the "Received Pronunciation of England". This text is specially designed for postgraduate students of English, undergraduate and postgraduate students of Linguistics, and for those undergoing secondary and tertiary level teachers' training programmes in English.

Practical English Phonetics and Phonology

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Routledge English Language Introductions cover core areas of language study and are one-stop resources for students. Assuming no prior knowledge, books in the series offer an accessible overview of the subject, with activities, study questions, sample analyses, commentaries and key readings – all in the same volume. The innovative and flexible ‘two-dimensional’ structure is built around four sections – Introduction, Development, Exploration and Extension – which offer self-contained stages for study. Revised and updated throughout, this fourth edition of Practical English Phonetics and Phonology: presents the essentials of the subject and their day-to-day applications in an engaging and accessible manner; covers all the core concepts of phonetics and phonology, such as the phoneme, syllable structure, production of speech, vowel and consonant possibilities, glottal settings, stress, rhythm, intonation and the surprises of connected speech; incorporates classic readings from key names in the discipline; outlines the sound systems of six key languages from around the world (Spanish, French, Italian, German, Polish and Japanese); is accompanied by a brand-new companion website which hosts a collection of samples provided by genuine speakers of 25 accent varieties from Britain, Ireland, the USA, Canada, Australia, New Zealand, South Africa, India, Singapore and West Africa, as well as transcriptions, further study questions, answer keys, links to further reading and numerous recordings to accompany activities in the book. This edition has been completely reorganised and new features include: updated descriptions of the sounds of modern English and the adoption of the term General British (GB); considerable expansion of the treatment of intonation, including new recordings; and two new readings by David Crystal and John Wells. Written by authors who are experienced teachers and researchers, this best-selling textbook will appeal to all students of English language and linguistics and those training for a certificate in TEFL.

Sounds Fascinating

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

How do you pronounce biopic, synod, and Breughel? - and why? Do our cake and archaic sound the same? Where does the stress go in stalagmite? What's odd about the word epergne? Pontcysyllte is obviously Welsh, but Penge is Welsh too! How cool is Caol in the Highlands of Scotland? What can Wesley's hymns tell us about sound change in English? How do people pronounce Wrocław in Poland? How can anyone manage to say Gdynia as just two syllables? Why is the village of Frith in the island of Montserrat usually pronounced as if spelt Frits? What embarrassing faux pas in English did a Russian conglomerate make? Should I bild a cubbard instead of building a cupboard? How should we capitalize an exclamation mark, and why might we need to? What's a depressor consonant? As a finale, the author writes a letter to his 16-year-old self.

English Phonetics & Phonology For Indonesians

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Buku English Phonetics and Phonology for Indonesia ini dirancang sebagai buku teks untuk mahasiswa Strata 1 Jurusan Bahasa Inggris, baik mereka yang akan menjadi guru maupun yang tujuannya lain. Karena tingkatnya yang bersifat “pengantar”, buku ini sengaja tidak ditulis secara detail. Namun demikian dalam buku ini disajikan semua fonem segmental seperti vocal dan konsonan serta suprasegmental fonem seperti tekanan kata dan intonasi. Orientasi teoritisnya bersandar pada aliran generative. Karena bahasa natif memegang peran penting dalam penguasaan bunyi-bunyi Inggris, dalam buku ini disajikan satu bab khusus yang menggambarkan sistim bunyi bahasa kita, bahasa Indonesia. Bab ini dipakai sebagai rujukan untuk membandingkan bagaimana bunyi-bunyi bahasa Inggris dibuat dan pengaruh apa yang dimunculkan oleh bahasa natif kita. Buku ini didesain untuk satu semester. Dosen disarankan untuk menjelaskan konsep-konsep yang ada pada tiap bab. Untuk benar-benar memahami buku ini, pada akhir bab disajikan latihan untuk menerapkan konsep-konsep yang dibahas dalam bab masing-masing.

Optimalisasi Pemanfaatan Penambahan Tepung Ubi Jalar Ungu(Ipomea batatas L) Dalam Pembuatan Biskuit Terhadap Sifat Sensorik

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Tepung ubi jalar ungu sebagai bahan substitusi adalah adanya senyawa antosianin yang merupakan sumber warna ungu yang dapat menghasilkan produk beranekarangaman. Biskuit adalah produk jajanan renyah yang terbuat dari adonan tepung terigu,telur, dan tambahan bahan makanan lain dengan cara di oven (kue kering). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat sensorik biskuit dari optimalisasi pemanfaatan ubi jalar ungu dan mendapatkan perlakuan terbaik dalam pembuatan biskuit. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan, dengan presentase tepung ubi jalar ungu sebanyak 10%, 20% dan 30%. Variabel yang diamati adalah uji organoleptik (aroma, rasa, warna tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi Tepung ubi jalar ungu sangat nyata terhadap kualitas biskuit. Perlakuan terbaik yaitu optimalisasi tepung ubi jalar ungu sebanyak 10% yang mendekati kontrol, substitusi 10% menghasilkan warna dengan nilai rata- rata 4,622 dengan kategori (sangat suka), aroma 4,667 dengan kategori (sangat suka), skor rasa 4,756 dengan kategori (sangat suka) dan skor tekstur 4,756 dengan kategori (sangat suka).

KARAKTERISASI ORGANOLEPTIK COOKIES BERBASIS CAMPURAN TEPUNG KULIT PISANG AMBON DAN TEPUNG TERIGU

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK Karakterisasi Sifat Organoleptik Cookies Berbasis Campuran Tepung Kulit Pisang Dan Tepung Terigu Flafiana S. Opat1), Prof. Dr. Ir. Godlief F. Neonufa, MT 2), Ir.I.D. A. A. R. Ratna Adi, MP2). 1), Mahasiswa FTP UKAW 2)Dosen Pembimbing FTP UKAW Cookies merupakan salah satu jenis makanan yang di gemari banyak orang. Cookies merupakan salah satu jenis biskuit yang di buat dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi, relative renyah bila di patahkan dan penampang potongannya, bertekstur padat. Proses pembuatan cookies dengan cara di panggang hsingga keras, namun masih renyah untuk dimakan. Pembuatan cookies dengan menggunakan tepung terigu dengan kadar protein rendah yaitu 8-9,5%. Cookies dapat dibuat dengan tepung yang mengandung gluten 1% (Rosmisari, 2006). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh campuran tepung kulit pisang ambon dengan tepung terigu terhadap sifat organoleptik cookies. Manfaat dari penelitian ini, salah satunya adalah sebagai sumber informasi bagi masyarakat bahwa kulit pisang bisa di buat tepung juga bisa digunakan dalam pembuatan cookies. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni 2024, dalam metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dari 4 perlakuan yang 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan, dengan presentase tepung kulit pisang sebanyak 10%, 20% dan 30%. Variabel yang diamati adalah uji organoleptik (aroma, rasa, warna tekstur). Hasil penelitian menunjukan bahwa tepung kulit pisang sangat nyata terhadap kualitas cookies. Perlakuan terbaik yaitu tepung kulit pisang sebanyak 30%, menghasilkan warna dengan nilai rata- rata 4,622 dengan kategori (suka), aroma 4,667 dengan kategori (suka) skor rasa 4,844 dengan kategori (suka) dan skor tekstur 4,778 dengan kategori ( suka). Kata Kunci : Karakteristik, Organoleptik, cookies, Tepung, Kulit Pisang. ABSTRACT Characterization of Organoleptic Properties of Cookies Based on a Mixture of Banana Peel Flour and Wheat Flour Flafiana S. Opat1), Prof. Dr. Ir. Godlief F. Neonufa, MT 2), Ir.I.D. A. A. R. Ratna Adi, MP 2) 1),Student FTP UKAW 2)Lecturer FTP UKAW Cookies are a type of food that popular with many people. are interested in. Cookies are a classificd as biscuits made from soft dough, high fat content, relatively crunchy and have a dense texture. The process of making cookies is by baking them until they are hard, but still crunchy to eat. Making cookies using wheat flour with a low protein content, namely 8-9.5%. Cookies can be made with flour containing 1% gluten (Rosmisari, 2006). The aim of this research was to determine the effect of mixing Ambon banana peel flour with wheat flour on the organoleptic properties of cookies. One of the benefits of this research is that it is a source of information for the public that banana peels can be made into flour and can also be used in making cookies. This research was carried out at the Exact Laboratory of Artha Wacana Christian University, Kupang. This research was conducted in June 2024, the method used was a completely randomized design of 4 treatments with 3 replications resulting in 12 experimental units, with banana peel flour percentages of 10%, 20% and 30%. The variables observed were organoleptic tests (aroma, taste, color, texture). The research results show that banana peel flour has a very significant impact on the quality of cookies. The best treatment was 30% banana peel flour, producing color with an average score of 4.622 in the (like) category, aroma 4.667 in the (like) category, taste score of 4.844 in the (like) category and texture score of 4.778 in the (like) category. Keywords: Characterization, Oraganoleptic, Cookies, Flour, Banana Peel.

STUDI PEMANFAATAN KACANG KEDELAI, KACANG GUDE, KACANG TUNGGAK, KACANG MERAH DALAM PEMBUATAN TEMPE

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui studi pemanfaatan beberapa jenis kacang dalam pembuatan tempe. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 3 ulangan menghasilkan 12 unit percobaan. Jenis kacang yang digunakan adalah kacang kedelai,kacang gude, kacang tunggak, kacang merah. Variable yang diamati adalah uji organoleptik (warna, aroma, rasa, dan tekstur). Hasil peneltian menunjukkan bahwa Perlakuan yang terbaik adalah perlakuan A ( kacang kedelai) dengan nilai warna sebesar 4,689 (sangat suka), aroma dengan nilai sebesar4,733 (sangat suka), rasa dengan nilai sebesar 4,822 (sangat suka) dan Tekstur dengan nilai sebesar 4,711 (sangat suka).

JABATAN PELAYANAN DALAM GEREJA (STUDI DI JEMAAT GMIT SONHALAN OENONI-MIO KLASIS AMANUBAN SELATAN)

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK JABATAN PELAYANAN DALAM GEREJA STUDI DI JEMAAT SONHALAN OENONI-MIO KLASIS AMANUBAN SELATAN Neonane.S.V) Timo.N.E)* Manggoa.A.M)** Penelitian ini dilakukan pada lokasi yang bertempat di jemaat GMIT Sonhalan Oenoni-Mio, Klasis Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: bagaimana pemahaman penatua GMIT Sonhalan Oenoni-Mio tentang jabatan pelayanan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pemahaman penatua tentang jabatan pelayanan di GMIT Sonhalan Oenoni Mio-Klasis Amanuban Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dimana penulis melakukan wawancara kepada pendeta, penatua, diaken dan pengajar untuk mendapatkan informasi yang akurat dalam penulisan karya ilmiah ini. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara disetiap rumah yang dipilih penulis sebagai informan untuk mendapatkan informasi mengenai pemahaman pendeta, penatua, diaken dan pengajar tentang jabatan pelayanan. Selanjutnya data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secra deskriptif kualitati yang interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman yang salah tentang jabatan dalam gereja berimbas pada pelayanan di jemaat. Masalah yang terjadi yaitu sang penatua merasa dirinya sebagai yang dituakan dan merupakan wakil ketua sehingga muncul kesombongan dalam diri sendiri menganggap hanya dia yang dapat mengambil keputusan dan berhak untuk memerintah jemaat. Jemaat tidak setuju dengan perilaku penatua tersebut karena sudah menyeleweng dari tugas utama sebagai seorang penatua. Pemahaman-pemahaman ini tentu sudah tidak sesuai lagi dengan apa kata Alkitab tentang hamba/pelayan dan apa yang sudah diatur dalam tata gereja GMIT. Jika pemahaman tentang jabatan pelayanan dalam gereja itu benar dan sesuai dengan apa yang dikatakan Alkitab dan tata gereja GMIT, maka implementasi ke jemaat sesuai dengan kehendak Tuhan sehingga jemaat mampu terbangun imannya. Bentuk pemerintahan di dalam gereja bukan demokrasi melainkan Kristokrasi. Kristuslah yang memerintah, dan segala kemuliaan hanya bagi DIA. Jemaat ada untuk memberlakukan kepemerintahan Kristus di dunia agar hidup menjadi sejahtera bagi semua. Kata kunci : *Jabatan *Pelayanan *Jemaat *GMIT

DESKRIPSI TENTANG PERMOHONAN DISPENSASI NIKAH BAGI ANAK DIBAWAH UMUR

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Judul penulisan ini adalah “Deskripsi Tentang Permohonan Dispensasi Nikah Bagi Anak Dibawah Umur”. Rumusan masalah yaitu Apakah yang menjadi alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur dan Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur? Tujuan penelitian yaitu Untuk mengetahui alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur dan Untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur. Sifat penelitian penulis adalah “Deskriptif”, diartikan bahwa penelitian ini dapat memberikan suatu gambaran serta menguraikan suatu permasalahan yang diteliti, dan menyimpulkan serta dapat menganalisisnya. Sedangkan jenis penelitian penulis adalah penelitian hukum normatif. Sehingga pengumpulan data dilakukan melalui kepustakaan, yang dimana penelitian hukum normatif mencakup: penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematik hukum, taraf sinkronisasi vertical dan horizontal, perbandingan hukum, sejarah hukum dan variable yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : Variabel bebas maksudnya adalah bebas dalam mempengaruhi variabel lain. Dengan demikian berdasarkan sudut pandang pada penelitian ini, yang menjadikan variabel bebas adalah apakah yang menjadi alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur dan dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur.. Sedangkan Variabel Terikat adalah ubahan terikat yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari adanya pengubah variabel bebas. Oleh karenanya, varibel terikat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan putusan hakim terkait pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri memutus perkara Permohonan Dispensasi Perkawinan Terhadap Anak Dibawah Umur dan Dakwaan dengan mengunakan alat bukti dan dengan pertimbangan dalam fakta persidangan. Hasil penelitian penulis, sebagai berikut: 1. Alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur a. Calon mempelai belum mencapai batas minimal untuk melakukan perkawinan b. Calon mempelai telah siap berumahtangga 2. Dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur a. Calon suami telah Memenuhi syarat perkawinan b. Kesiapan calon mempelai untuk berumahtangga 3. Alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur ada yang dikabulkan dan ada yang tidak diterima? a. Dikabulkan Majelis Hakim menilai bahwa permohonan pemohon untuk menghindari mudharat lebih diutamakan ketimbang maslahatnya. Sehingga dengan memberikan dispensasi kawin kepada anak pemohon adalah menolak suatu mudharat b. Tidak diterima Majelis Hakim menilai bahwa permohonan pemohon tersebut tidak berdasar atau dengan kata lain tidak jelas (obscur libel) alasan pemohon mengajukan permohonan dispensasi kawin terhadap anaknya.

TINJAUAN TENTANG PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN KREDIT

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK TINJAUAN TENTANG PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN KREDIT OLEH WEKISON LUWIYA 20310103 Rumusan masalah yang penulis kaji adalah: apa alasan atau dasar pertimbangan hakim pengadilan menjatuhkan putusan gugatan dikabulkan, titdak dapat diterima dan ditolak dalam perjanjian pinjaman kredit?.Tujuan Penelitian ini adalah: Untuk mengetahui alasan atau dasar pertimbangan hakim pengadilan menjatuhkan putusan gugatan dikabukan, titdak dapat diterima dan ditolak dalam perjanjian pinjaman kredit Dan Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jenis penelitian hukum normatif dengan menggunakan Variabel bebas dari penelitian ini adalah alasan hakim pengadilan negeri dikabulkan, tidak dapat diterima dan ditolak dalam perjanjian krdit dan Variabel terikat adalah “Putusan Hakim Terhadap penyelesaian wanprestasi dalam perjanjian kredit Berdasarkan Deskripsi hasil penelitian serta masalah yang diteliti, Tentang alasan Hakim menjatuhkan putusan dalam perkara penyelesaian wanprestasi dalam perjanjian kredit, menyatakan gugatan dikabukan, tidak dapat diterima dan ditolak dalam perjanjian kredit, namun adapun yang menjadi kesimpulan umum dalam penelitian ini yaitu: a). Dasar pertimbangan hakim pengadilan negeri menyatakan gugatan dikabulkan (1).Gugatan sempurna. (2) Penggugat dapat membuktikan dalil gugatannya. b) Dasar pertimbangan hakim pengadilan negeri menyatakan gugatan ditolak (1)Penggugat tidak dapat membuktikan dalil – dalil gugatannya (2)Penggugat tidak memenuhi syarat hukum formil c) Dasar pertimbangan hakim pengadilan negeri menyatakan gugatan tidak dapat diterima (1)Gugatan cacat hukum formil Berdasarkan pada kesimpulan diatas dapat disarankan beberapa hal yaitu: 1) Untuk terciptanya putusan yang berkepastian hukum dan berkeadilan hukum, maka sangat diperlukan adanya konsistensi alasan dalam pertimbangan hukum terhadap penilaian asas norma dan interpretasi sesuai dengan undang-undang yang berlaku . Dan ketua hakim pengadilan negeri perlu menciptakan suatu sistem yang dapat dipakai untuk mengontrol agar putusan yang berkualitas dan berupa atas perubahan pengaturan regulasi terhadap suatu peraturan perundang-undangan di pengadilan negeri. 2) Kepada para pihak dimanapun berada jika ingin berperkara hendaklah menyiapkan seluruh bukti – bukti sehinggga kemudian tidak menimbulkan kerugian bagi pihak yang berperkara. Kata Kunci : Wanprestasi Dalam Perjanjian Kredit. ABSTRAK OVERVIEW OF DEFAULT SETTLEMENT IN CREDIT AGREEMENTS By : WEKISON LUWIYA 20310103 The formulation of the problem that the author examines is: what is the reason or basis for consideration of the court judge in handing down the decision that the lawsuit is granted, cannot be accepted and is rejected in the credit loan agreement? accepted and rejected in the credit loan agreement and this research is descriptive with a type of normative legal research using the independent variable from this research is the reason the district court judge granted, could not accept and rejected in the credit agreement and the dependent variable is "the judge's decision regarding the resolution of default in credit agreement. Based on the description of the research results and the problems studied, regarding the reasons why the judge handed down a decision in the case of resolving a default in the credit agreement, stating that the lawsuit was dismissed, could not be accepted and was rejected in the credit agreement, however, the general conclusions in this research are: a) The basis for consideration by the district court judge states that the lawsuit is granted (one) Perfect suit (two) The plaintiff can prove the arguments of his claim. b) The basis for consideration by the district court judge stating that the lawsuit is rejected (one) The plaintiff cannot prove the arguments of his lawsuit (two) The plaintiff does not fulfill the formal legal requirements. c) The basis for consideration by the district court judge stating that the lawsuit cannot be accepted (one) Formal legal disability lawsuit Based on the conclusions above, several things can be suggested that is: (one) In order to create decisions that have legal certainty and legal justice, it is very necessary to have consistency of reasons in legal considerations regarding the assessment of the principles of norms and interpretations in accordance with applicable laws. And the chief judge of the district court needs to create a system that can be used to control quality decisions and in the form of changes to regulatory arrangements for laws and regulations in the district court. (two ) If the parties want to litigate, wherever they are, they should prepare all the evidence so that it does not cause harm to the parties involved in the lawsuit. Keywords : Default in Credit Agreemen

PENGARUH SUHU TERHADAP KELOPAK BUNGA ROSELLA KERING (Hibiscus sabdariffa L).

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Bunga Rosella Kering (Hibiscus sabdariffa L) merupakan tanaman yang sudah dikenal dan dimanfaatkan diberbagai negara termasuk di Indonesia. Rosella memiliki keunggulan warna yang menarik karena kandungan pigmen antosianinnya. Di Indonesia dikenal 2 varietas yaitu rosela merah dan ungu, yang diberikan nama demikian karena warna kelopak kedua varietas rosella tersebut mempunyai warna merah dan ungu (Mardiah et al., 2015). Bagian yang dimanfaatkan dari tanaman ini adalah bagian bunganya yang berwarna merah. Pemanfaatan bunga rosella sebagai bahan pangan sangat beragam, antara lain sebagai teh herbal, selai, jus, pengedap rasa dll. Untuk di Indonesia bunga rosella lebih banayak dikenal sebagai bunga yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan teh herbal, atau dibeberapa daerah disebut sebagai teh merah. Bunga rosella yang digunakan yaitu bunga rosella yang diperoleh dari Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Bunga rosella yang digunakan yaitu bunga yang sedang tidak terlalu matang dan juga memeliki kondisi fisik yang baik (tidak cacat). Berdasarkan hasil uji jarak berganda Duncan pada Tabel 4.1 setelah diuji lanjut dengan BNJ dengan taraf signifikasi 5% kadar air bunga rosella berbeda nyata terhadap setiap perlakuan. Hasil kadar air bunga rosella pada suhu 60°C (P1) memiliki kadar air yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan suhu 70°C (P2), suhu 80°C (P3) yaitu sebesar 10,98%. Perlakuan suhu 70°C (P2) memiliki kadar air sebesar 9,09%Perlakuan suhu berpengaruh signifikan terhadap kadar air, kerapatan, dan rendemen. Perlakuan terbaik diberikan oleh PIII 80ºC karena memberikan pengeringan terhadap mutu rosella kering yakni presentase kadar air 7,011 %, kerapatan 1,533 g/ml, dan rendemen 34,9 g/kg.

SPIRITUALITAS PEREMPUAN PENENUN SUMBA Suatu Tinjauan Teologis terhadap Spiritualitas Perempuan Penenun di GKS Jemaat Payeti, Klasis Waingapu.

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK Fokus utama penulis adalah melihat spiritualitas kehidupan para perempuan penenun di GKS Jemaat Payeti. Kain tenun Sumba Timur adalah salah satu karya seni yang sangat indah dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, ada makna yang terdapat dalam setiap lembar kain tenun Sumba Timur melalui motif-motif yang digambar oleh para perempuan penenun. Namun dalam kenyataannya, ada berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penenun, tetapi mereka tetap berjuang untuk tidak meninggalkan pekerjaan menenun yang menjadi warisan budaya nenek moyang. Perjuangan para perempuan penenun inilah yang penulis temukan bahwa ada nilai-nilai spiritualitas dalam diri mereka. Terkait dengan spiritualitas perempuan penenun, penulis memakai pemahaman spiritualitas dari Jacob Daan Engel yaitu 6 tahapan spiritualitas diri seseorang di antaranya kesadaran diri, penerimaan diri, ketegasan diri, tujuan hidup, tanggung jawab diri, dan integritas diri. Adapun metode yang digunakan penulis yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yaitu penulis melakukan wawancara kepada beberapa narasumber terkait masalah yang didalami, sedangkan studi pustaka yang di mana penulis menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang dapat membantu penulisan ini. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, para perempuan penenun GKS Jemaat Payeti memberi diri bahkan mengorbankan diri mereka. Dalam proses menenun, ada pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras perempuan demi harapan mereka untuk kebutuhan keluarga. Hal ini menunjukkan nilai-nilai spiritualitas diri mereka. Salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab bernama Rut yang terus bertahan dan berjuang di tengah kesulitan dan pada akhirnya Allah menyatakan kuasa-Nya. Begitu halnya dengan perempuan penenun, Allah mengijinkan berbagai situasi sulit terjadi dalam kehidupan para perempuan penenun yang sesungguhnya membuat spiritualitas mereka semakin bertambah.

LILIFUK Suatu Tinjauan Teologis terhadap Kearifan Lokal Lilifuk dan Sumbangsinya bagi Misi Gereja di Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Kearifan Lokal merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang terwujud dalam aktivitas masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah guna pemenuhan kebutuhan mereka. kearifan lokal lilifuk adalah proses memanen ikan di dalam satu tempat (kolam) yang telah dipelihara dan dilakukan bersama-sama dengan menggunakan alat tangkap ikan secara tradisional (sorok) setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali. Menghadapi realitas lilifuk dan sikap masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, muncul permasalahan terkait sikap masyarakat terhadap unsur-unsur lingkungan hidup seperti tanah, air, hutan, laut, dan udara yang semakin memburuk pada zaman ini. GMIT, dalam konteks ini, dipanggil untuk menjaga dan merawat alam semesta sebagai ciptaan Allah yang diciptakan-Nya baik bahkan sangat baik. Tujuan penelitian yakni ingin melihat eksistensi GMIT perlu mengembangkan pemikiran teologis yang kontekstual mengenai lingkungan, yang menjadi dasar bagi perhatian jemaat dan masyarakat. Penelitian dilakukan di jemaat GMIT Lahairoi Kuanheum dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipasif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa terdapat hubungan manusia dengan alam bertolak dari kearifan lokal lilifuk yakni terdapat hubungan manusia di atas alam. Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor pemahaman dan faktor adat istiadat. Refleksi teologis yang diperoleh dari hasil analisis yakni laut sebagai sumber kehidupan, berdamai dengan lingkungan dan gereja serta pemerintah merupakan kawan sekerja Allah. benar adanya, bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan dengan tugas dan tanggung jawabnya sendiri.

RELASI GEREJA KATOLIK DAN GMIT Tinjauan Misi Dalam Konteks Pluralisme Terhadap Relasi Gereja Katolik dan GMIT di Sikun Klasis Malaka dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini

2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini mengkaji relasi antara Gereja Katolik dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Sikun, Klasis Malaka, dalam konteks pluralisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kedua gereja ini dalam menghadapi perbedaan kepercayaan dan sejarah kedatangan masing-masing gereja, serta merefleksikan nilai-nilai teologis yang mendasari hubungan tersebut. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat konflik awal akibat perbedaan keyakinan, kedua gereja mampu membangun keharmonisan melalui kegiatan bersama seperti bakti sosial, proses belajar bersama, dan perayaan keagamaan. Pluralisme agama di Sikun, yang mencakup kehadiran Islam, Katolik, Protestan (GMIT), dan Pentakosta, menjadi latar belakang penting dalam memahami dinamika hubungan ini. Model misi Konvivenz dari Theo Sundermeier, yang menekankan gotong-royong, belajar bersama, dan perayaan hidup, terbukti relevan dalam konteks Sikun. Relasi yang baik antara Gereja Katolik dan GMIT di Sikun dapat menjadi model bagi gereja-gereja lain yang masih mengalami konflik. Gereja perlu terus mempromosikan dialog dan kerjasama lintas agama untuk mewujudkan kasih Allah yang universal dan menciptakan kehidupan yang adil dan damai. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya dialog antaragama, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan upaya untuk memahami serta menghargai identitas agama masing-masing. Penelitian ini memberikan saran untuk memperkuat relasi antar gereja melalui forum diskusi rutin dan program-program bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.