2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK KEHILANGAN VITAMIN C PADA PENGERINGAN DAUN KELOR MENGGUNAKAN DEHIDRATOR DENGAN SUHU PENGERINGAN YANG BERBEDA Wandri U Pekambani1; Ir. Ir. Andreas Ishak Medah, MP 2; Ir. Zet Malelak, M.Si.3 1. Penulis 2. Pembimbing Kelor atau yang dalam bahasa latin dikenal dengan nama Moringa oleifera merupakan jenis tanaman tropis yang sangat mudah dikenali dari ukuran daunnya yang kecil. Tidak hanya itu, pohon kelor juga sangat mudah bertumbuh pada tanah yang bisa dikatakan tidak terlalu subur. Sejak dahulu kelor sudah digunakan baik untuk pengobatan tradisional, jamu maupun dalam ritual yang berbau mistis. Faktanya daun kelor memang banyak mengandung zat yang sangat baik untuk tubuh. Tak heran organisasi WHO menobatkan pohon kelor sebagai miracle tree, setelah menemukan manfaat penting daun kelor. Lebih dari 1.300 studi, artikel dan laporan telah menjelaskan tentang manfaat kelor dan kemampuan dalam penyembuhan penyaki yang penting dalam menghadapi permasalahan wabah penyakit dan masalah kekurangan gizi. Kandungan Daun Kelor Segar dan Kering yang Komplit dan Kaya Gizi berpengaruh pada kadar vitamin C daun kelor. Jika proses pengeringan dilakukan dengan suhu yang terlalu tinggi atau waktu yang terlalu lama, maka vitamin C yang terkandung di dalam daun kelor dapat teroksidasi dan terdegradasi, sehingga mengurangi kandungan kasar vitamin C yang ada. Sebaliknya, jika proses pengeringan dilakukan dengan benar, maka kandungan vitamin C daun kelor dapat tetap terjaga atau bahkan meningkat. Hal ini tergantung pada jenis dan metode pengeringan yang digunakan, serta kondisi lingkungan selama proses pengeringan berlangsung. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kondisi dan metode pengeringan yang tepat agar kandungan kasar vitamin C daun kelor dapat terjaga. Puspita ( Vilia ) Berdasarkan hasil uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) Lampiran 3, tanpa pengeringan berbeda sangat nyata dengan suhu pengeringan 50ºC, 60ºC, 70ºC, dan 80ºC, tetapi suhu pengeringan 50ºC tidak berbeda nyata dengan suhu pengeringan 60ºC, 70ºC, dan 80ºC terhadap kadar air tepung daun kelor Laju pengeringan dalam proses pengeringan suatu bahan memiliki arti penting, dimana laju pengeringan akan menggambarkan cepat atau lambatnya suatu proses pengeringan. Penguapan massa air dari permukaan bahan akan bertambah cepat dengan adanya kenaikan suhu dalam proses pengeringan. Laju pengeringan menjadi tinggi jika suhu pengeringan juga tinggi,pada awal-awal proses pengeringan laju pengeringan yang terjadi cenderung cepat kemudian mendekati keseimbangan laju pengeringan menjadi lambat. Laju pengeringan menjadi semakin rendah bila kadar air bahan mendekati kadar air keseimbangan. Menurut Hall (1957), bahwa suatu bahan dapat dikatakan kering jika laju air yang keluar dari bahan sama dengan udara sekelilingnya Kata Kunci : Kelor, Vitamin C dan Suhu Pengeringan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Judul penulisan ini adalah “Deskripsi Tentang Permohonan Dispensasi Nikah Bagi Anak Dibawah Umur”. Rumusan masalah yaitu Apakah yang menjadi alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur dan Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur? Tujuan penelitian yaitu Untuk mengetahui alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur dan Untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur. Sifat penelitian penulis adalah “Deskriptif”, diartikan bahwa penelitian ini dapat memberikan suatu gambaran serta menguraikan suatu permasalahan yang diteliti, dan menyimpulkan serta dapat menganalisisnya. Sedangkan jenis penelitian penulis adalah penelitian hukum normatif. Sehingga pengumpulan data dilakukan melalui kepustakaan, yang dimana penelitian hukum normatif mencakup: penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematik hukum, taraf sinkronisasi vertical dan horizontal, perbandingan hukum, sejarah hukum dan variable yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : Variabel bebas maksudnya adalah bebas dalam mempengaruhi variabel lain. Dengan demikian berdasarkan sudut pandang pada penelitian ini, yang menjadikan variabel bebas adalah apakah yang menjadi alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur dan dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur.. Sedangkan Variabel Terikat adalah ubahan terikat yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari adanya pengubah variabel bebas. Oleh karenanya, varibel terikat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan putusan hakim terkait pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri memutus perkara Permohonan Dispensasi Perkawinan Terhadap Anak Dibawah Umur dan Dakwaan dengan mengunakan alat bukti dan dengan pertimbangan dalam fakta persidangan. Hasil penelitian penulis, sebagai berikut: 1. Alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur a. Calon mempelai belum mencapai batas minimal untuk melakukan perkawinan b. Calon mempelai telah siap berumahtangga 2. Dasar pertimbangan hakim dalam penetapan pemberian dispensasi nikah bagi anak dibawah umur a. Calon suami telah Memenuhi syarat perkawinan b. Kesiapan calon mempelai untuk berumahtangga 3. Alasan permohonan dispensasi nikah bagi anak dibawah umur ada yang dikabulkan dan ada yang tidak diterima? a. Dikabulkan Majelis Hakim menilai bahwa permohonan pemohon untuk menghindari mudharat lebih diutamakan ketimbang maslahatnya. Sehingga dengan memberikan dispensasi kawin kepada anak pemohon adalah menolak suatu mudharat b. Tidak diterima Majelis Hakim menilai bahwa permohonan pemohon tersebut tidak berdasar atau dengan kata lain tidak jelas (obscur libel) alasan pemohon mengajukan permohonan dispensasi kawin terhadap anaknya.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Bunga Rosella Kering (Hibiscus sabdariffa L) merupakan tanaman yang sudah dikenal dan dimanfaatkan diberbagai negara termasuk di Indonesia. Rosella memiliki keunggulan warna yang menarik karena kandungan pigmen antosianinnya. Di Indonesia dikenal 2 varietas yaitu rosela merah dan ungu, yang diberikan nama demikian karena warna kelopak kedua varietas rosella tersebut mempunyai warna merah dan ungu (Mardiah et al., 2015). Bagian yang dimanfaatkan dari tanaman ini adalah bagian bunganya yang berwarna merah. Pemanfaatan bunga rosella sebagai bahan pangan sangat beragam, antara lain sebagai teh herbal, selai, jus, pengedap rasa dll. Untuk di Indonesia bunga rosella lebih banayak dikenal sebagai bunga yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan teh herbal, atau dibeberapa daerah disebut sebagai teh merah. Bunga rosella yang digunakan yaitu bunga rosella yang diperoleh dari Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Bunga rosella yang digunakan yaitu bunga yang sedang tidak terlalu matang dan juga memeliki kondisi fisik yang baik (tidak cacat). Berdasarkan hasil uji jarak berganda Duncan pada Tabel 4.1 setelah diuji lanjut dengan BNJ dengan taraf signifikasi 5% kadar air bunga rosella berbeda nyata terhadap setiap perlakuan. Hasil kadar air bunga rosella pada suhu 60°C (P1) memiliki kadar air yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan suhu 70°C (P2), suhu 80°C (P3) yaitu sebesar 10,98%. Perlakuan suhu 70°C (P2) memiliki kadar air sebesar 9,09%Perlakuan suhu berpengaruh signifikan terhadap kadar air, kerapatan, dan rendemen. Perlakuan terbaik diberikan oleh PIII 80ºC karena memberikan pengeringan terhadap mutu rosella kering yakni presentase kadar air 7,011 %, kerapatan 1,533 g/ml, dan rendemen 34,9 g/kg.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Fokus utama penulis adalah melihat spiritualitas kehidupan para perempuan penenun di GKS Jemaat Payeti. Kain tenun Sumba Timur adalah salah satu karya seni yang sangat indah dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, ada makna yang terdapat dalam setiap lembar kain tenun Sumba Timur melalui motif-motif yang digambar oleh para perempuan penenun. Namun dalam kenyataannya, ada berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penenun, tetapi mereka tetap berjuang untuk tidak meninggalkan pekerjaan menenun yang menjadi warisan budaya nenek moyang. Perjuangan para perempuan penenun inilah yang penulis temukan bahwa ada nilai-nilai spiritualitas dalam diri mereka. Terkait dengan spiritualitas perempuan penenun, penulis memakai pemahaman spiritualitas dari Jacob Daan Engel yaitu 6 tahapan spiritualitas diri seseorang di antaranya kesadaran diri, penerimaan diri, ketegasan diri, tujuan hidup, tanggung jawab diri, dan integritas diri. Adapun metode yang digunakan penulis yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yaitu penulis melakukan wawancara kepada beberapa narasumber terkait masalah yang didalami, sedangkan studi pustaka yang di mana penulis menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang dapat membantu penulisan ini. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, para perempuan penenun GKS Jemaat Payeti memberi diri bahkan mengorbankan diri mereka. Dalam proses menenun, ada pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras perempuan demi harapan mereka untuk kebutuhan keluarga. Hal ini menunjukkan nilai-nilai spiritualitas diri mereka. Salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab bernama Rut yang terus bertahan dan berjuang di tengah kesulitan dan pada akhirnya Allah menyatakan kuasa-Nya. Begitu halnya dengan perempuan penenun, Allah mengijinkan berbagai situasi sulit terjadi dalam kehidupan para perempuan penenun yang sesungguhnya membuat spiritualitas mereka semakin bertambah.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Kearifan Lokal merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang terwujud dalam aktivitas masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah guna pemenuhan kebutuhan mereka. kearifan lokal lilifuk adalah proses memanen ikan di dalam satu tempat (kolam) yang telah dipelihara dan dilakukan bersama-sama dengan menggunakan alat tangkap ikan secara tradisional (sorok) setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali. Menghadapi realitas lilifuk dan sikap masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, muncul permasalahan terkait sikap masyarakat terhadap unsur-unsur lingkungan hidup seperti tanah, air, hutan, laut, dan udara yang semakin memburuk pada zaman ini. GMIT, dalam konteks ini, dipanggil untuk menjaga dan merawat alam semesta sebagai ciptaan Allah yang diciptakan-Nya baik bahkan sangat baik. Tujuan penelitian yakni ingin melihat eksistensi GMIT perlu mengembangkan pemikiran teologis yang kontekstual mengenai lingkungan, yang menjadi dasar bagi perhatian jemaat dan masyarakat. Penelitian dilakukan di jemaat GMIT Lahairoi Kuanheum dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipasif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa terdapat hubungan manusia dengan alam bertolak dari kearifan lokal lilifuk yakni terdapat hubungan manusia di atas alam. Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor pemahaman dan faktor adat istiadat. Refleksi teologis yang diperoleh dari hasil analisis yakni laut sebagai sumber kehidupan, berdamai dengan lingkungan dan gereja serta pemerintah merupakan kawan sekerja Allah. benar adanya, bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan dengan tugas dan tanggung jawabnya sendiri.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
The title of the study is An Analysis on Kupang Malay's Interjections in Kaboax Comedy Use by Transcript of the Video. this study aims to analyze the types of interjections contained in the kaboax comedy video. the research method used is qualitative research and uses the documentation method in this case the researcher uses the video transcript to analyze the data.. Based on the analysis of the research data, the researcher found 20 expressions such as Parmisi, Halo, We, Shalom, Wui, Shh, Wii, Ck, Yii, Waa, Woe, Ko, Wuih, Eh, Hah, Hae, Awi, Haeh, Hish, Aduu, that are divided into 6 types of interjections namely Interjection of greeting, interjection of Joy, Interjection of Attention, Interjection of approval, Interjection of surprise, Interjection of sorrow.. the results of this study are not entirely conclusive, therefore, the author suggests that future researchers improve this problem.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bunga Rosella Kering (Hibiscus sabdariffa L) merupakan tanaman yang sudah dikenal dan dimanfaatkan diberbagai negara termasuk di Indonesia. Rosella memiliki keunggulan warna yang menarik karena kandungan pigmen antosianinnya. Di Indonesia dikenal 2 varietas yaitu rosela merah dan ungu, yang diberikan nama demikian karena warna kelopak kedua varietas rosella tersebut mempunyai warna merah dan ungu (Mardiah et al., 2015). Bagian yang dimanfaatkan dari tanaman ini adalah bagian bunganya yang berwarna merah. Pemanfaatan bunga rosella sebagai bahan pangan sangat beragam, antara lain sebagai teh herbal, selai, jus, pengedap rasa dll. Untuk di Indonesia bunga rosella lebih banayak dikenal sebagai bunga yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan teh herbal, atau dibeberapa daerah disebut sebagai teh merah. Bunga rosella yang digunakan yaitu bunga rosella yang diperoleh dari Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Bunga rosella yang digunakan yaitu bunga yang sedang tidak terlalu matang dan juga memeliki kondisi fisik yang baik (tidak cacat). Berdasarkan hasil uji jarak berganda Duncan pada Tabel 4.1 setelah diuji lanjut dengan BNJ dengan taraf signifikasi 5% kadar air bunga rosella berbeda nyata terhadap setiap perlakuan. Hasil kadar air bunga rosella pada suhu 60°C (P1) memiliki kadar air yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan suhu 70°C (P2), suhu 80°C (P3) yaitu sebesar 10,98%. Perlakuan suhu 70°C (P2) memiliki kadar air sebesar 9,09%Perlakuan suhu berpengaruh signifikan terhadap kadar air, kerapatan, dan rendemen. Perlakuan terbaik diberikan oleh PIII 80ºC karena memberikan pengeringan terhadap mutu rosella kering yakni presentase kadar air 7,011 %, kerapatan 1,533 g/ml, dan rendemen 34,9 g/kg.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Pulau Sumba dikenal dengan beberapa sebutan antara lain; Tana Humba dan Tanah Marapuatau Tanah Leluhur. Tana Humba memiliki arti Tanah Sumba. Nama Sumba berasal dari nama isteri nenek moyang orang Sumba yang pertama datang dan mendiami Sumba yaitu bernama Humba. Dalam kebudayaanya, masyarakat sumba menjunjung tinggi pemahaman bahwa laki-laki yang adalah kepala rumah tangga memiliki hak untuk memimpin dan mengambil keputusan dalam keluarga, sebagai pencari nafkah dan selain itu laki-laki juga memiliki kedudukan dalam urusan adat maupun dalam upacara keagamaan, sedangkan perempuan hanya mengurusi hal-hal yang bersifat domestik atau bersifat rumah tangga saja. Hal tersebut juga terjadi di masyarakat Rara. Penulis menggunakan metode penilitian Kualitatif dengan menjadikan masyaraka Rara di desa Weri Lolo sebagai objek penelitian penulis untuk melihat bagaimana permasalahan seperti sistem patriarki yang terjadi di desa tersebut. Penulis lebih berfokus untuk melihat kesetaraan gender yang terdapat di dalam rumah adat masyarakat Rara. Penulis menemukan bahwa masyarakat Rara di desa Weri Lolo menganggap bahwa peran laki-laki lebih diutamakan dalam segala hal, termasuk pengambilan keputusan dibandingkan perempuan. Selain itu, laki-laki juga lebih diutamakan dalam peran gereja, seperti memberikan pendapat dalam diskusi sampai pada pengambilan keputusan. Peran laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat yang lebih mendominankan peran laki-laki daripada peran peran perempuan. Sehingga hal tersebut berdampak bagi eksistensi perempuan di ranah publik.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tulisan ini mengkaji penggunaan musik kontemporer dalam liturgi ibadah minggu di Jemaat GMIT Karmel Fatululi terhadap masalah perpindahan jemaat yang disebabkan oleh persepsi tentang musik atau liturgi yang kaku. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Pada bagian awal tulisan ini, penulis akan membahas mengenai sejarah gereja GMIT Karmel Fatululi, dilanjutkan dengan uraian mengenai penggunaan musik kontemporer dalam konteks ibadah di gereja tersebut. Penjelasan mencakup aspek ibadah, liturgi, pandangan tentang musik dalam Alkitab, perkembangan musik gerejawi, serta sejarah musik dalam GMIT. Selain itu, penulisan juga mempertimbangkan perbedaan antara musik himne dan musik kontemporer. Tulisan ini menegaskan bahwa dalam konteks ibadah, memuji dan menyembah Tuhan dapat dilakukan melalui berbagai jenis musik, baik himne maupun musik kontemporer, dengan fokus utama pada kesungguhan hati dalam ekspresi penyembahan kepada Tuhan.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman Kesambi (Schleichera Oleosa) merupakan salah satu pohon yang paling terkenal di Indonesia. Ciri-ciri tanaman kesambi ini memiliki daun yang lebar, batang yang besar dan kayunya yang keras. Limbah yang dihasilkan dari tanaman ini salah satunya adalah biji yang dihasilkan pada proses pengambilan buahnya. Untuk mengurangi limbah tersebut, biji kesambi akan diolah menjadi briket. Di dalam biji kesambi terkandung 239 kalori/buah dan diduga bisa digunakan untuk pemicu pembakaran awal pada briket. Pengujian kadar air merupakan salah satu parameter dalam menentukan kualitas briket serbuk biji kesambi, semakin tinggi kadar air akan menyebabkan kualitas briket serbuk biji kesambi menurun karena sejumlah nilai kalor digunakan untuk penguapan air, menurunkan titik nyala, serta memperlambat proses pembakaran dan menambah volume gas buang. Proses pembakaran paling lama terjadi pada briket dengan komposisi bahan baku (serbuk biji kesambi) lolos 60 mesh yaitu 3jam 10menit. Dimana pada briket tersebut dicetak dengan komposisi bahan baku paling halus. Sedangkan proses pembakaran tercepat terjadi pada briket berkomposisi bahan baku Tahan 20 mesh serbuk biji kesambi yaitu dengan waktu 2jam.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tanaman Kesambi (Schleichera Oleosa) merupakan salah satu pohon yang paling terkenal di Indonesia. Ciri-ciri tanaman kesambi ini memiliki daun yang lebar, batang yang besar dan kayunya yang keras. Limbah yang dihasilkan dari tanaman ini salah satunya adalah biji yang dihasilkan pada proses pengambilan buahnya. Untuk mengurangi limbah tersebut, biji kesambi akan diolah menjadi briket. Di dalam biji kesambi terkandung 239 kalori/buah dan diduga bisa digunakan untuk pemicu pembakaran awal pada briket. Pengujian kadar air merupakan salah satu parameter dalam menentukan kualitas briket serbuk biji kesambi, semakin tinggi kadar air akan menyebabkan kualitas briket serbuk biji kesambi menurun karena sejumlah nilai kalor digunakan untuk penguapan air, menurunkan titik nyala, serta memperlambat proses pembakaran dan menambah volume gas buang. Proses pembakaran paling lama terjadi pada briket dengan komposisi bahan baku (serbuk biji kesambi) lolos 60 mesh yaitu 3jam 10menit. Dimana pada briket tersebut dicetak dengan komposisi bahan baku paling halus. Sedangkan proses pembakaran tercepat terjadi pada briket berkomposisi bahan baku Tahan 20 mesh serbuk biji kesambi yaitu dengan waktu 2jam.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pelaksanaan program "Gereja Siaga" dan implikasinya bagi Jemaat GMIT Soli Deo Gloria Nefomeu dalam konteks teologi sosial. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak (KIA) di jemaat dengan melibatkan berbagai jaringan, termasuk pemberitahuan, pendanaan, transportasi, keluarga berencana, donor darah, dan katekisasi.
Latar belakang penelitian ini adalah tingginya angka kematian ibu dan anak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang menjadi fokus utama perhatian gereja. Gereja memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk mendukung kesejahteraan fisik dan spiritual anggotanya, termasuk ibu dan anak. Pendekatan teologi sosial yang digunakan dalam penelitian ini menekankan pentingnya peran gereja dalam menangani isu-isu sosial sebagai bentuk tanggung jawab iman dan kasih kepada sesama.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi partisipatif, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun program "Gereja Siaga" telah memberikan dampak positif terhadap kesehatan ibu dan anak di jemaat, namun masih terdapat berbagai tantangan, terutama terkait kendala finansial dan kondisi ekonomi jemaat yang umumnya tergolong sangat miskin.
Analisis teologi sosial dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa program "Gereja Siaga" yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang ada di sekitar gereja. Gereja didorong untuk terus berpartisipasi aktif dalam isu-isu sosial sebagai perwujudan misi Kristus di dunia.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu teologi sosial dan sumbangsih praktis bagi jemaat GMIT Soli Deo Gloria Nefomeu dalam mengoptimalkan program "Gereja Siaga" demi kesejahteraan ibu dan anak di komunitas mereka.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Ibadah intergenerasi merupakan bentuk ibadah yang melibatkan seluruh generasi dalam jemaat, dengan tujuan menciptakan ketersalingan dan memperkuat hubungan iman antar generasi. Penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan generasi yang sering terjadi di lingkungan bergereja, di mana kelompok usia yang berbeda sering kali terpisah dalam kategori pelayanan masing-masing, yang dapat menyebabkan kurangnya keterlibatan dan rasa memiliki di kalangan generasi muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pandangan jemaat, khususnya pemuda, serta majelis Jemaat Maranatha Oebufu mengenai ibadah intergenerasi dan bagaimana implementasi serta refleksi teologis dari ibadah tersebut dapat diterapkan di gereja mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Jemaat Maranatha Oebufu. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur yang relevan. Responden penelitian termasuk pemuda dan majelis jemaat yang memberikan pandangan mereka tentang urgensi dan manfaat dari ibadah intergenerasi. Metode penulisan yang digunakan penulis untuk menyelesaikan karya tulis ini adalah metode deskriptif-analitis-reflektif untuk mendiskripsikan dan menganalisis masalah, serta tiba pada suatu refleksi yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah intergenerasi sudah diterapkan di GMIT Maranatha Oebufu tetapi dengan nomenklatur yang berbeda. Banyak jemaat, termasuk pemuda, merasa bahwa ibadah intergenerasi dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan keterlibatan dalam pelayanan gereja. Namun, ada juga tantangan dalam implementasinya, seperti kebutuhan akan persiapan yang matang dalam hal liturgi dan keterlibatan seluruh generasi. Ibadah dapat didefinisikan sebagai respons komunitas Kristen terhadap kasih Allah, yang diwujudkan melalui pujian yang tulus dari hati serta refleksi mendalam dalam pikiran. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengasihi diri sendiri sebagaimana mereka mampu mengasihi orang lain dan seluruh ciptaan Allah. Definisi ini mengimplikasikan bahwa setiap individu dalam komunitas orang beriman bertujuan untuk menunjukkan iman mereka kepada Allah dan mendorong terjadinya perubahan.
Kata Kunci: Ibadah, Intergenerasi, Kesenjangan Generasi.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Gereja Ramah Anak dimaknai sebagai gereja dengan sistem pelayanan holistik yang memenuhi hak-hak anak, tidak hanya sekadar membangun fisik gedung gereja baru, melainkan meningkatkan kesadaran akan perspektif anak. Penelitian ini mengidentifikasi ketidaksetaraan di lingkungan gereja, di mana anak-anak sering kali tidak dilibatkan dalam pelayanan dan pengambilan keputusan. Gereja harus menyediakan ruang agar anak-anak merasa aman dan nyaman, serta memberi kesempatan untuk keterlibatan dan partisipasi, sehingga mereka dapat mengekspresikan kreativitas mereka. Tujuan utama penelitian ini adalah memberikan kontribusi berharga bagi gereja-gereja lain dalam mengimplementasikan program Gereja Ramah Anak untuk mendukung pertumbuhan iman anak-anak di komunitas gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Jemaat GMIT Kaisarea BTN-Kolhua. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur yang relevan. Metode penulisan yang digunakan adalah deskriptif-analitis-reflektif untuk mendeskripsikan dan menganalisis masalah, serta mencapai refleksi yang sesuai. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kehadiran anak-anak dalam ibadah merupakan langkah gereja dalam mengupayakan kepedulian terhadap anak. Pembentukan karakter dan iman terjadi melalui interaksi dalam komunitas, di mana setiap generasi saling belajar dan membangun. Refleksi teologis menekankan urgensi kesetaraan hak anak dalam kehidupan gereja. Anak-anak sering terabaikan dalam pelayanan gerejawi, menyebabkan ketidakseimbangan partisipasi dan menghalangi pembentukan iman yang seharusnya menjadi prioritas utama gereja. Gereja harus menyediakan ruang yang memadai bagi anak-anak dan memastikan suara mereka didengar dan dihargai. Dengan demikian, gereja dapat menciptakan lingkungan inklusif yang memperkuat pembinaan iman anak-anak dan memberikan fondasi kokoh bagi pertumbuhan spiritual mereka. Implementasi program Gereja Ramah Anak diharapkan menjadi teladan bagi gereja-gereja lain dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung perkembangan spiritual anak-anak.
Kata kunci: Liturgi, Anak, Gereja Ramah Anak, GMIT Kaisarea BTN.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dessy Ofliana Lika E-mail: [email protected] Johan Galtung merupakan pelopor studi perdamaian, konflik, dan kekerasan dalam dunia akademik. Karya-karyanya hingga saat ini masih sering digunakan dalam studi perdamaian dan resolusi konflik. Penelitian Galtung terhadap masalah kekerasan dan konflik sangat berkontribusi dalam menjaga perdamaian bagi manusia. Galtung telah menghabiskan banyak waktu dalam mengajar, menulis, dan berbicara diberbagai negara. Dia juga aktif dalam konsultasi untuk berbagai organisasi internasional, termasuk PBB. Metode penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode studi pustaka, dengan metode penulisan adalah deskriptif-analitis yang menggunakan berbagai sumber kepustakaan. Pembahasan tulisan ini terdiri dari: 1) Kehidupan Johan Galtung dan karya-karyanya; 2) Konflik dan kekerasan menurut Johan Galtung; 3) Konteks Konflik dan kekerasan di GMIT; 4) Implementasi pemikiran Johan Galtung yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah konflik dan kekerasan dalam GMIT; 5) Refleksi makna familia Dei dalam berhadapan dengan persoalan konflik dan kekerasan di GMIT. Hasil dari tulisan ini memberi kesimpulan bahwa Johan Galtung yang merupakan seorang aktivis perdamaian dipengaruhi oleh pemikiran tokoh aktivis lain seperti Mahatma Gandhi. Galtung memahami bahwa permasalahan mengenai konflik dan kekerasan bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk dipahami secara sempit, karena baik konflik maupun kekerasan merupakan hal yang sangat luas dan tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Segitiga ABC merupakan salah satu konsep penting yang diperkenalkan oleh Johan Galtung sehubungan dengan resolusi konflik. Segitiga ABC digunakan untuk memahami dan melihat bagaimana cara menganalisis persoalan konflik serta kekerasan dengan lebih mendalam melalui tiga komponen utama, yaitu: Attitude (Sikap), Behavior (Perilaku), dan Contradictions (Kontradiksi). Dalam tulisan ini juga ditemukan bahwa sumbangsih pemikiran Galtung melalui segitiga ABC dapat menyediakan kerangka kerja yang akan membantu dalam menganalisis konflik dan kekerasan yang terjadi dalam konteks kehidupan GMIT. Dalam merefleksikan konsep familia Dei, GMIT mendorong jemaat untuk hidup dalam semangat kekeluargaan yang penuh kasih, mendukung satu sama lain, dan bekerja bersama-sama untuk memperluas kerajaan Allah di dunia ini. Melalui familia Dei juga, GMIT menekankan kesetaraan di antara semua anggotanya, tanpa memandang latar belakang baik itu sosial, ekonomi, atau pun budaya. Semua orang dihargai dan diperlakukan dengan hormat, karena semua adalah anak-anak Allah yang berharga. Kata Kunci: Johan Galtung, Segitiga ABC, Konflik, Kekerasan, GMIT, familia Dei
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kearifan Lokal merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang terwujud dalam aktivitas masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah guna pemenuhan kebutuhan mereka. kearifan lokal lilifuk adalah proses memanen ikan di dalam satu tempat (kolam) yang telah dipelihara dan dilakukan bersama-sama dengan menggunakan alat tangkap ikan secara tradisional (sorok) setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali. Menghadapi realitas lilifuk dan sikap masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, muncul permasalahan terkait sikap masyarakat terhadap unsur-unsur lingkungan hidup seperti tanah, air, hutan, laut, dan udara yang semakin memburuk pada zaman ini. GMIT, dalam konteks ini, dipanggil untuk menjaga dan merawat alam semesta sebagai ciptaan Allah yang diciptakan-Nya baik bahkan sangat baik. Tujuan penelitian yakni ingin melihat eksistensi GMIT perlu mengembangkan pemikiran teologis yang kontekstual mengenai lingkungan, yang menjadi dasar bagi perhatian jemaat dan masyarakat. Penelitian dilakukan di jemaat GMIT Lahairoi Kuanheum dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipasif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa terdapat hubungan manusia dengan alam bertolak dari kearifan lokal lilifuk yakni terdapat hubungan manusia di atas alam. Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor pemahaman dan faktor adat istiadat. Refleksi teologis yang diperoleh dari hasil analisis yakni laut sebagai sumber kehidupan, berdamai dengan lingkungan dan gereja serta pemerintah merupakan kawan sekerja Allah. benar adanya, bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan dengan tugas dan tanggung jawabnya sendiri.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Fokus utama penulis adalah melihat spiritualitas kehidupan para perempuan penenun di GKS Jemaat Payeti. Kain tenun Sumba Timur adalah salah satu karya seni yang sangat indah dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, ada makna yang terdapat dalam setiap lembar kain tenun Sumba Timur melalui motif-motif yang digambar oleh para perempuan penenun. Namun dalam kenyataannya, ada berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penenun, tetapi mereka tetap berjuang untuk tidak meninggalkan pekerjaan menenun yang menjadi warisan budaya nenek moyang. Perjuangan para perempuan penenun inilah yang penulis temukan bahwa ada nilai-nilai spiritualitas dalam diri mereka. Terkait dengan spiritualitas perempuan penenun, penulis memakai pemahaman spiritualitas dari Jacob Daan Engel yaitu 6 tahapan spiritualitas diri seseorang di antaranya kesadaran diri, penerimaan diri, ketegasan diri, tujuan hidup, tanggung jawab diri, dan integritas diri. Adapun metode yang digunakan penulis yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yaitu penulis melakukan wawancara kepada beberapa narasumber terkait masalah yang didalami, sedangkan studi pustaka yang di mana penulis menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang dapat membantu penulisan ini. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, para perempuan penenun GKS Jemaat Payeti memberi diri bahkan mengorbankan diri mereka. Dalam proses menenun, ada pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras perempuan demi harapan mereka untuk kebutuhan keluarga. Hal ini menunjukkan nilai-nilai spiritualitas diri mereka. Salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab bernama Rut yang terus bertahan dan berjuang di tengah kesulitan dan pada akhirnya Allah menyatakan kuasa-Nya. Begitu halnya dengan perempuan penenun, Allah mengijinkan berbagai situasi sulit terjadi dalam kehidupan para perempuan penenun yang sesungguhnya membuat spiritualitas mereka semakin bertambah.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Rumusan Masalah yang dikaji Oleh Penulis adalah 1) Bagaimana motif tindak pidana pengrusakan barang milik orang lain?.2) Bagaiamana cara melakukan tindak pidana pengrusakan barang milik orang lain? 3) Bagaimana akibat hukum tindak pidana pengrusakan barang milik orang lain ? Tujuan yang ingin penulis kaji adalah Untuk Mengetahui.1) untuk mengetahui motif tindak pidana pengrusakan barang milik orang, 2) untuk mengetahui cara melakukan tindak pidana pengrusakan barang milik orang lain, 3) untuk mengetahui akibat hukum tindak pidana pengrusakan barang milik orang lain. Sifat sifatnya maka penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penulis mendeskripsikan atau mengambarkan, menguraikan dan menjelaskan suatu keadaan/peristiwa yang sejelas mungkin tanpa perlakuan terhadap objek yang diteliti tentang motif modus dan akibat hukum Tindak Pidana Pengrusakan Barang Milik Orang Lain.Jenis Penelitian ini mengunakan jenis penelitian normatif.. Variabel adalah faktor yang menjadi pokok permasalahan yang ingin diteliti. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah : motif modus dan akibat hukum Tindak Pidana Pengrusakan Barang Milik Orang Lain. Variabel terikat adalah variabel yang tergantung dari putusan pengadilan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah: putusan hakim Tindak Pidana Pengrusakan Barang Milik Orang Lain. jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah, Data Sekunder..Berdasarkan hasil analisis penilitian yaitu motif pelaku pelaku tindak pidana pengrusakan barang milik orang lain dan akibat hukum tindak pidana pengrusakan barang milik orang lain. kesimpulan 1. Pelaku tindak pidana pengruskan barang milik orang lain, a.Terdakwa marah dan emosi karena pembuatan pagar pembatas diatas tanah sengketa. b.Terdakwa emosi karena pasangan bakal calon yang di ikuti oleh terdakwa tidak di tepati janji dengan bakal calon walikota dan wakil walikota..c.Terdakwa marah dan emosi karena korban tidak mengabulkan permintaan terdakwaTerdakwa mengkonsumsi minum minuman keras dan mabuk. d.Terdakwa marah dan emosi karena proyek pembuatan tanggul dihentikan oleh perusahaan. 2. Modus pelaku melakukan tidak pidana perusakan barang milik orang lain a.Terdakwa menggoyangkan dan mendorong pagar pembatas menggunakan kedua tangan b.Terdakwa mendatangi Rumah Makan dan merusak etalase menggunakan tangan terkepal hingga etalase tersebut pecah c.Terdakwa mengayunkan parang ke arah sepeda motor dan gerobak bakso dan memukul mesin sepeda motor menggunakan batu d.Terdakwa melempari kaca mobil truk menggunakan batu bata e.Terdakwa merusak tanggul dengan melakukan pengerukan menggunakan exsavator. 3. Akibat hukum tindak pidana pengrusakan barang a.Terdakwa dipenajara b.Terdakwa Membayar Biaya Perkara.Saran dari penulis terkait dengan penulisan ini adalah kepada hakim diharapkan mejtuhkan putusan harus mempertimbangkan fakta persidangan dan kepada masyarakat untuk tidak melakukan tindak pidana pengrusakan barang milik kepunyaan orang lain
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Buku ini penulis susun sebagai bahan pendukung perkuliahan bagi mahasiswa S1, baik pada Fakultas Ekonomi maupun program studi lainnya yang memiliki mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Materi yang ada dalam buku ini tidak hanya digunakan pada mahasiswa pemula pada tahapan pengantar, tetapi bisa juga digunakan pada jenjang yang lebih tinggi. Pembahasan diawali dengan dijelaskan konsepkonsep atau dalil-dalil ataupun menggunakan analisis grafi s dan matematis. Analisis matematis tidak bisa dihindarkan, untuk menjelaskan realistic teory dan aplikasi dalam bentuk lati han soal. Tentu saja latihan soal ditujukan agar para mahasiswa bisa lebih memahami materi. Pada setiap akhir bab terdapat pertanyaan-pertanyaan latihan. Pertanyaan latihan bertujuan melihat daya para mahasiswa pada materi yang sudah dijelaskan. Materi dalam buku ini diselaraskan dengan beberapa buku teks yang penulis anggap penting ditambah dengan pengalaman penulis yang telah mengajar mata kuliah Ekonomi Mikro selama puluhan tahun.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK ANALISIS PENGARUH KOMPETENSI DAN KOMPENSANSI TERHADAPA KINERJA PEGAWAI PADA POLITEKNIK KELAUTAN DAN PERIKANAN KUPANG Peranan sumber daya manusia menjadi semakin penting bila dikaitkan dengan perkembangan global yang penuh dengan persaingan kompetitif diantara perusahaan. Salah satu cara yang dilakukan perusahaan dalam menghadapi persaingan yaitu dengan memberdayakan dan menggali seluruh potensi SDM yang dimilikinya secara maksimal. Sejalan dengan hal tersebut, maka suatu perusahaan perlu meningkatkan perhatiannya terhadap kualitas karyawannya, baik perhatian dari segi kualitas pengetahuan dan keterampilan, karir maupun tingkat kesejahteraannya, sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan untuk memberikan seluruh kemampuannya dalam pencapaian tujuan perusahaan. Setiap perusahaan atau instansi dalam melaksanakan program yang diarahkan selalu berdaya guna untuk mencapai tujuan perusahaan. Salah satu caranya adalah meningkatkan kinerja karyawan. Sutrisno (2010: 172) menyimpulkan kinerja sebagai hasil kerja karyawan dilihat dari aspek kualitas, kuantitas, waktu kerja, dan kerja sama untuk mencai tujuan yang sudah di tetapkan oleh organisasi. Kinerja perusahaan dikatakan berkualitas dan berhasil dalam mencapai tujuannya dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam perusahaan seperti kompetensi yang dimiliki oleh karyawan serta pemberian kompensasi finansial yang sesuai dengan kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga menghasilkan output yang berkualitas. Dalam pencapaian kinerja diperlukan adanya sumber daya manusia yang memiliki tingkat kemampuan, kompetensi, motivasi serta kepentingan yang didukung oleh sikap perusahaan dalam menghargai serta memperlakukan sumber daya manusianya untuk dapat mencapai kinerja. Kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut (Wibowo, 2010: 7). Untuk meningkatkan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam proses transformasi dilakukan aktivitas pengembangan yang berhubungan dengan peranxii utama manajer Sumber Daya Manusia yang baru, yaitu sebagai seorang bisnis, pembentuk perubahan, konsultasi bagi organisasi atau mitra kerja, perumus dan pengimplementasian strategi, manajer bakat, minat, dan kepemimpinan dan sebagai manajer asset dan pengendalian biaya. Tugas utama pimpinan dalam kondisi tersebut adalah mengatur dan mengarahkan program pelatihan, pendidikan, dan pengembangan Sumber Daya Manusia perlu diterapkan dalam perusahaan atau organisasi untuk meningkatkan Kompetensi Sumber Daya Manusia yang ada. Penentuan tingkat Kompetensi yang berbasis Sumber Daya Manusia dibutuhkan agar dapat mengetahui tingkat prestasi atau Kinerja yang diharapkan untuk kategori baik atau rata-rata. Penentuan Kompetensi yang dibutuhkan tentunya akan dapat dijadikan sebagai dasar bagi evaluasi kinerja kerja. Selai itu juga perusahaan juga perlu memperhatikan pemberian kompensasi yang layak pada dasarnya adalah hak bagi setiap Pegawai dan merupakan kewajiban bagi perusahaan sebagai pendukung kontribusi Pegawai dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan perusahaan. Dengan adanya kompensasi yang baik dalam perusahaan, maka akan membawa dampak positif untuk perusahaan. Apabila Pegawai mendapat kompensasi yang sesuai dengan kontribusi yang telah dilakukan, maka Pegawai akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan sehingga kinerja Pegawai akan semakin meningkat. Sebagaimana pada uraian diatas, maka semakin besar kompensasi yang diterima oleh Pegawai, maka semakin tinggi disiplin kerja Pegawai, dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan kinerjanya. Kinerja Pegawai juga dipengaruhi oleh disiplin kerja. Menurut Sedarmayanti (2001:65), salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja adalah sikap mental (motivasi kerja, disiplin kerja, etika kerja). Sikap mental yang dimiliki seorang Pegawai akan memberikan pengaruh terhadap kinerjanya. Dalam penelitian ini, objek yang akan peneliti teliti adalah pada Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang. Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang, adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi di bidang kelautan dan perikanan di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dixiii bawah pembinaan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini Terdapat pengaruh signifikan variabel Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai. Hal ini dibuktikan dengan hasil Uji hipotesis pertama yaitu terdapat pengaruh positif Kompetensi (X1) terhadap Kinerja Pegawai (Y). dimana variabel Kompetensi (X1) ditemukan t hitung = 5.071 > 1.675 dan tingkat Sig. = 0.000 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yaitu variabel Kompetensi (X1) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Kinerja pegawai (Y), sedangkan untuk variabel Kompensasi terdapat pengaruh signifikan variabel Kompensasi terhadap Kinerja Pegawai pada Politeknik Kelautan Dan Perikanan Kupang. Hal ini dibuktikan dari hasil Uji hipotesis kedua yaitu terdapat pengaruh positif Kompensasi (X2) terhadap Kinerja Pegawai (Y). Hal ini dapat dilihat bahwa variabel Kompensasi (X2) ditemukan t hitung = 2.730 > 1.675 dan tingkat Sig. = 0.009 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak yaitu variabel Kompensasi (X2) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Kinerja Pegawai (Y). Selain itu perolehan hasil uji F hitung sebesar 25.581 lebih besar dari F tabel 2.786 diperoleh dari nilai n=60; k=3 dan Rumus untuk menghitung F-tabel sebagai berikut : F-tabel = (k ; n-k-1), F-tabel = F (3 ; 54-3-1), F-tabel = F (3;50) Berdasarkan perhitungan tersebut maka F tabel adalah sebesar 2.786. Sedangkan untuk perolehan nilai Sig yaitu sebesar 0.000 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel Kompetensi (X1), dan Kopensasi (X2) secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai (Y). Kata Kunci : Kinerja Pegawai, Kompetensi dan Kompensasi