ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Status dan Peran Perempuan dalam Gereja” dengan sub judul “Suatu Tinjauan Teologis Feminis Terhadap Status dan Peran Perempuan di Jemaat GMIT Paulus Oepoli” ditulis oleh Rezah Atalia Padji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman jemaat tentang status dan peran perempuan, menganalis faktor, dan merefleksikan tinjauan teologis terhadap status perempuan. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif yaitu proses penelitian yang dilakukan pada kondisi yang alamiah sehingga data yang terkumpul dan analisanya dengan cara observasi dan wawancara. Metode yang dipakai memberi hasil pada penelitian, yaitu status dan peran perempuan di jemaat masih dianggap lebih rendah dan masih dinomorduakan. Hal ini tentu terjadi karena adanya faktor-faktor penyebab, seperti: Faktor budaya, pemahaman teologi yang keliru, perkawinan, perempuan yang juga merupakan salah satu faktor, dan minimnya pengetahuan Alkitab. Namun, pada dasarnya, peran perempuan dalam gereja adalah untuk memberi kontribusi yang berharga dan penting dalam kehidupan gereja, serta dapat memperkuat hubungan yang lebih baik lagi dengan Tuhan. Karena itu diperlukan adanya gereja untuk dapat memperhatikan dan juga tentunya memberi solusi terhadap fenomena ini. Gereja sendiri harus terus memberi pemahaman kepada jemaat tentang status dan peran perempuan, agar jemaat lebih peka dan mengerti tentang status dan peran perempuan, bukan hanya sekadar mengerti tetapi juga bisa mengubah pola pikir dan juga perlakuan yang tidak adil itu menjadi lebih baik dan lebih adil bagi status perempuan yang ada di jemaat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
Tenun ikat merupakan salah satu hasil kebudayaan yang harus dilestarikan oleh setiap
generasi. Dalam kehidupan bermasyarakat, tenunan dihargai dan diakui sebagai komoditas di
semua kalangan masyarakat, mulai dari penguasa hingga para petani dan dengan demikian
digunakan juga sebagai benda berharga penanda status sosial. Tenun ikat yang sangat
berpengaruh sebagai simbol status sosial seseorang merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan karena itu, tenun ikat memiliki makna yang sangat
dalam bagi masyarakat Amarasi Barat, tak terkecuali di Desa Soba, khususnya dalam Jemaat
GMIT Elohim Soba. Motif-motif tenunan dibuat berdasarkan suatu peristiwa penting dan
diberi nama sesuai dengan bentuk serta ciri khas dari motif tenunan tersebut. Setiap motif
yang ditampilkan bercerita tentang keyakinan konsep makna dan nilai-nilai religius-sosial
yang dianut oleh masyarakat pemilik motif tersebut. Tenun ikat yang dibuat dengan
menampilkan motif tertentu memiliki arti tersendiri bagi para penenun, sehingga para
penenun di Jemaat GMIT Elohim Soba biasanya membuat motif-motif tenunan dengan motif
yang beragam dan sangat indah. Salah satu motif yang ditenun adalah motif Kaimanfafa.
Lalu apa arti dari motif Kaimanfafa? Motif Kaimanfafa dulunya dikhususkan untuk
digunakan oleh Raja, yang menunjukkan kedudukan dan status sosialnya yang tinggi dalam
masyarakat pada masa itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini berubah, tidak ada batasan
untuk penggunaan motif tenun ikat tertentu dalam menentukan strata sosial dalam
masyarakat. Di masa kini penggunaan tenunan dengan berbagai motif, bebas digunakan oleh
siapa saja, dalam status sosial yang beragam. Biasanya hasil tenunan berupa selimut dan
sarung, digunakan pada acara-acara tertentu. Hal ini berubah karena Raja membutuhkan
kehadiran masyarakatnya untuk saling kerja sama, tanpa memandang kedudukan dan status
sosial. Melalui tulisan ini, penulis berusaha untuk memaparkan berbagai hal seputar motif
tenunan kaimanfafa. Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna dari matif tenunan
kaimanfafa dengan menggunakan salah satu teori dari Stephen B. Bevans yakni model
antropologis dengan menggunakan metodologi pendekatan kualitatif. Motif kaimanfafa
menekankan tentang pentingnya kerja sama dalam masyarakat dan gereja, sebab manusia
saling membutuhkan satu sama lain. Oleh sebab itu, sikap saling kerja sama tanpa
memandang status sosial, sangat diperlukan agar tercipta kerukunan dalam kehidupan
bermasyarakat, bahkan bergereja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRACT This research is conducted under the title “A STUDY ON THE STRUCTURE OF PREDICATION IN BUNAQ LANGUAGE”. It was conducted to answer the following question: How is the structure of predication in Bunaq language?. The writer use descriptive qualitative research design. The writer collected information about the stucture of predication in Bunaq language through the bible especially in gospel Jonh 1-21. Then the writer identified and describe the patterns of this structure. Results of the study indicated that there are two elements existing in the structure of predication in Bunaq language: the subject and the predicate. The seven heads of predicate can be seen as follows: there are seven persons; the first person singular (Neto); the second person singular (Eto); the third person singular (baq’i); the first person plural (nei)/exclusive; the first person plural (I/inclusive); the second person plural (ei) and the third person plural (halaq’i). In Bunaq language when all the subject combined with the verb there are not inflection. the verb: Tekeq to See Neto Tekeq, Eto Tekeq, Baq,i Tekeq, Nei Tekeq, I Tekeq, Ei Tekeq Halaq,i Tekeq. The structure in bunaq language diffirent with other languages “Subject + Object + Predicate. Bunaq language question word is formulated “Question word + S + O + P”. as well as in Indonesian language and English language. In Bunaq language there are two phases the simple phases and the perfect phases. Unlike the English language have three aspects; the Bunaq language has two aspects: the simple and the durative. In English has two voices are the active voice and the passive voice. Like in English, the Bunaq language ect. Also has four statuses: affirmative, the negative, the interrogative, the interrogative negative. The pattern of structure of predication can be written as follows; Affirmative: SUBJECT + PREDICATE + or SUBJECT + OBJECT+ PREDICATE. Interrogative: QUESTION WORD + SUBJECT + VERB / PREDICATE +or SUBJECT + VERB / PREDICATE + QUESTION WORD Negative: SUBJECT+ VERB / PREDICATE + NIQ (neg)Negative interrogative: QUESTION WORD+SUBJECT + OBJECT+ VERB/ PREDICATE+ NIQ.