ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
TRADISI MASEKEN-SUATU TINJAUAN TEOLOGIS KRISTEN TERHADAP TRADISI DORONG-MENDORONG PETI JENAZAH DI JEMAAT OEMATHONIS BOBOK
Penelitian yang penulis lakukan mengangkat sebuah tema Tradisi Maseken, dengan sub-tema Suatu Tinjuan Teologis Kristen Terhadap Tradisi Dorong-mendorong Peti Jenazah di Jemaat Oemathonis Bobok.
Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library) dan penelitian lapangan (Field Research) bersifat deskriptis kualitatif dengan menggunakan pendekatan teologi, dan fenomologi. Sumber data penelitian ini adalah jemaat Oemathonis Bobok, klasis Amanatun Selatan dan pelaksanaan tradisi maseken. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Proses tradisi Maseken sangat berbeda dengan proses penguburan jenazah pada umumnya di mana tradisi Maseken ini menggunakan kegiatan dorong-mendorong peti Jenazah di sepanjang perjalanan menuju liang kubur. 2) Pemahaman jemaat Oemathonis Bobok terhadap tradisi Maseken beragam namun tidak Alkitabiah dan mengandung unsur bersifat mitos. 3) Perspektif teologis terhadap tradisi Maseken, dalam hal kepercayaan perlu adanya pembicaraan ulang yang baik untuk meluruskan pemahaman Jemaat Oemathonis Bobok, serta memberi makna yang lebih teologis sesuai dengan pelaksanaannya yang dalam lingkup agama.
Implikasi dalam kajian ini adalah: 1) Dalam pelaksanaan tradisi Maseken perlu untuk melakukan peninjauan ulang mengenai serangkaian acara dalam tradisi tersebut serta pemaknaan dari tradisi Maseken tersebut. Baik dari segi aspek tingkah laku maupun kepercayaan, agar tidak terjadi pertentangan antara agama, dan tingkah laku dalam tradisi. 2) Antara agama dan tradisi masyarakat dalam lingkungan setempat harus selalu sejalan, karena agama seharusnya dijadikan sebagai pedoman hidup yang dapat diinterpretasikan dalam beberapa nilai tradisi yang berlaku.
Tujuan penulis melakukan kajian ini adalah untuk mengembalikan kesadaran jemaat tentang segala sesuatu yang dilaksanakan dalam siklus kehidupan (termasuk dalam hal kematian) harus dengan pemaknaan yang sesuai dengan ajaran agama Kristen. Dan lagi, untuk mengedepankan pengajaran yang berdasarkan pada ajaran-ajaran yang Kristiani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
MUSIK SEBAGAI SARANA SELF HEALING
Irmayati Ngongo
Program Studi Teologi Agama Kristen, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia
Email penulis: [email protected]
Menyembuhkan luka batin seseorang melalui Self healing dengan musik adalah langkah yang sangat diperlukan untuk pemulihan diri seseorang sehingga ia mengalami kehidupan yang baik. Luka batin merupakan keadaab jiwa seseorang yang tidak sehat akibat berbagai persoalan hidup sehingga seseorang tidak mampu untuk mengekpresikan emosi atau perasaan yang seharusnya sehingga membuat batin terluka. Mengingat bahwa luka batin dapat dialami oleh siapa saja bahkan kehidupan kaum muda-mudi juga mengalami luka batin oleh karena dalam usia yang demikian merupakan usia yang rentan untuk terjadinya konflik. Luka batin yang dibiarkan akan berdampak negatif bagi mereka yang mengalaminya sehingga luka batin perlu untuk disembuhkan. Penyembuhan luka batin dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti self healing dengan musik. Dalam kehidupan manusia peran musik bukan saja dikenal sebagai sebuah kekayaan seni namun musik juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia yakni musik memiliki nilai kebaikan untuk menyembuhkan. Bahkan gereja dalam pelayananya telah memanfaatkan musik khususnya sebagai bagian dalam liturgi ibadah. Gereja juga mengenal berbagai jenis nyanyian salah satunya ialah nyanyian pop rohani.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengambilan data dengan melakukan sampling dan wawancara lanjutan untuk memperoleh data yang akurat dengan kebenaran yang mendalam mengenai persoalan luka batin dan musik self healing sebagai upaya penyembuhan. Tujuan dari penleitian ini adalah untuk mengetahui realitas luka batin pemuda-pemuda GMIT Moria Liliba dan musik sebagai sarana self healing serta bagaimana upaya-upaya pastoral yang dilakukan oleh gereja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa pemuda-pemudi GMIT Moria Liliba mengalami luka batin oleh karena konflik dengan orang tua, perceraian orang tua, diterlantarkan, mengalami kekerasan verbal, bullying, persoalan asmara, serta pendidikan. Dampaknya ialah berpengaruh pada psikologi, fisik, relasi sosial, hingga kondisi spiritual mereka yang memburuk. Upaya gereja menangani hal ini yakni dengan melakukan pemberitaan firman tanpa adanya pendampingan lanjutan karena berbagai alasan yakni pemuda-pemudi yang menutup diri, faktor relasi, serta adanya keyakinan bahwa mampu untuk mengatasi sendiri. Dalam penelitian ini juga penulis menemukan bahwa musik khususnya musik pop rohani memberikan pengaruh yang baik bagi pemuda-pemuda yang mengalami luka batin. Hal ini dalam keadaan di mana mereka mampu untuk berdamai dengan diri mereka sendiri serta orang lain.
Melihat musik sebagai anugerah Allah maka perlu untuk diberikan perhatian agar dimanfaatkan dengan baik untuk hal-hal yang membawa kebaikan bagi manusia. Musik bukan saja dilihat sebagai sebuah seni atau sebagai bagian dari liturgi suatu ibadah namun musik dapat dijadikan sebagai sarana penyembuhan juga sebagai sarana di mana orang-orang percaya mengekspresikan imannya kepada Allah. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa musik memiliki fungsi-fungsi pastoral yang dapat dimanfaatkan bagi kesembuhan luka batin. melalui penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sumbangsih bagi pelayanan pastoral.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
Skripsi ini berjudul “Setiap Karunia untuk Kemuliaan Tuhan: Suatu Kajian Eksegetis terhadap 1 Korintus 12:1–11 dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Ebenheazer Boas, Klasis Malaka”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah karunia dalam jemaat lokal yang menyerupai persoalan dalam jemaat Korintus abad pertama, yaitu kecenderungan meninggikan karuniakarunia spektakuler dan mengabaikan karunia-karunia lain. Masalah ini menimbulkan perpecahan,
pengagungan individu, hingga praktik-praktik rohani yang menyimpang dari ajaran Kristiani. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada pemahaman teologis atas teks 1 Korintus 12:1–11 untuk menemukan kerygma utama dalam teks tersebut serta bagaimana penerapannya secara kontekstual dalam kehidupan bergereja. Tujuan utama dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui konteks historis di balik penulisan Surat 1 Korintus, (2) memahami kerygma teologis yang terkandung dalam 1 Korintus 12:1–11, dan (3) menguraikan implikasi kerygma tersebut bagi kehidupan jemaat GMIT Ebenheazer Boas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) yang dikombinasikan dengan wawancara lapangan, serta menggunakan pendekatan historis-kritis dalam penafsiran teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menegaskan pentingnya kesatuan dalam keberagaman karunia, dengan menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat dari setiap karunia dan pelayanan. Karunia-karunia Roh Kudus berasal dari sumber yang sama, yaitu Roh Kudus, dan diberikan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi membangun tubuh Kristus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Kebudayaan merupakan cara hidup yang berkembang yang dimiliki bersama serta diwariskan turun-temurun. Kebudayaan dapat direpresentasikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalamnya sistem kepercayaan. Penelitian ini mengeksplorasi peran/fungsi rumah adat Um Kleo bagi masyarakat Helong di Kolhua. Masyarakat Helong memandang Um Kleo sebagai rumah perhimpunan dan tempat roh para leluhur. Hal ini didasarkan atas pemahaman bahwa roh orang mati masih ada bersama-sama di dunia. Oleh karena itu, Um Kleo dibangun dengan konsep arsitektur yang memiliki arti-arti tertentu.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji secara teologis fungsi Um Kleo sehingga dapat diambil nilai-nilai yang relevan dengan ajaran dan konteks GMIT, khususnya di GMIT Ebenhaezer Iungboken. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan studi Teologi Kontekstual dengan penelitian kualitatif yang mencakup penelitian kepustakaan terhadap literatur-literatur yang membahas tentang kebudayaan. Selain itu, penelitian ini juga melibatkan fenomenologi dengan melakukan wawancara mendalam dengan anggota Jemaat GMIT Ebenhaezer Iungboken untuk memahami pandangan mereka tentang Um Kleo.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa adanya sikap dualistis masyarakat dan jemaat terhadap iman dan kebudayaan. Implikasi teologis adalah memberikan kontribusi berharga terhadap pemahaman keagamaan dan parktik rohaniah dalam Jemaat GMIT Ebenhaezer Iungboken.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Arwah SAMUEL dan Ritus Sumba