Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Kesetaraan.
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

AMMU AE NGA RUKOKO

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Rumah orang Sabu dibedakan menjadi dua jenis yakni rumah asli Sabu (Ammu Hawu) dan juga rumah asing (Ammu Jawa). Rumah asli Sabu berbentuk panggung dan mempunyai dua jenis yaitu Ammu Ae Nga Rukoko serta Ammu Taga ‘Batu. Rumah jenis pertama ini kedua ujung bubungannya menonjol ke luar yakni ke barat dan ke timur (hal ini dikarenakan rumah asli Sabu memanjang barat-timur) dengan bagian atap yang disebut rukoko (daun leher). Rumah jenis kedua yakni Taga ‘Batu dua batang baloknya melengkung dan salah satu ujungnya dihubungkan sehingga membentuk setengah lingkaran pada kedua sisi melebar rumah. Orang Sabu meyakini bahwa warga dalam sebuah rumah sama seperti halnya penumpang dalam sebuah perahu. Pandangan orang Sabu mengenai rumah ialah rumah bukanlah sebagai tempat tinggal saja tetapi juga rumah memiliki sebuah makna yang lebih dari itu. Rumah orang Sabu pada saat pembuatan sudah diberi posisi dengan makna tersendiri yang melambangkan sebuah kehidupan. Hingga kini, ammu ae nga rukoko merupakan salah satu budaya orang Sabu yang masih terpelihara hingga saat ini, meskipun sudah terjadi modernisasi. Modernisasi yang terjadi saat ini membuat sebagian masyarakat Sabu memilih untuk membangun rumah sesuai dengan gaya yang modern yang tidak sesuai lagi dengan rumah asli orang Sabu (ammu ae nga rukoko).             Jemaat GMIT Yeruel Seba Kota merupakan jemaat yang berada di tengah perkotaan Seba. Sebagai jemaat yang berada di tengah perkotaan, tentunya pengaruh modernisasi sangat bisa dirasakan oleh jemaat ini. Namun, masih ada juga sebagian jemaat yang lebih memilih untuk tetap menjaga dan melestarikan rumah ini dengan cara masih tetap tinggal di rumah ini. Hal inilah yang ingin dikaji oleh penulis yaitu apakah modernisasi memberikan pengaruh terhadap pemaknaan rumah bagi orang Kristen Sabu, dan juga mengapa ada sebagian masyarakat yang sangat menjaga sekali agar bangunan rumah ini tetap terjaga dengan dilestarikan. Apakah karena ada nilai-nilai dari rumah ini yang nyaris tidak terjaga karena adanya modernisasi sehingga sebagian orang tetap memilih untuk melestarikan rumah ini? Penulis berharap tulisan ini dapat membantu jemaat Kristen

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEREMPUAN DAN TUDUNG PERNIKAHAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tudung pernikahan atau Wedding Veil dalam prosesi pernikahan merupakan salah satu atribut yang digunakan oleh pengantin perempuan. Adapun sejarah di balik dari tudung pengantin yaitu banyak yang menduga hal ini ada hubungannya dengan ketakutan orang Yunani dan Romawi kuno terhadap roh jahat. Namun makna di balik tudung pernikahan berubah ketika pernikahan berevolusi menjadi upacara keagamaan. Tudung pernikahan dipandang sebagai simbol penghormatan bagi wanita untuk menutupi kepala mereka yang melambangkan kesucian atau wanita terhormat. Bertolak dari hal itu, penulis tertarik untuk meneliti pemahaman makna tudung pernikahan dan membuat refleksi teologis. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih Jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur menjadi sampel untuk mengkaji tentang makna tudung pernikahan. Dari hasil penelitian tersebut penulis menemukan beberapa pandangan jemaat mengenai makna tudung pernikahan, ada yang memahami sebagai simbol resminya mereka menjadi pasangan suami istri yang sah, namun tidak sedikit juga yang memahami tudung sebagai lambang keperawanan seorang perempuan yang berdampak pada diskriminasi terhadap perempuan. Ketika tubuh perempuan terlibat dalam aktifitas seksual, perempuan diharuskan untuk menanggung kesalahan dan mempunyai resiko dituduh bahwa mereka telah “ternoda”. Walaupun telah menjadi korban, perempuan juga tetap disalahkan. Kehilangan “kesucian” seringkali dihubungkan dengan hancurnya kehidupan seorang perempuan. Demi mendapatkan kesetaraan dan rasa hormat sebagai manusia, perempuan diharuskan mati-matian untuk mempertahankannya. Hak dasar yang seharusnya diterima oleh perempuan harus dipertahankan dengan beban yang luar biasa, sedangkan laki-laki tidak mempunyai beban seperti ini. Untuk itu, salah satu tugas gereja dalam kehadirannya di dunia dan masyarakat adalah memaknai relasi laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan adalah gambar Allah (imago dei). Melihat dari Alkitab sebagai salah satu sumber iman agama Kristen, juga melukiskan prinsip kesetaraan yang tampak dalam kehidupan Yesus bersama komunitasNya dan dalam komunitas Kristen awal. Untuk itu GMIT harus menjadi tempat bagi perempuan dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Karena dalam tradisi teologi tudung pernikahan tidak hanya menunjukkan kesederhaan dan kemurnian pengantin wanita dan penghormatannya kepada Tuhan, tetapi juga mengingatkan kita kepada kerudung bait suci yang terbelah menjadi dua ketika Kristus mati di kayu salib.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail