ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
TEOLOGI MISI MENURUT ODHA
Meryana Nomlene
Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas teologi, Unversitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia
email. [email protected]
HIV (Human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang dan menghancurkan imunitas tubuh manusia, khususnya pada sel darah putih yang disebut sebagai sel CD4. Sedangkan AIDS (Acquired immunedeficiency syndrome) adalah kondisi akibat serangan virus HIV yang disebut juga sebagai HIV stadium 3 dengan kondisi dan gejala yang kompleks. HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian, sehingga penyakit ini memerlukan perhatian serius. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS yang dilaporkan setiap tahunnya. Kota kupang menjadi fokus penelitian penulis, kasus HIV/AIDS di Kota Kupang berkembang pesat dan menyerang hampir semua kelompok usia, dengan jumlah kasus pada tahun 2022 menjadi 2.996. Penelitian dengan menggunakan metode Kualitatif yang dilakukan secara deduktif induktif. Penulis mewawancarai 5 pasien ODHA sebagai keterwakilan dari populasi ODHA dengan variasi sumber sakit yang mereka alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penularan HIV/AIDS terjadi melalui darah, jarum suntik, juga karena aktivitas seksual. ODHA bergulat dengan perasaannya, luka fisik dan batin harus ditanggung akibat berbagai bentuk penolakan yang harus diterima dari keluarga, lingkungan masyarakat juga tempat kerja dan gereja. Berbagai bentuk tindakan stigma dan diskriminasi dilayangkan bagi mereka. Suara mereka menjerit kesakitan, meminta adanya penerimaan dan pengakuan akan keberadaan mereka terlihat jelas dari raut wajah mereka. Kerinduan untuk tidak terkungkung seperti dalam ruang isolasi. Rasa takut akan penolakan, membuat mereka untuk mengurung diri dan niatan untuk terbuka tentang identitas mereka, sehingga dipendam sendiri dan menjadi kepahitan bagi mereka.Dari hasil observasi di lapangan, penulis megusulkan agar keluarga, lingkungan, dan gereja harus menjadi wadah yang ramah terhadap kehadiran ODHA. Gereja perlu meninjau kembali model teologi misi, untuk melihat model misi yang relevan sehingga dapat menjawab kebutuhan ODHA.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Di tengah perkembangan dunia yang semakin maju dalam berbagai bidang kehidupan, berbagai bentuk diskriminasi nyatanya masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dewasa ini. Diskiriminasi yang terjadi menyentuh berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali juga dalam hal perbendaan gender. Diskriminasi yang terjadi sebagai akibat dari ketidaksetaraan gender memiliki banyak bentuk, seperti stereotip terhadap perempuan, subordinasi yang melihat perempuan sebagai manusia nomor dua, serta kekerasan terhadap perempuan yang masih marak terjadi. Diskriminasi yang didasarkan atas perbedaan gender ini, sering kali dialami oleh kaum perempuan dari zaman dahulu hingga saat ini. Tidak terkecuali juga terjadi pada kaum perempuan di wilayah Gereja Masehi Injili di Timor. Berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi telah menentang pengajaran dan sikap Yesus yang memaklumkan keadilan dan damai sejahtera bagi semua orang, termasuk kaum perempuan. Dalam Injil Yohanes 4:1-42 tentang perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub, Yesus menunjukkan keberpihakkan-Nya terhadap kaum yang tersisih. Dalam perikop tersebut, Yesus berbincang dengan seorang perempuan Samaria yang memiliki status dan kedudukan yang rendah dalam masyarakat pada saat itu. Identitas perempuan itu tidak disebutkan secara jelas dalam teks tersebut. Ketika Yesus berada di Sumur Yakub, Yesus bahkan tidak enggan meminta perempuan itu memberi-Nya minum dan bercakap-cakap dengan perempuan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pengajaran dan pelayanan Yesus, justru orang-orang yang termaginalkan dalam suatu struktur yang sudah lama dan mapanlah yang ditempatkan sebagai yang pertama dalam pemerintahan Allah, bukan untuk membalikkan diskriminasi, melainkan untuk mengubah pola diskriminasi dan menciptakan pola relasi yang baru. Oleh karena itu, dengan mendalami Yohanes 4:1-42, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implikasi teks terhadap persoalan diskriminasi pada kaum perempuan di GMIT dengan menggunakan metode penulisan deskriptif-analisis-reflektif serta metode pendekatan hermeneutika feminis kritis untuk menafsir teks, sehingga pada akhirnya tulisan ini diimplikasikan dalam upaya mencapai keseimbangan pola relasi yang baru antara laki-laki dan perempuan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tudung pernikahan atau Wedding Veil dalam prosesi pernikahan merupakan salah satu atribut yang digunakan oleh pengantin perempuan. Adapun sejarah di balik dari tudung pengantin yaitu banyak yang menduga hal ini ada hubungannya dengan ketakutan orang Yunani dan Romawi kuno terhadap roh jahat. Namun makna di balik tudung pernikahan berubah ketika pernikahan berevolusi menjadi upacara keagamaan. Tudung pernikahan dipandang sebagai simbol penghormatan bagi wanita untuk menutupi kepala mereka yang melambangkan kesucian atau wanita terhormat. Bertolak dari hal itu, penulis tertarik untuk meneliti pemahaman makna tudung pernikahan dan membuat refleksi teologis. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih Jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur menjadi sampel untuk mengkaji tentang makna tudung pernikahan. Dari hasil penelitian tersebut penulis menemukan beberapa pandangan jemaat mengenai makna tudung pernikahan, ada yang memahami sebagai simbol resminya mereka menjadi pasangan suami istri yang sah, namun tidak sedikit juga yang memahami tudung sebagai lambang keperawanan seorang perempuan yang berdampak pada diskriminasi terhadap perempuan. Ketika tubuh perempuan terlibat dalam aktifitas seksual, perempuan diharuskan untuk menanggung kesalahan dan mempunyai resiko dituduh bahwa mereka telah “ternoda”. Walaupun telah menjadi korban, perempuan juga tetap disalahkan. Kehilangan “kesucian” seringkali dihubungkan dengan hancurnya kehidupan seorang perempuan. Demi mendapatkan kesetaraan dan rasa hormat sebagai manusia, perempuan diharuskan mati-matian untuk mempertahankannya. Hak dasar yang seharusnya diterima oleh perempuan harus dipertahankan dengan beban yang luar biasa, sedangkan laki-laki tidak mempunyai beban seperti ini. Untuk itu, salah satu tugas gereja dalam kehadirannya di dunia dan masyarakat adalah memaknai relasi laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan adalah gambar Allah (imago dei). Melihat dari Alkitab sebagai salah satu sumber iman agama Kristen, juga melukiskan prinsip kesetaraan yang tampak dalam kehidupan Yesus bersama komunitasNya dan dalam komunitas Kristen awal. Untuk itu GMIT harus menjadi tempat bagi perempuan dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Karena dalam tradisi teologi tudung pernikahan tidak hanya menunjukkan kesederhaan dan kemurnian pengantin wanita dan penghormatannya kepada Tuhan, tetapi juga mengingatkan kita kepada kerudung bait suci yang terbelah menjadi dua ketika Kristus mati di kayu salib.