Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

H

2.529 karya publik ditemukan.

2121: 12026: 502025: 582024: 302023: 3792022: 4972021: 9162020: 1632018: 552016: 42015: 22009: 12002: 11989: 11018: 1

MANUSIA DAN ANIMALITAS: Suatu Tinjauan terhadap Pemikiran Andrew Linzey tentang Tanggung Jawab Moral Manusia kepada Animalitas berdasarkan Konsep Hak Theos dan Relevansinya bagi Jemaat Kristen Masa Kini

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tanggung jawab moral terhadap makhluk hidup lain adalah sebuah hal yang penting, khususnya bagi orang yang percaya kepada Allah. Hal itu menjadi alasan mengapa topik tersebut tidak dapat dihindari. Dalam konteks ini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana tanggung jawab moral manusia terhadap hewan berdasarkan pemikiran Andrew Linzey mengenai hak theos. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan kualitatif dengan metode berupa studi kepustakaan dan lapangan. Adapun, untuk mendapatkan sampel dan data lapangan, penelitian ini menggunakan metode snowball purposive. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa tanggung jawab moral manusia adalah sebuah tugas yang diberikan Allah kepada manusia untuk mengelola ciptaan. Tugas itu menjadi sebuah kewajiban manusia, khususnya kepada Allah, yang perlu dijalankan atas dasar penghormatan, baik kepada ciptaan maupun kepada Allah. Kewajiban itu perlu dilakukan karena Allah telah menciptakan segala sesuatu, memberikan kehidupan kepada ciptaan dan memeliharanya, serta manusia menjadi bagian dalam komunitas ciptaan. Oleh karena itu, segala hal yang merusak ciptaan, seperti perburuan liar, perlu dihentikan sebab merusak tatanan yang telah Allah jadikan. Dengan demikian, kiranya penelitian ini dapat menjadi sumbangan dalam upaya menghadapi persoalan etis-teologis mengenai hubungan manusia dengan lingkungan, khususmya hewan.

“MORUK” Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Ritus Moruk di Jemaat GMIT Pniel Loomaten Klasis Malaka dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSRTAK Penelitian ini berjudul “MORUK” dengan sub-judul “ Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual terhadap Ritus Moruk di Jemaat GMIT Pniel Loomaten, Klasis Malaka dan Implikasinya bagi Gereja masa kini”. Ritus Moruk atau yang sering disebut Moruk Malu atau Moruk antar suku atau kampung. Moruk artinya Pemali atau larangan. Awal mula adanya ritus ini karena adanya perkelahian antara suku dan kampung yang mengakibatkan ada yang meninggal sehingga adanya sumpah yaitu: keturunan mereka tidak boleh menikah dengan warga atau warga kampung yang sudah ditentukan. Melalui ritus ini keluarga yang memiliki dendam atau keluarga yang berasal dari suku-suku yang ditetapkan sebagai Moruk Malu bisa membersihkan semua dendam di masa lalu dengan demikian pasangan yang akan menikah akan hidup bahagia. Untuk mencapai tujuan ini maka tulisan ini mengunakan penelitian kualitatif yang berusaha menjelaskan suatu fenomena dengan mengumpulkan sedalam-dalamnya data yang diteliti. Teknik yang digunakan adalah observasi lapangan serta wawancara kepada Majelis Gereja, Jemaat, Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh adat. Tujuan dari hal ini yakni memperlihatkan kesenjangan budaya dan iman bagaimana keduanya ada di dalam pertemuan dan ketegangan di waktu pelaksanaan ritus Moruk di Loomaten. Analisis teologi kontekstual dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa ritus Moruk ini memiliki nilai-nilai yang positif melalui pelaksanaannya Gereja juga beranggapan bahwa sebagai ritus lokal yang memiliki nilai yang sangat relevan dengan teologi kontekstual. Penelitianya ini sangat diharapkan agar dapat memberi sumbangsih bagi jemaat GMIT Pniel Loomaten. Dalam mencari dan melestarikan kerarifan lokal.

KEHADIRAN ALLAH “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pandangan Anak Yatim Piatu Mengenai Kehadiran Allah dan Implikasinya Bagi Kehidupan Anak Yatim Piatu di Jemaat GMIT Nazaret Taum, Klasis Amanuban Selatan”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehadiran Allah merupakan realitas transendental yang menjadi pusat pergumulan iman manusia, termasuk anak-anak yatim piatu. Dalam konteks Jemaat GMIT Nazaret Taum, terdapat kesenjangan pemahaman anak-anak yatim piatu mengenai kehadiran Allah. Sebagian merasakan kehadiran Allah melalui doa dan perenungan, sementara sebagian lainnya meragukan keberadaan-Nya akibat pengalaman kehilangan orang tua dan penderitaan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konteks kehidupan Jemaat GMIT Nazaret Taum, mengidentifikasi pandangan anak-anak yatim piatu tentang kehadiran Allah, serta melakukan refleksi teologis terhadap pandangan tersebut. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan sampel berjumlah 15 orang, terdiri dari 1 orang pendeta, 3 orang majelis jemaat, 2 orang anggota jemaat, dan 9 orang anak-anak yatim piatu. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Analisis data dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan metode penulisan deskriptif, analisis, dan refleksi. Kemudian penulis juga ingin mengetahui pandangan anak yatim piatu dengan pendekatan Ebenhaizer Nuban Timo, yaitu Allah yang transenden dan Allah yang imanen, dan implikasinya bagi kehidupan anak yatim piatu di Jemaat GMIT Nazaret Taum. Hasil penelitian menunjukkan sosok Allah yang di butuhkan anak yatim piatu di GMIT Nazaret Taum adalah Allah yang memberikan perlindungan, pengganti orang tua, yang dekat dan mendengar, yang menyayangi, yang tidak meninggalkan, Allah yang tidak mengabaikan dan tidak mengasingkan. Anak yatim piatu mengidentifikasi Allah sebagai sumber kasih sayang yang hilang dari orang tua mereka, sehingga mereka membutuhkan Allah yang memberikan perhatian dan kehangatan seperti halnya seorang ibu dan bapak yang memberikan belaian lembut, pelukan dan rasa aman. Berdasarkan refleksi teologis tersebut, saran bagi Gereja adalah dengan kehadiran Gereja ditengah jemaat harus mampu mewujudkan kehadiran Allah sebagai Ayah dan Ibu, melakukan pelayanan pastoral, dan berkolaborasi dengan pemerintah untuk membantu anak yatim piatu.

Teologi Tubuh Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemahaman Pemuda-Pemudi Pelaku Seks Bebas Mengenai Tubuh Jemaat GMIT Silo Naikoten I

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk pertama mengeksplorasi pemahaman para pemuda-pemudi pelaku seks bebas di Jemaat Silo Naikoten 1 tentang tubuh. Kedua menjelaskan makna esensial dari Teologi Tubuh Paus Yohanes Paulus II terhadap para pemuda-pemudi pelaku seks bebas. Penelitian ini memakai metode kualitatif dan terdiri dari 10 sampel terdapat 5 laki-laki dan 5 perempuan. Penulis juga mengkaji dan mendalami berbagai sumber yang berhubungan dengan tema tulisan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman pemuda-pemudi Jemaat Silo Naikoten 1 tentang makna tubuh itu beragam seperti menganggap tubuh sebagai objek pemuas nafsu, penghasil uang, struktur kehidupan. Dimana para pelaku seks bebas melihat kalau tubuh itu di pandang sebagai objek yang bisa untuk memuaskan nafsu badani mereka terlebih lagi mereka juga memandang kalau tubuh itu indah dan bisa diperjual belikan sehingga tidak melihat sebagai sebuah ciptaan Allah yang kudus. Berdasarkan pemahaman Paus Yohanes Paulus II tentang tubuh maka Teologi Tubuh melahirkan sebuah refleksi iman tentang makna seksual manusia. Pemaparan ajaran dalam Teologi Tubuh hendak mengajak umat beriman dan menanggapi berbagai perilaku dan gagasan menyimpang tentang pemahaman umum manusia tentang tubuh dalam perspektif iman. Hakikat tubuh sering diasumsi secara keliru. Tubuh dipandang sebagai objek pemuas seksual dan mengandung unsur komoditi dalam perekonomian. Oleh karena itu hasil analisa dapat disimpulkan bahwa pertama tubuh bukan lagi sebuah objek seksual dan sebagai alat untuk diperjual belikan. Kedua tubuh bukan lagi seonggok daging melainkan tubuh merupakan cara kita untuk berkomunikasi. Karena itu tubuh yang hadir merupakan sebuah kesatuan antara tubuh dengan pribadi ini tergambar dalam bahasa dalam tubuh yang tercetak saat manusia dilahirkan. Tubuh dapat mengungkapkan apa yang tak terlihat menjadi terlihat, sehingga tubuh memiliki nilai keluhuran dan keilahiannya.

PENYEMBUH YANG TERLUKA “Suatu Studi Teologis Terhadap Pemikiran Henri Nouwen Tentang Penyembuh Yang Terluka dan Implikasinya Bagi Pelayanan Pendeta di Jemaat GMIT Pniel Sikumana”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penderitaan dan luka batin dirasakan oleh semua manusia. Pendeta sebagai pelayan juga tidak luput dari luka. Pendeta harus tampil sebagai sosok yang kuat dalam keadaan terluka. Henri Nouwen menawarkan suatu pemikiran tentang penyembuh yang terluka. Penderitaan dan luka tidak boleh dipandang sebagai kelemahan. Henri Nouwen merupakan seorang imam Katolik Belanda yang mempunyai pengaruh dalam bidang spiritualitas Kristen dengan banyak karya selama hidupnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui secara detail pemikiran Henri Nouwen tentang Penyembuh yang Terluka. Konsep ini kemudian diimplikasikan bagi pelayanan Pendeta di GMIT Pniel Sikumana. Dalam penelitian ini Penulis menggunakan metode kepustakaan dengan mengumpulkan, membaca, menganalisis dokumen, buku dan karya yang berkaitan dengan konsep penyembuh yang terluka. Penulis juga melakukan penelitian lapangan guna melihat relevansinya dengan konsep penyembuh yang terluka. Penulis menemukan beberapa hal yang dapat menjadi sumbangsi bagi kehidupan pelayanan seorang pendeta berdasar dari Lukas 22:47-53. Bahwa seorang pelayan perlu meneladani Yesus. Pertama, Yesus adalah penyembuh sejati yang merujuk pada pribadi Yesus yang dapat memberikan kedamaian di tengah kekacauan. Kedua, Penderitaan Yesus sebagai sumber penyembuhan yakni bicara soal penderitaan Yesus untuk menebus umat manusia. Ketiga, Kehadiran Yesus yang menyembuhkan melalui kehadirannya dapat memberikan kedamaian. Keempat, Kerentanan Yesus sebagai teladan bahwa Yesus tidak pernah menyembunyikan kelemahan dan sisi manusiawinya.

TELADAN SEORANG PENATUA “Kajian Historis Kritis Titus 1:5-16 dan Implikasinya bagi Keteladanan Penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing, Klasis Alor Barat Laut”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Teladan adalah contoh atau panutan yang dapat dijadikan acuan dalam bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan. Seseorang yang menjadi teladan biasanya memiliki karakter, moral, atau keterampilan yang baik, sehingga layak untuk ditiru oleh orang lain.Dalam konteks kepemimpinan, teladan sangat penting karena seorang pemimpin yang baik harus mampu menunjukkan perilaku yang positif agar diikuti oleh bawahannya. Berkaitan dengan pengertian tersebut, penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing tidak menjadi teladan yang baik bagi jemaatny. Penatua yang mabuk saat memimpin ibadah jemaat. Penatua akan meminum sopi terlebih dahulu sebelum memimpin ibadah. Ini dilakukan untuk memuaskan atau menenangkan hati dan pikiran mereka, sehingga ibadah yang dilakukan tidak memenuhi standar pelayanan. Hal ini dilakukan oleh Penatua-penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing, bukan sekali saja mereka lakukan ini, tetapi sudah terus-menerus mereka lakukan. Jemaat terus-menerus mengeluh tentang pelayanan yang mereka lakukan seperti ini, sehingga mereka melakukan pelayanan tidak lagi sesuai dengan Firman Tuhan. Mabuk adalah salah satu hal yang sudah menjadi kewajiban utama bagi Jemaat Maranatha Limarahing sebelum melakukan sesuatu. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mencari tahu keteladanan penatua di Jemaat tersebut yang terus-menerus melakukan pelayanan dalam keadaan mabuk. Sehingga Tujuan dari penulisan untuk melengkapi bahkan menjadi salah satu acuan untuk bisa menjadi sebuah pedoman bagi jemaat tersebut untuk merubah akan tindakan mereka yang telah melanggar aturan dalam melakukan pelayanan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis, yang menyoroti elemen-elemen tafsir historis kritis seperti tempat nas dalam konteks, kritik sastra, bidang kehidupan, kritik nas, tafsiran ayat per ayat dan kerygma teologis. Hasil kajian yang ditemukan yaitu; 1). Pemimpin Jemaat yang menjadi Teladan yang baik; 2). Pemimpin Jemaat menjadi harus memiliki karakter yang Baik, terpuji serta Berintegritas. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan studi teologi tentang keteladanan Penatua serta manfaat praktis bagi para pemimpin gereja untuk meneladani syarat-syarat penatua yang ditunjukkan oleh Titus.

KESALEHAN HIDUP

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kesalehan merupakan ketaatan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah, serta kesungguhan dalam menunaikan ajaran agama. Kesalehan mengacu pada sifat atau keadaan seseorang yang menunjukkan ketaatan kepada Tuhan, kejujuran, dan kebaikan moral dalam hidup sehari-hari. Jemaat GMIT Sion Oepura sedang bergumul dengan banyak kemerosotan moral dan berbagai pengaruh modernisme, hal ini menjadi pergumulan gereja untuk mempertahankan eksistensinya. Oleh karena itu, praktik kesalehan sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan gereja masa kini. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya memelihara kesalehan hidup. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui dampak kesalehan hidup yang dilakukan oleh Anggota Persekutuan Doa, kemudian penulis juga hendak mengetahui model kesalehan seperti apa yang dihidupi oleh anggota Persekutuan Doa. Penelitian di Jemaat GMIT Sion Oepura menggunakan metode penelitian kualitatif dan dokumentasi dengan teknik observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflekif. Berdasarkan hasil analisis menurut teori Calvin, Penulis menemukan bahwa anggota Persekutuan Doa di Jemaat GMIT Sion Oepura lebih menekankan pada model kesalehan pribadi. Hal ini disebabkan oleh ciri-ciri kesalehan yang dihidupi memiliki kesamaan dengan ciri pietisme yang menekankan spiritualitas pribadi. Selain itu, terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemahaman anggota Persekutuan Doa. Pemahaman kesalehan yang benar adalah bagaimana memiliki kesalehan sejati, pembaharuan hidup dan penerapan kesalehan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan teologi tentang pemahaman makna kesalehan hidup serta memberi sumbangsih praktis kepada gereja dan masyarakat mengenai pentingnya praktik kesalehan hidup.

PENTINGNYA PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI ANAK USIA DINI DALAM KELUARGA ”Suatu Tinjauan Teori Pemikiran Horace Bushnell Terhadap Pelaksanaan PAK Bagi Anak Di Dalam Keluarga Dan Sumbangannya Bagi Kehidupan Keluarga Di GMIT Glorya Tuatuka"

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berfokus pada pentingnya pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi anak usia dini dalam keluarga Kristen, dengan studi kasus pada Jemaat GMIT Glorya Tuatuka. Masalah utama yang ditemukan adalah rendahnya penerapan nilai-nilai Kristiani dalam keluarga akibat keterbatasan waktu orang tua, kurangnya pemahaman tanggung jawab pendidikan iman, dan pengaruh teknologi modern. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis-reflektif, dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Penelitian ini mengacu pada teori Horace Bushnell tentang Christian Nurture, yang menekankan peran utama keluarga dalam menanamkan iman Kristen sejak dini melalui keteladanan dan interaksi alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga di Jemaat GMIT Glorya Tuatuka masih menyerahkan pendidikan agama kepada sekolah dan gereja. Namun, teori Bushnell relevan sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut, dengan mendorong orang tua mengambil tanggung jawab langsung dalam membentuk iman anak. Kesimpulannya, pendidikan agama Kristen dalam keluarga perlu ditingkatkan melalui keterlibatan aktif orang tua untuk menciptakan generasi Kristen yang berkarakter dan mampu menghadapi tantangan zaman.

DIAKONIA ALAM Suatu Tinjaun Teologis Pembangunan Jemaat Terhadap Bukit Doa To’ef dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Betania Teubaun Rabe, Klasis Amarasi Timur

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tugas dan panggilan gereja terwujud dalam panca pelayanan yakni koinonia, marturia, diakonia, liturgia dan oikonomia. Hakikat gereja, ada pada pelayanan diakonia. Dalam GMIT, dikenal dengan diakonia karitatif, reformatif, dan transformatif. Tiga jenis diakonia ini memiliki peran yang saling melengkapi dan perlu dijalankan secara seimbang sehingga mewujudkan kasih Allah secara menyeluruh dalam kehidupan setiap jemaat. Namun kenyataan untuk menjalankan ketiga jenis diakonia ini belum sepenuhnya dijalankan. Salah satu diakonia yang selalu dilakukan oleh GMIT adalah diakonia karitatif. Di jemaat GMIT Betania teubaun Rabe jenis diakonia karitatif ini selalu dijalankan secara rutin pada akhir tahun. Sedangka untuk jenis diakonia reformatif dan transformatif, belum sepenuhnya jalankan, terutama jenis diakonia Transformatif. Oleh Karena itu, melalui tulisan ini penulis ingin mengusulkan dan memperkenalakn model diakonia baru tentang “Diakonia Alam” model diakonia ini, penulis berangkat dari jenis diakonia transformatif. Diakonia alam merupakan konsep pelayanan yang berfokus kepada kemitraan antara manusia dan alam sebagai ciptaan Tuhan. Prinsip dasar dari diakonia alam adalah merawat dan menjaga alam ciptaan sebagai wujud syukur dari Anugerah Allah serta menggunakan dan menikmati sumber daya alam dengan bijak tanpa mengeksploitasi alam ciptaan Tuhan secara berlebihan. Dengan metode penelitian kualitatif, hasil yang didapatkan adalah Pembangunan jemaat perlu dilakukan untuk memahami tugas dan peran mereka sebagai jemaat Allah. Salah satu pelayanan yang perlu dilakukan oleh Gereja kepada jemaat adalah pelayanan Diakonia. Diakonia alam tidak hanya berfokus pada pelayanan sosial tetapi juga mencakup tanggung jawab umat untuk menjaga alam sebagai sarana membangun hubungan dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Bukit Doa To'ef menjadi contoh nyata di mana alam dipadukan dengan nilai-nilai spiritual, tempat yang mempertemukan iman dan alam, bukit ini memberikan dampak positif pada pertumbuhan rohani dan kebersamaan jemaat melalui doa, ibadah, dan kegiatan pelayanan yang berfokus pada lingkungan.

RELASI KRISTEN DAN ISLAM "Studi Teologi Agama-agama Berdasarkan Pemikiran Mordechai Martin Buber Tentang Relasi Antar Agama Dan Relevansinya Bagi Jemaat Sonbubun Oenay Klasis Amanuban Timur Selatan

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kerenggangan relasi antar umat beragama seringkali terjadi karena faktor politik, kesenjangan ekonomi dan sentiment etnis. Konflik ini dapat mengganggu toleransi dan keributan antar umat beragama dan sulit untuk diselesaikan. Meskipun pemerintah, masyarakat, dan gereja secara konsisten berusaha mengurangi kerenggangan hubungan ini, hasilnya tidak memuaskan. Tulisan ini ditulis untuk menambah diskusi tentang masalah ini dan menunjukkan sejauh mana pemikiran Moderchai Martin Buber tentang hubungan Aku dan Engkau dapat membantu upaya masyarakat Oenay untuk memperkuat hubungan antar umat beragama. Oleh karena itu, tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan memeriksa sumber pustaka terlebih dahulu, baik karya tulis maupun berita di media sosial. Berdasarkan hasil penelusuran literatur tersebut, maka relasi I and Thou dimaknai sebagai hubungan yang mendalam dan autentik dalam kehidupan manusia, baik dalam konteks sosial maupun spiritual. Konsep ini relevan untuk hubungan antar umat beragama di Oenay, di mana ada kerenggangan dalam hubungan. Beragam cara sudah dilakukan oleh pihak pemerintah maupun gereja, namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Karena itu, disamping gereja, pemerintah dan masyarakat bekerja untuk mempererat relasi, makan tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu tawaran untuk dipertimbangkan guna diterapkan dalam konteks di Oenay. Melalui tulisan ini, pada akhirnya diharapkan agar penerapan konsep relasi I and Thou dalam konteks relasi di Oenay harus dilihat secara positif dan kristis. Masyarakat sudah saatnya menyadari bahwa sangat penting untuk menciptakan keharmonisan sosial, di mana saling menghormati, memaknai perbedaan dan bekerja sama dapat memperkuat persatuan dalam kerangaman. Kata Kunci: Martin Buber, I and Thou, Relasi Islam-Kristen, Gereja.

PRAKSIS KRISTEN BERSAMA " Tinjauan Teologis Terhadap Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen bagi Pemuda di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba dengan Menggunakan Metode Shared Christian Praxis"

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berfokus pada tinjauan teologis terhadap Pendidikan Agama Kristen bagi pemuda menggunakan metode Shared Christian Praxis di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba. Metode SCP yang diperkenalkan oleh Thomas H. Groome menawarkan pendekatan yang partisipatif dengan mengintegrasikan pengalaman hidup peserta ke dalam refleksi teologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Pendidikan Agama Kristen yang ada dan bagaimana metode SCP dapat memberikan relevansinya dalam menghadapi tantangan Pendidikan Agama Kristen di era modern. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 20 narasumber yang terdiri atas Pemuda, Pendeta, Pengajar Katekisasi, dan Pengurus Pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode SCP belum diterapkan di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba, namun terdapat potensi besar untuk dikembangkan. Para narasumber menyatakan bahwa metode Pendidikan Agama Kristen yang ada di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba terlalu monoton dan satu arah. Secara teologis, metode SCP sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan Iman yang berfokus pada dialog antara Firman Tuhan dan pengalaman hidup. Penelitian ini merekomendasikan penerapan metode SCP dengan strategi yang kontekstual, melibatkan pelatihan bagi pelayan dan pemuda untuk memahami tahapan pelaksanaannya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Ulangan 6:6-7 sebagai Refleksi Teologis. Dengan demikian, SCP diharapkan dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam membangun iman pemuda secara holistik dan transformatif.

GEREJA KAPAL Suatu Tinjauan Eklesiologis Terhadap Gereja Model Kapal di Jemaat GMIT Syalom Tunggaoen Klasis Rote Barat dan Implikasinya Bagi Persekutuan Jemaat

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Persekutuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan gereja, karena merupakan inti dari gereja itu. Namun dalam kehidupan gereja saat ini sering kali persekutuan dalam gereja diperhadapkan pada persoalan baik itu antar anggota gereja dan pengaruh tantangan globalisasi yang membuat gereja benar-benar harus menemukan pemahaman yang benar tentang dirinya. Jemaat GMIT Syalom Tunggaoen sendiri sedang diperhadapkan pada persoalan persekutuan dalam gereja di mana adanya gereja marga sangat kuat dan mempengaruhi persekutuan jemaat. Gambaran ini menunjukkan bahwa persekutuan yang ada di jemaat Syalom Tunggaoen ini sedang diperhadapkan pada persoalan. Jemaat sendiri membangun gedung gereja model kapal yang tentunya mempunyai sebuah makna teologis yang kemudian akan membuat jemaat memahami dan menemukan pemahaman gereja yang benar dalam persekutuan jemaat. Tujuan penelitian ini yakni untuk menemukan makna teologis dari gereja model kapal kemudian dikaji secara eklesiologis berdasarkan pendekatan model gereja sebagai tubuh Kristus yang dikemukakan oleh Yohanes Calvin dan implikasinya bagi persekutuan jemaat dan gereja masa kini. Penelitian di jemaat GMIT Syalom Tunggaoen menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisan yang digunakan yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan analisis, menurut teori Yohanes Calvin penulis menemukan bahwa makna gereja model kapal di jemaat GMIT Syalom Tunggaoen dengan tiga poin penting yang menjadi refleksi yakni Kristus Sebagai Nakhoda, terdiri dari jemaat yang sedang dalam pelayaran, dan orang-orang percaya yang diselamatkan.

PERUBAHAN FUMGSI BUKIT LIMAN: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, Klasis Semau

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan fungsi Bukit Liman dalam perspektif ekoteologi, dengan fokus pada perspektif Sallie McFague tentang alam sebagai tubuh Allah. Bukit Liman, yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan spiritual yang mendalam bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, mengalami perubahan fungsi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini berdampak pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan spiritual jemaat, mengingat hubungan erat mereka dengan alam sebagai bagian dari persekutuan dengan Tuhan dan ciptaan-Nya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan studi kasus yang fokus pada perubahan penggunaan lahan di sekitar Bukit Liman dan dampaknya terhadap jemaat serta lingkungan sekitar. Penelitian ini juga mengkaji relevansi pemikiran Sallie McFague dalam konteks perubahan fungsi Bukit Liman, terutama konsepnya mengenai alam sebagai tubuh Allah yang menyiratkan perlunya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, penelitian ini menggali bagaimana pandangan ekoteologi ini dapat menjadi dasar bagi tindakan teologis jemaat dalam menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian dari panggilan iman mereka untuk menjadi penjaga ciptaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Bukit Liman membawa tantangan bagi jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, namun juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pemikiran ekoteologi dalam kehidupan spiritual dan sosial mereka. Jemaat dihadapkan pada pilihan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memahami perubahan fungsi Bukit Liman sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan visi gereja yang berbasis pada tanggung jawab ekologis dan spiritual. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih dalam tentang ekoteologi dalam konteks gereja lokal dan masyarakat adat, serta menekankan pentingnya pengelolaan alam yang berkelanjutan berdasarkan perspektif teologis yang menekankan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari ciptaan Allah yang harus dijaga.

"LAMATUAK" Sub Judul : Tinjauan Teologi Feminis Tentang Lamatuak dan Implikasinya Bagi Persekutuan Jemaat GMIT Galed Mbadokai Klasis Rote Barat Daya

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berfokus pada pemahaman jemaat GMIT Galed Mbadokai tentang Lamatuak. Lamatuak dalam pemahaman jemaat masa kini merupakan bagian integral dari kehidupan spiritual setiap jemaat yang dipercaya sebagai Allah yang memberikan kehidupan bagi setiap jemaat bahkan semua manusia yang hidup di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman jemaat secara teologi feminis tentang Lamatuak untuk menemukan dan menggali pemahaman jemaat mengenai Lamatuak serta memberikan implikasinya bagi persekutuan Jemaat GMIT Galed Mbadokai. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan lapangan dan kepustakaan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi literatur dengan 23 informan yang terdiri dari pendeta, majelis jemaat, anggota jemaat dan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat GMIT Galed Mbadokai mengakui Lamatuak sebagai Allah yang sama di dalam kekristenan, gambaran jemaat tentang Lamatuak dalam budaya dan keagamaan adalah seorang laki-laki dan bukan perempuan, namun jemaat tidak menyadari bahwa dalam pengungkapan mereka ada sisi-sisi feminin Allah yang diungkapkan dalam konsep mereka terhadap Lamatuak. Penilitian ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara konsep yang dianut oleh jemaat dan praktik mereka tentang paham konsep terhadap Lamatuak. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan refleksi teologi feminis tentang bagaimana Lamatuak dapat dipandang sebagai Allah yang setara, juga mengungkapkan bahwa sifat Lamatuak sebagai Allah yang merangkul semua gender dan yang terakhir Lamatuak sebagai konsep Allah yang setara. Implikasi dari temuan ini diharapkan dapat memberi wawasan baru terhadap pemahaman jemaat tentang Lamatuak yang tidak terbatas gender serta memperjuangkan kesetaraan perempuan dalam budaya yang dimunculkan dari konsep kepercayaan yang dianut oleh jemaat yang disebut sebagai Lamatuak.

TANGGUNG JAWAB TERHADAP ORANG LAPAR: Suatu Kajian Naratif Terhadap Injil Lukas 9:10-17 dan Implikasinya Bagi Pelayanan Jemaat GMIT Efata Deme, Klasis Sabu Barat Rajiua Dalam Menyikapi Persoalan Stunting

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada menafsir teks untuk memberi sumbangan bagi gereja dalam mengatasi masalah stunting. Stunting adalah persoalan sosial yang mencolok di NTT dan didapati pada anak di usia prasekolah. Stunting disebabkan oleh berbagai hal yang bermuara pada kurangnya asupan makanan yang bergizi sesuai kebutuhan gizi anak. Stunting memiliki dampak buruk yang dapat memengaruhi kehidupan pengidapnya di masa depan. Stunting perlu disikapi oleh berbagai pihak termasuk GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme sebagai persekutuan yang meniru Kristus. Dalam menyikapi stunting dibutuhkan sikap tanggung jawab. Tulisan ini berupaya memaknai sikap tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sesuai hasil penafsiran teks Injil Lukas 9:10-17 dengan menggunakan metode tafsir naratif. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sebagaimana yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Yesus, dapat dibawa dalam konteks GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme dalam menyikapi stunting. Dalam upaya mengatasi stunting sikap awal yang mesti dilakukan oleh gereja ialah melayankan hospitalitas. Hospitalitas ini akan melahirkan tanggung jawab terhadap penderita stunting baik di dalam maupun luar gereja. Lebih lanjut, tanggung jawab yang lahir dari hospitalitas ini harus diwujudkan dengan memberi makanan yang bergizi sampai kenyang kepada penderita stunting. Perwujudan tanggung jawab terhadap penderita stunting ini dilaksanakan oleh gereja dengan membangun kemitraan atau bekerja sama dengan pemerintah, tenaga kesehatan, agama dan denominasi lain serta lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap mereka yang menderita stunting.

KONSEP AGAMA PUBLIK “Suatu Studi Terhadap Pemikiran José Casanova Mengenai Konsep Agama Publik dan Relevansinya Bagi Pelayanan Jemaat GMIT Silo Naikoten I, Klasis Kota Kupang”

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah penelitian mengenai kajian terhadap pemikiran Casanova mengenai Konsep Agama Publik dan relevansinya dengan pelayanan Jemaat GMIT Silo Naikoten I. Dalam realita yang ditemukan, maka penulis menemukan bahwa Gereja dalam program pelayanan belum menunjukkan peran Gereja di tengah masyarakat sebagai ruang publik, sebab Gereja dipanggil untuk berperan bagi dunia disekitarnya lewat pelayanan itu sendiri. Gereja dipanggil ke dunia untuk memperlihatkan karya Allah secara universal bagi dunia. Realita dalam konteks Jemaat Silo Naikoten I sendiri tidak sejalan dengan Konsep Agama Publik Casanova. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif, khususnya studi kepustakaan untuk menganalisis mengenai biografi Casanova, teori, dan melihat relevansi antara teori dan konteks masalah. Dalam kajian penulis, penulis menemukan bahwa Gereja belum berperan bagi ruang publik lewat program pelayanan yang ada, sebab faktor cara berpikir jemaat, kurangnya kemitraan, dan pembangunan Gereja. Hal lain yang penulis temukan ialah dalam beberapa kesempatan terlihat bahwa Gereja melakukan kemitraan, namun sasaran program ialah hanya untuk jemaat secara internal. Hal ini tidak hanya sejalan dengan Konsep Agama Publik Casanova secara sosiologi, tetapi secara teologis, hal ini pun tidak sejalan dengan Naskah Teologi Panca Pelayanan GMIT, dan Panca Pelayanan GMIT. Penulis pun menarik refleksi teologis berdasarkan Injil Matius 5:13-16 mengenai garam dan terang dunia untuk menjawab akan peran Gereja yang seharusnya berdampak keluar. Pada akhirnya, penulis menarik kesimpulan bahwa Jemaat GMIT Silo dalam pelayanannya perlu untuk bersifat publik sehingga ia tetap relevan dalam konteks masa kini, dan sebaliknya tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

MENYELAMI PERJUANGAN IBU TUNGGAL: Kajian Biblis dengan Pendekatan Reader Respons dan Naratif terhadap Teks Injil Markus 7:24-30 dan Implikasinya bagi Pelayanan Jemaat yang Berstatus Ibu Tunggal di GMIT Imanuel Oepura

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Menjalankan peran sebagai seorang ibu tunggal bukanlah hal yang mudah. Tentu ia akan menghadapi berbagai kesulitan baik itu dari segi psikologis, ekonomi dan sosial. Sama halnya dengan apa yang dialami oleh perempuan Siro Fenisia. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 dengan metode tafsir Reader Respons. Metode ini menafsirkan makna teks berdasarkan pengalaman pembaca. Sampel penelitian terdiri dari 12 ibu tunggal sebagai pembaca masa kini sekaligus penafsir teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 menghasilkan kerygma seputar perjuangan seorang ibu. Maka kerygma yang lahir sangat dekat dengan kehidupan pembaca masa kini. Hal ini disebabkan pengalaman yang dibawa oleh pembaca juga mempengaruhi makna yang dihasilkan. Penulis juga menemukan bahwa penggunakan metode tafsir Reader Respons tidak dapat menemukan makna original dari teks. Hal ini penulis temukan ketika melakukan penafsiran dari dalam teks dengan metode naratif. Selain itu, dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa kekurangan dalam metode ini dapat dilengkapi oleh metode naratif. Dari kedua metode ini, terdapat dua pesan dari teks Injil Markus 7:24-30 yang lahir oleh pendekatan Reader Respons maupun Naratif yakni “Iman percaya seorang ibu kepada Yesus Kristus membuahkan pertolongan Tuhan dan Yesus tidak diskriminatif dalam pelayanan-Nya”. Berdasarkan berbagai uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa kedua metode pendekatan ini perlu dilakukan atau diperhatikan secara berimbang untuk memperkaya makna penafsiran suatu teks. Gereja harus belajar dari kisah Perempuan Siro Fenisia ini untuk mengupayakan pelayanan yang menyentuh seluruh ibu tunggal yang ada.

RITUAL GELAK WAHA- Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK RITUAL GELAK WAHA Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores Kesehatan merupakan aspek paling berharga dalam kehidupan manusia, namun sakit menjadi tantangan besar yang kerap kali sulit diatasi meski dengan kemajuan pengobatan modern. Sebagai alternatif, pengobatan tradisional yang mengandalkan kepercayaan dan pengalaman turun-temurun tetap relevan di beberapa masyarakat, termasuk dalam konteks ritual Gelak Waha yang dilakukan oleh masyarakat Beloaja di Flores. Ritual ini bertujuan mencari kesembuhan melalui prosedur magis dengan melibatkan dukun serta penggunaan bahan alami, seperti sirih, pinang, dan ayam kampung. Penelitian ini mengkaji makna dan nilai yang terkandung dalam ritual Gelak Waha serta implikasinya terhadap pelayanan gerejawi di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Permasalahan utama yang diangkat meliputi pemahaman jemaat tentang konteks lokal, kesembuhan, dan refleksi teologis terhadap praktik tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian jemaat GMIT telah mengadopsi ajaran Kristen, mereka masih menjalankan ritual Gelak Waha karena kepercayaan turun-temurun kepada Lera Wulan sebagai entitas pelindung dan penyembuh. Hal ini memunculkan tantangan bagi gereja dalam mendampingi jemaat untuk memahami kesembuhan sebagai anugerah Allah yang dapat terjadi melalui berbagai cara, baik secara medis maupun spiritual. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang kesembuhan melalui ritual Gelak Waha serta menyajikan refleksi teologis untuk mendorong pendekatan yang kontekstual dalam pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi bagi pengembangan pelayanan gereja dalam menghadapi fenomena sinkretisme budaya dan iman. Kata kunci: Ritual Gelak Waha, teologi kontekstual, kesembuhan, pelayanan gereja.

KOMUNITAS YANG MENYEMBUHKAN

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.

A COURSE IN PHONETICS AND SPOKEN ENGLISH

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

This much improved revised edition of the book takes into account the needs of the student in the context of the present curricula followed in various universities and English language teaching institutes. This edition therefore devotes a new chapter to Assimilation, a section to Tones in relation to Attitudes, and highlights certain important aspects of pronunciation, such as rules of word accentuation.Starting with general phonetics, the book goes on to give a brief functional account of general phonology and then a selective and yet fairly exhaustive description of the phonetics and phonology of English. It also provides a number of conversational passages in phonetic script as well as in ordinary spelling for practice in reading aloud. What sets this text apart is its novelty of approach and lucidity of treatment. English pronunciation is followed as per the "Received Pronunciation of England". This text is specially designed for postgraduate students of English, undergraduate and postgraduate students of Linguistics, and for those undergoing secondary and tertiary level teachers' training programmes in English.