Profil penulis
D
3.452 karya publik ditemukan.
DASAR DASAR ILMU FILSAFAT TIMUR DAN BARAT
Buku ini ditulis untuk menambah buku filsafat yang sekarang mulai banyak beredar di Indonesia. Buku Dasar-dasar Ilmu filsafat ini untuk mengenalkan perbedaan filsafat dan ilmu filsafat yang belum banyak mendapat perhatian. Buku ini juga membahas perkembangan ilmu Filsafat Timur yang masih sedikit dibicarakan dalam buku-buku filsafat yang lain. Banyak penulis filsafat dari Timur yang belum memperhatikan perkembangan ilmu Filsafat di negara-negara Timur, dan buku ini memberikan gambaran bahwa orang Timur juga perlu mengembangkan ilmu Filsafat yang bercorak Timur.
Sari sejarah filsafat barat
Mengurai Kesenyapan Bahasa Mistik: Dari Filsafat Analitik Ke Epistemologi Hudhuri
Buku ini mencoba mengkaji pandangan dua filsuf dari genre Filsafat Analitik: Ludwig Wittgenstein (1889-1951) dan Mehdi Hairi Yazdi (1923-1999), khususnya respons mereka terhadap keabsahan dan kebermaknaan bahasa mistik. Masalah pokok yang diketengahkan dalam buku ini yaitu: pertama, bagaimana posisi bahasa sebagai medium ekspresi filsafati terkait keabsahan bahasa mistik. Kedua, bagaimana system ofthought kedua filsuftersebut dalam kaitannya dengan problem keabsahan bahasa mistik. Ketiga, bagaimana implikasi dan konsekuensi pemikiran kedua filsuf tersebut dalam kancah pemikiran filsafat kontemporer, khususnya jika dikaitkan dengan fenomena New Age. Pembaca akan mendapati beberapa terra menarik seperti: aras konseptual bahasa mistik, bahasa dan pengalaman mistik, ke arah perumusan bahasa mistik, pengalaman mistik, fisika quantum, dan New Age. Dengan pemaparan tema tersebut buku ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa program S-1, S-2 maupun S-3 yang sedang mempelajari dan mendalami Filsafat Islam, Filsafat Ilmu, Filsafat Bahasa, dan Mistisisme Islam. *** Persembahan penerbit Kencana (PrenadaMedia)
Epistemologi dalam Filsafat
Epistemologi sebagai sebuah cabangkajian dalam filsafat, membahas tentang karakteristik, asal usul, dan batasan-batasan pengetahuan manusia (Martinich: 2019). Termin ‘epistemologi’ berasal dari bahasa Yunani, yaitu epistēmē atau "pengetahuan" dan logos yang berarti "nalar" atau “ide”, sehingga epistemologi secara konseptual dapat dipahami sebagai teori ilmu pengetahuan. Epistemologi memiliki sejarah panjang dalam filsafat Barat, berakar dari tradisi Yunani kuno dan berlanjut hingga saat ini. Bersama dengan metafisika, logika, dan etika, epistemologi adalah satu dari empat cabang utama filsafat, dan dikembangkan oleh hampir semua filsuf besar yang dikenal sepanjangsejarah. Epistemologi merupakan bidang kajian yang sangat sentral dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karena tema pokok dan isu-isu terkait dengannya, sebagaimana diuraikan secara ringkas dalam makalah ini, pada intinya berupaya menjawab bagaimana manusia mengetahui sesuatu? Sebangun dengan pertanyaan itu, bagaimana manusia, melalui pemikirannya membangun ilmu pengetahuan? Isu-isu pokok sepertibatasan sensasi dan persepsi manusia, berbagai konsep ilmu pengetahuan (Mental vs Non-Mental, Occasional vs Dispositional, A Priori vs A Posteriori, Necessary vs Contingent, Tautologi vs Signifikan, Bawaan vs Latihan), perbedaan paradigmatik atas dunia luar dan alam pikiran lain, hingga tiga aliran pemikiranyang berkembang; Rasionalisme, Empirisme dan Skeptisisme, membantu mengkonstruksi gagasan bagaimana epistemologi sebagai sebuah cabang dari filsafat betkontribusi dalam pengembangan iu pengetahuan dalam kehidupan manusia.
FILSAFAT ISLAM SEBUAH WACANA KEFILSAFATAN KLASIK HINGGA KONTEMPORER
Dalam banyak kalangan, filsafat dipersepsi sebagai sebuah pengetahuan yang menyeramkan, susah, ruwet, dan membingungkan. Sehingga sering terdengar ungkapan para penikmat filsafat “Kebingungan adalah awal dari terkuaknya kebenaran”. Namun demikian, benarkah filsafat merupakan suatu disiplin yang tidak membumi. Sehingga tidak banyak orang yang sudi mendekatinya, Secara sederhana, filsafat dapat dimaknai sebagai metodologi berfikir. Dengan demikiran, jika berfikirnya secara metodis maka sudah pasti akan dilakukan secara sistematis (terencana, step by step), komprehensip (Menyeluruh /Multiperspektif) dan radikan(Berfikir keras, sampai pada hakikat yang dapat difikirkan). Pada tahap inilah kemudian filsafat seakan menjauh dari kebanyakan orang yang gemar berfikir sederhana. Sementara itu, filsafat sebagai sebuah metodologi berfikir, memiliki tiga cabang (landasan) yang dapat digunakan untuk menetap sebuah proyek sudah layak disebut sebagai ilmu atau tidak. Yaitu pertama disebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang ditelaah ilmu. Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindra) yang membuakan pengetahuan. Kedua disebut dengan landasan epistemologis; berusaha menjawab bagaimana proses pengetahuan itu diperoleh. Mulai dari sumber pengetahuan, metode mendapatkan pengetahuan, sampai pada verifikasi / pemeriksaan tentang ilmu yang diperoleh. Sedang yang ketiga disebut dengan landasan aksiologi; landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Bagaimana kaitan anatar acara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah normal.
DASAR-DASAR FILSAFAT ILMU
Buku yang merupakan bagian dari dasar-dasar atau pengantar dalam dalam bidang filsafat ilmu secara umum. Buku yang sederhana ini sengaja ditujukan bagi khalayak umum, pemerhati filsafat ilmu, mahasiswa level sarjana maupun pascasarjana di lingkungan perguruan tinggi yang biasanya subjek ‘filsafat ilmu’ hadir sebagai ilmu bantu untuk bidang-bidang lain dan termasuk juga di berbagai prodi baik di lingkungan perguruan tinggi Islam (PTKIN/PTKIS) maupun Perguruan Tinggi Umum di bawah Kemendikbud-dikti Mudah-mudahan buku kecil yang sederhana ini dapat menambah khazanah literatur di bidang filsafat ilmu kontemporer di masa sekarang dan yang akan datang terutama di lingkungan pekerjaan maupun Pendidikan tinggi di Madura.
Filsafat Umum Zaman Now
Filsafat sebagai induk dari semua ilmu atau the mother of sciences menjadi diktum urgensi yang mendasari untuk melakukan penguatan pemahaman, pendalaman, dan penelitian objektif secara kontinu tentang studi filsafat. Filsafat umum sebagai salah satu kajian keilmuwan yang dijadikan nomenklatur mata kuliah tidak sekadar berisi ilmu, teori, konsep (tasawwur), bahkan kredo yang bertele-tele. Lebih dari itu, filsafat merupakan induk dari semua ilmu yang membuka cakrawala berpikir dari konseptual hingga implementatif. Tidak ada landasan pengembangan ilmu yang lepas dari filsafat. Semua perguruan tinggi, dari yang ekstrem kanan, moderat dan kiri, semua butuh filsafat. Untuk itu, penulis ingin fokus mengembangkan kajian filsafat umum sebagai salah satu bahan untuk meneliti, mengembangkan dan membongkar hal-hal baru, khususnya di era Revolusi Industri 4.0 ini yang memang sarat akan ketercerabutan (disruptive, disruption). Perubahan besar, sangat ditentukan dari perubahan cara berpikir. Pola dan cara berpikir benar, baik, dan indah, maka akan menentukan perkataan dan perbuatan, bahkan putusan benar, baik dan indah, begitu sebaliknya. Urgensi filsafat sebagai the mother all of sciences menjadi landasan bagi perkembangan pikiran manusia. Lewat sumber daya berkualitas, maka akan mampu menjawab tantangan era Revolusi Industri 4.0 ini. Apalagi, keharusan kita di abad 21 ini tidak sekadar dituntut memiliki “kompetensi, karakter dan literasi” yang hanya pada literasi lama. Mulai dari membaca, menulis, dan berhitung. Revolusi Industri 4.0 mengharuskan kita memiliki bekal literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan sumber daya manusia (humanisme). Di situlah tampak jelas, filsafat selalu relevan dalam kehidupan manusia. Filsafat umum mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubugan di antara segenap ilmu. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan, kesatuan perjenjangan, susunan kenyataan, dan sebagainya. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu pendidikan. Seiring berkembangnya roda kehidupan yang sekarang sudah sampai abad 21 yang dikenal sebagai era milenial yang dari beberapa definisi, “generasi milenial” didominasi mereka “Generasi Y” (generasi yang lahir di atas tahun 1980-an - 1997). “Generasi Y“ ini merupakan eranya mereka yang hidup setelah “Generasi X”. Generasi milenial, juga sudah selesai karena sekarang eranya sudah “Generasi Pascamilenial” yang dikenal dengan “Generasi Z” (generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1995 sampai 2014). Setelah “Generasi Z”, sekarang sudah mulai datang “Generasi Alfa” (generasi yang lahir setelah tahun 2010 dengan usia paling tua adalah anak-anak usia 5 tahun). Satu akar kata dengan kata “alfa” adalah “Alfatihah”, “Alfabet”, “Alfanumerik” dan kata atau idiom “Alfun”. Alfatihah merupakan ummul kitab, surat pembuka dalam Alquran. Sementara alfa merupakan nama huruf pertama abjad Yunani, bisa berarti yang pertama, permulaan. Sedangkan alfabet adalah abjad. Makna dari alfanumerik sendiri berarti rangkaian aksara yang dapat terdiri atas huruf, angka, tanda baca, atau lambang Matematika. Dari definisi dan analisis generasi ke generasi secara rumus konvensional-digital di atas, bisa dipetakan bahwa generasi milenial (Generasi Y), kemudian generasi Pascamilenial (Generasi Z), dan Generasi Alfa, adalah mereka yang hidup dan duduk di bangku SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA bahkan mahasiswa. Mereka merupakan generasi yang hidup dalam “benua maya” dan dalam lingkungan internet. Untuk Generasi Alfa sendiri dalam konteks ini, bisa dikatakan sebagai generasi wahid, pertama, awal, lalu pembaharu, pemula, pelopor, generasi pertama setelah generasi yang ada sebelumnya, dan mendominasi kehidupan, terutama di dunia pendidikan. Buku ini merupakan bahan ajar kuliah yang dalam penyusunannya, penulis menggunakan riset perpustakaan atau kajian pustaka, serta kajian empirik lapangan, khusunya di dunia pendidikan. Bab pertama, mendekonstruksi ilmu, filsafat, dan agama. Bab kedua, mengkaji ruang lingkup filsafat. Bab ketiga, membedah filsafat manusia. Bab keempat, menguliti konsep diri (self concept) dalam perspektif filsafat. Bab kelima, membedah akal-badan, dan relasi keduanya. Bab keenam, mengkaji manfaat, implikasi filsafat, dan hubungannya dengan bidang ilmu pendidikan. Bab ketujuh, membedah metodologi dan klasifikasi filsafat ilmu dari para filsuf. Bab kedelapan, membahas perkembangan ilmu. Bab kesembilan, membahas hubungan antara ilmu dengan value (nilai). Bab kesepuluh, membahas relevansi nilai-nilai Islam bagi pengembangan ilmu. (*)
Aliran-aliran Filsafat & Etika
Buku Aliran-aliran Filsafat dan Etika ini, merupakan upaya penulis mempersembahkan kontribusi positif sekaligus menawarkan alternatif kolaborasi aliran filsafat Barat dengan Islam. Demi pemahaman komprehensif tentang pokok bahasan, bagian awal buku ini dijadikan wadah pemaparan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan dasar tentang filsafat. Setelah itu, didasari dengan sistematika kronologi waktu, penulis mulai membawa menikmati puncak pemikiran para filsuf besar. Dengan luwes, beliau membawa kita untuk menemukan benang merah yang mengindikasikan kontinuitas pemikiran yang menghubungkan satu zaman ke zaman berikutnya, dari satu filsuf besar ke filsuf besar lainnya. Pemaparan mendalam tersebut yang kemudian dikolaborasikan dengan berbagai pemikiran falsafi Al-Qur’an untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tapi juga kritis. Buku persembahan penerbit PrenadaMediaGroup
Ihktisar sejarah filsafat barat
Sejarah filsafat barat
PENERAPAN BIOTEKNOLOGI VERSUS LINGKUNGAN HIDUP : PERSPEKTIF FILSAFAT LINGKUNGAN
Buku ini berupaya untuk menyelidiki landasan filosofis yang lebih dalam terkait dengan gerakan ligkungan dan mudah-mudahan buku yang sederhana ini dapat menambah khasanah literatur khususnya di bidang filsafat lingkungan dan ilmu filsafat pada umumnya di masa sekarang dan yang akan datang
Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu, Perspektif Barat dan Islam karya Dr. Adian Husaini, dkk. ini merupakan kumpulan makalah yang menyeimbangkan dan meluruskan filsafat ilmu yang saat ini banyak mendapat pengaruh dari paham-paham sekularisme –menolak agama–. Menyajikan buku dengan gagasan “Islamisasi ilmu” adalah suatu hal yang sangat menantang, mengingat perkembangan ilmu pada saat ini cenderung menolak campur tangan agama dalam segala aspek kehidupan. Kaum sekularis mengajak pengikutnya untuk menolak “keberadaan dan kehadiran” Tuhan dalam segala aspek kehidupan karena menurut mereka ide tentang Tuhan “mengganggu” kebebasan manusia. Kumpulan makalah ini penting bagi para pencari ilmu. Yaitu, sebagai filter dalam penyerapan ilmu-ilmu yang berkembang di kampus-kampus saat ini, serta memberikan kejernihan dalam berpikir dan ketenangan dalam mengambil keputusan, bukan kegoncangan dan kebingungan. Dalam buku ini juga diuraikan bagaimana perbedaan pola pikir seorang sekular dengan Muslim dalam proses keilmuan. Hal tersebut sangat penting untuk diketahui supaya seorang Muslim dapat mendudukkan ilmu sebagaimana mestinya, bukan justru menyesatkan. Penyajian makalah dalam buku ini tidak terlepas dari worldview Islam dalam tradisi keilmuan. Para penulis yang merupakan pakar-pakar pemikir Islam, yang tak diragukan lagi kefaqihan dalam ilmunya, berupaya mengembalikan ilmu, dalam perspektif yang benar dan mengungkapkan kelemahan metodologi keilmuan Barat melalui sanggahan-sanggahan terhadap teori-teori mereka secara ilmiah.
Filsafat Ilmu
Sebagai landasan filosofis bagi tegaknya suatu ilmu, peran Filsafat Ilmu dalam struktur bangunan keilmuan tidakbisa disangsikan lagi. Filsafat ilmu banyak menawarkan pola pikir dengan memperhatikan objek dan subjek ilmu, termasuk pola pikir logika sebagai bagian inheren di dalamnya. Bahkan filsafat ilmu merupakan instrumen dalam proses penggalian suatu ilmu, sekaligus memberikan kerangka pada rangkaian kegiatan keilmuan. Demikian signifikansi filsafat ilmu dalam konteks pengembangan keilmuan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang saya tulis sejak berada di Mesir, saat strata satu, dan secara khusus saat aktif menulis di Jurnal OASE (Media silaturahmi ICMI Kairo).Ê Saat belajar filsafat ilmu di IAIN Bandung, (kini UIN) penulis merilis tema demi tema sesuai judul-judul dalam buku filsafat ilmu. Kemudian saat kuliah program doktoral di UIN Jakarta, tema-tema yang berkaitan kembali satu per satu dirangkai untuk melengkapi keutuhan tematik kajian filsafat ilmu. Dalam buku ini diperkaya penulisannya ketika penulis terlibat mengajar matakuliah filsafat ilmu di IAIN Batusangkar dalam rentang 5 semester. Kekuatan buku ini terletak pada tema pembahasan yang dirilis berdasarkan kebutuhan tematik para mahasiswa pascasarjana. Lewat diskusi-diskusi yang intensif, para mahasiswa memberi sumbangan ide bagi penulisan buku ini yang disampaikan melalui pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi. *** Persembahan penerbit Kencana (Prenadamedia Group)
Para pencari tuhan
Filsafat Hukum Teori & Praktis
Cakupan utama buku ini meliputi: manusia dan pengetahuan; filsafat, hukum, dan filsafat hukum; sejarah perkembangan filsafat; aliran dalam filsafat hukum; hukum dan moral; kerangka ilmiah etika profesi; hukum dan keadilan; serta hukum dan kebenaran. --- Buku persembahan penerbit Kencana (Prenadamedia)
Descartes, Spinoza, Berkeley
Bacaan tentang bagaimana proses pemikiran filsafat selalu menjadi hal yang menarik untuk dibaca bagi sebagian orang. Dengan kata lain, dapat dilihat bagaimanakan ilmu filsafat itu berkembang. Filsafat dibilang merupakan ilmu dari segala ilmu yang ada, sebab filsafat merupakan pertanyaan tentang keberadaan. Buku ini menelisik bagaimana pemikiran filsafat dai tiga tokoh yang diambil yaitu Descartes, Spinoza, dan Berkeley. Dengan mengambil inti dari pemikiran mereka, buku ini menarik untuk yang ingin mempelajari inti filsafat dasar dari ketiga tokoh di atas tadi.
Filsafat Santo Agustinus
Santo Agustinus yang juga dikenal dengan Agustinus dari Hippo adalah seorang uskup sekaligus filsuf yang membawa pembaruan. Dia mengembangkan pendekatan dalam filsafat dan teologi dengan mengakomodir berbagai metode dan sudut pandang. Pemikirannya mampu memengaruhi perkembangan filsafat Barat dengan signifikan. Untuk memahami arus pemikiran Abad Pertengahan, pengetahuan seputar Agustinianisme sangatlah penting. Ketika Kekaisaran Romawi Barat mulai pecah, dia mengembangkan sebuah konsep tentang Kota Tuhan yang spiritualis, berbeda dengan kota duniawi yang materiil. Dia juga membantu merumuskan konsep-konsep pelik dalam teologi dan dianggap sebagai pembawa teologi reformasi karena ajarannya tentang rahmat Ilahi dan keselamatan. Dalam Kekristenan Timur, sejumlah ajarannya diperdebatkan dan secara khusus pada abad ke-20 mendapat serangan dari sebagian teolog, sementara sebagian lain memanfaatkan karya-karya tulisnya. Ajaran-ajaran lain yang diperdebatkan mencakup pandangannya mengenai dosa asal, doktrin mengenai rahmat atau anugerah, kehendak bebas, predestinasi, dan lain sebagainya. Karya-karyanya masih terus diperbincangkan sampai sekarang. Buku Seri Tokoh Filsafat diterjemahkan dari karya termasyhur Frederick Charles Copleston, seorang pendeta Yesuit Inggris, yang sebelumnya diterbitkan dalam sembilan jilid antara tahun 1946 dan 1975. Sebagaimana dicatat oleh The Encyclopedia Britannica, karya ini adalah “teks dasar pengantar filsafat untuk ribuan siswa universitas, khususnya dalam edisi paperback AS-nya.”
Pedoman program sarjana
Filsafat Pendidikan Islam Prinsip dan Dasar Pengembangan
Majid Arsan al-Kailani, dalam pengantar bukunya Falsafat al-Tarbiyah al-Islamiyah, mengibaratkan dunia pendidikan sebagai samudera luas tak bertepi. Untuk mengarunginya tentunya seorang pelaut membutuhkan alat petunjuk (kompas), pandangan yang luas tentang kelautan dan pengalaman yang akan menuntunnya mencapai tujuan. Demikian halnya dengan pendidikan Islam, seorang pendidik sangat dituntut untuk memiliki wawasan dan pemahaman yang mendalam tentang batasan, lingkup serta tujuan pendidikan Islam. Salah satu faktor utama ketertinggalan pendidikan, khususnya pendidikan agama, adalah ketidakmampuan institusi dan pelaksana pendidikan menetapkan tujuan pendidikan yang jelas serta menerapkan prinsip, materi dan metode yang tepat bagi peserta didik. Hal ini berakhir pada bentukan out put pendidikan yang tidak matang. Di sinilah diperlukan upaya-upaya pemikiran yang filosofis dalam merancang suatu bangunan paradigma pendidikan Islam yang utuh dan ideal. Dari sinilah dirasakan bahwa filsafat tidak dapat dilepaskan dari pendidikan, bahkan filsafat merupakan bagian integral dari pendidikan. Ini terutama ketika pendidikan pada umumnya, dan pendidikan Islam pada khususnya, memainkan peran penting dalam membangun pribadi muslim yang pada akhirnya menentukan terciptanya masyarakat madani. Menyandarkan pendidikan Islam pada filsafat Barat yang pastinya tidak keseluruhannya sejalan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri, akan menjauhkan peserta didik dari tercapainya tujuan di atas.