ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Berdasarkan latar belakang masalah, Proses Pembelajaran Penjasorkes Pada Siswa Berkebutuhan Khusus tunadaksa di SLB Negeri Pembina Kupang harus sesuai dengan kondisi dan hambatan yang dialami anak dan guru juga harus mampu melayani setiap anak. Tujuan penelitian: Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran penjasorkes pada siswa berkebutuhan khusus tunadaksa di SLB Negeri Pembina Kupang. Metode penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengaan teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi serta teknik analisis dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi. Sampel pada penelitian ini adalah kepala sekolah, guru PJOK, dan dua orang siswa tunadaksa kelas VIII di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Kupang. Hasil dan pembahasan: Hasil Penelitian ini menunjukkan, bahwa dalam proses pembelajaran penjasorkes pada siswa berkebutuhan khusus tunadaksa berjalan dengan baik. Materi yang diajarkan sesuai dengan kondisi dan hambatan yang dialami oleh anak-anak dan guru juga mampu melayani setiap anak sehingga anak-anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini, kaitannya dengan materi pembelajaran penjasorkes anak-anak lebih senang dengan permainan bulutangkis, karena permainan bulutangkis mereka dianggap tidak terlalu sulit. Simpulan: Proses pembelajaran penjasorkes pada siswa berkebutuhan khusus tunadaksa di SLB Negeri Pembina Kupang berjalan dengan baik. Materi yang diajarkan sesuai dengan kondisi dan hambatan yang dialami anak-anak. Dalam proses pembelajaran penjasorkes anak-anak lebih senang dengan pembelajaran permainan bulutangkis
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
STRATEGI PEMBELAJARAN PENJASORKES PADA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNA RUNGU DI SMPLB NEGERI PEMBINA KUPANG
Yustus Olang 1*, Agustinus J. Nafie, S.Pd., M.Or 2, Ramona M. Mae, S.Pd., M.Or.3
1,2,3 Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupan, Indonesia
email. [email protected]
Latar belakang: Tunarungu merupakan seseorang yang mengalami gangguan pendengaran. Suatu keondisi kehilangan pendengaran ini menyebabkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai ransangan, terutama melalui indra pendengarannya yang menyebabkan pendengarannya tidak berfungsi. Berdasarkan hasil observasi penulis diketahui bahwa jumlah peserta didik pada SMPLB Negeri Pembina Kupang pada Tahun Ajaran 2021/2022 adalah sebanyak 31 orang yang terbagi dalam 6 (enam) kelas kecacatan yakni Cacat tuna grahita sedang sebanyak 7 orang, cacat tuna grahita ringan sebanyak 9 orang, cacat autis sebanyak 6 orang, cacat tuna ganda sebanyak 4 orang, cacat tuna rungu sebanyak 3 orang dan cacat tuna daksa sebanyak 2 orang.
Tujuan penelitian: untuk mengetahui Strategi Pembelajaran Penjasorkes pada siswa berkebutuhan khusus Tuna Rungu di SMPLB Negeri Pembina Kupang.
Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan guru penjas. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.
Hasil dan pembahasan: Hasil penelitian sebagaimana telah diuraikan terdahulu bahwa dalam pembelajaran Penjasorkes bagi siswa tuna rungu di SMPLB Negeri Pembina Kupang, guru Penjasorkes menggunakan metode bagian. Artinya proses pembelajarannya dilakukan pada setiap bagian hingga terangkai suatu gerakan yang lengkap; seperti dalam permainan bulu tangkis, siswa diajarkan cara service panjang, setelah itu diajarkan service pendek, smash, dan sebagainya. Hal ini patut diketahui bahwa dengan adanya pembelajaran bagian demi bagian dari suatu permainan merupakan suatu strategi yang diterapkan oleh guru Penjasorkes untuk disesuaikan dengan kemampuan siswa dalam memahami tahapan-tahapan permainan yang diajarkan.
Simpulan: Guru Penjasorkes pada SMPLB Negeri Pembina Kupang dalam melakukan proses pembelajaran kepada siswa tuna rungu, metode yang digunakan adalah metode bagian; dimana materi permainan yang akan diajarkan kepada siswa tidak dilakukan secara keseluruhan tetapi dilakukan bagian demi bagian. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah siswa memahami materi pelajaran yang diajarkan dan sesuai kondisi dan kemampuan siswa dalam memahami pelajaran yang diajarkan.
Kata kunci: Siswa Berkebutuhan Khusus; Tuna Rungu