ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pernikahan beda negara sebagai fenomena sosial semakin marak terjadi dalam masyarakat, termasuk di Jemaat GMIT Pniel Oenggaut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konteks jemaat, memahami realitas pernikahan antar negara dari perspektif pelayanan pastoral, serta melakukan refleksi teologis terhadap pernikahan beda negara. Pendekatan penelitian menggunakan studi kualitatif deskriptif dengan mengkaji literatur, peraturan undang-undang, serta dokumen pastoral dan teologi GMIT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan beda negara menghadirkan tantangan komunikasi antarbudaya, perbedaan adat, kultur, dan norma yang memerlukan kesabaran serta sikap saling memahami agar konflik dapat diminimalisir. Dalam pelayanan pastoral, penyesuaian dan pendekatan khusus diperlukan untuk membimbing pasangan beda kewarganegaraan agar memahami prinsip kekudusan pernikahan Kristen sesuai nilai-nilai GMIT. Refleksi teologis menegaskan bahwa pernikahan merupakan lembaga ilahi yang menyatukan laki-laki dan perempuan secara sah dan kudus, berlandaskan kasih yang memberi dan komitmen total, serta merupakan dasar kehidupan gereja. Pelayanan pastoral pranikah serta pendampingan berkelanjutan menjadi kunci dalam membangun keluarga Kristen yang harmonis dan kokoh dalam konteks pernikahan beda negara. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan pelayanan pastoral dan pemahaman teologis terkait fenomena sosial pernikahan campuran antarnegara di lingkungan jemaat GMIT.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Tokang Tomal
Suatu Tinjauan Studi Perdamaian Terhadap Tradisi Tokang Tomal Sebagai Media Resolusi Konflik Menurut Ralf Dahrendrof dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Elohim Bukapiting, Klasis Alor Timur Laut
[email protected]
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji secara ilmiah terhadap tradisi Tokang Tomal yang ada di jemaat Elohim Bukapiting khususnya desa Bukapiting kabupaten Alor. Tradisi Tokang Tomal merupakan tradisi atau budaya yang diwarisi oleh nenek moyang orang Bukapiting sejak zaman dahulu, dan terus dipelihara oleh Jemaat GMIT Elohim Bukapiting. Tradisi Tokang Tomal dilakukan sebagai penyelesaian masalah dalam jemaat. Kata Tokang Tomal berasal dari bahasa Kamang yaitu Tokang yang berarti baik. Sedangkan Tomal yang artinya enak. Kedua kata ini memilik banyak arti sesuai situasi yang sesuai dengan perilaku dan kondisi tempat.Tokang Tomal merupakan jalan tengah untuk penyelesaian masalah dalam masyarakat dan menjadi media utama dengan mengadirkan tokoh-tokoh adat, pemerintah, keluarga terkait dan pohon pelepas. Tradisi ini akan dikaji dengan menggunakan teori resolusi konflik Ralf dahrendrof yang mengatakan bahwa dalam masyarakat memiliki dua wajah yaitu konflik dan konsensus. Konflik dalam masyarakat tidak bisa dihindari bahkan gereja sebagai miniatur Allahpun tidak bisa menghindari konflik. Hasil dari penelitian ini penulis melihat bahwa jemaat Bukapiting memelihara tradisi Tokang Tomal sebagai salah satu cara mengatasi dan mengantisipasi konflik. melalui tradisi Tokang Tomal membantu penulis untuk mengenal tradisi Tokang Tomal yang memiliki nilai-nilai yang dapat digunakan dalam lingkup bergereja dan bermasyarakat yakni dialog, keterbukaan dan saling menghargai. Perdamaian merupakan suatu keadaan yang telah diprakarsai oleh Allah sendiri, sehingga manusia perlu untuk secara bersama-sama memaknai perdamaian sebagai suatu yang perlu dijaga dan dipelihara dalam kehidupan bersama dengan orang lain maupun dengan sesama ciptaan. konflik hanyalah salah satu alat yang diberikan Allah untuk menguji sejauh mana seseorang dapat menyatakan kasih bagi Allah melalui sesama dan mempertunjukan kuasa Allah atas hidup setiap umatnya. Melalui tradisi Tokang tomal haruslah saling rukun dan mencintai perdamaian, damai yang diberikan sekiranya memberikan ruang bagi kehidupan yang lebih baik dan lebih mempererat solidaritas yang dibangun bersama.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Hadirnya Kode Etik Pendeta di GMIT adalah salah satu wujud optimalisasi peran dan fungsi pendeta secara baik dan bertanggung jawab dalam pelayanan. Eksistensi Kode Etik Pendeta GMIT tidak hanya berdiri sebagai suatu keputusan dan naskah yang dibukukan, tetapi perlu diimplementasikan dalam pelayanan di GMIT. Kode Etik Pendeta GMIT pun bertujuan untuk menolong pendeta dalam mempertanggungjawabkan panggilannya kepada Sang Pemanggil. Apalagi sejak lama GMIT telah menggumuli berbagai permasalahan yang kompleks terkait dengan kehidupan dan pelayanan pendeta. Oleh karena itu, tulisan ini berguna untuk meninjau sejauh mana fungsi dan pengimplementasian Kode Etik Pendeta GMIT bagi pelayan di GMIT. Pendeta-pendeta GMIT di Klasis Kota Kupang menjadi sasaran penulis dalam melihat bagaimana pemahaman dan penerapan para pendeta GMIT. Berbeda dengan tinjauan pada umumnya, tulisan ini menggunakan studi hukum gereja sebagai alat untuk mengukur manfaat Kode Etik Pendeta GMIT. Studi hukum gereja membantu dalam melihat bagaimana Kode Etik Pendeta GMIT berfungsi untuk membangun gereja sesuai dengan maksud dan tujuan hukum gereja, yang mana setiap keputusan atau peraturan harus menolong dalam pembangunan jemaat. Tulisan ini dimulai dengan mendeskripsikan konteks pelayanan para pendeta di Klasis Kota Kupang. Kemudian, dijabarkan isi dan tujuan adanya Kode Etik Pendeta GMIT, serta pemahaman dan penerapan Kode Etik Pendeta GMIT oleh para pendeta. Maka hasil penelitian menemukan bahwa ada faktor internal dan eksternal yang memengaruhinya. Dengan demikian, Kode Etik Pendeta GMIT perlu untuk lebih didalami dan diimplementasikan dalam kehidupan pelayanan GMIT. Kode Etik Pendeta GMIT pada hakekatnya menjadi sarana refleksi teologis bagi para pendeta GMIT. Kata-kata Kunci: Kode Etik, Kode Etik Pendeta GMIT, Pendeta, Klasis Kota Kupang, Refleksi