Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Harapan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGHARAPAN DI TENGAH KESESAKAN "Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemikiran Albert Nolan dan Penerapannya Bagi Pelayanan GMIT"

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini mengkaji pemikiran teologis Albert Nolan tentang pengharapan dalam konteks penderitaan struktural, serta merefleksikan relevansinya bagi pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Albert Nolan adalah seorang teolog Dominikan asal Afrika Selatan yang teologinya berkembang dalam situasi penindasan apartheid. Dalam karya-karyanya, terutama Hope in an Age of Despair, Nolan menekankan bahwa pengharapan Kristen bukanlah optimisme kosong, melainkan tindakan konkret yang lahir dari iman kepada Allah yang berpihak kepada kaum tertindas. Teologi pengharapannya berakar pada pengalaman Yesus dan bertumpu pada keadilan sosial. Skripsi ini menggunakan metode kualitatif kepustakaan dan pendekatan deskriptif-analitis untuk menggali pemikiran Nolan secara kontekstual dan menerapkannya dalam realitas kemiskinan di NTT yang merupakan wilayah pelayanan GMIT. Dalam refleksi teologis, ditemukan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi pelaku harapan dengan bertindak dalam solidaritas terhadap kaum miskin, memperjuangkan keadilan struktural, serta mengembangkan spiritualitas pembebasan. Skripsi ini menyimpulkan bahwa pemikiran Nolan sangat relevan bagi GMIT dalam menjawab tantangan kemiskinan dan membangun pelayanan yang transformatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RELASI TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KESETARAAN GENDER DALAM PRAKTIK BELIS MASYARAKAT ROTE Suatu Tinjauan Etis - Teologis terhadap Tradisi Belis Masyarakat Rote di Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng - Klasis Kupang Tengah

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis pandangan dari praktik tradisi belis masyarakat Rote di lingkup Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng, yang telah mengalami pergeseran nilai berdasarkan tingkat pendidikan perempuan, dan membuat refleksi etis - teologis. Metode penelitian yang digunakan adalah deksriptif kualitatif. Responden penelitian adalah tokoh – tokoh adat Rote; pasangan suami istri (pasutri) yang berasal dari Rote; kaum milenial dari Rote; dan Presbiter Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng. Data yang dikumpulkan dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Jenis data yang dipakai peneliti adalah data kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk angka. Penelitian ini akan menggali dari sumber data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukur atau alat pengambil data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Data yang terkumpul akan dibahas dan dianalisis, kemudian membuat kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi belis masyarakat Rote telah mengalami perubahan nilai, yang mana belis ditentukan menurut tingkat pendidikan perempuan, bukan berdasarkan nilai dan tujuan dari belis itu sendiri. Dampak dari Tingkat Pendidikan terhadap kesetaraan gender dalam praktik belis masyarakat Rote di Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng yaitu: terjadinya kawin lari, penundaan dan pembatalan pernikahan, kekerasan dalam rumah tangga, dan perempuan diposisikan sebagai komoditas. Refleksi etis-teologis dari penelitian ini, yaitu pemberian belis sebagai kehendak Allah, sikap gereja dalam menyikapi kebudayaan dan kesetaraan gender bahwa laki-laki dan perempuan adalah gambar dan rupa Allah (imago Dei).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Rumah Harapan GMIT "Suatu Tinjauan Teologi Sosial Terhadap Identitas Rumah Harapan GMIT dan Implikasinya Bagi Keterlibatan Sosial GMIT"

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kasus kekerasan pada perempuan, anak, dan perdagangan orang di Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan persoalan sosial yang sudah ada pada tingkat darurat. Akibatnya banyak masyarakat dan jemaat yang sudah menjadi korban. Hal ini membuat banyak lembaga-lembaga masyarakat dan keagamaan terlibat dalam upaya pemberantasan. Rumah Harapan GMIT, yang merupakan shelter atau rumah aman bagi para korban, adalah salah satu lembaga gerejawi yang didirikan GMIT dalam menggumuli ketiga kasus di atas. Kehadiran shelter ini bertujuan untuk membebaskan mereka yang menjadi korban. Apa yang melatar-belakangi terbentuknya pelayanan sosial Rumah Harapan GMIT? Apa yang membedakan Rumah Harapan GMIT dan instansi lain dalam pelayanan sosial? Secara teologis, refleksi apa yang bisa dikembangkan terhadap keterlibatan sosial Rumah Harapan GMIT? Dalam tulisan ini, penulis pertama-tama mendeskripsikan tentang latar belakang dan sejarah berdirinya Rumah Harapan GMIT. Setelah itu, penulis juga melihat Teori Teologi Sosial Gustavo Gutierrez yang berjuang bagi kesejahteraan kaum miskin dengan menghasilkan sebuah teologi pembebasan (Theology of Liberation) bagi kaum miskin di Amerika Latin. Teologi yang dikembangkan Gutierrez ini menjadi sebuah landasan teori bagi penulis untuk melihat konteks sebagai sumber berteologi, kemudian penulis menggunakan 4 aspek Teologi sosial dari J.B Banawiratma untuk menganalisa konteks dan menemukan tema yang dapat dikembangkan sebagai refleksi kritis terhadap pelayanan sosial yang dilakukan Rumah Harapan GMIT. Tema yang dimaksud adalah pembebasan. Alkitab mencatat berbagai karya pembebasan, terutama yang dilakukan Allah dalam Perjanjian Lama, yaitu: Pembebasan Allah melalui tradisi Tahun Yobel dan Tahun Sabat, Pembebasan Allah pada masa Pembuangan di Babel, sementara dalam Perjanjian Baru pembebasan itu terjadi melalui karya pelayanan Yesus, para Rasul dan Jemaat Mula-mula. Kepedulian dan keberpihakan kepada kaum yang tertindas dan para korban menjadi pergumulan bersama yang dihadapi dalam konteks Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Amerika Latin dan konteks pelayanan GMIT. Dalam konteks GMIT pada masa kini, idealnya karya pembebasan Allah hadir melalui Pelayanan Rumah Harapan GMIT. Karya pembebasan Allah bagi bangsa Israel dan umat Perjanjian Baru dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi tindakan pembebasan yang sedang dilakukan oleh GMIT melalui Rumah Harapan GMIT. Sebagaimana karya Allah tersebut sungguh-sungguh membebaskan, demikian juga GMIT dalam pelayanan sosialnya lewat Rumah Harapan harus menunjukan kehadiran dan penyertaan Allah bagi para korban karena ketidakadilan yang dihadapi. Upaya pembebasan seperti yang dilakukan Allah adalah standard dalam pelayanan sosial, sehingga kesaksian GMIT menjadi bukti nyata bahwa Allah selalu ada bagi orang-orang yang membutuhkan keadilan untuk menolong mereka tetap melanjutkan kehidupan. Kata-kata Kunci : Peran Sosial, Teologi Pembebasan, Rumah Harapan GMIT, keadilan, Pembebasan Allah

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pelayan pendeta di masa pandemi covid-19

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PandemiCovid-19adalahvirusyangmenyerangseluruhumatduniadan menyebabkan krisis ekonomi,sosialdalam kehidupan.Kota kupang secara keseluruhantidakbebasdaripandemiCovid-19padatahun2020-hinggasekarang JemaatGMITGloriaKayuPutihKlasisKotaKupangTimuradalahjemaatyang masukdalamwilayahpemerintahanKotaKupangsehingga banyakpelayanandi jemaatyangterhambatakibatpembatasansosialyangdilakukakanolehpemerintah. Dalamsituasitersebutpendetasebagaiseorangpelayanmengalamiketerbatasan dalammelaksanakanpelayananditengah-tengahjemaat,sementarakebutuhan pelayanandalamjemaatsangattinggiditambahlagidengansituasipandemiCovid19.BeberapakeluargadalamjemaatGMITGloriakayuPutihterinfeksiCovid-19dan dalamkondisitersebutpelayananpendetamasihsangatterbatas.Situasiterbatas iniyangmenarikuntukditeliti.Apasajaharapan-harapanjemaatbagipelayanan seorangpendetaditengahkrisispandemiCovid-19. Tujuaninidapatdicapaimelaluipenelitianlapangandalammetodepenelitian kualitatifuntukmendapatkandatayangakuratmengandungkebenarantentang harapanwargajemaatmengenaipelayananpendetaditengahpandemiCovid19.Hasilpenelitanyangpenulistemukan,adaenam harapanjemaatterhadap pelayananpendetadimasapandemiCovid-19yaitupandemiCovid-19adalahbudaya yangbarudanpendetaharusdapatberadaptasidengankrisistersebut,pelayanan pendeta harus lebih bersifataktif,tidak boleh ada penekanan pelayanan, perkunjunganpendetatetapberjalan,setiappelayananpendetamelihatdaridata jemaatuntukbisamenjawabkebutuhanjemaat Berdasarkanhasilpenelitiantersebutpenulismelakukanrefleksiteologis kesaksian Alkitab tentang umat dalam penderitaan,gambaran Allah dalam penderitaanumat,menjadipelayanyangmengertikebutuhanjemaat,danharapan jemaatdalampelayananpendetadimasapandemiCovid-19,danimplikasinyabagi pelayanandijemaatGMITGloriaKayuPutihKlasisKotaKupangTimur Katakunci:Harapanjemaat,PandemiCovid-19,pelayananPendeta,JemaatGMIT GloriaKayuPutih

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail