YUNITA APRIANA LEDE
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Skripsi berjudul: Ritus B’ui Ihi dengan sub judul: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Ritus B’ui Ihi (Penyucian Diri) di Sabu dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede yang ditulis oleh Yunita Apriana Lede, memfokuskan pembahasan pada ritus b’ui ihi di Sabu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ritus b’ui ihi dari perspektif ekoteologi, dengan menyoroti relevansi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, untuk membantu gereja dalam usaha mengatasi krisis lingkungan hidup. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan ekoteologi Leonardo Boff untuk menganalis bagaimana ritus ini dapat memberikan sumbangan teologis dan praktis bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritus b’ui ihi mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai ciptaan Allah, kesadaran akan tanggung jawab ekologis, dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan gereja dan jemaat sebagai bagian dari panggilan iman untuk memelihara ciptaan Tuhan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai-nilai ekologis dari ritus b’ui ihi, gereja dapat berperan aktif dalam mendorong kesadaran ekologis, membangun budaya hidup yang selaras dengan alam, dan memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yang semakin mendesak, khususnya di Jemaat GMIT Siloam Lobohede untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap alam semesta dan seluruh ciptaan.
PANCE ARIYANTO TAGI HUMA
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada menafsir teks untuk memberi sumbangan bagi gereja dalam mengatasi masalah stunting. Stunting adalah persoalan sosial yang mencolok di NTT dan didapati pada anak di usia prasekolah. Stunting disebabkan oleh berbagai hal yang bermuara pada kurangnya asupan makanan yang bergizi sesuai kebutuhan gizi anak. Stunting memiliki dampak buruk yang dapat memengaruhi kehidupan pengidapnya di masa depan. Stunting perlu disikapi oleh berbagai pihak termasuk GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme sebagai persekutuan yang meniru Kristus. Dalam menyikapi stunting dibutuhkan sikap tanggung jawab. Tulisan ini berupaya memaknai sikap tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sesuai hasil penafsiran teks Injil Lukas 9:10-17 dengan menggunakan metode tafsir naratif. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sebagaimana yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Yesus, dapat dibawa dalam konteks GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme dalam menyikapi stunting. Dalam upaya mengatasi stunting sikap awal yang mesti dilakukan oleh gereja ialah melayankan hospitalitas. Hospitalitas ini akan melahirkan tanggung jawab terhadap penderita stunting baik di dalam maupun luar gereja. Lebih lanjut, tanggung jawab yang lahir dari hospitalitas ini harus diwujudkan dengan memberi makanan yang bergizi sampai kenyang kepada penderita stunting. Perwujudan tanggung jawab terhadap penderita stunting ini dilaksanakan oleh gereja dengan membangun kemitraan atau bekerja sama dengan pemerintah, tenaga kesehatan, agama dan denominasi lain serta lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap mereka yang menderita stunting.
EVAN TRIOMAN BELLONIMTY LETTE
2025 · Thesis · Open Access
Gereja GMIT Imanuel Nemberala berada di tengah-tengah kehidupan pariwisata yang memberi dampak bagi kehidupan jemaat dan masyarakat sekitar, yaitu dampak positif dan negatif. Pariwisata menjadi penunjang kehidupan bagi masyarakat dan gereja. Namun dari dampak yang ada, dampak negatif yang muncul dari pariwisata menjadi masalah yang perlu untuk diperhatikan tidak hanya pemerintah, namun juga gereja yang mana panggilan gereja tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga melihat masalah yang ada di sekitar gereja yang perlu untuk gereja selesaikan, karena para pelaku pariwisata yang ada di Nemberala juga merupakan jemaat gereja GMIT Imanuel Nemberala. Tulisan ini bertujuan untuk melihat apa peran gereja dalam upaya pembangunan jemaat di Jemaat GMIT Imanuel Nemberala dalam konteks pariwisata. Metode yang dipakai menggunakan metode penelitian pustaka dan metode penelitian lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dampak yang muncul khususnya dampak negatif, gereja GMIT Imanuel Nemberala belum memberi perhatian merespons akan dampak yang ada yang muncul dari pariwisata. Gereja GMIT Imanuel Nemberala mestinya memberi perhatian bagi perkembangan pariwisata. Gereja diundang untuk hadir sebagai pengingat dan pembawa shalom Allah, memastikan bahwa pembangunan pariwisata tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi tetapi juga menjaga martabat manusia dan kelestarian alam. GMIT perlu memberi perhatian terhadap masalah yang ada disekitarnya, karena itu bagian tugas panggilannya.
ONGKI RIVALDO ADU
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK PERANAN GEREJA DALAM LITERASI PENDIDIKAN Ongki Rivaldo Adu Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Indonesia email: [email protected] Tuna aksara merupakan masalah yang mendunia. Tuna aksara bukan hanya terkait dengan kemampuan membaca, menulis, dan menghitung, tetapi berpengaruh pada kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan sumber daya manusia. Nusa Tenggara Timur, secara khusus kabupaten Timor Tengah Selatan, kecamatan Amanuban Selatan, Desa Mio tidak terlepas dari masalah tuna aksara tersebut. Oleh karena itu, pemerintah memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak sebagai penyandang tuna aksara tersebut. Pemerintah dan gereja sepatutnya bekerja sama dengan baik. Menanggapi persoalan tuna aksara tersebut, maka gereja turut terpanggil untuk menyatakan perhatiannya melalui peran sosial gereja. Dalam karya ilmiah ini, penulis menggambarkan tentang peran sosial GMIT Imanuel Mio bagi penyandang tuna aksara jemaat GMIT Imanuel Mio dipandang dari teori teologi sosial. Tujuannya, gereja-gereja masa kini dapat belajar dari peran sosial yang dilakukan untuk lebih terlibat dalam menanggapi persoalan sosial dalam jemaat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian lapangan dan penelitian pustaka. Penelitian pustaka yang dimaksud ialah dengan menggunakan sejumlah litaratur yang dapat menunjang penelitian ini. Penulis, melakukan penelitian lapangan dengan lokus penelitian di Jemaat GMIT Imanuel Mio, Klasis Amanuban Selatan. Untuk mengetahui peran sosial gereja, maka penulis memilih beberapa orang menjadi informan bagi penulis. Berdasarkan hasil penelitian sesuai teori teologi sosial yang penulis gunakan untuk mengkaji peran sosial gereja, maka hal yang penulis dapatkan ialah peran sosial yang dilakukan GMIT Imanuel Mio didasari pada motivasi yang benar yaitu melihat diri sebagai konsep imago dei dan manusia baru untuk menjadi uluran tangan Kristus melalui penyandang tuna aksara. Peran sosial gereja yang dilakukan ialah melalui pemberdayaan dengan program motor pustaka.
NONA DIANA IE
2025 · Thesis · Open Access
Salah satu masalah penting dalam kehidupan gereja secara komunal adalah minimnya kehadiran pemuda dalam persekutuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem persekutuan pemuda tidak berfungsi dengan baik dikarenakan beberapa faktor yang memepengaruhinya. Beberapa diantaranya antara lain pergaulan, program-program yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan minat generasi muda menurunkan partisipasi aktif. Akibatnya, regenerasi spiritual, yang seharusnya menjadi pilar dalam membangun iman di kalangan generasi muda, hilang dari komunitas gereja yang terdiri dari orang-orang muda. Kemajuan perkembangan dalam masyarakat modern seringkali memunculkan tantangan terhadap konsep kebersamaan tradisional, termasuk di dalam gereja. Individualisme yang semakin menonjol dapat mengalihkan fokus kolektif menjadi pencapaian pribadi, sehingga persekutuan pemuda dalam gereja berisiko kehilangan relevansi. Melalui pendekatan AGIL, gereja dapat mengidentifikasi strategi adaptasi untuk menjembatani kebutuhan individu dengan semangat kolektif persekutuan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mendorong normalisasi kembali fungsi persekutuan pemuda dengan menggunakan pendekatan strategi yang relevan dan inklusif. Dalam hal ini sebagai gereja dapat membuat program yang menarik dan melibatkan pemuda dengan mengetahui dinamika sosial dan spiritual pemuda. Diharapkan metode ini akan mengembalikan semangat kebersamaan dan mendorong pemuda untuk berpartisipasi aktif dalam persekutuan gereja. Untuk menyelesaikannya, merevitalisasi persekutuan pemuda memerlukan pembuatan program yang sesuai dengan konteks kehidupan pemuda yang aktual. Gereja dapat mewujudkan lingkungan yang mendukung keterlibatan aktif, regenerasi spiritual, dan pertumbuhan komunitas yang lebih sehat secara komunal dengan menerapkan gagasan AGIL. Harapannya tulisan ini bisa menjadi penerapan dalam konteks gereja, agar gereja bisa melihat secara kritis setiap perubahan-perubahan yang ada. Gereja juga menyadari bahwa dalam tahap ia melihat perubahan yang ada, tidak menghilangkan integritasnya sebagai panggilan yang menjalankan apa yang menjadi tanggungjwabnya di tengah-tengah dunia yang kompleks ini.
PUTRI GRACEDINSIA RIWU
2025 · Thesis · Open Access
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pelayanan kesehatan di Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua melalui pendekatan misi integral, dengan fokus pada upaya gereja dalam meningkatkan kualitas kesehatan jemaat dan masyarakat sekitar. Gereja memiliki peran penting dalam misi Allah yang holistik, yang mencakup pelayanan fisik, rohani, dan sosial. Misi integral, menurut René Padilla, menyatakan bahwa penginjilan dan aksi sosial tidak dapat dipisahkan dan harus dijalankan secara bersamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang mempelajari fenomena di lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan pendeta, majelis jemaat, anggota jemaat, dan UPP Kesehatan di Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Penelitian ini menemukan bahwa Pos Pelayanan Kesehatan yang sudah berjalan sejak tahun 2000 memberikan dampak positif bagi jemaat, meskipun masih ada tantangan dalam pelaksanaannya, seperti kurangnya fasilitas dan keterbatasan dana. Pelayanan kesehatan yang dilakukan gereja dalam bentuk preventif, kuratif, dan rehabilitatif dapat meningkatkan kualitas hidup jemaat jika dikelola secara lebih terintegrasi. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan gereja perlu dikembangkan secara holistik, dengan memperhatikan aspek fisik, sosial, dan rohani, serta didukung dengan sumber daya yang memadai untuk menjawab kebutuhan jemaat dan masyarakat sekitar.
NAZARIO CHRISTO JOSHUA TEUF
2025 · Thesis · Open Access
Penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah penelitian mengenai kajian terhadap pemikiran Casanova mengenai Konsep Agama Publik dan relevansinya dengan pelayanan Jemaat GMIT Silo Naikoten I. Dalam realita yang ditemukan, maka penulis menemukan bahwa Gereja dalam program pelayanan belum menunjukkan peran Gereja di tengah masyarakat sebagai ruang publik, sebab Gereja dipanggil untuk berperan bagi dunia disekitarnya lewat pelayanan itu sendiri. Gereja dipanggil ke dunia untuk memperlihatkan karya Allah secara universal bagi dunia. Realita dalam konteks Jemaat Silo Naikoten I sendiri tidak sejalan dengan Konsep Agama Publik Casanova. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif, khususnya studi kepustakaan untuk menganalisis mengenai biografi Casanova, teori, dan melihat relevansi antara teori dan konteks masalah. Dalam kajian penulis, penulis menemukan bahwa Gereja belum berperan bagi ruang publik lewat program pelayanan yang ada, sebab faktor cara berpikir jemaat, kurangnya kemitraan, dan pembangunan Gereja. Hal lain yang penulis temukan ialah dalam beberapa kesempatan terlihat bahwa Gereja melakukan kemitraan, namun sasaran program ialah hanya untuk jemaat secara internal. Hal ini tidak hanya sejalan dengan Konsep Agama Publik Casanova secara sosiologi, tetapi secara teologis, hal ini pun tidak sejalan dengan Naskah Teologi Panca Pelayanan GMIT, dan Panca Pelayanan GMIT. Penulis pun menarik refleksi teologis berdasarkan Injil Matius 5:13-16 mengenai garam dan terang dunia untuk menjawab akan peran Gereja yang seharusnya berdampak keluar. Pada akhirnya, penulis menarik kesimpulan bahwa Jemaat GMIT Silo dalam pelayanannya perlu untuk bersifat publik sehingga ia tetap relevan dalam konteks masa kini, dan sebaliknya tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
PAULINA CHRISTIN RADJA
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Menjalankan peran sebagai seorang ibu tunggal bukanlah hal yang mudah. Tentu ia akan menghadapi berbagai kesulitan baik itu dari segi psikologis, ekonomi dan sosial. Sama halnya dengan apa yang dialami oleh perempuan Siro Fenisia. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 dengan metode tafsir Reader Respons. Metode ini menafsirkan makna teks berdasarkan pengalaman pembaca. Sampel penelitian terdiri dari 12 ibu tunggal sebagai pembaca masa kini sekaligus penafsir teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 menghasilkan kerygma seputar perjuangan seorang ibu. Maka kerygma yang lahir sangat dekat dengan kehidupan pembaca masa kini. Hal ini disebabkan pengalaman yang dibawa oleh pembaca juga mempengaruhi makna yang dihasilkan. Penulis juga menemukan bahwa penggunakan metode tafsir Reader Respons tidak dapat menemukan makna original dari teks. Hal ini penulis temukan ketika melakukan penafsiran dari dalam teks dengan metode naratif. Selain itu, dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa kekurangan dalam metode ini dapat dilengkapi oleh metode naratif. Dari kedua metode ini, terdapat dua pesan dari teks Injil Markus 7:24-30 yang lahir oleh pendekatan Reader Respons maupun Naratif yakni “Iman percaya seorang ibu kepada Yesus Kristus membuahkan pertolongan Tuhan dan Yesus tidak diskriminatif dalam pelayanan-Nya”. Berdasarkan berbagai uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa kedua metode pendekatan ini perlu dilakukan atau diperhatikan secara berimbang untuk memperkaya makna penafsiran suatu teks. Gereja harus belajar dari kisah Perempuan Siro Fenisia ini untuk mengupayakan pelayanan yang menyentuh seluruh ibu tunggal yang ada.
CHRISTIAN URBANUS FRANS
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK RITUAL GELAK WAHA Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores Kesehatan merupakan aspek paling berharga dalam kehidupan manusia, namun sakit menjadi tantangan besar yang kerap kali sulit diatasi meski dengan kemajuan pengobatan modern. Sebagai alternatif, pengobatan tradisional yang mengandalkan kepercayaan dan pengalaman turun-temurun tetap relevan di beberapa masyarakat, termasuk dalam konteks ritual Gelak Waha yang dilakukan oleh masyarakat Beloaja di Flores. Ritual ini bertujuan mencari kesembuhan melalui prosedur magis dengan melibatkan dukun serta penggunaan bahan alami, seperti sirih, pinang, dan ayam kampung. Penelitian ini mengkaji makna dan nilai yang terkandung dalam ritual Gelak Waha serta implikasinya terhadap pelayanan gerejawi di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Permasalahan utama yang diangkat meliputi pemahaman jemaat tentang konteks lokal, kesembuhan, dan refleksi teologis terhadap praktik tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian jemaat GMIT telah mengadopsi ajaran Kristen, mereka masih menjalankan ritual Gelak Waha karena kepercayaan turun-temurun kepada Lera Wulan sebagai entitas pelindung dan penyembuh. Hal ini memunculkan tantangan bagi gereja dalam mendampingi jemaat untuk memahami kesembuhan sebagai anugerah Allah yang dapat terjadi melalui berbagai cara, baik secara medis maupun spiritual. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang kesembuhan melalui ritual Gelak Waha serta menyajikan refleksi teologis untuk mendorong pendekatan yang kontekstual dalam pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi bagi pengembangan pelayanan gereja dalam menghadapi fenomena sinkretisme budaya dan iman. Kata kunci: Ritual Gelak Waha, teologi kontekstual, kesembuhan, pelayanan gereja.
ANGELIANE TRINITANIA MENNO BIRE
2025 · Thesis · Open Access
Skripsi ini mengkaji mengenai teriakan dan doa-doa seorang nabi bernama Habakuk kepada Allah yang seolah-olah tidak peduli dengan hanya berdiam saja terhadap kehidupan orang-orang saleh yang ada dalam penindasan oleh orang-orang sebangsa mereka dalam Habakuk 1:2-4. Dengan menggunakan metode penafsiran historis kristis maka dibutuhkan untuk melihat teks-teks Alkitab yang lebih dahulu dan teks yang kemudian, lalu dikaitkan dengan teks yang dibahas. Untuk melihat teks tersebut, maka teks yang dibahas akan digali keluar (ex-egesis) dan bukan memasukkan ke dalam (eis-egesis) yang tidak disiplin. Maka dengan demikian penulis dapat menggali kerygma yang relevansi dengan masalah intoleransi yang dialami oleh umat Kristiani di Indonesia pada masa kini, kerygma teologis yang berhasil digali oleh penulis, ialah: 1) Terus bergumul bersama Allah bahkan ketika belum terjawab sekalipun, 2) Allah sedang menahan diri-nya, bukan berdiam diri, 3) Kejahatan tidak akan terus mendominasi selamanya. Melalui kerygma teologi yang didapatkan ini kemudian menjadi relevan dengan keberadaan umat Kristiani di Indonesia yang ada dalam pergumulan yang panjang berkaitan dengan perilaku-perilaku intoleransi yang dialami oleh orang-orang yang berada sebangsa dengan mereka. Dalam hal ini kemudian dikaji masalah intoleransi yang dialami oleh umat Kristiani di Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Dalam hal larangan membangun gereja, 2) Dalam hal larangan beribadah, 3) Dalam hal memberi ucapan selamat pada hari raya. Umat Kristiani dibawa untuk melihat perilaku-perilaku intoleransi yang sering menimpa keberadaan kelompok agama mereka sebagai salah kelompok agama minoritas di Indonesia yang seringkali menjadi sasaran tindakan penindasan dan ketidakadilan.
CAROLINA SUSANTI LUSI
2025 · Thesis · Open Access
Skripsi ini mengkaji tentang respon Ayub terhadap penderitaan berdasarkan kitab Ayub 1:1-22, dengan tujuan untuk memahami latar belakang kitab Ayub, menggali kerygma teologi sehingga dapat memberikan sumbangan implikasi bagi kehidupan jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa dalam merespon penderitaan. Metode yang digunakan adalah kritik naratif, yang menyoroti elemen-elemen tafsir narasi seperti narator, sudut pandang, plot, penokohan, dan latar untuk mengungkap kerygma teologis dalam teks. Hasil kajian menunjukkan tiga kerygma utama yaitu: 1) kedaulatan Allah atas segala hal termasuk penderitaan, 2) kerendahan hati sebagai pengakuan atas kedaulatan Allah dan (3) mengucap syukur dalam penderitaan. Dari kerygma teologi yang didapatkan ini, dapat menjadi sumbangan implikasi bagi jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa dalam membangun pemahaman bahwa penderitaan bukanlah tanda penolakan Allah atau Allah meninggalkan kita menderita sendirian melainkan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Jemaat diajak untuk melihat penderitaan sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, serta meresponnya dengan mengakui akan kedaulatan Allah, memiliki sikap rendah hati dan bisa mengucap syukur kepada kepada Allah dalam penderitaan yang dialami.
RUMELUS ADOLF DJADA KOROH
2025 · Thesis · Open Access
Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.
KEVIN RIDIANTO TSE
2025 · Thesis · Open Access
Sejatinya manusia dalam kenyataan sosial selalu menjalin interaksi satu sama lain. Interaksi yang terjalin kerap ditunjukkan melalui berbagai bentuk termasuk di dalamnya menggunakan simbol yang diberi makna. Dalam kebutuhan untuk menyampaikan maksud dan tujuan, manusia memberi makna terhadap suatu simbol tertentu yang dapat digunakan untuk berinteraksi. Namun, interaksi dengan menggunakan simbol seringkali melahirkan penafsiran yang berbeda sehingga nampak adanya ketimpangan. Masyarakat Mollo juga memiliki salah satu bentuk interaksi dengan menggunakan simbol, yakni tua es nok in sunan. Pada prinsipnya, tradisi tua es nok in sunan menggunakan media sopi dan uang yang dipakai secara bersamaan dalam berinteraksi secara khusus pada pertemuan-pertemuan penting seperti peminangan, permintaan maaf, upacara adat dan lain sebagainya. Seringkali dalam penerapannya, tradisi tua es nok in sunan ini mengalami bias makna sehingga menciptakan kemungkinan terjadinya konflik. Pembahasan dalam kepenulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai makna dan nilai dibalik penggunaan simbol tua es nok in sunan sebagai media interaksi yang dipraktekkan secara turun temurun, dalam masyarakat yang juga adalah jemaat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan memanfaatkan prespektif George Herbert Mead mengenai Interaksionisme Simbolik sebagai pisau analisis. Pesan yang dihasilkan berupa nilai-nilai yang ditinjau dari kacamata sosiologi agama yakni pengorbanan, kesungguhan dan perdamaian atau kerukunan. Pada akhirnya, sebuah interaksi haruslah menjadi interaksi yang menyembuhkan, menghadirkan kedamaian di tengah-tengah realita sosial sebagai masyarakat yang juga adalah jemaat.
NATALIA SARTONY DE FATIMA
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK “Deskripsi Tentang Penegakan Hukum Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia”. Natalia Sartony De Fatima Masalahan penelitian penulis adalah: Bagaimanakah Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia dan Bagaimana Akibat Hukum Terhadap Pelaku Dan Barang Bukti? Tujuan Penelitian penulis adalah: Untuk Mengetahui Penerapan Pasal Terkait Memasukan Media Pembawa Hama Dan Penyakit Tanpa Sertifikat Kesehatan Dan Karantina Dari Malaysia Ke Indonesia dan Untuk Mengetahui Akibat Hukum Terhadap Pelaku Dan Barang Bukti. Sifat penelitian penulis adalah “Deskriptif”, yaitu memberikan gambaran permasalahan yang diteliti. Jenis penelitian penulis adalah penelitian hukum normative. Variable yang digunakan yaitu: Variabel bebas dan Variabel Terikat. Teknik pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan studi kepustakaan atau studi dokumen. Studi kepustakaan adalah kegiatan untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang menjadi obyek penelitian. Informasi tersebut dapat diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, tesis, disertasi, ensiklopedia, internet, dan sumber-sumber lain. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1. Pertimbangan hakim dalam memutus perkara memasukan media pembawa hama dan penyakit tanpa sertifikat kesehatan dan karantina dari Malaysia ke Indonesia adalah: a. Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana b. Perbuatan terdakwa terbukti melanggar pasal Pasal 31 ayat (1) Jo Pasal 5 huruf a dan c UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP yakni : 1) Memasukan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina ke dalam wilayah NKRI. 2) Tidak dilengkapi sertifikat kesehatan dari negara asal dan negara transit bagi hewan, bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan, ikan, tumbuhan dan bagian-bagian tumbuhan, kecuali media pembawa yang tergolong benda lain. 3) Tidak dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan untuk keperluan tindakan karantina. 4) Menganjurkan orang lain dengan menjanjikan sesuatu untuk memasukan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina ke dalam wilayah NKRI. c. Majelis hakim mempertimbangkan untuk memberikan pidana penjara dan denda kepada pelaku tersebut. 2. Akibat hukum dari tindak pidana memasukan media pembawa hama dan penyakit tanpa sertifikat kesehatan dan karantina dari Malaysia ke Indonesia terhadap pelaku dan barang bukti. a. Pelaku yaitu Pelaku dipidana penjara, Pelaku membayar denda dan Pelaku membayar biaya perkara b. Barang Bukti dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dipergunakan sebagai barang bukti dalam perkara lainnya.
PUTRA AGUNG SETYAWAN PONO
2025 · Thesis · Open Access
Fokus utama penulis dalam penelitian ini menyoroti tentang penggunaan nyanyian jemaat sebagai media kesaksian di GKS Jemaat Payeti. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan gabungan yakni kualitatif dan kuantitatif dengan metode studi lapangan, studi pustaka dan survei. Sampel penelitian ini terdiri dari 110 orang yang mana 10 di antaranya menggunakan teknik purposive sampling sedangakan 100 lainnya menggunakan teknik formula Slovin. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keresahan jemaat berkaitan dengan penggunaan nyanyian rohani kontemporer yang sama sekali bukan nyanyian yang biasanya dinyanyikan dalam ibadah karena kurangnya pemahaman terhadap nyanyian rohani kontemporer. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa jemaat memahami nyanyian sebagai media kesaksian, namun dalam praktik terjadi pergeseran dalam penggunaan nyanyian. Kini terdapat nyanyian rohani kontemporer yang mana dalam model nyanyian ini terdapat juga banyak nyanyian yang memiliki teologi yang keliru, hal ini juga tidak sesuai dengan buku nyanyian yang telah ditetapkan oleh Sinode GKS. Selain itu, terdapat juga nyanyian bukan rohani yang dinyanyikan oleh paduan suara. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose terbuka terhadap nyanyian-nyanyian lain, namun berkaitan dengan isi nyanyian pengajaran yang benar tentang Kristus menjadi tolok ukur terhadap nyanyian tersebut. Raja Daud memberikan teladan dalam mempersiapkan segala sesuatu secara serius berkaitan dengan pelayanan musik dalam Bait Suci. Demikian juga dengan gereja masa kini harus memberi perhatian yang penuh dalam nyanyian oleh karena nyanyian merupakan media yang Allah sediakan bagi umatNya untuk bersaksi.
UMBU NEVILE POY
2025 · Thesis · Open Access
Realita keberadaan ODGJ merupakan masalah sosial yang terjadi di mana-mana, namun belum sepenuhnya tersentuh dan jarang untuk dibicarakan. Gereja perlu memaknai kehadirannya dan menunjukkan pelayanan yang tepat dengan belajar dari tokoh Yesus yang mengusir roh jahat dari orang Gerasa dalam Injil Lukas 8:26-39. Pembahasan ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna pelayanan Yesus kepada orang yang kerasukan setan dan menyusun kerygmanya. Eksplorasi ini didasari pada realita masalah sosial yang sedang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode tafsir naratif. Hasilnya adalah, Injil Lukas memperlihatkan belas kasihan dan kepedulian menjadi motivasi dasar pelayanan Yesus yang inklusif, yakni berjumpa dan berdialog dengan orang bukan Yahudi yang mengalami sakit jiwa akibat belenggu setan. Model Pelayanan Yesus juga dilakukan berdasarkan kuasa Anak Allah Yang Maha Tinggi dan bermuara pada pemulihan kembali manusia sebagai gambar Allah. Pesannya ialah gereja harus menunjukkan pelayanan inklusif yang didasari oleh belas kasihan dan kepedulian yang memperlihatkan kuasa dan kasih-Nya yang mampu memulihkan kembali manusia sebagai gambar Allah.
RIVALDY ANDREAN FANGGIDAE
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Tradisi merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat lokal. Di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah tradisi papadak, yaitu sebuah sistem aturan adat yang mengatur kehidupan sosial masyarakat dalam berbagai aspek, seperti sawah, mamar (lahan kering), air, hutan, dan kebun. Tradisi ini memiliki nilai kearifan lokal yang penting dalam menjaga ketertiban sosial, keberlanjutan lingkungan, serta memperkuat solidaritas komunitas. Tradisi papadak di Jemaat GMIT Victory Puamata, Klasis Rote Tengah, memegang peranan signifikan dalam kehidupan masyarakat adat, khususnya dalam pengelolaan lahan persawahan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Jemaat GMIT Victory Puamata memaknai tradisi papadak dalam konteks kehidupan mereka, bagaimana penerapan kearifan lokal ini berlangsung, serta bagaimana tradisi tersebut direfleksikan melalui perspektif teologi kontekstual. Pendekatan teologi kontekstual digunakan untuk menghubungkan antara tradisi budaya lokal dengan pemahaman iman Kristen, sehingga tradisi papadak tidak hanya menjadi praktik budaya semata, tetapi juga sarana bagi jemaat untuk merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis-reflektif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen yang dilakukan di Jemaat GMIT Victory Puamata. Teknik analisis data meliputi reduksi data, triangulasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi papadak memberikan kontribusi positif dalam menjaga ketertiban masyarakat dan kelestarian lingkungan, serta memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan kehidupan sosial jemaat. Tradisi ini juga menjadi wujud konkret dari penerapan teologi kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai adat dengan ajaran Kristen.Analisis teologi kontekstual dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa pelaksanaan tradisi papadak memiliki nilai-nilai kristen yang tercermin melalui pelaksanaan serta gereja didorong agar melihat tradisi papadak sebagai tradisi lokal yang memiliki nilai yang relevan dengan teologi kontekstual. Refleksi teologis terhadap tradisi ini memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan tindakan sosial jemaat. Oleh karena itu, pelestarian tradisi papadak di Jemaat GMIT Victory Puamata menjadi upaya penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat kehidupan beriman jemaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu teologi kontekstual dan sumbangsih praktis bagi jemaat GMITVictory Puamata . Kata Kunci: Tradisi Papadak, Teologi Kontekstual, Gereja GMIT Victory Puamata , Aturan Adat, Bevans
FIGOREDO DIDOK
2025 · Thesis · Open Access
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan penggunaan istilah presbiter dalam jabatan pelayanan di GMIT. Penulis mengkaji mengenai bidang ilmu hukum Gereja sebagai landasan yang telah ditetapkan sebagai sebuah peraturan bagi Gereja serta landasan eklesiologis dari istilah presbiter. Dalam Penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif, analisis dan reflektif. Penulis menggunakan penelitian kualitatif yang menekankan aspek pengambilan data demi mendapatkan kualitas yang baik. Tulisan ini dimulai dengan mendeskripsikan tentang hukum gereja dan bagaimana hukum gereja di berlakukan di GMIT. Kemudian dengan melihat berbagai peraturan yang ditetapkan oleh GMIT mengenai penggunaan istilah presbiter untuk jabatan pendeta, penatua, diaken dan pengajar dalam Tata GMIT. Penulis memahami bagaimana Tata GMIT memandang penggunaan istilah presbiter berdasarkan pemahaman teologisnya dalam Alkitab, serta memberikan sumbangsi pemikiran dalam memahami akan pemaknaan istilah presbiter dalam Tata GMIT dalam sebuah refleksi teologis terhadap istilah presbiter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tata Gereja adalah rangkaian peraturan yang ditetapkan oleh Gereja untuk menata Gereja dalam tatanan atau keteraturan. Tata Gereja dalam sebuah Gereja menunjukkan jati diri Gereja tersebut. GMIT memiliki Tata Gereja yang mengatur penataan pelayanannya. Salah satu penataan pelayanan GMIT terlihat dari hadirnya prinsip kepejabatan GMIT yang didasarkan pada pengakuan Yesus Kristus adalah Kepala Gereja. Berdasarkan keyakinan itu, maka GMIT mengenal dua jabatan gerejawi, yaitu jabatan pelayanan dan jabatan keorganisasian. Dalam Tata GMIT 2010, menunjukkan bahwa penggunaan istilah “presbiter” langsung merujuk pada jabatan pelayanan yang terdiri dari pendeta, penatua, diaken, dan pengajar. Penulis menemukan istilah presbiter tersebut dalam Peraturan Pokok Jemaat GMIT: Pada Penjelasan Pasal 6 ayat 2 mengenai Hubungan Jemaat dan Klasis. Peraturan Pelaksana Peraturan Pokok GMIT tentang Jabatan dan Kekaryawanan: Pada Penjelasan pasal 4 ayat 2 mengenai Jenis-jenis jabatan dan Penjelasan pasal 6 ayat 5 mengenai jabatan keorganisasian. Pokok permasalahan yang terjadi ialah mengenai Ajaran GMIT yang didasarkan pada kesaksian Alkitab, dalam Alkitab istilah presbiter hanya merujuk pada jabatan pelayanan penatua. Tetapi bagi GMIT berdasarkan konteks kekristenan, kata presbiter ini mengalami sedikit pergeseran makna, terutama berkaitan dengan fungsinya dan siapa saja yang bisa disebut presbiter. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa secara tidak langsung GMIT lebih memprioritaskan tradisi gereja dengan konteks kekristenan yang diwarisinya daripada pengakuan akan Alkitab sebagai otoritas yang mutlak atas seluruh hidup dan pelayanan serta tradisi yang ada dalam Alkitab. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsi bagi penataan jabatan gerejawi di GMIT.
SARA YOSEFINA BRIA
2024 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Skripsi ini mengkaji relasi antara Gereja Katolik dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Sikun, Klasis Malaka, dalam konteks pluralisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kedua gereja ini dalam menghadapi perbedaan kepercayaan dan sejarah kedatangan masing-masing gereja, serta merefleksikan nilai-nilai teologis yang mendasari hubungan tersebut. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat konflik awal akibat perbedaan keyakinan, kedua gereja mampu membangun keharmonisan melalui kegiatan bersama seperti bakti sosial, proses belajar bersama, dan perayaan keagamaan. Pluralisme agama di Sikun, yang mencakup kehadiran Islam, Katolik, Protestan (GMIT), dan Pentakosta, menjadi latar belakang penting dalam memahami dinamika hubungan ini. Model misi Konvivenz dari Theo Sundermeier, yang menekankan gotong-royong, belajar bersama, dan perayaan hidup, terbukti relevan dalam konteks Sikun. Relasi yang baik antara Gereja Katolik dan GMIT di Sikun dapat menjadi model bagi gereja-gereja lain yang masih mengalami konflik. Gereja perlu terus mempromosikan dialog dan kerjasama lintas agama untuk mewujudkan kasih Allah yang universal dan menciptakan kehidupan yang adil dan damai. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya dialog antaragama, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan upaya untuk memahami serta menghargai identitas agama masing-masing. Penelitian ini memberikan saran untuk memperkuat relasi antar gereja melalui forum diskusi rutin dan program-program bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
HERMANUS MAUKAMANG
2024 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Maurice Eminyan tentang teologi keluarga dan relevansinya bagi Jemaat GMIT Moria Liliba. Maurice Eminyan, seorang teolog dan profesor teologi dogmatis, berpendapat bahwa keluarga Kristen adalah refleksi dari Allah Tritunggal, yang harus berfungsi sebagai komunitas cinta kasih, komunitas hidup, dan komunitas keselamatan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, menggunakan studi pustaka dan penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi di Jemaat GMIT Moria Liliba, yang mencakup 295 kepala keluarga dengan 1301 anggota jemaat. Sampel terdiri dari 10 anggota jemaat yang mengalami berbagai masalah keluarga seperti poligami, perceraian, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Maurice Eminyan tentang teologi keluarga memiliki relevansi yang signifikan bagi Jemaat GMIT Moria Liliba. Konsep-konsep komunitas cinta kasih, komunitas hidup, dan komunitas keselamatan yang dikemukakan oleh Eminyan dapat menjadi dasar bagi upaya pembinaan dan penguatan keluarga Kristen di jemaat tersebut. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya peran gereja dalam mendukung keluarga-keluarga Kristen untuk mengatasi berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi.
Kata Kunci: Teologi Keluarga, Komunitas Cinta Kasih, Komunitas Hidup, Komunitas Keselamatan.