Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

M.

3.718 karya publik ditemukan.

22022: 12121: 12026: 952025: 702024: 392023: 5562022: 7122021: 13172020: 2012018: 732017: 32016: 52015: 12014: 12011: 12010: 12009: 21989: 11018: 20208: 1

DANSA KIZOMBA Suatu Tinjauan Etis Teologis Terhadap Dansa Kizomba Oleh Pemuda-Pemudi Jemaat GMIT Siloam Oelbioin, Klasis Fatuleu

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penulisan ini mengkaji praktik dansa kizomba yang dilakukan oleh pemuda-pemudi GMIT Siloam Oelbioin. Pokok persoalan penelitian ini adalah adanya keresahan karena praktik dansa kizomba dengan sentuhan fisik yang berlebihan dengan lawan jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat, menganalisis praktik dansa kizomba, serta memberikan refleksi etis teologis terhadap praktik tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis, data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan beberapa narasumber serta dianalisis menggunakan teori etika deontologi Immanuel Kant dan konsep kekudusan hidup dalam perspektif alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik dansa kizomba di kalangan pemuda-pemudi ditandai dengan kedekatan fisik yang sangat intim, sentuhan pada area tubuh privat dan perilaku seperti berciuman di depan umum sehingga praktik ini sering memicu terjadinya konflik dan dinilai melanggar prinsip kekudusan hidup kristen. Berdasarkan analisis deontologi, tindakan ini dinilai tidak bermoral karena melanggar kewajiban universal untuk menghormati martabat manusia dan kekudusan hidup. Kata Kunci: Dansa kizomba, Etika deontologi Immanuel Kant, kekudusan hidup

INJIL DAN BAHASA "Suatu Tinjauan Misiologi Terhadap Penggunaan Bahasa Lokal Dalam Penyebaran Injil di Jemaat GMIT Elim Tulleng, Klasis Alor Tengah Utara.

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji penggunaan dan revitalisasi bahasa lokal dalam pelayanan gereja di Jemaat GMIT Elim Tulleng sebagai bagian dari pelaksanaan misi gereja. Latar belakang penelitian ini muncul dari fenomena menurunnya penggunaan bahasa lokal, khususnya di kalangan generasi muda, akibat dominasi bahasa nasional dan bahasa global dalam pendidikan, media, dan kehidupan sehari-hari. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi aspek budaya, tetapi juga berdampak pada cara jemaat memahami, menghayati, dan meneruskan iman Kristen dalam komunitas mereka. Situasi ini menempatkan gereja pada panggilan untuk menghadirkan Injil secara relevan dengan konteks kehidupan jemaat, sekaligus setia pada ajaran firman Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan, meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta didukung kajian pustaka mengenai teologi misi dan kontekstualisasi Injil. Analisis data dilakukan secara teologis dan misiologis dengan menggunakan kerangka Missio Dei, yang menekankan bahwa misi gereja adalah partisipasi dalam karya Allah yang berlangsung di dunia, dan harus dijalankan secara kontekstual sesuai realitas sosial, budaya, dan bahasa jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa lokal dalam ibadah, pengajaran, doa, dan pelayanan gereja memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman dan pengalaman iman jemaat. Bahasa lokal memungkinkan firman Tuhan disampaikan dalam bahasa yang akrab dan mudah dihayati, sehingga iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dialami secara personal, emosional, dan eksistensial. Selain itu, penggunaan bahasa lokal mendorong keterlibatan aktif jemaat dalam kehidupan bergereja, memperkuat rasa memiliki terhadap gereja, dan memperkokoh identitas komunitas iman. Revitalisasi bahasa lokal juga menjadi jembatan antara pesan Kitab Suci dengan pengalaman hidup jemaat, sehingga pewartaan Injil menjadi lebih relevan, bermakna, dan kontekstual. Secara teologis, penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi bahasa lokal merupakan tindakan misiologis yang selaras dengan visi Allah dalam Missio Dei. Landasan biblis seperti peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1–13) dan visi Wahyu 7:9 menunjukkan bahwa keberagaman bahasa bukan penghalang, melainkan sarana Allah untuk menyampaikan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian, revitalisasi bahasa lokal bukan sekadar upaya pelestarian budaya, tetapi sarana strategis untuk memperdalam iman jemaat, membangun komunitas yang hidup, dan menjamin pewarisan iman antar generasi.

PENDAMPINGAN PASTORAL BAGI SUAMI YANG DITINGGALKAN ISTRI “Suatu Kajian Teologi Pastoral Terhadap Peran Pendampingan Pastoral Gereja Bagi Suami yang ditinggalkan Istri di Jemaat Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya”

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Masalah perceraian dan perpisahan dalam rumah tangga Kristen merupakan realitas pastoral yang semakin kompleks, termasuk fenomena suami yang ditinggalkan oleh istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendampingan pastoral gereja bagi suami yang ditinggalkan oleh istri di Jemaat GMIT Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya (RBD), serta meninjau secara teologis praktik pendampingan pastoral yang telah dilakukan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan pendeta dan rekan majelis jemaat, suami yang ditinggalkan istri, keluarga, serta unsur adat dan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, ekonomi, komunikasi, serta konstruksi maskulinitas patriarkal turut memengaruhi terjadinya perpisahan dan respons suami terhadap pendampingan pastoral gereja. Praktik pendampingan pastoral yang dilakukan gereja selama ini cenderung berfokus pada upaya rekonsiliasi dan penyatuan kembali secara fisik, namun belum sepenuhnya menerapkan fungsi-fungsi pendampingan pastoral secara holistik. Melalui kajian teologi pastoral dengan menggunakan fungsi-fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan yang menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara kehidupan suami yang ditinggalkan istri secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi teologis dan praktis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang lebih kontekstual, inklusif, dan transformatif.

PERAN ORANG TUA TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK GOLDEN AGE : Suatu Tinjauan Pendidikan Agama Kristen Terhadap Peran Orang Tua Bagi Pembentukan Karakter Anak Golden Age (0-6 Tahun) di Jemaat GMIT Batu Karang Nonohonis

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pembentukan karakter anak pada usia Golden Age (0-6 tahun) merupakan tahap yang sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian dan iman anak di masa depan. Dalam iman Kristen, orang tua dipahami sebagai pendidik iman pertama dan utama bagi anak. Namun, realitas kehidupan keluarga masa kini menunjukkan adanya berbagai tantangan yang menyebabkan peran orang tua dalam pembentukan karakter anak belum berjalan secara optimal. Berdasarkan konteks tersebut, penelitian ini berfokus pada persoalan bagaimana peran orang tua dalam pembentukan karakter anak Golden Age di Jemaat GMIT Batu Karang Nonohonis, serta bagaimana gereja berperan sebagai mitra keluarga dalam mendukung proses tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran orang tua dalam pembentukan karakter anak Golden Age berdasarkan perspektif Pendidikan Agama Kristen, mengidentifikasi realitas praktik pengasuhan yang terjadi di jemaat, serta merumuskan refleksi teologis dan implikasi praktis bagi orang tua dan gereja. Penelitian ini juga bertujuan menegaskan kembali pentingnya sinergi antara keluarga dan gereja dalam pembinaan iman dan karakter anak sejak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif-analitis-refleksi. Data diperoleh melalui wawancara dengan orang tua, guru Sekolah Minggu, guru PAUD, dan pengajar program pelayanan anak, serta melalui observasi dan studi kepustakaan yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen. Analisis data dilakukan dengan mengaitkan temuan lapangan dengan landasan teologis Alkitab dan teori Pendidikan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menyadari pentingnya pembentukan karakter anak sejak usia dini, namun keterbatasan waktu, pemahaman yang belum utuh tentang Golden Age, serta kesibukan pekerjaan menyebabkan pembentukan karakter anak belum dilakukan secara konsisten. Gereja telah menjalankan pelayanan anak, tetapi belum sepenuhnya didukung oleh keterlibatan aktif orang tua. Penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan karakter anak Golden Age akan berjalan lebih efektif apabila orang tua menjalankan perannya sebagai pendidik iman utama dan gereja hadir sebagai mitra yang mendampingi keluarga secara berkelanjutan.

PERSAUDARAAN DALAM KEBERAGAMAN Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Makna Tena El Dalam Relasi Islam dan Kristen di Jemaat GMIT Tena El’Ladon Klasis Alor Barat Laut

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertolak dari realitas kehidupan masyarakat Ladon, Klasis Alor Barat Laut, yang hidup dalam konteks keberagaman agama, khususnya relasi antara umat Kristen dan Islam. Di tengah pluralitas tersebut, masyarakat menghidupi nilai budaya lokal Tena’El yang dimaknai sebagai persaudaraan, persahabatan, dan kebersamaan lintas iman. Pokok persoalan dalam penelitian ini adalah bagaimana konteks wilayah dan jemaat GMIT Tena’El Ladon membentuk relasi Islam-Kristen, bagaimana makna dan nilai Tena’El dipahami serta dipraktikkan dalam kehidupan sosial-keagamaan, dan bagaimana nilai tersebut ditinjau secara teologis dalam terang Injil dengan menggunakan perspektif pluralisme agama menurut Paul F. Knitter. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna Tena’El sebagai identitas lokal yang berperan dalam membangun relasi persaudaraan antara umat Kristen dan Islam, mengkaji praktik hidup bersama dalam keberagaman melalui pendekatan teologi agama-agama, serta menafsirkan nilai Tena’El sebagai bagian dari kesaksian iman Kristen yang kontekstual dan dialogis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi agama-agama. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan warga jemaat, tokoh gereja, tokoh masyarakat, serta umat Islam, observasi lapangan, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menafsirkan temuan penelitian dalam kerangka pluralisme agama Paul Knitter dan teologi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tena’El berfungsi sebagai modal sosial dan teologis yang memperkuat relasi persaudaraan Islam–Kristen di Ladon. Nilai ini tidak bertentangan dengan iman Kristen, melainkan sejalan dengan Injil yang menekankan kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan hidup berdampingan secara damai. Tena’El menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan gereja hadir sebagai agen perdamaian dan memperteguh kesaksian iman di tengah masyarakat plural.

TRADISI EU’NAKAF (Menggunting Rambut) Suatu Tinjauan Kontekstual Tentang Makna Tradisi Eu’nakaf (Menggunting Rambut) dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis pelaksanaan dan makna tradisi Eu’nakaf (menggunting rambut) serta implikasinya bagi kehidupan iman Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan. Tradisi Eu’nakaf merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Atoni Meto yang masih terus dipraktikkan hingga saat ini, khususnya dalam penerimaan anak. Dalam praktiknya, tradisi ini tidak hanya dipahami sebagai ritual budaya, tetapi juga memiliki dimensi religius yang berkaitan dengan perlindungan, keselamatan, serta masa depan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analitis, dan reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan majelis jemaat, tokoh adat, serta anggota jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, dan didukung dengan studi kepustakaan. Analisis teologis dalam penelitian ini menggunakan tipologi hubungan Kristus dan kebudayaan menurut Niebuhr, khususnya tipologi ketiga tentang “Kristus di atas kebudayaan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Eu’nakaf mengandung nilai teologis, sosial, dan kultural yang penting, terutama sebagai ungkapan syukur dan penyerahan hidup kepada Allah, penguatan persekutuan jemaat, serta pelestarian identitas budaya lokal. Namun demikian, ditemukan pula adanya unsur-unsur tertentu yang berpotensi bertentangan dengan iman Kristen, seperti keyakinan tentang “mauputu” dan praktik ritual yang dapat menggeser peran Kristus sebagai satu-satunya sumber keselamatan. Oleh karena itu, tradisi Eu’nakaf perlu dimurnikan dan dimaknai kembali dalam terang Injil agar dapat menjadi sarana kontekstualisasi iman yang sehat, di mana kebudayaan tetap dihargai tanpa kehilangan pusat iman kepada Yesus Kristus.

KONSUMERISME DAN HIDUP UGAHARI: Suatu Tinjauan Teologi Terhadap Perilaku Konsumerisme dan Implikasinya Bagi Jemaat Efata Liliba

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perilaku konsumerisme merupakan fenomena sosial yang semakin menguat dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk dalam konteks kehidupan bergereja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis perilaku konsumerisme yang terjadi dalam Jemaat GMIT Efata Liliba, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta merefleksikan fenomena tersebut dalam terang ugahari, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuntitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara dengan warga jemaat serta pelayan gereja, yang kemudian dianalisis secara sosial dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumerisme dalam Jemaat GMIT Efata Liliba tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui interaksi berbagai faktor struktural dan kultural, seperti perkembangan teknologi digital, pengaruh media sosial dan iklan, lingkungan pergaulan, serta kedekatan geografis jemaat dengan pusat-pusat perbelanjaan modern. Konsumerisme tampak dalam pola konsumsi yang berorientasi pada keinginan, tren, dan simbol sosial, sehingga batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya tekanan ekonomi, melemahnya solidaritas sosial, munculnya ketimpangan relasi antarjemaat, serta pergeseran nilai-nilai spiritual seperti kesederhanaan, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam perspektif hidup ugahari, konsumerisme dipahami sebagai persoalan yang menyangkut moral individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem ekonomi dan budaya yang populer. Iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari praksis hidup ugahari terhadap ketidakadilan sosial. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menghadirkan praksis iman yang membebaskan melalui pengembangan kesadaran kritis jemaat, diakonia yang transformatif, serta pembentukan pola hidup berjemaat yang berlandaskan pada nilai-nilai Kerajaan Allah, yaitu keadilan, kesederhanaan, solidaritas, dan kesejahteraan bersama.

PELAYANAN GEREJA BAGI IBU HAMIL Suatu Tinjauan Teologis Sosial terhadap Program Gerakan Peduli Ibu Hamil dengan Pendekatan Appreciative Inquiry di Klasis Amanuban Tengah Utara

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan kesehatan ibu hamil yang berdampak pada tingginya risiko stunting di wilayah Klasis Amanuban Tengah Utara, yang mendorong gereja untuk terlibat secara aktif melalui Program Gerakan Peduli Ibu Hamil (GEPIH). Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami konteks pelayanan GEPIH, menganalisis pelaksanaannya dengan pendekatan Appreciative Inquiry, serta merefleksikan makna teologis dari keterlibatan gereja dalam pelayanan sosial tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen terhadap pelaksana program dan ibu hamil penerima pelayanan. Analisis sosial dilakukan dengan menekankan penggalian kekuatan, potensi, dan praktik baik yang telah hidup dalam komunitas jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GEPIH merupakan bentuk diakonia transformatif yang mampu memperkuat solidaritas jemaat, meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan ibu hamil, serta membangun jejaring kerja sama antara gereja, keluarga, dan lembaga kesehatan. Dari perspektif teologi sosial, keterlibatan gereja dalam GEPIH mencerminkan panggilan iman untuk menghadirkan kehidupan yang utuh (shalom) melalui tindakan nyata yang berpihak pada kelompok rentan, khususnya ibu hamil dan anak yang dikandungnya.

Luka Yang Menubuh “Suatu Kajian Teologis Pemikiran Shelly Rambo Mengenai Konsep “Remaining” sebagai Luka Yang Menubuh dan Sumbangsihnya bagi Realitas Kekerasan Seksual di GMIT”

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kekerasan seksual merupakan realitas yang terus dihadapi gereja dan menimbulkan luka yang tidak selalu berakhir ketika peristiwa kekerasan berhenti. Dalam konteks ini, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berhadapan dengan pengalaman trauma para korban yang berlangsung secara berkelanjutan dalam tubuh, ingatan, dan relasi sosial mereka. Skripsi ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran teologi trauma Shelly Rambo, khususnya konsep Remaining, sebagai luka yang menubuh, serta menelaah implikasinya bagi sikap dan pelayanan pastoral GMIT dalam merespons kasus kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis kontekstual. Sumber data primer berasal dari karya-karya Shelly Rambo, terutama Spirit and Trauma: A Theology of Remaining dan Resurrecting Wounds: Living in the Afterlife of Trauma, sedangkan sumber data sekunder meliputi literatur teologi trauma, dokumen gerejawi GMIT, serta laporan pendampingan Rumah Harapan GMIT pada periode 2020–2024. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Remaining menolong gereja untuk memahami trauma sebagai penderitaan yang tidak sepenuhnya selesai, melainkan tetap hadir dan bekerja dalam kehidupan para penyintas. Dalam konteks GMIT, kehadiran Rumah Harapan menunjukkan komitmen pastoral gereja terhadap korban kekerasan seksual. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan pastoral GMIT masih cenderung berfokus pada pemulihan yang cepat dan belum sepenuhnya mengintegrasikan pengakuan atas luka yang menubuh ke dalam sistem pastoral, disiplin gereja, dan spiritualitas jemaat. Oleh karena itu, skripsi ini menegaskan pentingnya pengembangan sikap pastoral yang lebih peka terhadap trauma, yang tidak mengabaikan tubuh yang terluka, ingatan yang rapuh, dan relasi sosial yang retak, serta bersedia tinggal bersama luka sebagai bagian dari kesetiaan iman Kristen.

REMAJA DI ERA DIGITAL “Suatu Tinjauan Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pemahaman Diri Remaja Dalam Mencari Identitas Diri Pada Era Digital dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan”

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perkembangan teknologi digital membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan remaja, khususnya dalam proses pencarian identitas diri. Remaja hidup di tengah arus informasi yang cepat, budaya media sosial, dan tuntutan untuk membangun citra diri yang ideal, sehingga sering kali mengalami kebingungan identitas, tekanan psikologis, serta ketergantungan pada pengakuan eksternal. Kondisi ini juga dialami oleh remaja di Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana remaja mencari dan membentuk identitas diri di era digital, serta bagaimana gereja berperan dalam mendampingi proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika pencarian identitas diri remaja pada era digital dan merumuskan bagaimana remaja dapat memahami dan mencari identitas diri pada era digital saat ini dengan baik, penelitian ini juga ingin menegaskan peran gereja sebagai komunitas iman yang aman, menerima, dan mendampingi remaja dalam pergumulan hidup mereka, sehingga remaja dapat membangun identitas diri yang berakar pada iman Kristen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskpsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi. Kajian ini memanfaatkan teori perkembangan remaja, refleksi teologis berdasarkan Alkitab, serta pemikiran Andrew Root tentang pelayanan remaja yang berpusat pada relasi dan pengalaman hidup sebagai ruang perjumpaan dengan Allah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas diri remaja di era digital cenderung rapuh apabila dibangun di atas standar budaya digital seperti popularitas dan citra diri. Oleh karena itu, gereja memiliki peran penting untuk menghadirkan pendidikan agama kristen yang berpusat pada relasi, pendampingan yang setia, dan komunitas yang menerima remaja apa adanya. Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan, implikasi pendidikan agama Kristen ini menegaskan bahwa gereja perlu menjadi ruang aman yang menolong remaja memahami dan menemukan identitas diri mereka sebagai pribadi yang dikenal, dikasihi, dan dipanggil Allah di tengah tantangan era digital. Kata Kunci: Remaja, Identitas diri, Era digital, Pelayanan Pastoral, GMIT Gunung Sinai Naikolan

PENGEMBANGAN TEH CELUP DAUN KELOR JAHE SEBAGAI MINUMAN KESEHATAN

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PENGEMBANGAN TEH CELUP DAUN KELOR JAHE SEBAGAI MINUMAN KESEHATAN Maus, S.F)* Ballo.A)** Ledo, S.E.M)** Teh adalah minuman yang sangat umum dalam kehidupan kita sehari-hari. Kebiasaan minum teh sudah dikenal tidak hanya di Indonesia tetapi hampir di seluruh dunia. teh memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Senyawa dalam teh dapat menyembuhkan beberapa penyakit ringan dan mencegah timbulnya beberapa penyakit serius. Tujuan penelitian iniuntuk mengetahui pH, uji tingkat kesukaan konsumen dari parameter organoleptik aroma, rasa dan warna dan kadar air dan kadar abu pada pembuatan teh celup berbahan dasar kelor dengan variasi konsentrasi jahe. Penelitian ini dilakukan diLaboratorium Pendidikan Biologi UKAW kupang dan diLaboratorium Kimia Universitas Nusa Cendana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan ( 3 pengulangan). Perbandingan daun kelor dan jahe dengan variasi perlakuan meliputi: (P0) 100 % : 0%, ( P1) 90 % : 10 %, ( P2 ) 80 % : 20 %, ( P3) 70 % : 30 %. Parameter yang diuji yaitu pH dengan nilai tertinggi pada P3: 5,52% dan terendah P1: 5,22%, uji organoleptik yang meliputi parameter aroma di perolehF hitung 7,316,df=3, dan nilai P 0,000 0,005, rasa di peroleh F hitung 17,786, df=3, dengan nilai P 0,000 0,005, warna diperoleh F hitung 4,626, df=3, dengan nilai P 0.005, dan uji proksimat meliputi kadar air dan kadar abu. Berdasarkan hasil uji ANOVA didapatkan Hasil Uji proksimat untuk mengukur kandungan gizi teh celup kelor jahe kadar air tertinggi pada perlakuan P1 sebesar 35% kadar abu tertinggi pada perlakuan P2 sebesar 83%. Kata Kunci: Teh celup kelor jahe merah,pH,organoleptik dan proksimat. Keterangan: *) Peneliti **)Pembimbing ABSTRACT DEVELOPMENT OF GINGER MORINGA TEABAGS AS A HEALTH DRINK Maus, S.F)* Ballo.A)** Ledo, S.E.M)** Tea is a very common drink in our daily life. The habit of drinking tea is known not only in Indonesia but almost throughout the world. Tea has many health benefits. The compounds in tea can cure several minor illnesses and prevent the onset of several serious illnesses. The aim of this research is to determine the pH, test the level of consumer preference from the organoleptic parameters of aroma, taste and color and water content and ash content in making moringa-based tea bags with variations in ginger concentration. This research was conducted at the UKAW Kupang Biology Education Laboratory and at the Chemistry Laboratory at Nusa Cendana University. The method used in this research was an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments (3 repetitions). The comparison of Moringa leaves and ginger with various treatments includes: (P0) 100 % : 0%, (P1) 90 % : 10 %, (P2) 80 % : 20 %, (P3) 70 % : 30 %. The parameters tested were pH with the highest value at P3: 5.52% and the lowest at P1: 5.22%, the organoleptic test which included aroma parameters was obtained F hitung 7.316, df = 3, and P value of 0.000 0.005, taste was obtained F hitung 17.786, df = 3, with P value of 0.000 0.005, color was obtained F hitung 4.626, df=3, with P value of 0.005, and proximate tests include water content and ash content. Based on the results of the ANOVA test, proximate test results were obtained to measure the nutritional content of ginger moringa tea bags, the highest water content in treatment P1 was 35%, the highest ash content in treatment P2 was 83%. Keywords: Red ginger Moringa tea bags, pH, organoleptic and proximate. Information: *) Researcher **)Advisor

ANALISIS KANDUNGAN VITAMIN C DALAM DODOL PISANG AMBON (Musa acuminata) DARI DESA RETRAEN KECAMATAN AMARASI SELATAN

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK ANALISIS KANDUNGAN VITAMIN C DALAM DODOL PISANG AMBON (Musa acuminata) DARI DESA RETRAEN KECAMATAN AMARASI SELATAN Da Costa. D.M)* Ngginak. J)** Ledo, S.E.M)** Pisang ambon merupakan buah yang banyak mengandung gizi dan mempunyai rasa dan Pisang ambon (Musa acuminata) merupakan buah yang kaya akan vitamin dan mineral, salah satunya vitamin C, namun mudah rusak sehingga perlu diolah agar memiliki daya simpan yang lebih lama. Salah satu bentuk olahan yang potensial adalah dodol pisang ambon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar vitamin C dalam dodol pisang ambon yang diproduksi dari Desa Retraen, Kecamatan Amarasi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan berbeda yang masing-masing diulang sebanyak tiga kali, dan data dianalisis menggunakan Analysis Of Variance (ANOVA). Uji organoleptik dilakukan terhadap atribut aroma, rasa, warna, dan tekstur menggunakan metode hedonik dengan melibatkan 20 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 (300 gram pisang ambon) merupakan perlakuan terbaik dalam atribut aroma, rasa, dan warna, sedangkan tekstur terbaik terdapat pada perlakuan P2 (200 gram pisang ambon). Analisis kadar vitamin C menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukkan bahwa perlakuan P3 memiliki kadar vitamin C tertinggi yaitu sebesar 155,33 mg/100g. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah pisang ambon yang digunakan, semakin tinggi pula kandungan vitamin C dalam dodol. Kata Kunci: Dodol pisang ambon, vitamin C, organoleptik, spektrofotometri. Keterangan: *) Peneliti **)Pembimbing ABSTRAK ANALYSIS OF VITAMIN C CONTENT IN AMBON BANANA DODOL (Musa acuminata) FROM RETRAEN VILLAGE, SOUTH AMARASI DISTRICT Da Costa. D.M)* Ngginak. J)** Ledo, S.E.M)** Ambon banana (Musa acuminata) is a fruit rich in vitamins and minerals, particularly vitamin C, but it is highly perishable and requires processing to extend its shelf life. One potential processed product is dodol made from Ambon banana. This study aimed to analyze the vitamin C content in dodol made from Ambon banana in Retraen Village, South Amarasi District. The research used an experimental method with a quantitative descriptive approach. A Completely Randomized Design (CRD) was employed, consisting of four treatments with three replications each. Data were analyzed using ANOVA and further tested with Duncan's Multiple Range Test. Organoleptic tests (aroma, taste, color, and texture) were conducted using the hedonic method involving 20 panelists. The results showed that treatment P3 (300 grams of Ambon banana) was the most preferred in aroma, taste, and color, while P2 (200 grams) had the best texture. Vitamin C analysis using UV-Vis spectrophotometry showed that P3 had the highest vitamin C content, reaching 155.33 mg/100g. These findings indicate that increasing the amount of Ambon banana increases the vitamin C content in dodol. Keywords :Ambon banana dodol, vitamin C, organoleptiktest, spectrophotometry Information: *) Researcher **) Advisor

SUMPAH ADAT Suatu Tinjauan Teologis terhadap Pemahaman Jemaat tentang Sumpah Adat dan Implikasinya bagi Pelayanan Gereja di Jemaat GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat-Raijua

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul: Sumpah Adat dengan sub Judul: Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemahaman Jemaat dan Implikasinya bagi Pelayanan Gereja di Jemaat GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat-Raijua yang ditulis oleh Dominggus Bole Lawe, mengarahkan perhatian pada praktik sumpah adat di Hawu Mehara serta bagaimana pemahaman jamaat GMIT Betel Gelanalalu sebagai salah satu basis berteologi dan pelayanan gereja. Penelitian ini bertujuan mendefinisikan, menganalisis dari perspektif teologis, serta memfokuskan pada pemahaman jemaat tentang sumpah adat dan bagaimana pengaruh sumpah adat, yang berdampak pada relasi manusia dalam komunitas masyarakat Hawu Mehara. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis dari Lesslie Newbigin untuk menganalisis bagaimana praktik sumpah adat mempengaruhi kehidupan dan berdampak negatif terhadap konsep kebersamaan dalam struktur masyarakat, khususnya Jemaat GMIT Betel Gelanalalu. Hasil penilitian membuktikan bahwa sumpah adat memiliki dampak teologis: terjadi krisis iman dan relasi dengan Allah, dampak psikologis: hidup dalam ketakutan dan kecemasan, dampak sosial: ketegangan dan putusnya relasi, dampak keluarga: retaknya ikatan kekeluargaan dan trauma lintas generasi, dampak eklesiologi: melemahnya persekutuan gereja. Berdasarkan beberapa dampak dari sumpah adat ini, perlu memberikan pemahaman baru, serta penegasan bagi anggota jemaat agar tetap dalam iman yang benar kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya otoritas yang berkuasa, bukan terjebak di bawah kuasa kutuk dan ikatan sumpah adat. Alasannya adalah kuasa kutuk, kecemaran segenap umat manusia, termasuk praktik-praktik dalam kebudayaan mana pun Kristus sudah merengkuh, memurnikan lewat pengorbanan-Nya. Dengan demikian, transfomasi secara pemikiran, dan netralisasikan pemahaman yang keliru dalam masyarakat adat perlu diberikan seturut iman Kristen.

GEREJA DIASPORA : DARI GEDUNG KE KEHIDUPAN Suatu Tinjauan Teologis terhadap Pemikiran Y.B. Mangunwijaya tentang Gereja Diaspora dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua, Klasis Kota Kupang Timur.

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehidupan bergereja di konteks perkotaan kerap dipahami secara sempit sebagai aktivitas yang berpusat pada gedung gereja, liturgi, dan struktur kelembagaan. Cara pandang ini sering kali menutupi realitas sosial yang lebih dalam, khususnya pengalaman kemiskinan struktural yang dialami sebagian anggota jemaat. Penelitian ini berangkat dari persoalan tersebut dengan memfokuskan kajian pada konsep Gereja Diaspora yang dikemukakan oleh Y. B. Mangunwijaya dan implikasinya bagi kehidupan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua sebagai gereja perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk merefleksikan secara teologis realitas kemiskinan struktural dalam kehidupan jemaat serta menelaah bagaimana pemikiran Gereja Diaspora dapat menjadi kerangka teologis bagi pembaruan pelayanan gereja. Penelitian ini juga bertujuan menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk hadir bukan semata sebagai organisasi religius, melainkan sebagai organisme iman yang hidup, bertumbuh, dan berpihak pada kehidupan umat yang rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis dan refleksi teologis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya Y. B. Mangunwijaya, kajian Alkitab, serta analisis kontekstual berdasarkan data sosial dan pekerjaan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan kritis atas realitas jemaat sebagai “tanda-tanda zaman” yang menantang gereja untuk merefleksikan kembali identitas dan panggilannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami sebagian jemaat GMIT Kaisarea merupakan bentuk kemiskinan struktural yang tidak dapat direduksi sebagai persoalan individual. Dalam terang pemikiran Mangunwijaya, kemiskinan tersebut menjadi locus teologis yang menguji kesetiaan iman dan kesaksian gereja. Konsep Gereja Diaspora menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk bergerak dari pemusatan pada gedung menuju kehadiran nyata dalam kehidupan umat. Dengan demikian, GMIT Kaisarea dipahami sebagai “Kebun Anggur Tuhan yang Berbunga,” yakni komunitas iman yang merawat keberagaman, memperjuangkan martabat manusia, dan menghadirkan Injil sebagai daya yang membebaskan di tengah realitas perkotaan yang timpang.

TRADISI MOLEBINGGA Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Praktik Molebingga Serta Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Getsemani Longgo, Klasis Rote Barat Laut

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tradisi Molebingga adalah warisan kebudayaan masyarakat Rote Dengka yang mempunyai makna mengenai kehidupan sosial. Tradisi Molebingga dipahami sebagai ritual mendinginkan keadaan pasca kematian, yang sering kali membuat jemaat ada dalam kondisi ketegangan identitas yaitu antara patuh terhadap adat dan iman Kristen. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana praktik Molebingga yang terkandung nilai-nilai dan makna dapat dialogkan secara kritis dengan teks Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai dan makna dari praktik Molebingga sehingga tidak menimbulkan dualisme iman, tetapi sebuah teologi yang kontekstual bagi jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini memakai analisis yang mendalam sebab lebih mengutamakan situasi yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, pendekatan teologi yang digunakan adalah model dialektis yang dikembangkan oleh Emanuel Gerrit Singgih. Informasi yang didapatkan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara dengan tokoh adat dan pemimpin jemaat di GMIT Getsemani Longgo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Molebingga terkandung nilai-nilai dikorelasikan kritis maka ada nilai positif dan nilai negatif. Terdapat nilai luhur dari tradisi Molebingga yaitu upaya memanusiakan manusia dan psikologis melalui simbolisme (mendinginkan). Oleh karena itu, melalui proses dialektika, ditemukan bahwa praktik Molebingga memberikan pemahaman jemaat tentang rasa syukur kepada Tuhan sebagai kesejukan di tengah duka dan perlindungan serta perdamaian hanya dari-Nya. Lalu, teks Alkitab sangat berperan penting dalam memberikan kritik profetis untuk mentransformasikan pemaknaan ritual yang awalnya bersifat legalistik dan penuh ketakutan akan kematian menjadi sebuah perayaan kasih Allah. Penelitian ini, dengan refleksi teologis kritis maka menyimpulkan bahwa tradisi Molebingga di lakukan pemaknaan kembali dalam budaya sebagai peneguhan iman dan solidaritas berupa diakonia penghiburan di Jemaat GMIT Getsemani Longgo, di mana Allah bekerja melalui struktur kekeluargaan suku Rote (Dengka) yaitu To’o yang menyatakan kasih dan keadilan bagi keluarga duka.

SPIRITUALITAS KOTA Suatu Tinjauan Teologi terhadap Pemikiran Spiritualitas Kota Menurut Philip Sheldrake dan Relevansinya bagi GKS Jemaat Manubara

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehidupan perkotaan ditandai oleh dinamika sosial yang kompleks, keberagaman latar belakang manusia, serta tekanan ekonomi dan budaya yang kuat. Realitas ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga dapat membentuk spiritualitas umat beriman yang hidup di dalamnya. Skripsi ini mengkaji pemikiran spiritualitas kota menurut Philip Sheldrake dan penulis merefleksikan relevansinya bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang hidup dalam konteks perkotaan di Kota Waingapu. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana kota dapat dipahami sebagai ruang teologis dan spiritual, serta bagaimana pemikiran Sheldrake dapat menolong gereja membangun spiritualitas jemaat di tengah tantangan kehidupan kota.Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pemikiran Philip Sheldrake mengenai spiritualitas kota, untuk menganalisis kota sebagai ruang relasional dan ruang publik teologis, serta untuk menemukan relevansi nilai-nilai spiritualitas kota tersebut bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang didominasi oleh jemaat pendatang dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan kajian kepustakaan, yang dilengkapi dengan penelitian lapangan melalui wawancara. Kajian kepustakaan digunakan untuk menelaah pemikiran Sheldrake, sementara data lapangan digunakan untuk memahami realitas konkret kehidupan jemaat Manubara dalam konteks perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Philip Sheldrake, kota bukan sekadar ruang geografis atau material, melainkan ruang relasional yang membentuk identitas, iman, dan spiritualitas manusia. Kota memiliki potensi besar sebagai ruang pembentukan komunitas iman yang inklusif, tetapi juga mengandung risiko individualisme dan keterasingan. Dalam konteks GKS Jemaat Manubara, tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dan perbedaan latar belakang sering kali melemahkan relasi antarjemaat yang menjadi bentuk dari praktik spiritualitas. Oleh karena itu, pemikiran Sheldrake relevan untuk menolong gereja memaknai kota sebagai ruang panggilan iman, tempat spiritualitas jemaat bertumbuh melalui relasi, solidaritas, dan kesaksian hidup di tengah kehidupan kota.

JAGUNG SEBAGAI PEMBERI KEHIDUPAN Suatu Tinjauan Teologis-Kontekstual Terhadap Filosofi Jagung Menurut Orang Putun dan Implikasinya Bagi Pos Pelayanan Getsemani Oekani Mata Jemaat Bethania Leteteta Klasis Amanatun Selatan

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari realitas budaya masyarakat Putun, khususnya jemaat Pos Pelayanan Getsemani Oekani yang memaknai jagung sebagai pemberi kehidupan dan simbol penting dalam keberlangsungan hidup. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana dampak dari pemaknaan terhadap filosofi jagung. Ketika jagung diposisikan sebagai penentu keselamatan, maka iman jemaat mengalami pergeseran. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat filosofi jagung melalui pendekatan teologi kontekstual berdasarkan teori dari Richard Niebuhr dengan tipologi (Kristus memperbaharui budaya) dan membuat refleksi teologi kontekstual dari perspektif Alkitab dan iman Kristen, serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman jemaat dan peran gereja. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah sebelas orang. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa jagung dapat dimaknai sebagai tanda pemeliharaan Allah yang menopang kehidupan jasmani, tetapi bukan sebagai sumber keselamatan. Yesus Kristus sebagai Roti Hidup adalah pusat iman dan sumber kehidupan sejati. Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib menegaskan bahwa karya keselamatan Allah telah diselesaikan secara sempurna dan final. Sehingga praktik pengorbanan dalam budaya filosofi jagung perlu ditafsirkan kembali secara kritis dan teologis. Pengorbanan budaya pada jagung yang menuntut kurban sebagai syarat ketaatan pada leluhur untuk memperoleh kehidupan atau keselamatan tidak lagi dapat dipahami sebagai keharusan religius yang menentukan relasi manusia dengan Allah untuk memperoleh keselamatan. Sebab, dalam iman Kristen, relasi tersebut telah dipulihkan sepenuhnya melalui pengorbanan Kristus. Oleh karena itu budaya filosofi jagung tidak dihapus, melainkan diperbaharui nilai dan maknanya dalam terang injil sehingga dapat memmbangun iman jemaat yang kontekstual dan berakar pada Kristus.

TRADISI TUTUS Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Tutus dan Maknanya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Oebitina

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.

Tarian Li N'gae Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Makna Tarian Li N'gae dan Implikasinya bagi Persekutuan Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, Klasis Semau

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna tarian Li N’gae sebagai ekspresi budaya masyarakat suku Helong di Pulau Semau serta merefleksikannya secara teologis dalam kerangka teologi kontekstual. Tarian Li N’gae merupakan tradisi agraris yang lahir dari pengalaman historis masyarakat Helong, khususnya dalam menghadapi keterbatasan hidup, kerja keras, dan ketergantungan pada hasil panen jagung sebagai sumber penghidupan utama. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini memanfaatkan data hasil observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, pelayan gereja, dan jemaat, serta studi pustaka teologis. Kerangka analisis dalam penelitian ini menggunakan teori teologi lokal dari Robert J. Schreiter, yang menekankan dialog antara Injil, budaya, dan tradisi gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Li N’gae tidak hanya berfungsi sebagai praktik pengawetan jagung atau hiburan masyarakat, melainkan sebagai teks budaya yang memuat nilai-nilai religius, sosial, dan teologis, seperti syukur atas kehidupan, solidaritas komunal, kerja kolektif, dan relasi harmonis dengan alam. Nilai-nilai tersebut telah membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat Helong secara turun-temurun. Dalam konteks kehidupan berjemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, tarian Li N’gae dipahami sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan sebagai simbol kebersamaan, meskipun kehadirannya masih ditempatkan di luar liturgi resmi gereja. Analisis menunjukkan bahwa terdapat potensi besar bagi Li N’gae untuk dikembangkan sebagai bagian dari teologi lokal yang memperkaya pemahaman persekutuan jemaat, tanpa harus mengubah struktur ibadah gerejawi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tarian Li N’gae dapat menjadi medium teologi lokal yang kontekstual dan transformatif, baik bagi gereja maupun budaya. Dengan pendekatan teologi kontekstual, gereja didorong untuk membaca dan memaknai tradisi budaya sebagai ruang karya Allah, sehingga iman Kristen dapat dihayati secara lebih kontekstual dan relevan dalam kehidupan Masyarakat Helong

KETEGANGAN PERAN PENDETA Tinjauan Sosio-Teologis Terhadap Tantangan Peran Pendeta Dengan Pendekatan Teori Role Strain Menurut Robert K. Merton di Klasis Amabi Oefeto Timur

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya persoalan ketegangan peran yang dialami pendeta dalam konteks pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), khususnya di wilayah Klasis Amabi Oefeto Timur. Fokus utama penelitian diarahkan pada analisis satu status pelayanan pendeta yang memuat berbagai tuntutan peran yang harus dijalankan secara bersamaan, antara lain sebagai pelayan rohani, pemimpin organisasi gereja, pendamping pastoral bagi jemaat, figur sosial di tengah masyarakat, serta juga sebagai anggota keluarga. Keragaman dan kompleksitas ekspektasi tersebut, sering kali menimbulkan ketegangan peran yang berdampak pada kondisi fisik, emosional, dan spiritual pendeta. Namun situasi ini cenderung dipandang sebagai kelemahan pribadi, sehingga menutupi akar masalah yang bersifat struktural dan sistemik dalam kehidupan bergereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami latar belakang terjadinya ketegangan peran pendeta dalam konteks GMIT, menganalisis dampaknya terhadap kualitas pelayanan dan kehidupan pendeta, serta merumuskan refleksi sosio-teologis yang dapat membantu gereja menata kembali pemahaman dan praktik pelayanannya agar lebih selaras dengan hakikat gereja sebagai persekutuan tubuh Kristus yang saling menopang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pendeta dan pihak-pihak terkait. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan kajian pustaka terhadap literatur teologis dan sosiologis yang relavan, khusunya teori ketegangan peran (role strain) yang dikemukakan oleh Robert K. Merton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketegangan peran pendeta bukan terutama disebabkan oleh keterbatasan individu, melainkan oleh struktur pelayanan gereja yang menempatkan pendeta sebagai pusat berbagai tuntutan, tingginya ekspektasi jemaat, serta keterbatasan sumber daya dan fasilitas pelayanan. Refleksi sosio-teologis menegaskan pentingnya pengembangan sistem pelayanan yang lebih kolaboratif, partisipatif, dan saling mendukung, sehingga pendeta dapat menjalankan panggilannya secara manusiawi, sehat, dan berkelanjutan.