Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Stres Kerja Dan Kinerja
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Beban Kerja dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Kasus pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Timor Tengah Selatan)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PENGARUH BEBAN KERJA DAN STRES KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Kasus pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma Kabupaten Timor Tengah Selatan) OLEH GENI HELENA LONA 17411402 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Beban Kerja dan Stres Kerja Secara Parsial dan Secara Simultan Terhadap Kinerja Karyawan PDAM Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian survey, dimana instrument penelitian ini berupa kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan PDAM Kabupaten Timor Tengah Selatan sebanyak 50 orang karyawan. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 33 responden. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier berganda dan pembuktian hipotesis dengan menggunakan uji t, uji F dan koefisien determinasi (R2). Uji statistik menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil pengujian hipotesis pada Uji t membuktikan bahwa Beban Kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan PDAM kabupaten Timor Tengah Selatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig. variabel Beban Kerja sebesar 0,095 > 0,05 yang berarti bahwa H0 diterima dan H1 ditolak. Variabel Stres Kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PDAM Kabupaten Timor Tengah Selatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig. variabel stres kerja sebesar 0,001 0,05 yang berarti bahwa H1 diterima dan H0 ditolak. Hasil Statsitik (Uji F), secara simultan beban kerja dan stress kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PDAM Kabupaten Timor Tengah Selatan. Berdasarkan hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) diketahui bahwa nilai koefisien determinasi sebesar 0,410. hal ini berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat adalah sebesar 41% sisanya 59% dijelaskan oleh variabel lain. Maka dapat disimpulkan bahwa beban kerja tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja karyawan PDAM Kabupaten Timor Tengah Selatan sementara Stres Kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PDAM Kabupaten Timor Tengah Selatan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA FISIK DAN STRES KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI UPT PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DINAS PERHUBUNGAN KOTA KUPANG

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sistem transportasi mempunyai peran vital dalam pembangunan nasional. Untuk itu perlu adanya sarana dan prasarana yang memadai, diantaranya adalah tersedianya kendaraan bermotor yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Selain memberikan manfaat besar, kendaraan bermotor juga tidak terlepas dari permasalahan yang ditimbulkannya, seperti kecelakaan, kemacetan, kebisingan suara dan pencemaran udara akibat emisi gas buang. Untuk itulah pengujian kendaraan bermotor dilaksanakan agar setiap kendaraan bermotor wajib uji memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sesuai dengan ambang batas yang telah ditetapkan (UU No. 22, 2009). Pada UPT. Pengujian Kendaraan Bermotor dibawah naungan Dinas Perhubungan Kota Kupang merupakan satu-satunya Instansi Pemerintah Daerah yang menangani dan mengelola jasa Pengujian Kendaraan Bermotor atau dalam istilah di masyarakat lebih dikenal dengan nama “Uji KIR”. Jenis pelayanan yang ingin peneliti bahas dalam penelitian ini ialah jenis pelayanan pengujian berkala sistem drive thru, karena ini merupakan terobosan baru yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Kupang untuk mempercepat waktu pelayanan pengujian. Jadi, pengemudi bisa langsung melaksanakan proses pengujian dari proses daftar hingga akhir tanpa perlu turun dari kendaraan lagi. Dalam suatu organisasi karyawan dapat melakukan pekerjaan dengan baik bila ditunjang oleh keadaan lingkungan kerja yang memadai (Irianti, 2013). Sowmya dan Panchanatham (2011), berpendapat jika perusahaan ingin membuat situasi lingkungan kerja yang nyaman, hendaknya lebih memperhatikan penataan ruang kerja seperti penempatan peralatan kerja, penerangan, kebisingan, dan kenyamanan yang nantinya dapat meningkatkan kedisiplinan kerja karyawan sehingga mereka merasa betah bekerja di ruangannya. Stres diartikan suatu kondisi terhadap situasi eksternal yang berdampak pada perilaku seseorang (Luthans, 2006). Menurut Ivancevich, et al, (2007) mendefinisikan stres kerja sebagai perasaan tegang, gelisah atau khawatir, semua perasaan merupakan manifestasi dari pengalaman stres, suatu terprogram yang kompleks untuk mempersepsikan ancaman yang dapat menimbulkan hasil yang positif maupun negatif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa stres kerja merupakan kondisi fisik dan psikologis seseorang yang ditunjukkan melalui sikap atau perilaku seperti kecemasan, ketegangan, gelisah, yang disebabkan oleh suatu permasalahan yang mengganggu pikiran seseorang yang tidak dapat diselesaikannya sendiri. Menurut Robbins (2008), indikator yang digunakan untk mengukur tingkatan stres tersebut yaitu pertama dengan melihat kondisi dari gejala fisiologis, seperti sakit kepala, meningkatnya tekanan darah dan laju detak jantung. Yang kedua kondisi gejala psikologis, seperti ketegangan, kecemasan, kejengkelan, kejenuhan, depresi, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan. Dan yang ketiga kondisi gejala perilaku, seperti kemangkiran, perubahan kebiasaan makan, meningkatkan konsumsi rokok dan alkohol. Menurut Rezaei dan Baalousha (2011), kinerja itu bersifat individual, karena dalam melaksanakan tugasnya masing-masing individu karyawan mempunyai kemampuan yang berbeda, dan dengan meningkatnya kinerja berarti meningkatkan mutu dan standar perusahaan. Kinerja karyawan memegang peranan penting dalam suatu organisasi. Kinerja karyawan merupakan nafas dari kelangsungan hidup perusahaan. Untuk itu adakalanya perusahaan mengadakan suatu acara di luar kegiatan perusahaan seperti outbound dengan tujuan untuk mengajak para karyawan refreshing sejenak dari rutinitas pekerjaan sehari-hari dan membangkitkan kembali semangat bekerja serta meningkatkan kerjasama antar karyawan. Kinerja juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan kerja fisik. Dinas perhubungan kota kupang ingin membuat situasi lingkungan kerja yang nyaman, hendaknya lebih memperhatikan penataan ruang kerja seperti penempatan peralatan kerja, penerangan, kebisingan, dan kenyamanan yang nantinya dapat meningkatkan kedisiplinan kerja karyawan sehingga mereka merasa betah bekerja di ruangannya. Selain kinerja, lingkungan kerja fisik juga dapat mempengaruhi stres kerja. sebagian besar stres kerja berawal dari lingkungan kerja yang buruk dan berdampak pada pekerjaan. Jika seseorang stres dalam pekerjaannya, maka ia tidak akan dapat memberikan 100% kemampuan terbaiknya sehingga efisiensi kerjanya akan terpengaruh. Terdapat banyak hal yang mampu mempengaruhi keterlambatan pengujian tersebut, atau dengan kata lain rendahnya kinerja pegawai di UPT. Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota kupang salah satunya adalah Stres Kerja. Stres diartikan suatu kondisi terhadap situasi eksternal yang berdampak pada perilaku seseorang. Tuntutan pekerjaan yang tinggi akan memicu timbulnya stres pada karyawan dan pada akhirnya akan mempengaruhi kinerjanya.Populasi merupakan subyek atau obyek yang memiliki kuantitas dan karakteristik spesifik yang telah dipilih oleh peneliti untuk diteliti. Populasi penelitian ini adalah 80 karyawan Pada Dinas UPT pengujian kendaraan bermotor kota kupang. Menurut arikunto (2017) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Arikunto mengatakan bahwa apabila subjeknya kurang dari 100, maka seluruh populasi menjadi sample penelitian. Di mana semua anggota populasi digunakan menjadi sampel sehingga sampel dalam penelitian ini seluruh pegawai sebanyak 80 pegawai. Menurut Sugiyono (2018:2019) angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Analisis lanjutan ini dimaksudkan untuk menguji kebenaran empirik dan hipotesis secara statistik. Pada tahap analisis ini, peneliti menggunakan analisis regresi linear berganda dengan bantuan SPSS untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variable independen dan variabel dependen. Yaitu Lingkungan kerja fisik (X1) dan stres kerja (X2) terhadap Kinerja pegawaI (Y) Analisis regresi linear berganda digunakan apabila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variable kinerja pegawai(Kriterium), bila dua atau lebih variabel keselamatan dan kesehatan kerjan sebagai faktor prediktor dimanipulasi (sugiyono, 2010:275). Dengan demikian persamaan regresi linear berganda memperlihatkan Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik (X1) dan Stres Kerja (X2) terhadap kinerja Pegawai (Y) adalah sebagai berikut : Y 2.451 + 0.434 X1 +0. 480 X2 1. Nilai konstantan sebesar 2,451 artinya jika Iklim Lingkungan Kerja Fisik (X1) dan Stres kerja (X2) sama dengan nol, maka kinerja pegawai (Y) memiliki nilai sebesar 2,451. 2. Koefisien regresi (b1) sebesar 0 ,434 artinya jika Lingkungan Kerja Fisik (X1) mengalami kenaikan sebesar 1% maka kinerja Pegawai (Y) akan meningkat sebesar 0 ,434 atau 43,4. 3. Koefisien regresi (b2) sebesar 0, 480 artinya jika Stres Kerja mengalami kenaikan 1%, maka variabel kinerja Pegawai (Y) akan akan meningkat sebesar 0, 480 atau 48,0. 1. Uji hipotesis pertama yaitu ada pengaruh lingkungan kerja fisik (X1) terhadap kinerja Pegawai (Y). Diketahui bahwa variabel lingkungan kerja fisik (X1) ditemukan t hitung 5,254 lebih besar dari t tabel 1,99125 dan tingkat sig. 0.000 oleh karna itu nilai sig 0,05 maka H0 (b10) ditolak Ha (b10) diterimah yaitu variabel lingkungan kerja fisik (X1) memiliki pengaruh signifikan secara Parsial terhadap variabel kinerja Pegawai (Y). 2. Uji Hipotesis kedua yaitu ada pengaruh Stres Kerja (X2) dan kinerja Pegawai (Y) diketahui bahwa variabel Stres Kerja (X2) ditemukan t hitung 6,857 lebih besar dari t tabel 1,99125 dan tingkat sig 0, 000 Oleh karna itu nilai sig 0,05 maka H0 (b1 0) ditolak dan Ha (b1 0) diterima yaitu Stres Kerja memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap kinerja Pegawai. diketahui untuk mengetahui f tabel maka dapat dilihat dari nilai n 80 dan k 2 dan rumus untuk Ftabel F( k:df 2 n – k – 1 (F (277) jadi Ftabel 3, 12 Sehingga dilihat dari hasil pengujian yang telah dilakukan, maka diperoleh F hitung 54,258 lebih besar Ftabel 3,12 dan tingkat Sig 0,000 oleh karna itu nilai Sig 0,05 maka H0(b1 0) maka H0 (b1 0) ditolak dan Ha (b1 0) diterima artinya variabel lingkungan kerja fisik (X1) dan stres kerja (X2) memiliki pengaruh positif dan signifikan secara secara stimultan terhadap kinerja Pegawai (Y). diketahui besarnya koofisien determinasi R2 adalah 0,574 atau 57,4%. Hal ini berarti besarnya hubungan Lingkungan Kerja Fisik dan Stres Kerja terhadap kinerja Pegawai adalah 57,4%. Sedangkan pengaruh sebesar 42,6% disebabkan oleh faktor lain. Kata Kunci : Lingkungan Kerja Fisik, Stres Kerja Dan Kinerja

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS HUBUNGAN BEBAN KERJA DAN STRES KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI NTT

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan beban kerja dan stress kerja terhadap kinerja pegawai Dinas kelautan Dan Perikanan Prov NTT. Pada dasarnya perusaan dituntut untuk menciptakan kinerja pegawai yang tinggi untuk mengembangkan perusahaan. Kinerja atau Performance merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategi suatu organisasi. Kinerja merupakan salah satu asset utama suatu organisasi yang menjadi perencana dan perilaku aktif dari setiap aktivitas organisasi mereka mempunyai pikiran, perasaan, keinginan, status, dan latar belakang pendidikan usia dan jenis kelamin yang heterogen yang dibawa dalam suatu organisasi. Dengan adanya pekerjaan yang tidak menjadi beban kerja terhadap kinerja pegawai maka pegawai akan selalu produktif dalam bekerja sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi organisasi. Dari data kinerja pegawai Dinas Kelautan dan perikanan Prov NTT hasil pencapaian yang diperoleh 61%, 93%, 59% dapat diketahui nilai kinerja pegawai kurang dari 100% atau capaian kinerja pegawai belum bisa terlaksana dengan apa yang sudah ditargetkan. Dengan begitu beban kerja yang ada pada perusahaan sangat mempengaruhi kinerja pegawai yang dihasilkannya. Stress dapat memberikan pengaruh positif dan negative terhadap pegawai. Pengaruh positif dari stress adalah dapat mendorong pegawai untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik sehingga lebih terpacu lagi untuk bekerja sedangkan pengaruh negativnya dapat membuat pegawai tidak focus, salah satu tipe penghambat dalam kinerja pegawai diperusahaan adalah beban kerja yang mungkin berlebihan pada pegawai dan dapat mengakibatkan timbulnya stress kerja. Persoalan penelitian ini adalah apakah beban kerja mempunyai hubungan dengan kinerja Dinas kelautan Dan Perikanan Prov NTT, Apakah stress kerja mempunyai hubungan dengan kinerja pegawai Dinas kelautan Dan Perikanan Prov NTT. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai PNS Dinas kelautan Dan Perikanan Prov NTT yang berjumlah 48 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 48 responden yaitu pegawai Dinas kelautan Dan Perikanan Prov NTT untuk dijawab secara benar dan lengkap. Untuk analisis pendahuluan peneliti menggunakan analisis deskriptif memasukan hasil pengolahan data dalam angket responden ke dalam data table distribusi frekuensi berkaitan dengan beban kerja, stress kerja dan kinerja. dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variable. Berdasarkan hasil uji korelasi Product Moment Pearson antara beban kerja terhadap kinerja sebesar -0,168 yang berarti hubungan kedua variable sangat lemah. Korelasi bernilai negative menunjukan bahwa hubungan beban kerja dan strse kerja tidak searah, artinya semakin tinggi beban kerja maka semakin rendah kinerja pegawai dan sebaliknya. Nilai uji signifikan (Sig 2-tailed) bernilai 0,254 atau >0,05 (Ho diterima Ha ditolak) sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dan kinerja pegawai Dinas kelautan Dan Perikanan Prov NTT. Uji korelasi Product Moment Pearson antara stress kerja terhadap kinerja pegawai sebesar -0,116 artinya hubungan kedua variable sangat lemah, korelasi bernilai negative menunjukan bahwa hubungan antara stress kerja terhadap kinerja pegawai tidak searah, artinya semakin tinggi pegawai mengalami stress kerja maka semakin rendah kinerja pegawai dn sebaliknya. Nilai uji signifikan (Sig 2-tailed) bernilai 0,432 atau >0,05 sehingga berdasarkan uji kriteria (Ha ditolak dan Ho diterima) atau dengan kata lain stress kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja pegawai Dinas kelautan Dan Perikanan Prov NTT. Dari hasil analisis yang dilakukan, kesimpulan yang didapat adalah: 1) beban kerja pegawai dinas kelautan dan perikanan Prov NTT secara parsial tidak memiliki hubungan yang signifikan dan bernilai negative yang menunjukan hubungan yang tidak searah terhadap kinerja pegawai. 2) stress kerja pegawai Dinas Kelautan Dan Perikanan Prov NTT secara parsial tidak memiliki hubungan dan bernilai negative yang menunjukan hubungan yang tidak searah terhadap kinerja pegawai.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KONFLIK KERJA DAN STRES KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DINAS PETERNAKAN PROVINSI NTT

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Setiap organisasi sangat membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir, bertindak serta terampil dalam mewujudkan keberhasilan suatu organisasi. Kinerja merupakan tingkat pencapaian hasil atas terlaksananya tugas tertentu. Sedangkan kinerja organisasi merupakan tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. Usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai, diantaranya adalah dengan memperhatikan terjadinya konflik di dalam lingkungan kerja. Konflik dapat juga berakibat stres yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Stres atau tekanan dalam jiwa seorang karyawan akan berdampak pada kinerja karyawan. Perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah “Pengaruh konflik kerja dan stres kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konflik kerja terhadap kinerja karyawan dan untuk mengetahui pengaruh stres kerja terhadap kinerja pegawai. Jumlah responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 100 orang pegawai. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner. Dan penelitian ini menggunakan skala interval. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan teknik pengujian hipotesisnya uji t,uji F dan uji R2 (koefisien determinasi). Berdasarkan analisis data yang dilakukan maka hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Y = 33,453 + 0,340 + 0.171X2. Nilai konstanta : 33,453 artinya apabila nilai dari variabel konflik kerja (X1), dan stres kerja (X2) sama dengan nol maka variabel kinerja karyawan (Y) =22.286 nilai konstanta yang diperoleh sebeser 33,453 menunjukan bahwa apabila konflik kerja dan stress kerja dianggap konstan dapat meyebabakan kinerja pegawai meningkat sebesar 33,453. Nilai koefisien regresi variabel konflik kerja sebesar 0,340. Artinya jika variabel konflik kerja meningkat sebesar satu satuan maka menyebabkan kinerja pegawai meningkat sebesar 0,340 dengan anggapan bahwa variabel lainnya konstan. Nilai koefisien stress kerja sebesar 0,171 artinya jika variabel stress kerja meningkat sebesar satu satuan maka menyebabkan kinerja pegawai meningkat sebesar 0,171 dengan anggapan bahwa variabel lainnya konstan. Berdasarkan tabel output spss bahwa Pengaruh konflik kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur, diketahui hasil uji t tabel pada aplikasi spss dapat diketahui bahwa nilai t hitung sebesar 3.544 dan nilai t tabel sebesar 1.9847 dengan tingkat signifikan sebesar 0,01. Karena nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel dan tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa konflik kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT. Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pengaruh stress kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT, berdasarkan hasil uji t tabel pada aplikasi spss dapat diketahui bahwa nilai thitung sebesar 2.217 dan nilai t tabel sebesar 1,9847 dengan tingkat signifikan sebesar 0,05. Karena nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel dan tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,029 maka dapat disimpulkan bahwa stress kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT. Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil analisis maka kesimpulan sebagai berikut Konflik Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Stress berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail