Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Meo
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA MEOAIN DAN DESA LENTERA KECAMATAN ROTE BARAT DAYA KABUPATEN ROTE NDAO

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan obat merupakan etnobotani tumbuhan karena mempelajari tentang hubungan antara manusia dengan tumbuhan dan juga kebudayaannya yang dimana dapat dipergunakan sebagai obat untuk mengobati penyakit. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui Jenis tumbuhan, bagian organ tumbuhan, dan cara pengolahan obat tradisional untuk alternatif penyembuhan penyakit di Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Eksplorasi. Pemilihan responden menggunakan teknik purposive sampling yaitu kepala Desa, tetua adat dan beberapa orang, sumber data yang digunakan adalah gambar jenis- jenis tumbuhan obat yang digunakan masyarakat. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, eksplorasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil wawancara bersama 10 responden di Desa Meoain dan Desa Lentera terdapat 28 jenis tumbuhan yang digunakan masyarakat untuk pengobatan secara tradisional yaitu sirih, Serai, widuri, kecubung, Bidara, Legundi, Jambu biji, sirsak Patikan cina, Mengkudu, Pepaya, Kamboja, Benalu, Patah tulang, Sisik naga Tapak liman, Gulma siam, Kencur, Faloak, Sukun, Mangga, Beringin pencekik, Tumbuhan Paku tertutup, Kesambi, Kedondong hutan, Damar merah, Srikaya, dan Pare hutan. Bagian organ tumbuhan yang dimanfaatkan yaitu daun, kulit, akar, batang, semua organ tumbuhan daun-buah, rimpang, ranting dan getah. Cara pengolahan tumbuhan obat yaitu direbus, ditumbuk, dipanggang, dikunyah, dan diremas. Cara penggunaan tumbuhan obat yaitu diminum, ditetes, ditempel, dikunyah, dan mandi. Penyakit yang disembuhkan yaitu jantung, malaria, ginjal, kencing nanah, kanker payudara, darah rendah, hepatitis, ibu nivas, bisul, disentri, diare, demam, muntah darah, ambeyen, sakit mata, usus, kaki bengkak, sakit kepala, sakit badan, batuk, patah tulang, kejang-kejang, luka sayatan, pilek, keputihan, bau mulut, sakit gigi, darah tinggi, asam urat, TBC, lever, keracunan, susah buang air kecil, panas dalam, jerawat, panu dan perut bengkak. Memberikan informasi kepada masyarakat Desa Meoain dan Lentera agar dapat membudidayakan tumbuhan-tumbuhan obat yang berada di Desa Meoain dan Desa Lentera Kecamatan Rote Barat Daya Kabupaten Rote Ndao

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TARIAN MAEKAT “Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Praktik danPemaknaan Tarian Maekat di Desa Nunkolo dan Relevansinya Bagi GMIT Jemaat Efata Nunkolo Klasis Amanatun Selatan”

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tarian Maekat adalah tarian yang berasal dari suku Timor. Tarian ini merupakan bagian penting dan tidak mudah untuk dipisahkan dari masyarakat suku Timor, khususnya Desa Nunkolo. Hal ini dikarenakan masyarakat Desa Nunkolo masih memegang teguh tradisi yang dihidupi dan karena itu mereka tetap mempertahankannya. Tarian ini menceritakan tentang keperkasaan dari seorang laki-laki yang pulang dari medan perang. Pada zaman dahulu, sering terjadi peperangan dan dalam peperangan tersebut, banyak sekali orang yang terbunuh. Hal itu terjadi karena zaman dahulu terjadi perebutan kekuasaan atau tanah tempat tinggal sehingga banyak pemimpin-pemimpin daerah dari suku-suku di Timor menyiapkan prajurit mereka untuk mempertahankan wilayah mereka. Prajurit-prajurit ini disebut sebagai meo. Ketika sang meo pulang dengan membawa kemenangan yang ditandai dengan membawa kepala musuh, maka mereka disambut dengan tari-tarian. Tari-tarian ini yang mereka sebut sebagai tarian Maekat. Seiring dengan perkembangan zaman, Tarian ini mulai mengalami pergeseran makna ketika tidak lagi ada peperangan. Tarian yang awalnya memiliki makna kemenangan yang ditandai dengan membawa kepala musuh, diubah maknanya menjadi tarian untuk mengenang perjuangan para meo yang tidak pernah menyerah di medan perang untuk mempertahankan daerah atau wilayahnya. Hingga saat ini, tarian ini tetap dipertahankan karena masyarakat dan jemaat Efata Nunkolo selalu mengenang perjuangan-perjuangan dari para meo yang berjuang mempertahankan wilayah mereka. Melihat sikap dan perjuangan dari para meo di medan perang tersebut membuat penulis kemudian memberi sebuah refleksi bahwa segala sesuatu yang dilakukan pasti punya resiko dan karena itu ketika kita ingin memperoleh sesuatu yang kita inginkan, berarti kita harus berusaha dengan sekuat tenaga tanpa kenal lelah dan tidak pernah menyerah. Sikap pantang menyerah harus ditanamkan dalam diri setiap orang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail