GILA AIR LUMPUR Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual terhadap Fenomena (Gila Air Lumpurr “Kalango Wee Karijakka) dan Implikasinya bagi Pelayanan di GKS Jemaat Patiyala.
ABSTRAK Tulisan ini berjudul Kalango Wee Karijaka dengan Sub judul Suatu Tinjauan Kontekstual terhadap Fenomena (Gila Air Lumpurr “Kalango Wee Karijakka”) dan Implikasinya bagi Pelayanan di GKS Jemaat Patiyala. Tulisan ini menggeksplorasikan tentang penderitaan yang dialami masyarakat Laboya pada Bulan Paddu/Bulan Oktober. Gila Air Lumpurr adalah penderitaan, yang disembuhkan dengan menggunakan air dan lumpurr. Tujuan penulisan ini adalah, bagaimana pandangan GKS jemaat Patiya, dan cara menyikapi kalango wee karijaka. Penulis juga ingin mengetahui makna yang terkandung didalamnya dan merefleksikan tinjauan teologis. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan wawancara pada yang terkait. Untuk mengganalisis penulis menggunakan Teori model antropologis salah satu model yang dipaparkan oleh Bevans tentang bagaimana jadi diri budaya dalam pandangan seorang beragama Kristen. Dimalam dalam budaya itu Allah menyatakan diri-Nya, dengan menawarkan kesembuhan dan keutuhan. Menurut hasil penelitian Kalango wee karijaka terjadi akibat dosa-dosa yang masyarakat Laboya perbuat selama satu tahun itu. Pemahaman inilah yang memicu timbulnya refleksi dari para tua-tua adat, bahwa masalah ini berkaitan dengan relasi mereka dengan yang Ilahi, maka harus dilakukan ritual penghapusan dosa. Dalam refleksi teologi penulis menekankan tentang Yesus Sang Korban yaneg kekal, yang berkoban sekali untuk selamanya demi mengahapus dosa menusia dan telah dikerjakan secara tuntas. Penulis juga menekankan bagaiman peranan gereja untuk menyuarakan suara Kristus dan bertindak sebagai representasi kehadiran Allah. Gereja harus terus mengarahkan dan membebaskan jemaat dari penderitaan musiman yang dialami dengan iman Kepada Yesus Kristus Sang pembebas. Kata Kunci: Fenomena, Pemulihan, Hubungan Horizontal dan Vertikal. Email : [email protected]