ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penindasan gender merupakan persoalan serius yang masih dihadapi dalam kehidupan bergereja di GMIT. Keberadaan jemaat yang hidup dalam konteks masyarakat dengan budaya patriarki yang kuat turut membentuk sistem sosial yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat, kurang didengar, dan kerap dipahami sekadar sebagai pelengkap laki-laki. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengungkapkan suara, perasaan, emosi dan tindakan Yael dalam teks Hakim-hakim 4:17–24 dan 5:24–27 yang selama ini terpinggirkan dalam pembacaan Alkitab yang dipengaruhi struktur patriarki serta mengimplikasikannya bagi jemaat GMIT Alfa Omega Labat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode feminis kritis Elisabeth Schüssler Fiorenza yang menafsirkan teks dari pengalaman konkret perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks Hakim-hakim 4:17–24 dan 5:24–27, menegaskan bahwa kekerasan tidak dibenarkan, melainkan dipahami dalam konteks krisis kehidupan dan ketiadaan sistem keadilan, sehingga penekanan teks terletak pada keberpihakan Allah terhadap kehidupan dan pembebasan dari penindasan. Suara Yael dalam teks ini menegaskan keberanian, kepekaan, dan tanggung jawab moral sebagai sikap iman yang berpihak pada kehidupan. Temuan ini menegaskan bahwa Allah memberkati perempuan bukan karena status sosial atau kepatuhan pada struktur patriarki, melainkan karena keberanian dan tanggung jawab etisnya, sehingga Jemaat GMIT Alfa Omega Labat dipanggil untuk keluar dari struktur patriarki yang menindas serta secara berani, bertanggung jawab, peka, dan cerdik menghadirkan pembebasan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Di tengah perkembangan dunia yang semakin maju dalam berbagai bidang kehidupan, berbagai bentuk diskriminasi nyatanya masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dewasa ini. Diskiriminasi yang terjadi menyentuh berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali juga dalam hal perbendaan gender. Diskriminasi yang terjadi sebagai akibat dari ketidaksetaraan gender memiliki banyak bentuk, seperti stereotip terhadap perempuan, subordinasi yang melihat perempuan sebagai manusia nomor dua, serta kekerasan terhadap perempuan yang masih marak terjadi. Diskriminasi yang didasarkan atas perbedaan gender ini, sering kali dialami oleh kaum perempuan dari zaman dahulu hingga saat ini. Tidak terkecuali juga terjadi pada kaum perempuan di wilayah Gereja Masehi Injili di Timor. Berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi telah menentang pengajaran dan sikap Yesus yang memaklumkan keadilan dan damai sejahtera bagi semua orang, termasuk kaum perempuan. Dalam Injil Yohanes 4:1-42 tentang perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub, Yesus menunjukkan keberpihakkan-Nya terhadap kaum yang tersisih. Dalam perikop tersebut, Yesus berbincang dengan seorang perempuan Samaria yang memiliki status dan kedudukan yang rendah dalam masyarakat pada saat itu. Identitas perempuan itu tidak disebutkan secara jelas dalam teks tersebut. Ketika Yesus berada di Sumur Yakub, Yesus bahkan tidak enggan meminta perempuan itu memberi-Nya minum dan bercakap-cakap dengan perempuan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pengajaran dan pelayanan Yesus, justru orang-orang yang termaginalkan dalam suatu struktur yang sudah lama dan mapanlah yang ditempatkan sebagai yang pertama dalam pemerintahan Allah, bukan untuk membalikkan diskriminasi, melainkan untuk mengubah pola diskriminasi dan menciptakan pola relasi yang baru. Oleh karena itu, dengan mendalami Yohanes 4:1-42, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implikasi teks terhadap persoalan diskriminasi pada kaum perempuan di GMIT dengan menggunakan metode penulisan deskriptif-analisis-reflektif serta metode pendekatan hermeneutika feminis kritis untuk menafsir teks, sehingga pada akhirnya tulisan ini diimplikasikan dalam upaya mencapai keseimbangan pola relasi yang baru antara laki-laki dan perempuan.