ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EBET M. C. LAPAIBEL (16383690). Pgtu(di bawah bimbingan: Ir. Yohanes Merryanto, M.Si, Ph.D dan Donny M. Bessie, S.Pi, M.Si sebagai pembimbing I dan II). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana.
Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan ikan bernilai ekonomis penting yang banyak di pelihara di tambak-tambak air payau di Indonesia. Ikan ini merupakan konsumsi yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat karena harganya relatif murah. Untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat budidaya bandeng telah berkembang dengan pesat. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya bandeng (Chanos chanos) tradisional diantaranya adalah oksigen terlarut, salinitas, suhu dan pH. Memburuknya kualitas lingkungan perairan menyebabkan munculnya parasit-parasit dan penyakit pada ikan. Dalam budidaya ikan bandeng di tambak Bipolo ini pemakaian air laut tidak melalui proses penyaringan atau filter sehingga diduga membawa masuk, baik itu parasit dan bakteri maupun virus ke dalam tambak hingga menyerang ikan dan dapat mengganggu pertumbuhan dari ikan tersebut, yang dapat menyebabkan timbulnya bercak pada sirip, sisik dan mengakibatkan sisik terlepas hingga kematian akibat dari ektoparasit atau parasit yang menyerang bagian luar dari tubuh ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ektoparasit, presentase serangan dan intensitas serangan yang menyerang ikan bandeng (Chanos chanos). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei di lapangan untuk pengambilan sampel sedangkan data primer diperoleh dari identifikasi sampel di Laboratorium Eksata Universitas Kristen Artha Wacana. Hasil penelitian menunjukan parasit yang menyerang ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibudidayakan di tambak Bipolo Kabupaten Kupang yakni Trichodina sp. dan Ciclidogyrus sp. Serangan parasite pada ikan bandeng (Chanos chanos) oleh Trichodina sp. sebanyak 94 individu (51,5 %) dan Cichlidogyrus sp. sebanyak 72 individu (45 %). Intensitas serangan ektoparasit pada ikan bandeng (Chanos chanos) oleh Trichodina sp. mencapai 2,29 ind/ekor dan Cichlidogyrus sp. mencapai 1,98 ind/ekor
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN MARIA GUNDULFA LURUK (15380137). Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usaha Budidaya Ikan Bandeng (Chanos-Chanos) di Desa Motaain, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka”. ALFRED G.O KASE S.Pi. M.Si, Ph.D dan Ir. IZAAK ANGWARMASSE M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Kabupaten Malaka merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur yang memiliki wilayah pesisir pantai yang cukup luas. Salah satu usaha yang memanfaatkan wilayah pesisir di kabupaten tersebut adalah usaha budidaya tambak ikan bandeng. Berdasarkan fakta tersebut, maka dilakukan penelitian ilmiah dengan tujuan untuk mengetahui Kelayakan usaha dan pendapatan budidaya tambak ikan bandeng di Desa Motaain, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka. Penelitian ini dilakukan di Desa Motaain, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, dimulai dari bulan Mei-Juni 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik wawancara (daftar pertanyaan) dan observasi (pengamatan langsung). Pengambilan sampel responden dilakukan dengan metode acak sampel sederhana (Simple Random Sampling), dimana total sampel responden sebanyak 28 orang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini, terdiri dari data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh ini, kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Setelah data penelitian ini diolah dan dianalisis, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa lokasi penelitian sangat cocok dijadikan sebagai tempat budidaya tambak ikan bandeng. Rata-rata responden mengakui bahwa usaha budidaya tambak ikan bandeng lebih menguntungkan daripada usaha lainnya. Teknik budidaya yang gunakan, yaitu, teknik budididaya tradisional dan teknik semi intensif, dimana pembudidaya yang mnggunakan teknik budidaya tradisional sebanyak 25 orang dan yang menggunakan teknik budidaya semi intensif sebanyak 3 orang. Sedangkan hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata untuk teknik budidaya semi intensif sebesar Rp.10.813.666,67 dan untuk teknik budidaya tradisional sebesar Rp.9.393.960, dimana teknik budidaya semi intensif lebih menguntungkan daripada teknik budidaya tradisional. Hasil perhitungan nilai B/C Ratio, nilai Break Event Point (BEP) dan nilai Return on Investment (ROI) untuk teknik budidaya tradisional, berturut-turut 1,85, 220,12 Kg (Rp 26.975,59/Kg) dan 85,35%. Sedangkan, hasil perhitungan nilai B/C Ratio, nilai Break Event Point (BEP) dan nilai Return on Investment (ROI) untuk teknik budidaya semi intensif, berturut-turut 1,76, 283,73 Kg (Rp 32.737.94/Kg) dan 76,23%. Berdasarkan tingkat pendapatan dan nilai B/C Ratio, BEP dan ROI dari kedua teknik budidaya tambak ikan bandeng tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya tambak di Desa Motaain menguntungkan dan layak dilakukan. Kata Kunci : Analisis Kelayakan, Analisis Pendapatan, Bandeng, semi intensif dan tradisional, Motaain.