Abstrak
Realitas penderitaan tidak dapat terlepas dalam kehidupan manusia yang bergumul dengan pengalaman hidup. Salah satunya adalah penderitaan akibat bencana longsor yang terjadi di Desa Kuatae, sehingga berdampak pada wilayah pelayanan Jemaat GMIT Efata SoE. Bencana tersebut menyebabkan ketakutan, putus asa dan hilang harapan dari jemaat. Ditemukan banyak jemaat yang terpaksa harus mengungsi karena rumah yang rusak. Mereka cenderung mempertanyakan tentang tujuan hidup, makna penderitaan dan peran Tuhan dalam peristiwa yang dialami. Masalah utama yang dibahas adalah bagaimana jemaat memahami kehadiran Tuhan sebagai gembala dalam peristiwa bencana longsor dan bagaimana Tuhan sebagai gembala yang diyakini Daud dapat menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi jemaat dalam proses pemulihan akibat bencana longsor. Tulisan ini disajikan menggunakan metode kritik historis dengan pendekatan tafsir pada Mazmur 23:1-6, yang melibatkan analisis konteks sejarah, kritik sastra, latar belakang konsep gembala Israel, bidang kehidupan dan tafsir ayat per ayat. Tiga kerygma yang ditemukan: 1) Tuhan sebagai Gembala yang Sejati dan Penyedia Hidangan. 2) Penyertaan Tuhan dalam Lembah Kekelaman dan Marabahaya. 3) Tinggal di dalam Rumah Tuhan Sepanjang Masa sebagai Tanda Syukur. Kesimpulannya bahwa keyakinan Daud pada Tuhan sebagai gembala yang membaringkan, menuntun, membimbing, memulihkan dan menyediakan hidangan mampu menjawab kebutuhan jemaat. Dari penyertaan-Nya dalam situasi bencana dan persekutuan dengan-Nya. Penelitian ini bermanfaat bagi pemulihan dan penghiburan jemaat untuk menyakini Tuhan sebagai gembala dalam bencana yang dialami. Selain itu, agar gereja dapat memaknai peran mereka selaku gembala.