Abstrak
Salah satu hasil perikanan yang ada di Kota Kupang adalah ikan tongkol (Eutynnus sp.). Tingkat produksi dan konsumsi ikan ini cukup tinggi jika dibandingkan hasil perikanan lainnya. Penanganan ikan pasca panen di Kupang saat ini masih sangat memprihatinkan dari segi keamanan dan kesegarannya. Kurangnya pengetahuan tentang penanganan ikan setelah ditangkap mengakibatkan ikan yang sampai ke tangan penjual terakhir sebelum konsumen, mutunya sudah menurun, mengandung cemaran kimia, fisik dan mikrobiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ikan tongkol yang didaratkan dan dijual di pasar Inpres dan Oeba sudah tercemar oleh Salmonella sp serta seberapa jauh kemunduran mutu ikan dilihat dari kandungan ALT serta organoleptik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif serta pengujian laboratorium yang mengacu pada SNI. Hasil penelitian menunjukan bahwa total plate count paling tinggi pada air cucian Pasar Inpres 2 × 107 CFU/ml dan paling rendah pada ikan di TPI Oeba 1 × 102 CFU/gram. Hasil pengujian Salmonella sp pada semua sampel ikan maupun air cucian ikan pada kedua lokasi mendapatkan hasil negatif dalam 25/gram ikan dan 25/ml air cucian ikan. Hasil pengujian organoleptik Ikan tongkol pada kapal penangkap, TPI Oeba pagi dan Pasar Inpres pagi masih sangat segar dari segi kenampakan (mata, insang dan lendir), daging, bau dan teksur dan layak untuk dikonsumsi dengan nilai organoleptik lebih dari 7. Sedangkan untuk penjualan ikan tongkol pada TPI Oeba siang dan Pasar Inpres siang mutunya sudah semakin menurun dengan nilai organoletiknya rata-rata kurang dari 7.